Tampilkan postingan dengan label features. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label features. Tampilkan semua postingan

08 Oktober 2009

Semua Ada Tarifnya

FEATURE
Jakarta, 5 Oktober 2009

Semua Ada Tarifnya
Oleh Anindityo Wicaksono
(Sumber gambar: http://www.pacamat.com)

TEMBOK beton setinggi delapan meter itu tampak kokoh menjulang. Untaian kawat berduri di sepanjang puncaknya menambah keangkerannya. Dindingnya memampang sebuah poster ukuran jumbo bertuliskan: "Memberi atau menarik pungutan liar melanggar hukum".

Puluhan orang tampak gelisah duduk-duduk di areal depan tembok. Maya, 30, bukan nama sebenarnya, salah satunya, memasang telinga menunggui namanya dipanggil melalui alat pengeras suara. Ia hendak membesuk adiknya yang sudah 11 bulan mendekam LP Cipinang, Jakarta Timur. Ia datang bersama Ani, 20, kekasih sang adik.

LP Cipinang membuka waktu besuk setiap hari kecuali Jumat dan Minggu. Waktunya dibagi dua kali, pukul 09.30-12.00 dan 12.30-15.00.

Sebelum memasuki ruang besuk, ada beberapa gerbang pengaman berlapis yang harus mereka lewati. Total ada empat pos pemeriksaan. Paling pertama, loket pendaftaran. Di tempat ini mereka terlebih dulu mengisi semacam blangko yang memuat berbagai keterangan. Tertulis nama-nama pembesuk, nama napi yang dibesuk, dan nomor identitas diri.

Dari situ kita akan mendapat nomor antrian. Empat deret kursi plastik menjadi tempat menunggu sampai nama kita disebut melalui pengeras suara. Area menanti itu terletak di sebuah pelataran terbuka persis di depan sebuah gerbang besi yang terlihat kokoh. Tingginya pas satu orang dewasa. Ada lubang tempat mata yang hanya bisa dibuka dari dalam.

"Grekk...", bunyi grendel gembok gerbang itu menyentak lamunan Maya. Nomor antriannya, 148, sudah dipanggil melalui alat pengeras suara.

Memasuki gerbang, terhampar ruangan seluas sekitar 5x5 meter. Beberapa penjaga berseragam coklat tampak berjaga-jaga. Saku kiri seragamnya berterakan: "Polsuspas" (polisi khusus pemasyarakatan).

Di sini masih ada tiga pos lagi. Perhentian pertama, petugas akan memeriksa ulang blangko yang kita isi. Khusus pria harus meninggalkan KTP. Kemudian punggung tangan kanan diberi cap berdiameter 1 cm bertuliskan: "LP Cipinang Kelas I".

Setelah tas para pembesuk melewati alat sinar-X, ada pos dua, tempat penitipan hp (hand phone). Segala alat komunikasi yang dibawa pembesuk diminta dan dimasukkan ke dalam loker-loker kecil. Di tempat ini juga, pria akan diberi kartu bertuliskan "pengunjung" beserta nomornya untuk digantungkan di leher.

Pos terakhir, persis di sebelah pos kedua, khusus pria, sang petugas akan menggeledah seluruh tubuh. Isi dompet pun tak ketinggalan diperiksa benar.

Setelah sukses melewati ini semua, barulah pembesuk dapat memasuki ruang besuk, semacam aula besar berbentuk persegi panjang. Ukurannya sekitar 10x6 meter. Udaranya segar berkat kipas angin yang tersebar di langit-langit ruangan.

Di situ berjejer kumpulan kursi-kursi yang mengelilingi meja semacam di kafe. Tiap kumpulan berisi empat kursi, dua saling berhadap-hadapan. Dinding paling belakang ruangan itu memampang poster jumbo ukuran 4x2 meter. Isinya tentang prosedur pengurusan pembebasan bersyarat (PB ) bagi narapidana.

Di bagian pojok terdapat semacam kios yang menjual barang kebutuhan sehari-hari. Dari rokok, gula, teh, kopi, mie instan, sampai bahan deterjen. Kios ini disediakan bagi pembesuk yang hendak membelikan barang bagi narapidana.

Sewa Kamar

Suasana ketika itu sudah ramai benar. Para narapidana sudah tenggelam dengan pembesuknya masing-masing. Semuanya mengenakan rompi berwarna kuning terang. Di punggungnya melingkar tulisan "Narapidana LP Cipinang". Dituliskan dengan huruf besar semua.

Rahmat, 26, bukan nama sebenarnya, tampak sudah menunggu tak sabar di kursi tunggu dengan napi-napi lain. Ia langsung menghampiri Maya dan Ani Tangan sang kakak langsung diciumnya. Sedang Ani, langsung diciumnya di pipi.

"Kak, nanti jangan lupa belikan rokok putih satu pak untuk sipir. Tadi saya sudah dipesannya. Wajib!" pesan Rahmat.

Semua bisa diatur asal ada imbalannya berlaku benar di sini. Dari balik jeruji, segala kebutuhan bisa terpenuhi. Mulai dari air mineral, hp, televisi, magic jar, sampai alat permainan playstation bisa tersedia asal ada uangnya.

Tak hanya itu, untuk menuju dan kembali dari ruang besuk saja ada uangnya. Tiap napi harus menyediakan minimal Rp30 ribu jika tak mau dipukuli sipir. Dari sel mereka harus melewati lima sipir. Masing-masing meminta Rp5 ribu. Plus "biaya sewa" rompi kuning yang menjadi identitas diri para napi selama di ruang besuk, Rp5 ribu lagi.

Rahmat sendiri mengaku kini tinggal di kamar khusus. Ukurannya lumayan luas, 3x3 meter. Isinya komplit. Mulai dari dispenser, televisi, vcd player, sampai playstation ada.

Kamar mewah itu dipatok uang sewa Rp300 ribu sebulan.


Dari pengakuannya, di dalam LP ada banyak kamar sewa yang disediakan khusus bagi napi berduit. Di kamar itu, hanya playstation yang harus dia bawa sendiri. Kakaknya lah yang menitipkan pada petugas.

"Bayar Rp50 ribu untuk 'ongkos kirimnya'," kata Maya.

Rahmat bisa dikatakan napi yang beruntung. Kakak dan keluarganya rela merogoh kocek demi memenuhi segala kebutuhan dia di dalam. Pada minggu-minggu pertama pria berkulit sawo matang itu ditahan, dia langsung meminta Rp500 ribu pada keluarganya. Uang sebesar itu diminta napi-napi lain di bloknya sebagai syarat jaminan keamanan.

Keluarganya pun menuruti sebisanya. "Habis kasihan. Kalau tidak bisa menyediakan, katanya dia akan digebukin," kata Maya.

Rahmat adalah narapidana kasus narkoba. Ia dibui gara-gara dijebak kawannya. "Teman saya itu 'cepu'," tuturnya.

