19 Oktober 2008

Mahesa Jenar Terpuruk di Zona Degradasi

OLAHRAGA
Semarang, 7 Oktober 2008
Mahesa Jenar Terpuruk di Zona Degradasi
*Dipecundangi Tim Tamu Sriwijaya FC 1-2
Oleh Anindityo Wicaksono


PSIS SEMARANG dipaksa mengakui keunggulan Sriwijaya FC dengan skor 1-2 di depan pendukungnya sendiri. Kekalahan kedua di kandang ini membuat tim "Mahesa Jenar" makin terpuruk di zona degradasi dengan peringkat ke-17 klasemen sementara.

Pada laga lanjutan Indonesian Super League (ISL) 2008 di Stadion Jatidiri Semarang, semalam, PSIS gagal memanfaatkan keuntungan sebagai tuan rumah. Sebaliknya, Sriwijaya FC menunjukkan kelasnya sebagai juara bertahan liga dengan sukses mereguk poin penuh di partai tandangnya.

Sejak menit-menit awal, kedua kesebelasan saling bergantian mengambil inisiatif serangan. Umpan-umpan panjang dan tempo permainan yang lambat diperagakan kedua skuad di awal pertandingan.

Bersama permainan cantik playmaker Zah Rahan sebagai pengatur ritme, jalinan serangan yang digalang ketiga motor "Laskar Wong Kito" yaitu Keith Kayamba, Ngon A Djam, dan Obiora mendobrak hingga jantung pertahanan lawan.

Namun, lini pertahanan tim tuan rumah dengan palang pintunya Idrus gunawan, tak mudah ditembus. Rongrongan serangan lawan mampu diredam lewat jebakan perangkap offside yang terjaga rapi.

Para pemain belakang PSIS sempat membikin frustasi striker Ngon A Djam dan Keith Kayamba yang berkali-kali kena jebakan offside. Walhasil, tekanan Sriwijaya FC lebih banyak dilakukan lewat tendangan-tendangan spekulasi jarak jauh.

Selama babak pertama, PSIS beberapa kali merepotkan pertahanan lawan. Terutama lewat sektor sayap kiri oleh Prananda Aditya dan Castano yang disokong bek sayap Deny Rumba. Namun, faktor ketidaktenangan dan kurangnya kordinasi antar-lini membuat tekanan demi tekanan kandas di barisan belakang lawan.

Meski tak diperkuat bek tengah andalnya Amrizal akibat akumulasi kartu, lini belakang Sriwijaya FC terbukti tetap solid. Bek Charis Yulianto, Christian Warobay, Toni Sucipto, dan Safrudin disiplin dalam mengamankan daerah pertahanan. Ditambah pemain tengah bertahan Wijay yang bermain gemilang, serangan tuan rumah kerap dipatahkan sejak di tengah lapangan.

Skill di atas rata-rata yang dimiliki para pemain ekspatriat mereka, terutama dalam mengeksekusi bola-bola mati, menjadi kunci kemenangan tim tamu. Gol pertama bermula dari pelanggaran pada Wijay di luar kotak pinalti pada menit ke-28. Hadiah tendangan bebas ini tak disia-siakan Ngon A Djam dalam mengeksekusi.

Lewat sepakan akurat ke pojok kanan gawang, si kulit bundar meluncur deras menjebol gawang kiper Agus Murod.

Kecolongan

Memasuki babak kedua, Idrus dkk berusaha mengejar ketertinggalannya. Bambang memasukkan Anwaruddin menggantikan Prananda Aditya demi menyuntikkan daya dobrak dan kreasi serangan sektor sayap.

Strategi ini terbukti ampuh. Mahesa Jenar berulangkali menekan tim tamu dengan memanfaatkan lebar lapangan. Sejak menit pertama babak kedua, inisitif serangan ganti diambil PSIS. Baru 12 menit babak kedua, tim asuhan Bambang ini berhasil menyamakan kedudukan.

