02 Desember 2008

Demi Cinta Tak Bersyarat

SKETSA

Semarang, 2 Desember 2008
Demi Cinta Tak Bersyarat
Oleh Anindityo Wicaksono
Rata Penuh
(Sumber gambar: http://theloebizz.files.wordpress.com)

SABTU (30 Agustus 2008), dini hari sekitar pukul 02:00, Rhenald, kawan karib saya, tiba-tiba menelepon. Kebetulan saya belum tidur. Maklum malam minggu, tak terasa keasyikan di depan komputer hingga larut malam. Saya membaca aneka artikel belum terbaca yang saya unduh dari warnet.

Rhenald mengabari bahwa ayah dari Andi, kawan karib lama saya, meninggal. Seketika itu juga, saya mendadak lemas. Terkejut; getir dan tak percaya bercampuraduk. Saya memang terhitung lama tak berhubungan langsung atau bersua dengan Andi. Namun lama sebelum kabar dukacita ini, memang sudah ada slentingan teman-teman bahwa ayah Andi sedang sakit keras.

Sudah seminggu terakhir ini ayah Andi sakit-sakitan, bolak-balik opname di rumah sakit. Andi mengatakan, hal ini biasa, maklum ayahnya sudah tua. Umurnya 60-an tahun, hampir sama dengan ayah saya.

Ayah Andi, almarhum Pak Slamet, meninggal pukul 21:00 hari itu (Sabtu). Almarhum sempat tiga hari dirawat di salah satu rumah sakit swasta di Solo. Penyakitnya, ketika kami tanyakan pada Andi, komplikasi antara jantung, asam murrat, dan entah apa lagi.

Sebagai anak yang berbakti dan masih tinggal serumah dengan orang tuanya, Andi sangat setia menunggui ayahnya selama sakit. Baik di rumah maupun ketika mulai diopname di rumah sakit. Ini kabar terakhir yang kami dengar dari Andi, ketika kami mengajaknya naik gunung Sindoro pada 22 Agustus 2008. Acara ini adalah tradisi ulang tahun komunitas pecinta alam kami.

Karena terlalu seringnya terlambat dan ijin kerja, BNI, tempat Andi bekerja, sampai-sampai suatu kali memberinya surat peringatan. Dia ditegur lantaran minimnya tingkat kehadiran kerja. Saya salut pada sikap Andi ini. Baginya, urusan kerjaan nomor dua. Keluarga, tempatnya dididik dan dibesarkan, harus diberi tempat terpenting dalam hidupnya.

Percuma punya segalanya jika tenyata orang-orang terdekat kita tak lagi diberi tempat di hati. Ini nilai budaya Jawa yang harus terus dia pegang teguh. Jika tidak, durhaka atau kurang ajar, kata banyak orang. Kita patut berbahagia jika berkesempatan untuk mendampingi orang-orang terdekat kita di saat-saat tersulitnya. Mereka akan merasakan betapa mereka dicintai dan dianggap penting bagi keluarganya.

Ikatan Kuat

Catopala Adventure Team, komunitas pecinta alam yang kami didirikan pada 22 Agutus 2005 memang punya sejarah panjang bersama. Komunitas pecinta alam dan persaudaraan ini--istilah kami--didirikan 10 orang mahasiswa UNDIP, rata-rata angkatan 2003 dan 2004, termasuk Andi. Pendeklarasiannya dilakukan di puncak Gunung Sindoro, Temanggung, Jawa Tengah.

Di Catopala, saya dapat merasakan rasa persaudaraan yang begitu besar. Tiap orang peduli akan temannya, baik dalam suka maupun duka. Salah satu penguat persaudaraan kami adalah karena sudah seringnya kami bersama-sama dalam belajar memaknai kerasnya kehidupan di alam bebas. Memaknai bahwa ada begitu banyak pelajaran berharga yang tak pernah kita jumpai di kehidupan normal.

Kami pernah bersama-sama menjalani pendidikan dasar (diksar) di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Mahasiswa Pecinta Alam (WAPEALA) UNDIP Semarang, Sebagai wadah pecinta alam universitas, UKM ini tersohor akan kerasnya diksarnya. Keras dalam hal fisik maupun mental. Kami mengakui betul anggapan ini. Selain kerasnya didikan di alam bebas, kekerasan fisik dari senior adalah hal yang kami tanggung bersama. Prosesnya lama, antara 6 bulan-1 tahun.

Itulah yang menguatkan kami ketika memutuskan untuk undur diri menjelang prosesi pelantikan. Artinya, batal menjadi anggota tetap dan mendapat nomor anggota. Kami sudah terlalu banyak melihat prinsip yang dilanggar yang tak lagi mampu kami tolerir.

Kekerasan fisik pada para peserta diksar yang wanita, contohnya. Para senior tak pernah membeda-bedakan jenis kelamin ketika menghukum kami, para peserta. Mereka, para wanita, harus turut ditempelengi dan menjalani hukuman fisik seperti push-up dan sit-up sebanyak para pria. Selain itu, unsur balas dendam antarangkatan sangat terasa. Emosi senior yang kerap meledak-ledak lahir akibat kebencian atas tekanan yang diberikan angkatan sebelumnya,

Walau begitu, serbacerita duka selama masa diksar ini kami sukuri bersama. Walau semuanya terasa menguji batas kesabaran kami semua, ternyata ia membawa dampak postif bagi kami: menempa ketahanan fisik, mental, dan pikiran.

Kami yang tadinya pemalu atau takut mengambil resiko, mengalami transformasi mental yangs signifikan. Bahkan, waktu itu, kami tak lagi takut apapun. Terlebih ketika menghadapi resiko hidup di alam bebas yang keras. Mental ini turut menyertai karakter kami hingga ke kehidupan sehari-hari.

Pasalnya, selama masa pendidikan, setiap detik adalah berharga. Kami dituntut untuk berani mengambil tantangan ketika kami sudah mempelajari resiko yang dapat terjadi. Kami juga jadi mampu mensukuri segala hal.

Pernah dalam satu diksar Survival, kami nyaris mati kelaparan. Selama tiga hari, kami dilepas-bebas di hutan tanpa persedian makanan yagn memadai. Artinya, kami hanya bergantung pada bekal sekadarnya: dua bungkus mi instan, air bersih seperempat botol, dan sebatang lilin.