"Cepu" adalah istilah di antara narapidana untuk menyebut mata-mata polisi. Mantan narapidana atau mereka yang pernah terkait kasus yang kemudian direkrut kepolisian. Kerjanya menjebak kawan-kawan lainnya dengan imbalan uang.

Pandangannya lalu menerawang mengingat kembali masa dia pertama kali berurusan dengan hukum. Waktu itu dua bulan menjelang Lebaran 2008. Teman Rahmat hendak berpesta besar. Dia meminta tolong padanya untuk mencarikan paket ganja.

Meski sadar risikonya besar, dia tak sanggup menolak. "Saya ini terlalu setiakawan. Apapun yang teman minta, saya usahakan selagi saya mampu," ujarnya.

Malang baginya. Sesampainya di tempat bandar yang biasa menjadi tempat langganan temannya, tak hanya sang bandar yang menyambut, beberapa polisi berpakaian preman langsung mendekapnya.

Tiga hari ia ditahan di kantor Polres. Selama itu pula ia harus menerima perlakuan kasar di luar batas kewajaran. Ia dipukuli, diinjaki dengan sepatu lars, sampai disuruh tidur dengan posisi tergantung secara terbalik.

Dari situ ia dipindahkan ke Rutan Cipinang, persis di sebelah komplek LP Cipinang. Tiga bulan ia di sana selama menunggu masa persidangannya selesai. Palu diketuk, hakim menjatuhkan vonis bersalah dengan masa hukuman penjara 1 tahun 8 bulan.

Hari pertama dipindahkan ke LP tak akan pernah dilupakannya. Sama seperti kebanyakan kawan lain, sebelum dimasukkan ke sel, dia disambut 'ucapan selamat datang' dari para sipir. "Lagi-lagi saya dipukuli, ditendangi, sampai diinjak-injak. Memukulnya jarang pakai tangan kosong, minimal kabel listrik besar dijadikan alatnya," kisahnya.

Kini setelah 11 bulan mendekam di penjara, kehidupannya makin membaik. Dia sudah dikenal baik oleh beberapa sipir dan napi-napi dari blok lain. Dia kini bergabung menjadi "tangpir" musik. Tangpir adalah istilah bagi napi yang dipercaya membantu tugas sipir. Macam-macam tugasnya. Ada yang bertugas di kantor pelayanan di lantai atas komplek LP, urusan kebersihan, hingga perkara makanan.

Tugasnya sebagai tangpir musik adalah menjadi pengisi saban ada acara yang digelar di sana. Lebaran lalu dia menjadi pengisi acara. Dia bermain drum di dalam sebuah band yang berisikan para napi.

Tak terasa sudah 30 menit berlalu. Jatah waktu kunjungan sudah habis. Para sipir sudah ramai berteriak-teriak: "Waktu habis... waktu habis...."

Secercah harapan terpintas di wajah Rahmat. Seperti teriakan sipir, waktunya di LP memang sebentar lagi akan habis. Ia menjalani hukuman 38 hari lagi. "Bulan lima, tahun 2010," katanya.

Selepas dari penjara, dia mengaku hendak pulang ke kampung asal orangtuanya, Serang, Banten. "Saya sudah kapok hidup begini. Ga lagi-lagi menyentuh dengan yang namanya narkoba. Saya ingin menjadi petani saja," tuturnya. (*)

[+/-] klik judul kecil di atas untuk melanjutkan...

Rajawali itu Terbuntal Kain

FEATURE

Jakarta, 2 Oktober 2009
Rajawali itu Terbuntal Kain
Oleh Anindityo Wicaksono
(Sumber gambar: http://foto.detik.com)
MATAHARI mulai membakar ubun-ubun di sebuah bilangan Jakarta Timur. Bau kotoran hewan bercampur aroma keringat menyengat hidung di sebuah gedung berlantai dua. Cat-cat dinding gedung itu terlihat kusam dan terkelupas di sana-sini.

Di seluruh penjuru gedung beragam jenis satwa menyapa, mulai dari beraneka jenis burung, kucing, hamster, kelinci, marmut, ikan, ular, tupai, hingga ayam. Kicauan burung dari segala jenis menyeruak ke telinga. Ramai benar.

Di atas adalah potret sehari-hari di Pasar Burung Pramuka, Jakarta Timur. Saban Sabtu-Minggu, pasar yang konon terbesar se-Asia Tenggara itu selalu dijejali dengan pembeli, terutama para penggemar burung.

Maksud kedatangan mereka sama beragamnya dengan asal kedatangan mereka. Ada yang hendak membeli pakan hewan, obat ternak, sangkar burung, sampai yang sekadar berkeliling melihat-lihat aneka ragam satwa di sana.

"Saya sudah sejak lama menggemari burung kicau. Selain mencari pakan burung, hampir tiap minggu saya kesini untuk menambah koleksi saya," ujar Teguh, 32, pembeli asal Rawa Barat, Jakarta Utara, bersemangat.

Sepintas lalu tak ada yang janggal di sini. Aktivitas antara padagang dan pembeli di sini tak jauh beda dengan di pasar-pasar hewan lain. Untuk koleksi satwanya? "Di sini jauh lebih komplit," akunya.

Namun jika jeli, kita akan mengelus dada menemukan realitas pelik yang mengancam dunia fauna bangsa ini terjadi di sini. Ternyata pasar inilah yang menjadi arena transaksi terbesar satwa langka di Indonesia, bahkan Asia Tenggara.

Memang, berkali-kali polisi maupun Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) menggelar razia satwa langka sebagai upaya membongkar rantai perdagangannya. Namun, di pasar gelap, nyatanya transaksi haram ini masih saja terus berlangsung. Perdagangan satwa langka nyatanya belum terhenti.

Pasar Pramuka disebut-sebut sebagai titik sentral pusat transaksi. Tempat ini bagian dari Kota Jakarta yang diyakini menjadi salah satu simpul utama jaringan perdagangan satwa langka di Indonesia.

Secara kasat mata, aktivitas terlarang di Pasar Pramuka tak terlihat. Gencarnya operasi yang dilakukan berkenaan dengan kejahatan lingkungan ini memaksa para cukong dan pedagang untuk memutar otak. Keuntungan besar yang didapat per transaksi membuat mereka terus mencari siasat untuk bertahan. Proses transaksi dirapikan.

Ketika didatangi orang-orang dari luar rantai mereka, mereka pun bersikap cermat. Mereka hanya akan menunjukkan "barang" kepada langganan tetap atau mereka yang menunjukkan minat kuat membeli. Dengan modus ini para pedagang melenggang kangkung mereguk uang haram.