Gol berawal dari tusukan Anwarudin di menit ke-57 setelah berhasil menembus masuk kotak 12 pass. Bola lalu disontekkan Salomon yang sedang dikawal ketat. Menang di duel udara, Salomon berhasil melepaskan tandukan ke kiri gawang dan sukses memperdaya kiper Fery Rotinsulu.

Gol tersebut justru melecutkan semangat para skuad Sriwijaya FC. Anak-anak binaan Rahmad ini bangkit dengan menyuguhkan tempo permainan cepat. Permainan umpan-umpan pendek satu-dua dari kaki ke kaki diperagakan Laskar Wong Kito ini.

Demi meredam serangan Keith Kayamba dkk, Bambang memasukkan bek Edson menggantikan Idrus. Namun keputusan ini ternyata membawa celaka. Pada menit ke-62, satu menit setelah Edson masuk, gawang PSIS kembali bobol lewat tendangan-kanon Zah Rahan dari luar kotak 12-pass.

Awalnya, Sriwijaya FC mendapat hadiah tendangan bebas di luar kotak pinalti. Keith Kayamba yang menjadi eksekutor. Melihat kelengahan lawan, lalu dengan cerdik Keith cepat-cepat menyodorkan bola kepada Zah Rahan yang tak terkawal.

"Set piece" ini diteruskan Zah Rahan dengan tendangan-mendatar keras ke pojok kanan gawang. Si kulit bundar menembus pagar hidup dan menggetarkan jala kiper Basuki yang menggantikan Agus Murod di akhir babak pertama. Dengan gol ini, Zah Rahan menambah pundi golnya menjadi lima di musim ini bersama Sriwijaya FC, sekaligus skor penentu kemenangan tim tamu.

Ketinggalan satu skor, PSIS bangkit mengejar ketertinggalan. Sektor sayap kembali merongrong lini belakang lawan. Demi mengawal kemengangan, Rahmad memasukkan bek Nasuha dan Slamet Riyadi menggantikan Isnan Ali dan Christian Waroba.

Di sisa waktu yang ada, usaha kesebelasan Mahesa Jenar dalam mengejar ketertinggalan tak berbuah gol. Skor 1-2 untuk kemenangan Sriwijaya FC bertahan hingga peluit panjang dibunyikan.

[+/-] klik judul kecil di atas untuk melanjutkan...

Pasar Johar Mulai Ramai

BERITA

Semarang, 7 Oktober 2008
Pasar Johar Mulai Ramai
*Harga Daging Masih Tinggi
Oleh Anindityo Wicaksono


MEMASUKI H+6 Lebaran, Selasa (7/10), di Pasar Johar Semarang mulai terlihat ramai. Setelah sempat sepi akibat ditinggalkan para pedagangnya pulang kampung, transaksi perdagangan di pasar induk Kota Semarang ini berangsur normal. Para pedagang mulai menempati los-los pasar.

Kusminah (48), salah seorang pedagang, kemarin, mengatakan, meski ada sejumlah pedagang yang belum berjualan, keramaian pembeli mulai terlihat normal seperti hari biasa.

Pantauan di lapangan, harga-harga kebutuhan yang naik selama Ramadan, belum turun. Namun ada juga yang mengalami penurunan cukup signifikan dibanding ketika Lebaran. Harga kelapa parut misalnya, dari Rp 7.500 per kg selama Ramadan, kini turun jadi Rp 5.000 per kg.

Jumini (45), pedagang daging, mengatakan, untuk daging ayam dan sapi, harganya masih tinggi, sama ketika Lebaran. Harga ayam utuh Rp 25 ribu per kg, sedang ayam potong Rp 35 ribu per ekor. Harga daging sapi, lanjutnya, juga belum turun sejak mengalami kenaikan saat menjelang Lebaran. Masih Rp 60 ribu per kg.

Kurang Pasokan

Lonjakan harga ini, katanya, akibat jumlah pasokan daging dari peternak yang memang berkurang sejak Ramadan. "Jumlahnya berkurang hingga 30 persen dibanding biasanya," ujarnya.