Akibatnya, di hutan rimba, di mana sumber daya sangat terbatas, semua harus didapat dengan kerja keras. Kami harus pintar-pintar memanfaatkan segala peluang yang ada untuk bertahan hidup. Prinsip kami waktu itu: tetap tenang untuk berpikir atau mati!

Namun, dalam segala ujian fisik dan mental ini, diksar model begini mampu membentuk satu ikatan yang kuat di antara para peserta. Ilmu psikolog mengajarkan demikian. Ada ikatan psikologis kuat pada sekelompok orang yang telah menanggung kepedihan dan penderitaan bersama. Hal ini juga dapat dilihat pada besarnya solidaritas di antara taruna dan polisi di satu angkatan setelah menjalani pendidikan bersama.

Itulah mengapa hingga kini, meski perlahan mulai diserakkan oleh waktu dan tempat, kami masih terus saling peduli dan menjaga. Setidaknya dengan saling menanyakan kabar, merayakan ulang tahun, dan menghadiri acara wisuda.

Prinsip yang kami pegang: "Milikku adalah milikmu (kecuali istri, tentunya). Kesedihan yang kau rasakan, juga membuatku menangis, Saudara!"

Masjid Agung

Awalnya, kami berempat (saya, Simbah, Herman, Khusnul, dan Ali)--semuanya personel Catopala--merencanakan pergi ke Solo pagi-pagi sekali agar dapat turut serta menyertai prosesi pemakamannya. Namun, karena keterbatasan kendaraan dan kejadiannya yang mendadak membuat kami agak susah untuk saling berkordinasi, akhirnya keberangkatan kami terpisah menjadi dua "rombongan".

Rombongan pertama adalah pasangan Rhenald dan Herman bersama Khusnul yang bersolo-karir bersama motornya. Mereka berangkat duluan pada sekitar pukul 9:00. Lalu rombongan kedua, saya dan Ali menyusul bersama Nino dan Riska, pacarnya, pada pukul 11:00.

Saya, Ali, Nino, dan Riska tiba selang dua jam setelah rombongan pertama. Kami lalu ditemui rombongan pertama di Alun-alun utara Solo. Ternyata walau berangkat lebih pagi, mereka juga tak sempat ikut dalam prosesi pemakaman. Ketinggalan rombongan, kata mereka.

"Motor kami diparkir terlalu depan, hingga agak menyusahkan ketika mengeluarkannya. Lalu ketika rombongan mulai berangkat, kami kesulitan mengikuti karena sempat tertinggal barang 10 menit," kata Simbah berdalih. Maklum, tambah Herman, kami tak hapal jalan Solo.

"Tak enak rasanya menelpon Andi yang sedang sedih untuk menanyakan arah jalan ke pemakaman," kata mahasiswa semester delapan D3 Tehnik Perkapalan UNDIP ini. Ada-ada saja mereka ini.

"Ya iyalah, masa ya iya dong," kelakar saya yang disambut tawa berderai mereka.

Sembari menunggu rombongan kembali dari pemakaman, kami memutuskan untuk singgah di suatu tempat, beristirahat sejenak. Kebetulan juga banyak dari kami yang belum sholat ashar hari itu. Selain itu, hitung-hitung melihat-lihat kota Solo walau hanya sekilas.

Kami memutuskan sholat di Masjid Agung Surakarta yang terletak persis di depan Alun-alun Utara, diapit Pasar Klewer--salah satu pasar kain dan batik terkenal di Solo. Arsitektur masjid yang dipugar pada tahun 1987 ini sangat indah. Pertautan antara kebudayaan Islam dan Jawa kuno. Seluruh gedung masjid terdiri dari kayu kokoh yang diperkuat dengan pilar di seluruh sisi masjid.

Di sebelah kiri masjid ada sebuah menara. Kata salah seorang penjaga masjid, menara itu dibangun untuk menjadi tempat meneriakkan azan acapkali waktu sholat. Orang per orang bertugas bergantian untuk naik ke atas menara lalu meneriakkan azan keras-keras. Agar nyaring, dia bisa memakai corong dari kertas atau sekadar mencorongkan tangannya. "Zaman dahulu kan belum ada megaphone atau salon besar seperti sekarang," katanya.

Setelah beberapa saat bersantai di masjid, kami mencari makan. Karena adanya perbedaan keinginan, kegiatan makan ini juga dibagi menjadi dua kelompok. Rombongan pertama menjadi tetap bergabung menjadi kelompok pertama. Karena mereka mengaku belum sempat makan sejak tiba di Solo, mereka memutuskan untuk makan mi ayam. Kami, karena sudah sempat makan di perjalanan, memilih es campur untuk menghilangkan dahaga. Tempat keduanya - mi ayam dan es campur - terletak di areal parkiran masjid.

Seperti umumnya, es campur ini terbuat dari campuran aneka macam buah-buahan. Yang saya ingat, ada pepaya, nangka, apel, dan mangga. Untuk menambah segar, di atasnya ditaburi es serut. Ditambah susu kental di atas es serut, cita rasa segar dan manis es campur mampu memanjakan dahaga kami.

Harganya terhitung murah untuk kelas masjid tempat para pendatang luar kota sering mampir. Untuk seporsi mangkok besar, Anda cukup merogoh kocek sebesar Rp3.500. Karena bersebelahan dengan Pasar Klewer, suasana sore itu cukup ramai. Para pembeli dan kuli gendong yang mengangkut barang dagangan berkarung-karung kain, mewarnai suasana.

Setelah puas memanjakan perut, kami lalu meluncur ke rumah Andi. Karena hujan, kami sempat meneduh di bawah atap sebuah toko di pinggir jalan.

Ikon Keberhasilan

Sesampainya di rumah Andi, depan rumah Andi sudah terlihat lengang. Tak lagi terlihat lalu-lalang orang yang berarti. Kursi-kursi bekas tempat duduk para pelayat siang tadi, sudah diangkut kembali. Tenda kain portabel masih digelar di depan rumah.

Di ruangan dalam tempat menyambut para tamu, terlihat beberapa orang kerabat yang sedang mengrobrol santai dengan ibu Andi. Andi sedang tidur-tiduran ditemani Lina, pacarnya, di sebelahnya.

Begitu melihat kami datang, Lina segera membangunkan Andi untuk menyambut kami. "Mas, teman-temanmu sudah datang," katanya saat membangunkan Andi.