Rajawali

Saya belum lama ini mengunjungi Pasar Pramuka untuk melihat sendiri. Dengan belagak menjadi calon pembeli, awalnya saya bersikap laksana pembeli biasa. Melihat-lihat burung hias, menikmati kiacauan-kicauan aneka burung, hingga bertanya ngalor-ngidul tentang jenis-jenis burung dan pakannya.

Di seluruh tempat, tak ada satupun pedagang yang memajang satwa-satwa terlarang di kios mereka. Namun ketika saya mulai bertanya mengenai keberadaan hewan langka ke beberapa pedagang, perlahan pintu membuka.

Kios pertama yang memancing kecurigaan adalah los terdepan dekat area parkiran. Sepintas tak beda dengan kios lain. Di bagian depan tergantung puluhan kandang dari kayu berisikan burung beraneka jenis.

Di dalam kios berderet rapi tumpukan menjulang puluhan kandang. Isinya burung kicau semua. Namun ketika pandangan sampai ke bagian pojok depan, terdapat sebuah kandang besi besar. Isinya dua anak beruk.

Primata rekan pemanjat pohon kelapa itu ditawarkan Rp350 ribu per ekor. "Sehat-sehat ini, Bang. Bagus kalau mau ditaruh di kandang-kandang di rumah," kata Robi, penjaga kios, menawarkan dengan ramah.

Kecurigaan timbul karena tak biasanya kera setinggi 30-an cm ditempatkan di sebuah kandang setinggi hampir 2 meter. "Ada yang lebih besar lagi ga Bang? Mau ditaruh di kandang besar, biar bagus," saya coba memancing

Keramahan Robi di awal pertemuan segera sirna. Matanya memicing, mulai memperhatikan saya dari ujung kaki sampai rambut. Gesture tubuhnya mulai tertutup.

Ketika saya terus meyakinkan mengaku sebagai orang suruhan, dia mulai sedikit melunak. "Disuruh bos. Buat mengisi kandang besar yang sudah disiapkan di areal pekarangan rumah," jelas saya berdalil.

Dia lalu menawarkan siamang (Symphalangus syndactylus), salah satu primata yang dilindungi. Hewan ini dibanderol Rp2,5 juta untuk dewasa dan Rp3,5 juta untuk yang kecil.

Kenapa yang muda justru lebih murah? "Lebih mudah dijinakkan," jelas Robi.

Dia mengaku memang tidak membawa siamang ini di pasar. Kalau saya mau membeli hari itu juga, dia tinggal mengambilkannya di rumah kerabatnya di Jalan Pembina, persis belakang Pasar Pramuka. Dia juga menolak ketika saya meminta diajak ikut serta ke lokasi penyimpanan.

Dia mengaku punya pengalaman buruk dengan mengakan calon pembeli. Pernah ada orang yang mengaku pembeli ternyata seorang aktivis LSM lingkungan. Orang ini lalu mengadu ke aparat. Buntutnya panjang. Hewan-hewan dagangannya disita semua. Temannya sesana pedagang bahkan ada yang sampai diseret ke pengadilan.

Apalagi untuk memajang siamang itu di display. "Takut kena razia Polisi Hutan. Kalau ketahuan dendanya Rp100 juta. Bukan untung malah tekor," ujarnya.

Dia juga menawarkan owa. Namun untuk mendapatkannya, dia harus memesan dulu ke cukong. Pembeli disuruh menunggu barang seminggu. "Mereka dapat dari pemburu liar di Kalimantan. Tapi kalau situ positif mau, tinggalkan uang muka saja. Paling lama seminggu pasti datang," ujarnya mantap.

Selain kedua primata itu, dia juga bisa menyediakan burung jalak Bali (Leucopsar rothschildi) dan kakatua. "Kalau burung-burung ini mudah didapat. Sudah banyak yang menangkarnya. Dua jenis ini sama harganya, Rp1 juta sepasang."

Menurut pengakuan Robi, tak seperti dulu, kini orang utan (Pongo pygmaeus) dan kuskus (Phalanger spp) sudah sukar ditemukan di Pasar Pramuka. "Sekarang susah lakunya. Jadi kini kebanyakan barang langsung dilempar ke luar negeri," katanya.

Beringsut dari situ, saya menemui pedagang lain di lantai dua. Jono namanya. Di sebelahnya tampak seorang kawannya. Badannya besar. Tangan kirinya yang penuh tato sampai pergelangan. Menurut beberapa pedagang di sana, dia ini salah satu "sekuriti" yang disegani di situ. Keduanya tampak duduk santai di sebuah dipan panjang dari kayu.

Jono sedang menunggui tiga kandang di depannya. Isinya tiga ekor kucing ningrat: Anggora, Persia, dan Himalaya. Yang paling mahal Himalaya, mencapai Rp1,25 juta per ekor. Kemudian jenis Persia Rp1 juta dan Anggora Rp750 ribu.

Saya yang awalnya berpura-pura akan membeli kucing, lalu menanyakan elang Jawa (Spizaetus bartelsi), burung langka yang dilindungi.

"Wah, di sini mah udah ga ada, Bang," tukas Jono cepat. Nada suaranya seperti tertahan. Mimiknya lalu berubah serius. Sorot matanya seketika menajam memperhatikan saya.

Jika dia dia sanggup mencarikan, saya menjanjikan hubungan ini akan terus berlanjut. Jono mulai melunak.

"Kalau situ memang pasti mau, ada," ujarnya lirih.

Dia lalu menawarkan elang. Burung langka yang dirahasiakan tempat penyimpanannya ini dibanderol Rp750 ribu per ekor. Dia punya dua macam, warna hitam polos (elang hitam) dan abu-abu (elang Jawa). "Kalau situ mau, ada juga rajawali. Warnanya coklat. Bagus, masih jinak," katanya.

Saya kemudian diminta menunggu di kios Jono. Ketika berdua saja dengan kawan Jono, sang pemuda bertato tampak gelisah. Matanya awas memperhatikan gerak-gerik saya. Bicaranya pun dijaga ketika saya mengorek beberapa informasi.

Tak sampai 10 menit, Jono kembali bersama seorang pemuda, Dede. Mereka kembali dengan menenteng seonggok buntalan kain berwarna merah. Kain itu tampak kumal, terlihat seperti kain yang sering digunakan untuk mengelap segala sesuatu yang kotor.

Isinya? Seekor rajawali muda. Warna coklat tua, umurnya tiga bulan.

Burung itu terlihat sehat. Tak terlihat satupun bekas luka di seluruh tubuhnya. Namun cara Dede membawa layaknya memegang sulak itu membuat burung perkasa itu kehilangan kegagahannya.

"Nanti kalau umur satu tahun, tinggi tegak bisa sampai semeter," terang Dede berpromosi.

Selain rajawali, Dede mengaku masih memiliki seekor elang bondol umur satu tahun. Burung-burung langka itu didapatkannya dari hasil tangkapan para pemburu ilegal di Sumatera.