Dikatakannya, pascakenaikan harga, banyak pedagang daging seperti dirinya yang merugi. "Total nilai kerugian saya, terhitung sejak Ramadan, mencapai sekitar Rp 1,5 juta. Omzet pembelian terus menurun akibat melemahnya daya beli masyarakat yang tak sanggup mengikuti kenaikan harga," tuturnya.

Aminah (37), seorang pembeli, mengeluhkan tingginya harga daging. "Kalau selama Ramadan hingga hari raya harga daging melambung tinggi, saya lumrah," sambatnya, "tapi kalau sudah seminggu pasca-Lebaran belum juga turun, tentunya memberatkan pembeli," kata warga Jagalan Semarang ini.

Dia meminta pemerintah supaya menindaklanjuti kondisi ini. "Jangan sampai kurangnya pasokan daging dari peternak membuat harga di pasar menjadi tak terkendali. Pembeli dan pedagang kecil yang jadi korbannya," pungkasnya.

[+/-] klik judul kecil di atas untuk melanjutkan...

Pemudik Keluhkan Kondisi Terboyo

BERITA
Semarang, 23 September 2008

Pemudik Keluhkan Kondisi Terboyo
Oleh Anindityo Wicaksono


BEBERAPA pemudik mengeluhan kondisi Terminal Terboyo Semarang yang kian kotor dan tak nyaman. Selain itu, hingga siang hari, masih terlihat sejumlah titik genangan limpasan air laut (rob) di areal pelataran parkir bus.

Menurut Sulaiman (28), pemudik tujuan Gresik, Jawa Timur, kemarin, kondisi ini menjadikan sebagian besar penumpang tak betah berlama-lama di terminal. Padahal, seharusnya terminal dapat menjadi tempat beristirahat bagi para penumpang. "Terutama yang kelelahan akibat menempuh perjalanan jauh," katanya.

Menurut pantauan, selain kotor, kios-kios dalam terminal juga terkesan tak teratur. Ruang tunggu tak nyaman karena panas dan sempit. Selain itu, limpasan rob pun masih terlihat menggenang di pelataran parkir bus, khususnya emplasemen bus jurusan selatan.

Menurut Kepala Terminal Terboyo Ganin Bimantoro, rencana peninggian sebanyak 20 cm untuk emplasemen bus jurusan selatan, baru akan dilaksanakan di pertengahan 2009. Hingga kini, peninggian baru selesai untuk emplasemen bus jurusan timur. "Untuk areal bus kota, proses pengerjaannya baru selesai 50 persen," katanya.

Menurut dia, genangan rob terjadi akibat belum ratanya permukaan jalan. "Permukaan tanah ambles antara 5-10 cm. Hal ini mulai terjadi sejak sekitar tahun 2000, ketika pembangunan industri mulai marak di sekitar terminal," ujarnya.

Dia mengakui, perbaikan infrastruktur yang tak kunjung selesai telah mengurangi kualitas pelayanan bagi masyarakat pengguna terminal. Keluhan yang sering diterimanya antara lain genangan rob, bau kurang sedap, hingga kerusakan jalan dan bangunan pendukung seperti ruang tunggu dan toilet umum.

Walau begitu, dia menganggap tudingan anggota komisi V DPR-RI Adjie Massaid yang menyatakan kondisi terminal jauh dari layak dan tidak memanusiakan manusia, terlalu berlebihan. Seperti diberitakan, hal ini dikemukakan Adjie ketika bersama anggota komisi V DPR meninjau kesiapan arus mudik dan arus balik di Terminal Terboyo, Mangkang, dan Stasiun Tawang, Sabtu (20/9).

Diakuinya, walau dari segi estetika dan kenyamanan, terminal masih perlu mendapat perhatian, fungsi utama pelayanan terminal seperti kelaikan jalan, kemanan, ketertiban tarif, serta kesiapan armada, selama ini telah cukup terpenuhi. "Tinggal dari mana kita memandang persoalan ini," katanya.

Menurut dia, tolok ukur keberhasilan utama fungsi terminal dalam angkuran Lebaran ada dua. Pertama tertib tarif, kedua tidak ada keluhan penelantaran penumpang di jalan oleh pengemudi bus.