Andi terlihat kelelahan. Matanya menunjukkan dia kurang tidur. Dia masih mengenakan kemeja hitam-hitam yang dia pakai ketika ke makam. Andi terlihat cukup tegar. Mungkin karena dia pria, pikir saya. Dia segera bangkit menyambut dan menyalami kami satu per satu dengan genggaman salam dua kali ala anak pecinta alam.

Genggaman tangan Andi tetap kuat dan bersemangat, seperti biasanya. Tak ada berbeda dengan dulu. Suasana berkabung ternyata tak mengurangkan semangat yang dimilikinya. "Terima kasih, ya, sudah datang," kata lulusan Hukum UNDIP itu mantap. Namun pancaran matanya tak pernah bohong. Ia tetap jujur menyisakan ruang kesedihan yang mendalam. Pancaran dari jiwa yang menunjukkan rasa kehilangan satu orang yang disayang.

Saya tahu, jauh di dalam lubuk hatinya, Andi merasa amat kehilangan seorang figur ayah. Ini karena Andi adalah anak laki-laki satu-satunya di keluarganya. Seluruh empat kakaknya yang sudah berkeluarga adalah perempuan. Seperti dalam budaya Jawa, pria seperti Andi yang sarjana lulusan Hukum dari universitas negeri terkemuka ini adalah kebanggan keluarga. Dia didapuk menjadi ikon keberhasilan keluarga.

Sebagai anak pria satu-satunya, Andi cukup dimanja oleh orangtuanya, terutama ibunya. Tak jarang ia membohongi orangutanya dengan meminta uang kiriman untuk tetek bengek kebutuhannya yang diktif. Untuk praktik lah, uang kuliah kurang lah, beli buku lah. Sebagai kawan-kawan karib sepermainannya, kami tak berani menegurnya ketika dia mengetaui perbuatan tak jujurnya ini.

Kami berpendirian, Andi adalah orang dewasa yang sudah tahu benar-salah. Namun belakangan saya sadari, tugas sahabat sejati adalah untuk mengingatkan ketika melihat sahabatnya melakukan kesalahan. Sejatinya, peran sahabat bukanlah untuk sekadar bersenang-senang bersama dan hidup dalam romantisme solidaritas bersama "satu untuk semua, semua untuk satu", seperti yang kami lakukan selama ini.

Di luar kebiasaan buruknya itu, di antara kami, Andi adalah salah satu orang yang berpengaruh. Dia pernah menjadi Ketua Catopala. Karena badannya yang paling besar di antara kami, dia paling sering berposisi menjadi "leader" dalam banyak perjalanan petualangan kami.

Dia juga paling jago menguasai navigasi darat yaitu tehnik untuk membaca dan menerjemahkan kordinat dalam peta tipografi pegunungan. Dia dulu mengambil spesialisasi divisi GH (gunung-hutan), ketika menjalani diksar di WAPEALA. Ekspedisi--tahap akhir diksar sebagai syarat untuk dilantik--yang dia pilih juga GH. Juli 2004, timnya yang terdiri dari empat orang (Andi, Rhenald, Rini, dan Siti) didaulat untuk ekspedisi pendakian ke gunung Arjuno dan Raung, keduanya di Jawa timur.

Tujuan Abadi

Selepas maghrib, kami (tepatnya mereka, saya tak ikut, karena kalau saya bacaanya surat Roma atau Kisah Para Rasul) sholat tharawih bersama dan Surat Yassin. Saya menunggu manis di pinggiran sambil bermain game Bounce di ponsel Ali. Di sebelah saya, Simbah--sudah mafhum, dia yang paling malas sholatnya--dengan pulasnya tidur. Alasannya tidak ikut cukup diterima: kecapekan.

Karena bertepatan dengan menjelang hari pertama puasa, peserta yang sholat tharawih dan yassinan bersama tak terlalu ramai. Jumlahnya tak mencapai 15 orang, termasuk seorang Imam yang didaulat berceramah. Selain rombongan kami, dari pengamatan saya, lainnya hanyalah keluarga inti yaitu para anak, menantu, dan cucu alamarhum.

Tiba-tiba, sesuatu melintas di pikiran saya bahwa kematian adalah manusiawi. Di akhir di kehidupan, akhirnya kita hanya akan menjadi seonggok daging yang dikubur bersama cacing-cacing di tanah. Kita semua, tanpa kecuali, akan dimakan cacing tanah ketika mati, kata Naga Bonar.

Kita bukan dihargai atas siapa kita atau karya-karya apa yang kita lakukan semasa hidup. Kita dihargai atas bagaimana kita melakukan sesuatu. Karakter apa yang telah kita ukir di ingatan orang-orang di sekeliling kita.

Seperti kata Dr Sid E. Willams dalam bukunya Pola Pikir Menuju Sukses, manusia adalah cinta itu sendiri. Kita didesain untuk memenuhi Tujuan Abadi kita yaitu cinta. Nabi dan orang suci dari segala abad dan tempat paling mengetahui hal ini.

Maka dari itu, katanya, perjalanan manusia yang diciptakan dari tanah untuk kembali ke tanah ini adalah untuk menemukan kebenaran nilai abadi ini di sepanjang hidup mereka. Perbedaannya adalah ada yang berhasil dan tidak untuk menemukan kebenaran ini sampai akhir hidupnya.

Dr. Sid mengatakan, sifat paling agung yang ada di dunia adalah cinta. Segala di dunia apapun itu tak terkecuali, selain cinta, tak akan bertahan. Ia akan digantikan yang lain ketika ia sirna. Tak ada yang baru di bawah matahari, kata Daud di Kitab Mazmur.

Cinta adalah Tujuan Abadi kita. Memang kita, manusia, hanyalah tanah yang makan dari tanah dan kembali menjadi tanah. Namun kita berbeda dengan binatang. Kita diberi napas oleh Sang Pencipta Kehidupan sendiri, TUHAN. Bahkan Kitab Kejadian menuliskan, kita diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Betapa hebat jaminan kehidupan ini jika kita mau memanfaatkannya.

Willams juga menjabarkan cara agar kita mampu mendengar kata hati yang menjadikan Cinta sebagai nahkoda hidup kita. Pedoman dan penentu arah dari segala-galanya. Ada tiga hal yang harus menjadi prinsip kita dalam mengejar Tujuan Abadi kita. Yaitu ... mencintai, melayani, dan memberi (kekayaan).