"Harus pesan dulu ke bos. Paling lama satu minggu barang sudah datang," katanya.

Dia tidak menjelaskan lagi siapa bos yang dimaksud ini. Namun Dede hanya berkisaj bahwa si bos inilah yang mempunyai jaringan langsung sampai sumber satwa di Sumatra atau Kalimantan.

Kiriman burung-burung itu datang melalui jalan darat. Burung-burung ini tidak dikirim sekaligus. Maksimal dua ekor sekali jalan. Hal itu untuk menghilangkan kecurigaan aparat dan menghindari razia.

"Kaki burung kita ikat, lalu kita masukkan kardus. Kita masukkan saja di bagasi taksi atau mobil boks," kata Dede.

Dia mendapatkan rajawali itu sejak umur sebulan. Dia yang memberinya makan setiap hari. Memandikannya, cukup taruh di kandang, dan disemprot air lewat selang.

"Kalau tahu kena air, dia akan membuka sayapnya lebar-lebar sendiri," kata Dede.

Sedang si elang, didapatkannya ketika umur satu tahunan. "Makanya sudah susah menjinakkannya," terangnya.

Sepintas memang agak susah membedakan antara rajawali (Accipiter striatus) dengan elang. Apalagi ketika masih sama-sama muda. Bentuk paruh keduanya mirip. Yang membedakannya ada di ukurannya ketika dewasa. Tinggi rajawali dewasa bisa lebih tinggi, mencapai semeter.

Jika tertarik, dia meminta saya secepatnya meninggalkan uang panjer. "Barang bagus begini harus cepat, Bang. Lebih tiga hari bisa hilang. Yang nyari dari mana-mana. Pedagang pasar hewan Jatinegara atau Barito juga kalau butuh barang pasti kemari. Tapi kalau Abang sudah kasih panjer, jangan takut, ada yang nawar sampai Rp2 juta pun ga akan kami lepas," timpal Jono.

Mafia

Penelurusan di Pasar Burung Jatinegara, Jakarta Timur, membuahkan hasil serupa. Penjualan satwa langka di pasar yang berlokasi di Jalan Kemuning, Jatinegara, itu masih terus hingga kini meski lewat jalur belakang. Sudah tak ada lagi para pedagang yang berani memajang hewan-hewan eksotis ini terang-terangan. Mereka mengaku menyimpannya di tempat lain.

"Ada uang, ada barang," sebut sang pedagang ilegat.

Kabar bahwa perdagangan satwa ilegal di Jakarta memang bukan isapan jempol. Transaksi terlarang ini nyatanya masih terus terjadi meski selalu dilakukan diam-diam.

Pedagang satwa itu ternyata punya jaringan luas sampai ke sumber satwa di Kalimantan dan Sumatera. Mereka bagian dari mafia yang sulit disentuh aparat. Pengirimannya pun dilakukan rapi dan bisanya dilakukan dalam jumlah sedikit.

Padahal kegiatan ini jelas-jelas melanggar UU No 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem. Di situ jelas, setiap orang dilarang untuk melukai, membunuh, memelihara, memperniagakan, atau menyimpan fauna langka dalam keadaan hidup atau mati maupun bagian tubuhnya. Hukumannya denda hingga Rp100 juta atau kurungan penjara selama 5 tahun.

Masih tingginya permintaan akan hewan-hewan ini bisa jadi menjadi salah satu muara permasalahan ini. Hukum ekonomi berbicara di sini. Penawaran berjalan berbarengan dengan permintaan.

Meski memang, aku Dede, karena harga dan biaya perawatan yang selangit ini, bukan sembarang orang yang mencari burung-burung langka ini. Jika bukan pejabat, ya orang yang memang sudah hobi benar.

Selain harganya yang selangit, biaya perawatan burung-burung besar juga menguras kocek dalam-dalam. Lihat saja kebutuhan makannya. Burung-burung pemangsa ini harus diberi makan minimal dua ekor ikan lele dewasa setiap hari, pagi-sore. Bisa juga tiga kepala ayam per hari.

Dede bercerita, belum lama ini ada orang yang mengaku sebagai suruhan seorang pejabat terkemuka negeri ini datang membeli sepasang rajawali sekaligus. Waktu itu mereka berani membayar Rp3 juta sepasang. "Katanya mau ditempatkan di sangkar besi yang besar," ujarnya.

Maka selama ada yang mencari dan berani membayar mahal, sang rajawali itu akan terus tenggelam dalam buntalan kain merah kumal itu. (*)

[+/-] klik judul kecil di atas untuk melanjutkan...

06 Januari 2009

Ortoddok, Enak Ditonton dan Perlu

FEATURES

Semarang, 6 Januari 2009
Ortoddok, Enak Ditonton dan Perlu
Oleh Anindityo Wicaksono

TIBA-TIBA serombongan gelandangan berlarian memasuki ruangan. Wajah mereka riang. Sejurus kemudian, mereka semua bernyanyi menirukan lagu yang sedang diputar di radio yang dipanggul orang terdepan: "Ada nggak ada, yang penting kita gembira .... Sekarang miskin, siapa tahu besok kaya. Sekarang bokek, siapa tahu besok ... tokek ...."

Sekelumit adegan jenaka di atas adalah pembuka pementasan teater berjudul "Oge-Oge" (Opera Gembala, Opera Gelandangan) yang dibawakan Teater Ortoddok UNDIP Semarang, pada malam natal 2008, di Gereja Kristen Jawa Tengah, Tegal.

Pementasan yang berdasarkan naskah gubahan Agus Merdeka ini hendak mengingatkan penonton untuk selalu mensyukuri hidup. Penonton diajak untuk berkaca diri melalui kehidupan para gelandangan. Bagimana orang-orang "terbuang" itu tetap dapat bersukacita merayakan kehidupan dalam kondisi apapun.

Salah satu adegan yang paling baik menyampaikan pesan itu adalah ketika mereka melelang organ tubuh salah satu teman mereka. Hal itu bermula ketika sang pemimpin--gelandangan yang paling sok tahu--ingin membuktikan, bahwa pada konkretnya, mereka para gelandangan adalah orang-orang kaya.

"Siapa yang mau menawar 'ginjal' orang ini?" tanya sang pemimpin sambil menarik seorang teman di dekatnya.

Mendengar tawaran itu, dengan segera para gelandangan lain antusias menawar. Rp50 juta, Rp100 juta, Rp150 juta, dan ... akhirnya ditutup pada Rp200 juta.

"Nah, habis ginjal ... sekarang kita ganti dengan model 'ganti rugi'. Bagaimana kalau kedua matamu, saya ganti dengan rumah besar dan mewah di real estate?"

"Mau, mau, Kang! Ada kolam renangnya, lho!" bujuk gelandangan lain.

"Iya, mau, ada parabolanya, tuh ...!" timpal yang lainnya.