Mangkang

Terpisah, pakar transportasi Djoko Setijowarno mengatakan, meski cenderung berlebihan, masukan dari anggota komisi V DPR ini patut menjadi perhatian pemerintah. "Selama ini, kesan kotor, tergenang rob, tidak nyaman, serta jalanan yang selalu macet, masih menjadi citra buruk Terminal Terboyo," ujarnya.

Menurut dia, pemerintah perlu melakukan inovasi bagi peningkatan kualitas pelayanan Terminal Terboyo. Dicontohkannya, karena udara daerah Terboyo panas, ruang tunggu terminal perlu diberi AC. "Selain itu, toilet umum pun harus bersih," katanya.

Pemkot bisa mencontoh pengelolaan di terminal induk Surabaya dan Purwokerto yang membaik setelah diserahkan pada pihak swasta yang profesional. Terbukti, lanjutnya, langkah ini mampu membuat terminal menjadi tempat yang lebih nyaman.

"Selain itu, seiring pelayanan meningkat, potensi pendapatan asli daerah (PAD) pun akan terdongkrak," ujar staf pengajar Tehnik Sipil Unika Soegijapranata Semarang ini.

Dia mengkhawatirkan Terboyo akan makin tak terurus ketika nantinya pembangunan Terminal Mangkang selesai. "Jangan sampai ketika Mangkang jadi, Terboyo ditinggalkan. Fungsinya penting untuk menunjang pelayanan transportasi. Jika Mangkang untuk jurusan ke barat, Terboyo ke timur," tuturnya.

[+/-] klik judul kecil di atas untuk melanjutkan...

Pelajaran dari Galabo Solo

KULINER

Surakarta, 22 September 2008
Pelajaran dari Galabo Solo
Oleh Anindityo Wicaksono


MALAM tadi saya berkunjung ke pusat wisata kuliner Kota Solo: Gladag Langen Bogan (Galabo). Letaknya di sepanjang Jl Mayor Sunaryo, Gladag, Solo (utara kawasan alun-alun utara). Bukanya cuma malam hari, dengan menutup jalan umum di depan pusat batik Pusar Grosir Solo (PGS) dan Beteng Trade Center (BTC).

Galabo? Ya, walau pusat jajanan ini baru buka sejak Januari 2008, namanya sudah terkenal seantero Solo dan sekitarnya. Ditambah publikasi dari salah satu televisi swasta belum lama ini, tambah masyhurlah tempat ini menjadi ikon para pecinta wisata-kuliner.

Sebagai pusat kuliner terbesar dan terlengkap di Solo, segala macam makanan bisa kita temui di titik pusat kota atau nol KM dari Solo ini. Dari makanan tradisi gudeg, nasi liwet, tiwul goreng, es dawet, hingga masakan mancanegara macam martabak Mesir, nasi goreng India, hingga kebab Turki.

Pengunjung di arena foodcourt ini selalu membludak, terutama di musim liburan. Jika di hari biasa jumlah pengunjung sebanyak 1.500-2.000 orang, di malam libur mencapai 3-4 ribu pengunjung.

Tak sedikit para pengunjung yang berasal dari kota-kota besar. Hal ini terlihat dari banyaknya kedaraan berplat luar Solo di areal parkiran. Pengunjungnya pun berasal dari segala golongan; mulai sepeda motor butut sampai mobil-mobil mewah.

Berdasarkan papan informasi, total ada 43 pedagang kaki lima (PKL) makanan di situ. Menurut seorang pedagang, Widodo (25), tempat itu diprakarsai Pemkot Surakarta. Agar tertib dan memudahkan pemantauan, kata Widodo (25), salah satu pedagang, tak sembarang pedagang boleh berjualan di situ.

Gerobak besi dan kursi serta payung peneduh disediakan gratis pemkot. "Pedagang hanya diwajibkan membayar pajak penghasilan (PPH), serta sewa listrik dan air," ujar warga Nusukan Solo ini.

Dari nama-nama di plang kios, sebagian besar adalah PKL makanan yang namanya sudah tak asing. Kios susu segar "Si Jack", misalnya. Kios yang khusus menjual susu segar ini memang sudah legendaris bagi warga Solo pecinta-makan.