Saya ulangi: MENCINTAI, MELAYANI, dan MEMBERI. Bukan: MENCINTAI JIKA DICINTAI, MELAYANI JIKA DILAYANI, atau MEMBERI selama imbalannya sepadan. Kita harus mampu membedakan ini. Tujuan Abadi bukanlah cinta penuh syarat yang menuntut dan menimbang untung-rugi ketika melakukan sesuatu.

Paradigma baru ini harus menyatu dalam pikiran kita secara terus menerus. Hal ini, katanya, sangat berguna untuk mengasah kepekaan kita pada kesadaran mengejar Tujuan Abadi kita. Cinta harus menjadi nahkoda kita apapun dan bagaimanapun kondisinya, tanpa syarat.

Ingat, apapun dan bagaimanapun kondisinya; tanpa syarat!"

[+/-] klik judul kecil di atas untuk melanjutkan...

29 November 2008

Bina Mereka, Bukan Binasakan!

KOLOM

Semarang, 29 November 2008
Bina Mereka, Bukan Binasakan!
Oleh Anindityo Wicaksono

(Sumber gambar: http://www.kompas.com)

PERSEPSI bahwa moderenisasi adalah sumber melejitnya angka kriminalitas ternyata tak berlaku bagi Jepang. Meski menyandang julukan sebagai negara industri termoderen, nyatanya angka kriminalitas di negeri sakura ini terendah di antara negara-negara industri lain, seperti; AS, Perancis, Jerman dan Inggris.

Bahkan, ibu kota negara, Tokyo, dengan jumlah penduduk 12 jutaan di siang hari dan 9 jutaan di malam hari, luas disebut-disebut sebagai salah satu kota metropolis teraman di dunia. Menurut Jurnal Studi Kepolisian Edisi 66/Mei-Agustus 2008, pada 2004, reputasi kecepatan polisi dari koban (jejaring pos polisi di wilayah ketetanggaan) mencapai tempat kejadian kriminal setelah pelaporan, hanya memakan waktu 7 menit 15 detik (Jurnalnet.com).

Itulah mengapa citra polisi Jepang di mata masyarakatnya menjadi begitu positif. Tidak mengherankan, ada banyak cerita yang menyebutkan bahwa sudah biasa di Jepang, ketika seseorang yang menemukan dompet tergeletak di jalanan, lantas menyerahkannya kepada pos polisi terdekat.

Keadaan ini jauh bertolakbelakang dengan polisi kita. Di sini, citra pekerjaan polisi sudah terlanjur negatif. Polisi dianggap kaki-tangan rezim dalam menangkapi rakyat kelas teri yang dianggap melanggar hukum. Atau bahkan, semacam centeng yang berpihak kepada siapapun yang mampu menyokong kesejahteraanya.

Segala usaha seperti "Polisi Sahabat Anak" yang bertujuan mendekatkan imej baik polisi, ternyata tak banyak merubah keadaan. Polisi lalu lintas masih tetap lekat dengan pameo "semua bisa diatur". Ketika seseorang pengguna jalan melanggar peraturan, kita sudah akrab dengan pilihan ekstra selain tilang: "berdamai" dengan imbalan beberapa lembar uang ribuan.

Cita negatif ini pula yang membuat operasi pembersihan preman yang kini dilakukan serentak di seluruh Indonesia disambut skeptis oleh masyarakat. Bahkan, operasi yang diperintahkan langsung oleh Kapolri Jendral Bambang Hendarso Danuri ini seakan kembali membangkitkan kenangan buruk masyarakat pada kasus penembakan misterius ("petrus").

Kasus "petrus" yang terjadi di paruh awal dekade 1980-an ini memang masih menjadi momok yang menakutkan bagi sebagian masyarakat. Pasalnya, meski bertujuan mulia-pengurangan angka kriminalitas-nyatanya cara yang diambil aparat mengangkangi rasa kemanusiaan. Mereka membunuhi satu persatu orang-orang yang disinyalir sebagai preman yang telah lama membuat resah masyarakat.

Sepanjang 1984--1985, tercatat 181 orang tewas, 43 orang diantaranya ditembak. Para preman yang sebagian besar bertato ini ditemukan dalam kondisi tangan dan leher terikat. Kebanyakan mereka dimasukkan ke dalam karung yang ditinggal di pinggir jalan, di depan rumah, dibuang ke sungai, laut, hutan dan kebun (Wawasan, 26 Januari 2008). Tampaknya, rezim berkuasa waktu itu punya prinsip: "Kalau tak mau dibina, ya, kita binasakan!"

Premanisme

Kita semua tentunya sepakat, premanisme adalah kegiatan yang meresahkan masyarakat. Mulai dari yang beroperasi di jalanan, mencopet di pasar-pasar, hingga yang tergabung dalam semacam geng yang berjejaring, semuanya harus diberantas tuntas hingga ke akar-akarnya.

Jika ditanya, siapapun pasti sepakat bahwa rasa keamanan adalah sesuatu yang didambakan dari sebuah negara. Dengan tingkat keamanan yang tinggi, aktivitas ekonomi, bisa berjalan tanpa tersendat. Sebaliknya, membiarkan premanisme berlarut-larut hanya akan menciptakan atmosfir yang memungkinkan mereka terus berkembang secara sistematis.

Namun, kita tak boleh lupa pada aspek lain yang menjadi faktor tumbuhnya premanisme. Dalam menegakkan keamanan, para petugas harus mendalami pula keseluruhan permasalahannya. Mereka tak boleh melupakan realitas bahwa premanisme bisa lahir dan bertunas di masyarakat karena berbagai faktor, seperti lingkungan, ekonomi, hingga sosial-budaya.

Maka dari itu, operasi pemberantasan pelaku kejahatan seperti sah-sah saja dilakukan, sepanjang tetap di bawah koridor hukum. Syarat sebagai negara hukum harus tetap terpenuhi. Jangan mentang-mentang penjahat kerah-dekil langsung ditembak. Adili mereka. Meskipun mereka masuk kategori penyakit masyarakat, mendapatkan keadilan adalah hak asasi segenap manusia yang harus dipenuhi negara. Yang salah itu tindakannya, bukan orangnya.

Kita juga menghimbau bahwa operasi preman harus diikuti dengan penyadaran, pembekalan mental, dan pembekalan ketrampilan. Pasalnya, tak ada preman yang lahir atas dasar panggilan hidup. Semua yang memilih hidup dari kejahatan pastilah karena terpaksa. Selain memilih lingkungan salah, mereka juga tak memunyai keterampilan lain selain mencuri, merampoki, atau menodong dalam menghidupi diri dan keluarga.