Si gelandangan yang dilelang terdiam. Berpatut diri. "Ah, ya saya tidak mau! Meskipun punya rumah besar dan mewah, tetapi kalau tidak punya mata ... ya, sama juga bohong! Saya tidak mau!"

Pekabaran Injil

Pementasan teater yang berdurasi 30 menit itu hendak membangunkan penonton dari fatamorgana kehidupan yang acapkali menjauhkan kita dari rasa bersyukur. Mereka hendak mengingatkan, betapa kita masih seringkali salah dalam memandang hidup dan kehidupan.

Kita terlampau sering mengeluh. Makanan buatan ibu kurang asin sedikit, mengeluh. Udara panas, mengeluh. Hujan deras tak henti-henti, mengeluh. Bahkan kalau kaki ini bisa kita tinggalkan, mungkin setelah capai berjalan jauh kita juga akan mengeluh dan meninggalkannya. Ah, manusia ....

Kita juga seringkali menganggap hidup sebagai sekadar urusan pemupukan aneka harta dan barang. Tujuannya, apalagi kalau bukan kepuasan dan prestise yang tak berujung. Segala cara dilakukan demi tujuan ini. Hidup yang begitu berharga ini kita sia-siakan demi harta benda duniawi yang tak akan dibawa ketika kita mati itu.

Kita lupa bahwa tubuh beserta seluruh organ di dalamnya yang kita punyai ini sendiri adalah salah satu harta yang tak ternilai. Kita lupa mensyukuri tubuh, yang dengan segala kekompleksan penciptaanya, adalah anugerah TUHAN yang tak terkira.

Tingkah polah para aktor dalam memerankan gelandangan memang jenaka. Dengan kostum compang-camping sekadarnya ala gelandangan, para mahasiswa itu sukses merepresentasikan kaum marjinal yang lugu, polos,. dan sok tahu--demi menutupi kebodohan mereka. Kisahnya ringan. Mudah dicerna.

Menurut Bayu (21), Ketua Ortoddok, naskah cerita memang sengaja dibuat ringan namun padat pesan. "Teater kami berkiblat pada Teater Gandrik Yogyakarta yang memang tak terlalu mengandalkan bahasa-bahasa gerak yang penuh simbol. Kelemahan bahasa gerak yang mulitafsir adalah masih susah dimengerti publik awam. Bagi kami, yang terpenting adalah pesan. Prinsip ini persis moto kami, yaitu 'enak ditonton dan perlu'," tukasnya yang malam itu juga menjadi aktor.

"Karena kami teater Kristiani yang memfokuskan diri pada pekabaran injil, sebagian besar ruang lingkup pementasan kami masih di lingkungan gereja atau komunitas Nasrani. Namun, tak jarang juga kami diundang pentas di berbagai tempat bertepatan momentum sosial-budaya, seperti Hari AIDS atau pagelaran budaya di kampus," terang Bayu.

Visi teater yang berdiri pada 16 Desember 1992 itu adalah menjadi lembaga pekabaran injil dengan media teater yang eksis. Nama "Ortoddok" sendiri adalah singkatan dari "Teaternya Orang-Orang yang Dididik dan Diberkati oleh Kristus".

Nakal dan Nyeleneh

Menurut Agus Merdeka (36), pendiri Ortoddok, teater ini berangkat dari keinginan para mahasiswa Kristen untuk membuat dobrakan bagi dunia drama gerejani yang selama ini terkesan monoton. Awal pertemuan para pendirinya terjadi di Perkantas, sebuah komunitas mahasiswa Kristen Semarang.

"Di banyak gereja, hingga kini drama-drama yang dipentaskan masih sebatas rutinitas setiap Natal dan Paskah. Penggambarannya pun standar. Kalau Natal, ya tentang Maria yang mencari tempat melahirkan. Paskah, ya sudah pasti seputar kisah penyaliban Yesus," tukas Agus yang kini menjadi sutradara-cum-penulis naskah lembaga pelayanan film Kristen Christopherus ini.

Atas dasar itulah, lanjutnya, mereka hendak membalikkan keadaan bahwa kisah rohani yang digelar di tempat ibadah tak selamanya harus kaku. Bisa diangkat dari kehidupan sehari-hari agar mengena penonton. "Kalau penonton saja sudah bosan, bagaiman pesannya bisa sampai?"

Teater Ortoddok sendiri hingga kini punya sembilan naskah unggulan yang dijadikan andalannya ketika berpentas di berbagai tempat. Naskah-naskah yang kesemuanya ditulis Agus Merdeka itu terdiri dari beragam kisah.

Di antaranya tentang pergulatan cinta sepasang muda-mudi, kehidupan bebas anak muda, pertengkaran rumah tangga, masa-masa kematian seorang raja, hingga kepongahan seorang pemuka daerah yang menyebabkan pertempuran antarkelompok.

Judul-judulnya pun dibuat nyeleneh agar menarik rasa penasaran. Tengok saja nama-nama ini: "Memomamimurtad", "Sedulur Mulur", "Kirab", "We Lha Dalah!", hingga "Lonceng Jatuh".

Ada benang merah yang dapat ditarik dari kesemua naskah-naskah mereka: keseimbangan antara pesan-pesan yang bernas, petilan dialog-dialog nakal, dan pergerakan teatrikal yang nyeleneh namun mudah dimengerti. Maka tak heran, dalam setiap pementasan mereka, gelak tawa selalu memenuhi arena pertunjukan.

[+/-] klik judul kecil di atas untuk melanjutkan...

10 November 2008

Beratnya Menjadi Mapala

FEATURES

Semarang, 9 November 2008
Beratnya Menjadi Mapala
Oleh Anindityo Wicaksono


JARUM
jam baru menunjukkan pukul 02.00. Irama sepatu trek (boot gunung) berderap memecah keheningan di pagi buta itu. Sesosok pria muda, berambut gondrong sebahu, terburu-buru melangkahkan kaki ke sebuah aula berukuran 15 x 15 meter di lantai dua gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Universitas Diponegoro, Semarang.

Pakaian lapangan rajutan (flannel) yang dikenakannya terlihat kumal. Matanya sembab. Ia tak tidur semalaman. Sepatu berbahan kulit miliknya diinjakkan masuk ke ruangan yang berisikan 20-an mahasiswa yang sedang terlelap itu.

"Banguunn...! Banguunn...! Dalam 10 hitungan, baris satu saf dengan seragam lengkap!" pekiknya lantang, sejurus kemudian.

Bak berondongan petasan di malam Tahun Baru, suaranya yang memekakkan telinga itu sontak membangunkan puluhan mahasiswa yang sedang tenggelam dalam pesona mimpi. Kocar-kacir mereka dibuatnya. Yang cepat bangkit, lantas menendang-nendang kawannya yang belum juga bangun.