Di cabang pusatnya, kios ini selalu ramai pengunjung. Sesuai namanya, menu yang tersaji sebagian besar susu segar dengan aneka variasinya. Ada susu stroberi, coklat, sundae, milkshake, hingga susu soda gembira yang berbahan susu segar. Bukan susu kaleng seperti umumnya tempat lain.

Harganya terbilang relatif murah. Dawet misalnya, dijual seharga Rp 4 ribu per porsi. Sedang nasi goreng paling murah mulai Rp 6 ribu per porsi.

Selain akrab dengan kantong dan beraneka ragam jenis makanannya, kawasan pusat wisata kuliner Gladag sangat nyaman. Terutama dijadikan tempat berkumpul. Tempatnya teduh, jalannya sudah di-pavling semua, dan, yang terutama: aman.

Gerobak makanannya berjejer teratur secara paralel. Rapi di satu baris. Penjaja kiosnya ramah-ramah. Bahkan, sebagai penarik, tak sedikit wanita-wanita muda yang tampil modis dengan baju batik atau rok mini 'mejeng' menjadi penjaga kios.

Kutha Budaya

Solo memang sedang banyak berbenah akhir-akhir ini. Terutama sejak ia mengusung slogan "Kutha Budaya" atau "City of Heritage" (kota warisan-budaya) dengan punggawanya: Walikota Solo, Djoko Widodo.

Bersih, nyaman, dan berbudaya. Itulah kesan yang saya tangkap dari wajah baru kota ini.

Persoalan PKL liar tampaknya perlahan mulai terselesaikan di kota Keris ini. Sejak dari Jl Slamet Riyadi hingga alun-alun kota, kita sepi mendapati tumpuk-menumpuknya PKL liar di sepanjang jalan. Seperti yang biasa kita temui di Jakarta, Semarang, atau kota besar lainnya.

Menurut teman saya warga Solo, Terminal Tirtonadi Solo kini juga makin nyaman dan sedap dipandang. Para PKL dan aneka kios yang tadinya saling berhimpit di areal depan maupun dalam terminal kini sudah direlokasi. Akibatnya, saluran-saluran air yang tadinya tertutup akibat menjadi tempat berjualan, sekarang bisa direnovasi.

Menurut saya, pengelolaan model begini patut kota besar lain tiru. Terutama Kota Semarang sebagai ibukota provinsi yang sedang gencar menuju kota perdagangan dan jasa. Walikota Semarang Sukawi Sutarip sepatutnya "berguru" pada Joko Widodo. Sebagai punggawa daerah, Joko terbukti mampu memegang komitmenn dalam membenahi kotanya. Terutama dalam urusan pembangunan fasilitas umum dan PKL.

Persoalan PKL yang selama ini menjadi momok penghambat pembangunan, toh dapat teratasi jika mau bijak disikapi. Kesalahan terbesar para kepala daerah selama ini adalah cenderung memberlakukan kebijakan satu-arah yang kerap terlalu memihak pemodal.

Walhasil, para pedagang tak diberi ruang menyampaikan pendapatnya. Penggusuran pedagang (baca: penertiban) jarang yang memberi solusi. Pemkot sebagai pengayom daerah, justru menjadi kerikil penghambat gerak roda perekonomian rakyat.

Seperti di Gladag, ternyata PKL mampu menjadi pesona kota dan saling bersinergi menjadi sumber pemasukan daerah. Galabo telah menepis segala anggapan miring tentang mental pedagang-pinggiran yang tak mau kalah cum antikompromi. Ketika pemda setempat mau memfasilitasi sarana-prasarana bagi pedagang, ternyata mereka siap memberi pelayanan prima.

Saya yakin, Galabo kelak dapat menjadi salah satu pusat percontohan revitalisasi PKL Apalagi sektor ini selama ini yang menjadi PR di banyak daerah. Kini pertanyaannya, bisakah Semarang punya kawasan wisata kuliner terpadu yang merakyat? Bukan seperti kawasan pecinan Semawis atau Tanah Mas yang makanannya serbamahal? Semoga.