Tidak mengherankan, mayoritas penghuni penjara adalah penjahat kambuhan: mereka yang keluar-masuk bui begitu cepatnya. Tenggelam sebentar, pascaoperasi kemudian muncul lagi.
Kewajiban untuk mengatasi masalah preman tidak bisa diserahkan sepenuhnya kepada polisi. Operasi penjaringan harus diteruskan pada institusi lain yang bisa mengurus lebih jauh, terutama untuk urusan bina mental dan pembekalan keterampilan mereka.

Ingat, preman tetap manusia yang perlu dimanusiakan. Mereka juga warga negara sah republik ini yang perlu diayomi pemerintah. Kita berharap, paradigma dalam pemberantasan preman dapat berubah: mereka perlu dibina, bukan dibinasakan!

[+/-] klik judul kecil di atas untuk melanjutkan...

25 November 2008

Menantikan Sang Filsuf-Raja

KOLOM

Semarang, 24 November 2008
Menantikan Sang Filsuf-Raja
Oleh Anindityo Wicaksono

(Sumber gambar: http://www.swaberita.com)

BAPAK filsuf Plato (428-348 SM) jauh-jauh hari mengingatkan kita bahwa demokrasi merupakan kekuasaan yang menunjukkan kemerosotan jiwa. Begitu bencinya kepada demokrasi, sampai-sampai ia menganggapnya sebagai sistem terburuk dari semua pemerintahan yang berasaskan hukum.

Seperti dijabarkan Mark Moss dalam "A Critical Account of Plato's Critique of Democracy", ada tiga alasan mengapa Plato mengecam demokrasi. Pertama, demokrasi mengarah kepada "aturan gerombolan". Dengan kekuasaannya, ia menjadi kaki tangan "pencari kenikmatan" yang bertujuan mengeruk kepuasan dari hasrat sesaat.

Kedua, demokrasi mengarah kepada aturan yang dikendalikan kaum pandir berketerampilan retorika, namun tidak berpengetahuan benar. Ketiga, ia mengarah kepada ketidaksepakatan dan pertikaian yang secara intrinsik buruk dan harus dihindarkan.

Bahkan, demokrasi, kata Plato, lebih dekat dan cenderung menuju tirani. Aristoteles, yang kerap berseberangan dengan Plato dalam wacana politik dan kemasyarakatan, pun nyaris sejalan tatkala menyinggung sistem pemerintahan ini. Murid Plato ini melihat demokrasi sebagai bentuk kemunduran dari politeia. Nilai maksimumnya hanya setingkat di atas tirani dan oligarki.

Tampaknya pemikiran kedua filsuf masyhur ini mulai mewujud pada ketatanegaraan Indonesia. Lantaran trauma terhadap militer, semangat yang dibawa reformasi membuat kita berharap banyak kepada demokrasi. Para pemimpin berbaju sipil kita jadikan ujung tombak perbaikan nasib bangsa. Namun, apa realitasnya? Gaung demokrasi yang dibawa reformasi nyatanya belum dapat berbicara banyak. Rakyat pun semakin mati rasa kepada aneka slogan demokrasi.

Ironisnya, demokrasi jugalah yang kini menghantarkan kita pada cengkeraman kaum pedagang. Kepemimpinan elit sipil yang populis ternyata kian manyerupai serigala berbulu domba. Mereka masih saja mudah disetir dan didominasi kalangan pengusaha: sibuk menjuali aset negara dan berkompromi dengan kapitalis.

Idealnya, pengusaha merupakan kelas menengah dan bagian dari civil society. Seperti di Thailand, kelas menengah semestinya otonom. Mereka punya bargaining power terhadap pemerintah. Parahnya, di Indonesia, para pengusaha merangkap pejabat. Mereka memiliki privilese dan dibenarkan berdwi-fungsi kepemimpinan: pemerintah-cum-pedagang.

Poling

Menjelang perhelatan Pemilu 2009, dinamika percaturan laga pilpres semakin marak dengan kedatangan seorang raja: Gubernur-cum-Raja Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X.

Sultan sendiri, dalam berbagai kesempatan pernah menyatakan keberatannya maju dalam pentas Pilpres. Bagi beliau, seperti titah Sultan HB IX, kekuasaan tidak untuk diperebutkan, tapi untuk melayani rakyat.

Namun kini, tiba-tiba dengan lugas ia membalik pernyataannya. Dalam Pisowanan Agung (pertemuan akbar raja-raja se-Nusantara) di Alun-alun Utara Yogyakarta, dengan terang-terangan dia mengumumkan kesanggupannya bekiprah dalam aras nasional: maju dalam Pilpres 2009. Penegasan sikap politiknya ini niscaya memberi warna tersendiri dalam pentas perpolitikan nasional.

Majunya Sultan ini memang sudah lama dinanti-nantikan masyarakat. Lihat saja hasil survei terakhir Lembaga Survei Nasional (LSN). Menurut poling di 33 provinsi itu, Sri Sultan menduduki peringkat ketiga figur capres dan cawapres yang diinginkan masyarakat. Meski masih di bawah SBY dan Megawati, putera Sri Sultan HB IX ini mengungguli Wiranto, Prabowo, dan Hidayat Nur Wahid (Majalah Tokoh Indonesia edisi 39).

Memang, sejatinya struktural pemerintahan Sultan hanya menjabat gubernur. Namun, suka tak suka, ketokohannya jauh melampaui kewenangannya sebagai sekadar pemimpin DIY. Ia juga seorang raja kerajaan yang berakar dengan trah Mataram-Jawa yang selama beberapa abad mengusasai tanah Jawa, khususnya DIY, Jawa Tengah, dan sebagian Jawa Timur.

Di sisi lain, kiprah Sultan HB X pada masa kekisruhan politik 1998 pun tak bisa dipandang enteng. Pamor Sultan mulai meroket sejak Sultan mendukung reformasi dalam suatu acara besar-besaran di Alun-alun Utara Yogyakarta pada penghujung kekuasaan Soeharto,

Bersama sejumlah dedengkot reformasi, seperti Amien Rais, Megawati dan Gus Dur, Sultan pun ikut andil dalam "Kelompok Ciganjur". Mereka menjadi kelompok penekan yang paling efektif memaksa sisa-sisa elit Orba melaksanakan agenda-agenda reformasi jangka pendek: pemilu multipartai dan kebebasan politik.