"1... 2... 3...," pemuda gondrong itu melanjutkan hitungan tanpa peduli.

Sejurus kemudian, mereka segera beranjak, kelimpungan mencari aneka perlengkapan yang tercecer ke seantero ruangan: baju flannel, topi rimba, tas carrier, dan sepatu trek.

Hari itu, medio Juni 2004, para mahasiswa ini sedang menjalani pendidikan dasar (diksar) sebagai prosesi menjadi anggota unit kegiatan mahasiswa (UKM) mahasiswa pecinta alam (Wapeala) Undip, Semarang.

Tak mudah memang, untuk menjadi anggota di UKM itu. Bahkan, boleh dibilang, proses pendidikan yang harus dilakoni hampir setara dengan proses diksar para calon serdadu.

Selain lama, ia menganut sistem seleksi gugur: hanya yang paling akhir bertahan yang lolos. Peserta harus tahan menempa ujian mental dan fisik yang tak sembarangan.

Menurut Aditya (20), Ketua Badan Penerimaan Anggota (BPA) Wapela Undip, keseluruhan tahap dari penerimaan hingga pelantikan calon anggota, total memakan waktu enam bulan. Prosesnya dibagi lima divisi berdasarkan ruang lingkup kegiatannya, yaitu gunung-hutan, selam, susur gua, arung jeram, dan panjat tebing.

Untuk gunung-hutan, atau yang biasa disebut mountaneering, banyak sekali tehnik yang diajarkan kepada para calon anggota. "Mulai dari keterampilan hidup di alam bebas, navigasi peta, membaca kompas, hingga tehnik survival," bebernya.

Menurut Syaiful (23), Ketua Wapeala Undip, petualangan alam bebas bukan sesuatu yang bisa dianggap remeh. Banyak hal yang wajib dikuasai seorang pegiat alam bebas jika ingin selamat menggeluti dunia petualangan. Banyak safety-procedure yang harus dipahami.

"Sebelum mengarungi alam yang susah ditebak, kita harus membekali diri dengan persiapan yang matang. Minim persiapan dan perencanaan bisa mengakibatkan kematian," ujar mahasiswa Fakulas Perikanan ini.

Menurut dia, sebelum memutuskan mendaki gunung, ada beberapa keterampilan dasar yang wajib kita ketahui. Hal ini penting untuk meminimalisir resiko yang kemungkinan dihadapi pendaki, seperti kesasar, kelelahan, atau hipotermia (penyakit di ketinggian).

"Keterampilan ini antara lain tehnik packing yang benar, manajemen perjalanan dan logistik, membuat tenda dengan jas hujan, membaca peta tipografi gunung, hingga tehnik navigasi darat berbasis alat kompas," jelasnya.

Berjalan Kaki

Pada sesi "solo-camp" dalam diksar mountaneering, para calon anggota Wapeala ini dipaksa berani hidup mandiri di tengah belantara rimba. Selama tiga hari, pelatihan yang bertempat di Bumi Perkemahan Penggaron, Ungaran, Kabupaten Semarang, ini menempatkan tenda-tenda mereka saling berjauhan. Hal ini agar para peserta tak dapat berkomunikasi dan mengetahui keberadaan masing-masing.

"Kami tidur hanya beratapkan tenda dari jas hujan dan ditemani tiga batang lilin, senter, dan catatan harian. Jauh dari siapa-siapa," kenang Andi Wahyu (20), salah seorang calon anggota.

Di lain hari, pada sesi "survival", mereka dilatih mampu bertahan hidup dengan memanfaatkan bahan-bahan makanan alami dari hutan. Selama tiga hari, mereka "dilepas" hidup di belantara rimba kaki Gunung Ungaran. Masing-masing mereka hanya dibekali makanan seadanya: tiga bungkus mie instan, sebatang lilin, seperempat kilogram gula, dan setengah botol air mineral.

"Akibat keterbatasan ini, mau tak mau kami harus berpikir keras dan saling bekerja sama demi menyambung hidup. Persis acara reality-show 'Survival' yang diputar di salah satu stasiun swasta," ujar mahasiswa Fakultas Hukum ini.

Karena berada di tempat yang sama, mereka saling membagi tugas. Para lelaki merambahi hutan "berburu" bahan-bahan makanan dan mengumpulkan kayu bakar. Jenis makanan ini beragam, mulai dari dedaunan, jamur, jantung pisang, tokek, bekicot, hingga cacing terpaksa dijadikan penyambung hidup. Sedangkan para wanitanya, meracik dan memasak.

Untuk alasan kesehatan, sebelumnya mereka diajarkan di kampus bagaimana membedakan jenis makanan yang dapat dimakan dan yang tidak. Pasalnya, tak semua bahan ini aman. Mereka harus pintar-pintar memilah. Salah-salah, fatal akibatnya: mati keracunan.

Pelatihan untuk mountaneering ini digabung dengan susur gua. Setelah sesi "survival" usai, mereka melanjutkan berjalan kaki ke Gua Kiskenda, Kendal, Jawa Tengah, sekitar 20 kilometer dari kaki Ungaran. Delapan jam nonstop mereka berjalan kaki maraton.

Ekspedisi

Seminggu penuh para peserta ini menghabiskan waktu di lapangan untuk melakoni pelatihan dua divisi gabungan ini. Saking lamanya di hutan, tanpa cermin dan alat-alat mandi, para pegiat alam ini pulang dengan kondisi memprihatinkan. Rambut kusam dan badan bau hutan. Baju lusuh tak beraturan.

Divisi sisanya, arung jeram dan panjat tebing, rata-rata menghabiskan waktu tiga hari di lapangan. Arung jeram bertempat di Sungai Elo, Magelang, dan panjat tebing di Tebing Kali Pancur, Salatiga.

Selesaikah? Belum. Di tahap akhir, setelah menyelesaikan lima divisi, para peserta masih harus melakoni ekspedisi sesuai divisi yang diminatinya. Tahap ini amat menentukan apakah seseorang layak mendapatkan nomor anggota atau tidak. Untuk tempat tujuan, mereka yang sudah terbagi dalam tim-tim ini bebas menentukan.

Aditya mengatakan, karena namanya "ekspedisi", masing-masing regu wajib mencari tempat yang belum pernah dikunjungi angkatan-angkatan sebelumnya. Minimal di Pulau Jawa selain Jawa Tengah, seperti Jawa Barat atau Jawa Timur.

"Dalam perjalanan ini, selain membuat laporan dalam bentuk karya tulis dan dokumentasi foto, para calon anggota juga harus membawa misi, seperti pemetaan, studi demografis, atau bersih gunung bagi yang memilih divisi gunung-hutan," terangnya.

Bagi mereka, mungkin benar apa yang dikatakan Lord Byron, pujangga masyhur Inggris, dalam syairnya ini: There is a pleasure in the pathless woods/ There is a rapture on the lonely shore/ There is society, where none intrudes/ By the deep sea, and music in its roar: I love not man the less, but Nature more.