[+/-] klik judul kecil di atas untuk melanjutkan...

Menyusuri Asal-usul Lunpia Semarang

KULINER
Semarang, 18 September 2008

Menyusuri Asal-usul Lunpia Semarang
Oleh Anindityo Wicaksono

MENUNGGU PEMBELI: Purnomo Husodo (70), generasi ketiga lunpia Semarang,
tampak sedang menunggui pelanggan di kios miliknya. (FOTO: Anindityo Wicaksono)

KOTA Semarang dijuluki kota lunpia karena kekhasan lunpia miliknya yang tidak ditemui di daerah lain. Namun, tahukah Anda, sebelum dikenal luas masyarakat, lunpia berasal dari Tiongkok dan memiliki tradisi turun termurun keluarga?

Awalnya, lunpia pertama kali dibawa ke Semarang oleh pemuda Tiongkok, Jwa Dayu, pada tahun 1930. Sesuai kemampuan yang dia miliki, dia mengadu nasib di Semarang dengan berdagang keliling lunpia dari kampung ke kampung.

Pada tahun 1940, usaha makanan yang terbuat dari bahan rebung (bambu muda) ini diteruskan anaknya, Siem Gwan Sing. Siem lalu meneruskan estafet usaha keluarga ini dengan membuka sebuah kios lunpia di Jl Gang Lombok 11.

Ketika dia wafat pada tahun 1956, usahanya diteruskan tiga orang anaknya yaitu Siem Swie Kiem, Siem Swie Hie, dan Siem Hwa Nio. Namun hanya Siem Swie Kiem yang meneruskan kios lunpia di Gang Lombok milik bapaknya.

Dua anak lainnya membuka usaha serupa di tempat lain dengan maksud ingin mandiri. Siem Swie Hie membuka kios lunpia di Jl Pemuda dan Siem Hwa Nio di Jl Kampung Baris 501 Mataram.

Walau sampai kini ketiga kios ini masih bertahan, tinggal Swie Hie atau Purnomo Usodo (70) seorang yang masih hidup. Dia adalah satu-satunya generasi ketiga perintis lunpia Semarang yang hingga kini setia meneruskan usaha tradisi keluarga.

Menurut Purnomo, pedagang lunpia yang tersebar luas di kawasan Jl Mt Haryono dan Jl Pandanaran, pada mulanya adalah para karyawannya. "Setelah dirasa mampu, saya dorong mereka untuk membuka usaha sendiri," katanya.

Untuk menghindari pencantuman nama tanpa ijin pada kios lunpia miliknya, pada tahun 1996 dia mendaftarkan hak paten usahanya dengan nama "Lunpia Semarang Gang Lombok."

Cita Rasa

Kios ini setiap harinya buka pukul 08.00-17.00. Dalam kios berukuran 3x5 meter ini, Purnomo selalu ditemani dua pegawainya yang setia membantunya sejak kali pertama ia berjualan, Djafar (50) dan Suparman (50). Selain mereka, ada tiga orang pegawai lain di rumahnya yang bertugas meracik isi lunpia.

Keistimewaan lunpia Gang Lombok yang gurih terletak pada isinya. Sebelum digoreng dengan dilapisi kulit, rebung terlebih dulu dicampur ikan pihi, telur, dan udang. Cita rasa gurih berasal dari ikan pihi. "Inilah yang membuat lunpia di sini gurih dan tidak amis seperti di tempat lain," ungkapnya.

Racikan yang berbeda ini membuat lunpia di sini lebih mahal dibanding tempat lain. Untuk setiap porsinya, lunpia basah maupun goreng dijual seharga Rp 9 ribu. Sedangkan harga lunpia di kios-kios lain seperti di Jl Mataram dan Jl Pandanaran yaitu Rp 5 ribu-Rp 7 ribu per porsi.