Filsuf-Raja

Pengikraran Sultan ini kembali mengingatkan saya kepada Plato. Dalam buku The Republic, dia menyatakan, jika hendak makmur, idealnya negara dikendalikan filsuf-raja. Plato menggambarkannya sosok ini sebagai pencinta kebijaksanaan yang mengetahui hakikat kebenaran dan keadilan. Perpaduan keduanya niscaya akan menukangi bobrok demokrasi.

Kritik Plato atas demokrasi memang sekilas menjanjikan dan sejalan dengan kondisi bangsa. Tetapi, seperti apakah manifestasi figur filsuf-raja yang dimaksudkan Plato? Apakah raja yang dimaksudkannya bermakna harafiah? Kita belum tahu dan Plato pun tak gamblang menguraikan.

Perjalanan bangsa menuju sejahtera pun tidak semata-mata berdasarkan niat baik dan citra diri positif. Pasalnya, sukses-tidaknya seorang capres di Indonesia ditentukan sedikitnya tiga aspek: popularitas, aksesibilitas (kemampuan mengakses), dan elektabilitas (kemampuan dipilih).

Berdasarkan hasil poling, kita tidak meragukan popularitas Sultan. Namun, dalam aksesbiltas dan elektabilitas, kader Partai Golkar ini masih perlu banyak bermanuver.

Meski dukungan masyarakat meningkat pesat, baik sebagai capres maupun cawapres, ia masih terganjal onak duri: belum jelas partai mana yang resmi mengusungnya sampai saat ini. Sultan bahkan masih ngotot berkutat pada ihwal pencalonan capres nonpartai.

Meski begitu, lepas dari persoalan itu dan entah bagaimana kelanjutannya, baiklah kita berharap. Bolehlah kita anggap ihwal pencalonan Sultan ini sebagai pertanda untuk keluar dari labirin demokrasi bangsa.

[+/-] klik judul kecil di atas untuk melanjutkan...

Momentum Pemacu Etos Kerja

KOLOM

Semarang, 23 November 2008
Momentum Pemacu Etos Kerja
Oleh Anindityo Wicaksono

(Sumber gambar: http://farm4.static.flickr.com)

DI TENGAH
terpaan krisis ekonomi jilid dua, nasib buruh negeri semakin tergencet. Pemicunya, tak lain dari surat keputusan (SK) empat menteri per tanggal 22 Oktober 2008 tentang "Pemeliharaan momentum pertumbuhan ekonomi nasional dalam mengantisipasi perkembangan ekonomi global".

Sekilas, SKB yang berisikan total lima pasal ini terkesan menjanjikan, terutama di pasal 1 dan 2. Awalan SKB yang ditandatangani Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Erman Suparno, Menteri Perindustrian Fahmi Idris, Menteri Dalam Negeri Mardiyanto, dan Menteri Perdagangan Maria Elka Pangestu ini hendak menunjukkan niat baik pemerintah menangkal serbuan krisis finansial global.

Lihat saja poin pembukanya: "Dalam menghadapi dampak krisis perekonomian global, pemerintah melakukan berbagai upaya agar ketenangan berusaha dan bekerja tidak terganggu." (Pasal 1 Alinea 1).

Lihat juga isi poin penjelasan pasal 1 tentang tugas menteri perindustrian ini: "Mendorong efisiensi proses produksi, optimalisasi kapasitas produksi dan daya saing produk industri," dan "menyusun kebijakan penggunaan produksi dalam negeri dan melaksanakan monitoring pelaksanaannya".

Poin penjabaran tugas dan kewenangan menteri perdagangan pun selintas menyiratkan kebijaksanaan pemerintah: "Upaya peningkatan pencegahan dan penangkalan penyelundupan barang-barang dari luar negeri", "memperkuat pasar dalam negeri dan promosi penggunaan produk dalam negeri," dan "mendorong ekspor hasil industri padat karya".

Poin-poin di atas seakan memang sengaja dibuat demi memperlihatkan keberpihakan pemerintah kepada ekonomi dalam negeri. Peningkatan efisiensi dan daya tahan perekonomian domestik yang ditekankan pemerintah dalam SKB ini merupakan langkah bijak yang patut kita apresiasi. Apalagi kini kita sedang was-was menghadapi serbuan krisis perekonomian global yang bermula dari Negeri Paman Sam.

Namun, jika kita teruskan membaca poin-poin selanjutnya, barulah tersingkap maksud sejati penerbitan SKB ini. Disebutkan, tugas menaktertrans adalah "melakukan konsolidasi unsur pekerja/buruh dan pengusaha melalui forum LKS tripartit nasional dan daerah..." dan "mendorong komunikasi bipartit yang efektif antarunsur pekerja.buruh dan pengusaha di perusahaan" (pasal 1 poin a).

Lihat juga isi pasal 1 pon b tentang tugas mendagri ini: "Upaya agar gubernur dan bupati/walikota, dalam menetapkan segala kebijakan ketenagakerjaan di wilayahnya, mendukung kelangsungan berusaha.."

Kesemua poin-poin di atas bertolak belakang dengan maksud awal penerbitan SKB, seperti yang diuraikan pembukaannya. Pasalnya, pemerintah terkesan cenderung lepas-tangan dalam penentuan upah minimum provinsi. Semuanya diserahkan begitu saja kepada konsolidasi pengusaha dan pekerja.

Poin b tentang tugas mendagri bahkan dengan gamblang menyebutkan: "gubernur diminta melihat kepentingan keberlangsungan usaha (para pengusaha) dalam menetapkan upah minimum". Di sini, sangat jelas pemerintah memandang sebelah mata peran buruh dalam dinamika rantai industri. Buruh dianggap sekadar faktor produksi yang tidak dimanusiakan. Sebaliknya, kepentingan pengusaha (baca: pemodal) dianggap menempati titik sentral dunia usaha.

Padahal, buruh adalah pribadi kompleks yang menentukan keberhasilan industri. Ilmu Sosiologi Industri pun mengajarkan demikian. Pemahaman faktor sosial atau interaksi sosial, seperti hubungan industri dengan manusia, adalah kunci meningkatkan produktitas.