(Ada kesenangan dalam hutan tanpa jalan setapak/ Ada kegembiraan pada pantai yang sunyi/ Ada masyarakat yang tidak memunyai pengacau/
Ada alunan musik dari samudera dalam: Saya mencintai manusia, tapi lebih suka kepada alam)

[+/-] klik judul kecil di atas untuk melanjutkan...

03 November 2008

Itu Dia Mayatnya...!

FEATURES

Semarang, 3 November 2008
Itu Dia Mayatnya...!
Oleh Anindityo Wicaksono


SEBUAH bus antarkota dalam provinsi (AKDP) asal Semarang berhenti tepat di depan kantor kecamatan Adipala, sekitar 10 km dari Kota Cilacap, Jawa Tengah, pada suatu pagi buta. Kantor dan jalanan di depannya masih lengang. Rumah-rumah di sekitar terlihat kosong, tampak habis ditinggalkan pemiliknya.

Angin pagi sekilas membawa bau pasir laut dari ujung jalanan. Bunyi berdesir pohon kelapa sayup-sayup terdengar, menandakan pantai berada tak jauh dari sana.

Hari itu adalah pasca-satu hari Cilacap dilanda gelombang-pasang tsunami. Awalnya, gempa tektonik berkekuatan 5,5-6,8 skala richter yang terjadi di selatan Pantai Pangandaran, Ciamis, Tasikmalaya, Jabar, tepatnya di posisi 9,46 Lintang Selatan (LS) dan 107,86 Bujur Timur (BT), menguncang Cilacap, Pangandaran, Kebumen, dan beberapa wilayah di pantai selatan Jateng dan Jabar.

Tsunami pun datang mengiring. Gelombang air bah setinggi 3-5 meter menyapu daratan sekitar pantai Cilacap, membawa pasir dan lumpur. Ratusan perahu yang menjadi sandaran penghidupan masyarakat nelayan Cilacap, hancur terseret ombak sejauh ratusan meter.

Wilayah kota penyu ini yang terkena, tepatnya di kawasan pesisir selatan, dari Adipala, Cilacap, hingga wilayah Kebumen, yaitu Karangbolong dan pantai Ayah. Setidaknya, jumlah korban tewas mencapai 123 orang yang tersebar di delapan kecamatan di Cilacap.

Di Adipala 55 orang tewas dan tujuh dinyatakan hilang. Di Binangun 57 orang tewas dan 10 hilang, di Kecamatan Cilacap Selatan 11 orang tewas dan 13 dinyatakan hilang. Di Kecamatan Cilacap Tengah tiga warga tewas dan satu orang hilang. Ratusan orang kehilangan rumah akibat rusak parah tersapu gelombang.

Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) berasumsi, gelombang Tsunami ini masih ada kaitannya dengan gempa dahsyat di Yogyakarta-Klaten yang baru dua bulan berselang. Titik episentrum, atau pusat gempanya, disebut-sebut sama, yaitu di laut selatan Jawa.

Tsunami merupakan gelombang laut berperiode panjang. Ia timbul lantaran energi yang merambat ke lautan akibat gempa bumi, letusan gunung berapi, dan runtuhnya lapisan-lapisan kerak bumi di dasar samudera.

Ketika lantai dasar samudera berpindah tempat dengan cepat, seluruh beban air laut di atasnya terkena dampaknya. Dahsyatnya fenomena alam ini dapat disaksikan pengaruhnya di permukaan dan keseluruhan beban air laut, hingga kedalaman 5.000-6.000 meter. Satu rangkaian bukit dan lembah gelombang itu dapat meliputi wilayah hingga 10.000 kilometer persegi.


Anggota Senior

Pagi itu, Selasa, 18 Juli 2006, total delapan orang dari Tim SAR UNDIP, termasuk saya, ditugaskan dalam operasi gabungan bersama Tim SAR Semarang. SAR UNDIP sendiri baru berumur empat bulan ketika itu. Ini tugas kedua kami sejak berdiri. Sebelumnya, pada operasi evakuasi pascagempa di Klaten, 27 Mei 2006.

Ketika kami datang, Murwat (30) dan Wahid (25), anggota SAR Semarang, sudah mendirikan posko evakuasi berdekatan dengan kantor Polsek Adipala di dalam kompleks kantor kecamatan. Mereka membawa mobil jip operasional SAR beserta satu perahu karet (rubber boat) bermotor dengan mesin tunggal kapasitas 16 pk.

Murwat adalah salah satu anggota senior yang telah tahunan bertugas di SAR bentukan Departemen Perhubungan itu. Ke mana-mana, ia selalu mengenakan topi rimba hitam dan menenteng ponsel Ericsson RG-Pro yang berwarna senada dengan seragamnya: oranye terang.

Meski perawakannya pendek, tak sampai 170 cm, dan agak gemuk, tapi jangan tanya kemampuannya. Ia paling mahir untuk urusan navigasi (tehnik pembacaan peta), evakuasi korban, tehnik P3K, dan tali-temali. Orangnya tegas, tak banyak omong. Kalau ditanyakan mengapa begitu pendiam, ia pun lama menyahut, "Bicara seperlunya saja, jangan suka berbasa-basi kalau tak penting."

Wahid juga relawan yang sudah cukup lama bergabung. Kulitnya hitam legam; khas orang lapangan. Bicaranya ceplas-ceplos dan paling gemar bercanda. Ia turut serta dalam berbagai operasi, baik yang lokal seperti orang jatuh di sumur, orang tewas atau hilang di gunung, hingga yang mengharuskannya menyeberangi pulau seperti operasi evakuasi tsunami Aceh, medio Desember 2003.

"Karena masih mahasiswa di Universitas Stikubank Semarang, satu bulan saya dapat ijin tidak ikut ujian akhir selama bertugas di Aceh," kisahnya.

Pernah Wahid bercerita, hingga hari ke-3 masa awal tugas di Aceh, ia tak pernah bisa tidur. Pasalnya, bau busuk dari ribuan mayat di sekitar posko yang belum dievakuasi, terlalu menyengat. Bahkan, saking dahsyat jumlahnya, makan siang di hadapan mayat pun menjadi hal yang biasa baginya.

Selama satu minggu, kami akan melaksanakan suatu operasi-evakuasi gabungan. Di bawah satu komando dari Camat Adipala, kami akan dibantu SAR daerah lain yang akan datang menyusul di malam harinya, yaitu Wonogiri, Temanggung, dan Klaten.

Mengapa hanya satu minggu? Menurut Murwat, sebagian besar korban tsunami di Cilacap ini, baik yang tewas atau yang belum ditemukan, adalah nelayan-nelayan atau orang yang pada hari kejadian berada dekat dengan pantai atau sedang melaut. Artinya, jika jenasahnya belum diketemukan, itu berarti ia tertahan di sekitar laut.