Namun harga yang terhitung lebih mahal dibanding kios-kios serupa ini tak mengurangi minat para pelanggannya. "Meski mahal, rasanya lebih spesial dibanding tempat lain," kata seorang pembeli Dita (25), "selain racikan rebungnya gurih, campuran telur dan udangnya tidak berbau amis."

Menurut Purnomo, kiosnya selalu ramai pengunjung di masa liburan Lebaran atau Tahun Baru. “Jika hari biasa menjual 400-500 lunpia sehari, pada masa liburan saya mampu menjual hingga 1.500 lunpia sehari,” katanya.

Dia mengatakan, pada masa liburan, banyak pengunjung yang berasal dari luar kota seperti Jakarta dan Surabaya. Bahkan, katanya, ada pelanggan lamanya yang sedang tinggal di Singapura dan Jerman, selalu membeli lunpia miliknya ketika sedang pulang ke Semarang.

Meski dari hasil berdagang lunpia selama 56 tahun ini membuatnya berhasil menyekolahkan anaknya hingga universitas, dia tidak sombong. Hingga kini, Purnomo masih tetap melayani sendiri pelanggannya.

Kesuksesan ini, katanya, tak lepas dari peran Jwa Dayu dan Siem Gwan Sing. “Mereka pasti bangga, usaha lunpia yang mereka rintis, kini menjadi makanan khas kebanggan warga Semarang," ujarnya.

[+/-] klik judul kecil di atas untuk melanjutkan...

Ketika Gamelan Tak Lagi Diminati

FEATURES
Semarang, 17 September 2008

Ketika Gamelan Tak Lagi Diminati
Oleh Anindityo Wicaksono

BERMAIN DEMUNG: Mbah Parjo (78), sedang memainkan alat musik
tradisonal Demung buatannya, Rabu (17/9).
(FOTO: Anindityo Wicaksono)

TRADISI kuno menyebutkan, irama gamelan Jawa berasal dari kepribadian asli Jawa yaitu keselarasan. Berbeda dengan ritme gamelan Bali yang rancak dan Sunda yang didominasi seruling, gamelan Jawa lebih lembut. Dengan memainkannya, kita diharapkan mampu mengatur keseimbangan emosi dan menata perilaku yang laras dan harmonis.

Kini, di tengah gempuran budaya modern, musik tradisi bernilai luhur ini kian terpinggirkan, terutama oleh kaum muda. Seiring menurunnya peminat, pengrajin gamelan pun nyaris selalu sepi orderan.

Kondisi ini ternyata tak mengurangi kesetiaan Mbah Parjo (78) pada alat musik tradisi ini. Kini, Mbah Jo Gong, begitu dia dikenal masyarakat, terus berusaha melestarikan aset budaya Jawa ini dengan bertahan menjadi satu-satunya pengrajin gamelan di Semarang.

“Sudah selama 56 tahun saya setia membuat gamelan,” katanya ketika ditemui di kediamannya di Jalan Dworowati Raya 4, Kelurahan Krobokan, Semarang, kemarin.

Awalnya, pria asli Bekong Surakarta ini mulai belajar pembuatan gamelan di Desa Gendingan, Mangkunegaran, Surakarta. Ketika berusia 18 tahun, dia bekerja pada seorang pembuat gamelan ternama yang bernama Mpu Kartopandoyo.

Ketika itu, katanya, dia hanya boleh ikut membantu, belum boleh belanja bahan dan membuat sendiri. Setelah dua tahun bekerja, barulah dia diperbolehkan menempa logam dan 'nglaras' (menyetel nada gamelan). "Oleh guru saya, saya dijuluki 'Darso Berdhonggo', artinya Darso si tukang gamelan," kenangnya.

Ketika dianggap mampu mandiri, Mpu Kartopandoyo menyuruhnya ke Semarang untuk membuka usaha sendiri. Syaratnya, dia tidak boleh buka usaha lain selain membuat gamelan dan harus menurunkan ilmunya pada orang lain. "Ketika itu saya dipinjami modal sebesar Rp 10, jaman sekarang nilainya sekitar Rp 2,5 juta," ujarnya.