Dalam bekerja, buruh pun amat dipengaruhi faktof-faktor pribadi, baik intrinsik maupun ektrinsik. Kinerja dan produktifitas pekerja amat bertalian dengan kondisi di luar dirinya. Pekerja bermotivasi tinggi pastilah pribadi yang telah mendapatkan keamanan kerja dan pemenuhan kebutuhan. Kondisi ini persis seperti penjabaran Abraham Maslow tentang Teori Kebutuhan.

Dengan menyerahi tanggung jawab kepada konsensus bipartit (pekerja dan pengusaha), polemik berkepanjangan, terutama di tingkat buruh yang berposisi tawar lebih rendah, menjadi keniscayaan. Kedua kutub ini adalah dua hal yang selalu berseberangan. Bagi perusahaan, efektifitas berarti menekan upah seminim mungkin. Sedangkan buruh berkata sebaliknya: "Kalau tidak sejahtera, bagaimana bisa rajin bekerja?"

SKB ini pun kontradiktif. Salah satu pasal menyebutkan, gubernur dan bupati/walikota harus mempertimbangkan kepentingan pengusaha dalam menentukan UMK. Namun, pasal 3 justru semakin membuat jengah pada buruh: "Gubernur, dalam menetapkan upah minimum, mengupayakan agar tidak melebihi pertumbuhan ekonomi nasional".

Saat ini, angka pertumbuhan nasional per tahun sebesar 6 persen. Jika UMK 2009 dipatok tidak boleh melampaui itu, maka artinya, berapapun besaran kebutuhan hidup layak (KHL) yang ditentukan Dewan Pengupahan tidak akan memengaruhi UMK 2009. Padahal, UU No 13.2003 tentang Ketenagakerjaan jelas mengatur bahwa UMK ditentukan Dewan Pengupahan.

Apalagi trauma krisis ekonomi jilid satu belum juga reda, kini kita sedang was-was menghadapi krisis jilid dua. Inflasi terus meroket. Harga-harga yang naik pasca-Lebaran pun tak menunjukkan sinyalemen bakal turun. Kenaikan BBM juga belum lama berselang. Penurunannya per 1 Desember 2008 pun hanya Rp500, benar-benar tak sebanding imbasnya pada lonjakan harga kebutuhan pokok.

Bibit Waluyo

Masyarakat Jateng boleh berbesar hati dipimpin seorang gubernur baru yang arif, Bibit Waluyo. Kamis (20/11), Bibit menandatangani surat keputusan (SK) yang mengesahkan kenaikan UMK 2009 sebesar rata-rata 12,9 persen dari UMK 2008 di semua kabupaten/kota. Angka ini melampaui tingkat pertumbuhan ekonomi nasional yang sebesar 6 persen.

Tak pelak, keluarnya SK ini yang disambut hangat kalangan buruh ini, membuktikan janji gubernur bahwa penentuan besaran UMK berdasarkan rekomendasi bupati/walikota. Keputusan ini hadir setelah Bibit mendengar masukan-masukan dari unsur gabungan stakeholder industri, yakni Serikat Pekerja, Apindo, Dewan Pengupahan, BPS, dan perguruan tinggi, malam sebelumnya (Rabu, 19/11).

Memang baru dua daerah yang usulan UMK-nya mencapai 100 persen, yakni Kota Semarang (Rp835 ribu) dan Surakarta (Rp723 ribu). Namun, gubernur ternyata tak ragu menujukkan keberpihakannya kepada kepentingan rakyat ketimbang berpatok pada SKB 4 menteri.

Bibit pun tidak bisa dicap sebagai pembangkang oleh pemerintah. Pasalnya, selain memerhatikan aspek normatif, yaitu sesuai pengajuan bupati/walikota, dia juga cerdik mempertimbangkan aspek hukum. SKB justru dinilainya cacat hukum karena melanggar UUD '45 dan UU No 13/2003 tentang Ketenagakerjaan.

Di era otonomi daerah, tingkat kesejahteraan suatu daerah berpulang kepada kebijaksanaan masing-masing kepala daerahnya. Kini tinggal bagaimana provinsi lain menyikapi SKB 4 menteri. Mereka diperhadapkan dua pilihan: memegang teguh poin per poin SKB yang berarti memihak pengusaha, atau berdiri bersama-sama buruh dan mengutamakan hajat hidup orang banyak?

Pasalnya, faktor eksternal hubungan-hubungan sosial dalam industri mencakup hubungan perusahaan/masyarakat/pekerja dengan pemerintah. Kepala daerah, yang kini diserahi tanggung jawab penuh berkenaan terbitnya SKB 4 menteri, bertugas menjadi regulator yang menentukan kelangsungan perekonomian daerah. Salah-salah, polemik berkepanjangan antara pekerja dengan perusahaan, jika dibiarkan berlarut-larut, dapat mengancam kesinambungan industri.

Begitupun dengan buruh. Jika mereka tak ingin selamanya masuk kategori faktor produksi, yang hanya dihargai keringatnya, para buruh harus mulai meningkatkan etos kerjanya. Hanya menuntut kelayakan upah, tanpa memerhatikan kontribusinya bagi budaya perusahaan, tidak dapat membalikkan stigma faktor produksi yang melekat pada mereka.

SKB memang tidak pas dengan kondisi rakyat saat ini. Ia pun cacat hukum di depan UUD '45 dan UU Ketenagakerjaan. Namun, baiklah mpmentum ini kita jadikan pemicu peningkatan kinerja dan etos kerja buruh. Maka jadikan seruan Ronald Reagan ini sebagai buah perenungan: "Jangan tanyakan apa yang sudah negara lakukan, namun tanyakan apa yang sudah kita lakukan bagi negara!"

[+/-] klik judul kecil di atas untuk melanjutkan...

22 November 2008

Kesadaran PSK Mulai Tumbuh

BERITA

Semarang, 22 November 2008
Kesadaran PSK Mulai Tumbuh

Oleh Anindityo Wicaksono

(Sumber gambar: http://www.jawapos.com)

(ANTARA) - Kesadaran wanita pekerja seks komersial (PSK) di lokalisasi Sunan Kuning Semarang untuk mencegah penularan HIV/AIDS, mulai tumbuh. Terbukti, banyak di antara mereka yang rutin memeriksakan alat kesehatan reproduksi.

Koordinator Divisi Program Aksi Stop AIDS Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (ASA PKBI) Kota Semarang, Abrori Addahuri, mengatakan, para PSK ini juga banyak yang bersedia melakukan volunteer counseling and testing (VCT) HIV/AIDS, atau pendampingan oleh konselor di Griya ASA PKBI.

Berdasarkan data per 1 Januari 2007, sebanyak 348 orang PSK Sunan Kuning dari total 635 orang atau 54,8 persen, sudah sukarela rutin melakukan tes skrining (cek kesehatan daerah kewanitan) di Griya ASA PKBI.

Ia menambahkan, bahkan banyak PSK yang bersedia menyukseskan program penjangkauan ASA PKBI dengan menjadi pendidik sebaya (pair educated). Tugas mereka adalah mendampingi teman seprofesi untuk memberikan penyuluhan mengenai PMS, kesehatan reproduksi, dan HIV/AIDS.

"Program-program kami adalah penyuluhan penyakit menular seks (PMS), kesehatan reproduksi, penularan HIV/AIDS, dan melakukan pendampingan jika ditemukan ada yang positif HIV," katanya.

Dengan beragam pendekatan ini, katanya, diharapkan kelak timbul keinginan dari mereka sendiri untuk keluar dari lokalisasi dan tidak lagi menjadi PSK.

Dia mengatakan, ancaman terberat dalam penyebaran HIV/AIDS di lokalisasi, justru datang dari pelanggan. Kesadaran pemakai jasa untuk menggunakan kondom masih rendah.

"Pelanggan banyak yang enggan memakai kondom, meskipun dipaksa. Mereka kerap beralasan menggunakan kondom mengurangi kenikmatan hubungan intim" kata Abror.

Menurut dia, dalam kasus tersebut, para PSK tidak bisa disalahkan. Posisi tawar mereka rendah. "Sebagai pihak penyedia jasa, mereka membutuhkan uang dari pelanggan. Maka mereka mau saja melayani meski pelanggan menolak memakai kondom," katanya.

Penyebaran HIV/AIDS di Jateng makin mengkhawatirkan. Berdasarkan data di Dinas Kesehatan Jateng per 1 Januari 2007, provinsi ini menempati peringkat ketujuh dengan 514 kasus (290 AIDS, 86 AIDS/IDU, dan 138 meninggal).

Untuk Jateng, Kota Semarang menempati peringkat pertama dengan 123 kasus, diikuti Kabupaten Banyumas (119 kasus) dan Kabupaten Tegal (30 kasus).

[+/-] klik judul kecil di atas untuk melanjutkan...

Jateng, PGOT Terus Bertambah

BERITA

Semarang, 21 November 2008
Jateng,
PGOT Terus Bertambah
Oleh Anindityo Wicaksono

(Sumber gambar: http://si-wahyu.blogspot.com)

(ANTARA) - Jumlah pengemis, gelandangan, dan orang terlantar (PGOT) di Jawa Tengah terus bertambah tiap tahunnya.

Menurut Soemarso, Koordinator Staf Tata Usaha Panti Karya Persinggahan Margo Widodo Semarang, jika di tahun 2005 jumlah PGOT warga binaan panti itu 336 orang, 2006 meningkat dua kali lipat menjadi 637 orang.

"Januari 2006 kami menerima 26 orang, Januari 2008 meningkat menjadi 38. Penggolongannya, yakni pengemis 15 orang, lansia (2), sakit jiwa/terlantar (9) , kehabisan bekal di jalan (11), dan serah diri (1)," katanya.

Jumlah itu hanya angka penerimaan masuk, belum termasuk binaan sisa bulan sebelumnya. "Untuk saat ini, total jumlah PGOT yang dibina berjumlah 110 orang. Untuk jenis kelamin, laki-laki 69, perempuan 41. Untuk usia, tertua 50 tahun, dan paling muda 10 tahun", jelasnya.

Dia menjelaskan, setiap orang yang masuk ke panti dari operasi penertiban sosial atau serah diri, akan diseleksi dulu. Mereka yang dibina hanyalah yang dapat menyertakan surat keterangan dari kelurahan atau kepolisian.

Hal ini dilakukan agar pembinaan mendapat payung hukum yang sah. Selain itu, untuk menghindari penyalahgunaan panti dijadikan tempat berlindung bagi apra pelaku-pelaku kehjahatan yang buron.

"Setelah PGOT masuk ke sini, kami tampung sementara,. Mereka lalu kami salurkan ke panti-panti lain sesuai penggolongannya. Margo Widodo berkoordinasi dengan 26 panti dan instansi terkait di Jawa Tengah yang menjadi tempat rujukan binaan.

"Semisal, untuk lansia, disalurkan ke panti wredha (PW), orang-orang terlantar ke panti karya (PK), eksikotik (pasca-psikotika) ke panti tunalaras (PTL)", jelas Soemarso.

Untuk pasien binaan dari Kota Semarang, panti ini berkoordinasi dengan PTL Ngudi Rahayu, PK MArdi Utomo, PW Pucang Gading, PA Taman Harapan, RS Kariadi, dan RS Tugurejo.

Keterampilan

Dia mengatakan, di panti berdaya tampung 150 orang ini, PGOT dibina berdasarkan potensi mereka. "Kami memberikan bimbingan sosial, fisik, mental, dan keterampilan sebelum mereka diserahkan ke keluarganya," ujarnya.

Untuk keterampilan, para binaan diajarkan antara lain membuat tempe, paving block, keset, hingga servis sepeda motor. Diharapkan, setelah dibekali keterampilan, mereka bisa mendapatkan pekerjaan layak ataupun bekerja mandiri.

Untuk itu, Soemarso mengharapkan partisipasi seluruh masyarakat untuk dapat mengurangi angka PGOT yang semakin bertambah.

"Imbauan Pemkot agar warga tidak memberi di jalan, sangat bijak. Memberi uang itu tidak mendidik, membuat orang malas bekerja. Jika hendak beramal, lebih baik berikan kepada yayasan-yayasan sosial atau badan-badan amil zakat yang terpercaya," tuturnya.

Panti Margo Widodo berdiri pada 1950 dan berada di bawah naungan Dinas Kesejahteraan dan Sosial Jawa Tengah. Berdasarkan Perda Propinsi Jawa Tengah 2 April No 1/2002, panti ini merupakan panti persinggahan yang menjadi tempat pembinaan sementara dengan klasifikasi Tipe B.

[+/-] klik judul kecil di atas untuk melanjutkan...