Di Semarang, seiring namanya makin dikenal penikmat gamelan, usahanya berkembang pesat. Pesanan terus berdatangan dari dalang, sekolah-sekolah, hingga instansi-instansi daerah. Cukup sering dia mendapat order dari kota-kota lain di Jawa Tengah selain Semarang.

Ketika itu, sempat dia mengantongi ijin usaha untuk kerajinan timah dan tembaga. Nama perusahaannya, Perusahaan Gamelan "Gotong Royong". Area di belakang rumah, dia jadikan tungku pembakaran bahan baku. "Waktu itu belum ramai penduduk seperti sekarang. Asap dari tungku tidak terlalu mengganggu warga," kata ayah lima putra ini.

Tergantung Bahan

Sekitar tahun 1980-an, ketika omzet usahanya terus mengalami penurunan, ijin itu dia kembalikan karena pendapatannya tidak sanggup menutupi pajak tiap tahunnya. Bahkan, aku dia, sudah tiga bulan terakhir ini tak ada pesanan maupun panggilan jasa nglaras gamelan sama sekali.

Menurut dia, peminat gamelan mulai sepi sejak campur sari marak. “Apalagi ketika musik barat dan karaoke mulai digandrungi," jelasnya yang mengaku hanya sekolah sampai kelas tiga Sekolah Rakyat (setingkat SD) ini.

Harga satu set gamelan beragam tergantung jenis bahan bakunya. Untuk bahan perunggu, misalnya, mencapai Rp 360 juta. Sedangkan besi lebih murah yaitu sekitar Rp 40 juta.

Bahan baku amat menentukan warna dan ketepatan nada gamelan. Gamelan paling baik suaranya, berbahan perunggu. “Tapi karena biayanya sangat mahal, biasanya digantikan kuningan atau besi kualitas unggul, meski tak bisa semerdu perunggu," ungkapnya.

Selain nada, besarnya selisih harga dikarenakan kualitas bahan sangat menentukan usia alat sebelum berkarat. Dia mencontohkan, umur gamelan dari besi mencapai 10 tahun, kuningan 50 tahun, dan perunggu bisa sampai 80-100 tahun.

Dia menuturkan, untuk satu set gamelan bahan perunggu, proses pembuatannya memakan waktu satu bulan dengan pekerja 12 orang. Bahan kuningan lebih cepat yaitu 20 hari. "Gamelan perunggu komposisi bahannya 10:3, yaitu 10 perunggu, 3 timah," katanya.

Satu set lengkap gamelan khas Jawa, lanjutnya, terdiri dari gambang, senthem, bonang, tenong, peking, saron, gender, demung, siter, kempul, dan gong.

Prihatin

Laras dalam gamelan Jawa adalah nada pentatonis. Satu permainan gamelan komplit terdiri dari dua putaran, yaitu slendro dan pelog.

Slendro, terangnya, memiliki 5 nada per oktaf dengan perbedaan interval kecil yaitu 1-2-3-5-6. Sedangkan pelog, memiliki 7 nada per oktaf dengan perbedaan interval besar yaitu 1-2-3-4-5-6-7. "Untuk nglaras gamelan, saya harus berkiblat pada satu demung yang dijadikan patokan, tidak boleh meleset," ungkapnya.

Dia mengaku masih kesulitan untuk memasarkan sendiri. Kendala pemasaran dan modal kerap menjadi hambatan usahanya. "Pernah karena lama tak mendapat order, saya coba titipkan gamelan pada toko barang antik. Namun hingga 1,5 tahun tak laku-laku," tuturnya.

Selain karena usaha gamelannya yang terus merugi, ada lagi yang menjadi keprihatinan Mbah Jo Gong. Sebagai pengrajin gamelan tertua di Semarang, dia mengkhawatirkan masa depan musik gamelan akibat mulai ditinggalkan generasi muda.

Dari kelima anaknya, ujarnya, hanya satu yang hingga kini membantunya ketika ada orderan. "Sisanya, lebih memilih pekerjaan lain yang lebih menguntungkan ketimbang sekadar membuat gamelan,” pungkasnya.

[+/-] klik judul kecil di atas untuk melanjutkan...