Berdasarkan ilmu medis, jika manusia tenggelam di air, dalam 3-4 hari badannya akan membesar dan menggelembung terisi air. Untuk air laut yang kadar garamnya tinggi, proses ini bisa makin cepat dibandingkan korban yang tenggelam di air tawar.

Tubuh yang penuh air ini rapuh; mudah pecah dan terombang-ambing terbawa arus air. Saat itu, kita beruntung jika arus laut mengantarkannya ke arah pesisir. Jenasah akan tiba sendiri di pantai. Namun, jika lebih dari empat hari jenasah belum diketemukan, badannya yang penuh air itu akan pecah dengan sendirinya. Hilang bersama buih ombak. Tak ada gunanya lagi mencari jenasahnya.


Keluarga Jenasah

Murwat dan Wahid sudah berada di lapangan ketika kami datang. Ada kabar, nelayan menemukan sesosok mayat di pantai. Dengan menggunakan mobil patroli Polsek setempat, segera kami bergeser ke lokasi. Lokasi penemuan itu berada di pesisir selatan pantai Cilacap. Untuk tiba di sana, kami melewati beberapa tambak yang terlihat kosong ditinggalkan para petaninya.

Memasuki kilometer satu dari garis pantai, bekas-bekas gelombang pasang laut mulai terlihat. Air dalam tambak-tambak terlihat bercampur dengan pasir pantai. Bangunan-bangunan dari beton di dekat pantai pun sudah hancur tak karuan.

"Itu dia mayatnya!" ujar seorang anggota Polisi membuyarkan lamunan kami.

Orang banyak sudah ramai mengerumuni sesosok mayat pria setengah-baya. Saya taksir ia berumur 30-an tahun. Badannya gemuk. Karena lama terapung-apung di laut, badannya menggelembung pada bagian perut, mata, dan alat vitalnya. Kaos berwarna putih dan celana pendek selutut masih melekat di badannya. Baunya busuk menyengat. Agak mual juga melihatnya.

"Dia biasa memancing di sekitar sini," kata seorang warga di kerumunan.

Kawan jenasah, yang turut dalam kerumunan, menyatakan kesediaannya menunjukkan kediaman keluarganya. Setelah dengan hati-hati menaikkannya ke mobil patroli, jenasah ini langsung kami bawa ke rumah keluarganya, kira-kira 1 km dari pantai.

Rumahnya tampak ramai setibanya kami di sana. Tak kurang dari 30 orang keluarga dan tetangganya tampak berkerumun. Tak ayal, kedatangan kami ini sontak disambut ledakan tangisan mereka. Mereka langsung meletakkan jenasah di atas meja yang sudah disiapkan di dalam ruang tamu. Jenasah mereka tutupi dengan kain sarung.

Agak ringan memang tugas kami jika korban diketahui kediamannya. Kami hanya bertanggung jawab menyerahkan jenasah pada keluarganya. Beda jika identitas korban tak diketahui atau yang hingga berhari-hari tak ada yang mengambilnya di rumah sakit. Kalau begitu, terpaksa kami jugalah yang berkewajiban memakamkannya.

Sesuai instruksi kecamatan, hari itu kami bertugas melakukan sweeping di sepanjang pesisir pantai. Wilayah operasi kami berangkat dari data orang hilang yang dimiliki Kesbanglinmas. Di titik-titik mana saja orang banyak melaporkan kehilangan anggota keluarganya.

Dalam sebuah operasi SAR, pucuk tertinggi pimpinan di wilayah administratif berhak memegang tongkat komando tertinggi. Dulu di Yogya dan Klaten, misalnya, Gubernur Yogya dan Bupati Klaten didaulat menjadi koordinator.

Maka dari itu, di Cilacap, instruksi harus satu pintu dari Bupati Cilacap. Biasanya, demi mempermudah dan mempercepat koordinasi, kepala daerah akan memotong jalur protokoler dengan menunjuk Muspida setempat. Artinya, dalam operasi tsunami ini, Camat Adipala berwenang memegang kendali segala urusan.

Untuk itu, SAR, TNI-AD, dan Polsek yang bersamaan menerjunkan personelnya harus saling berkoordinasi, menjalin komunikasi, dan menunggu instruksi satu-pintu dari Camat Adipala. Hal ini untuk menghindari tumpang-tindih atau saling "rebutan wilayah" selama proses evakuasi.

Tim evakuasi gabungan ini dibagi berdasarkan wilayahnya. Secara garis besar, tugas kami semua hanya satu: mencari mayat. Tak sama dengan operasi gempa Yogya yang beragam selain evakuasi mayat, dari rehabilitasi gedung-gedung sekolah dan rumah yang rusak, menyalurkan bantuan, hingga membuka posko kesehatan.

SAR yang total berjumlah 22 orang ini bertugas meng-cover dari wilayah pantai hingga muara yang menjorok ke arah laut dangkal. Selain itu, karena di tim kami terdapat mahasiswa keperawatan, malam harinya kami membuka posko kesehatan. Namun, karena tsunami tak terlalu menimbulkan korban luka-luka, posko ini akhirnya hanya mendapati keluhan-keluhan para pengungsi yang berumur lanjut, seperti tes tekanan darah atau konsultasi kesehatan.

TNI, melalui Koramil Adipala, menerjunkan satu pleton dari salah satu batalyon infanteri miliknya. Mereka bertugas menyisiri sepanjang garis pantai. Sedangkan Polsek menurunkan satu pleton dari Brimob.

Hebat benar anggota TNI ini, pikir saya. Tak seperti kami dari SAR dan kepolisian yang tidur enak di posko kecamatan, mereka negpos di sebuah SD di dekat pantai yang kosong akibat ditinggalkan para siswa dan gurunya mengungsi. Artinya, para serdadu ini harus rela makan seadanya, dan tidur tak nyaman. Mereka jauh pula dari keramaian.

Presiden SBY

Sepanjang hari pertama hingga ketiga, kami dibagi menjadi tiga dua tim. Yang pertama, menyusuri timur Teluk Penyu hingga ke arah pantai Ayah, menjelang wilayah administratif Kebumen. Sedangkan tim kedua, menyusur ke arah barat Teluk Penyu.

Sesuai prosedur keamanan, berbekal kantong mayat secukupnya, masing-masing kami mengenakan pelampung untuk menghindari kemungkinan tersapu ombak saat terjadi gelombang pasang susulan.

Sebanyak 1, 2, dan total 3 jenasah ditemukan tim pertama ketika itu. Seluruh jenasah ini tersangkut di semacam delta penghubung antarmuara. Korban keempat, ditemukan tim kedua di bawah jembatan dekat kali penghubung muara laut.

Korban keempat ini sudah membusuk. Dari pakaiannya, kami menduga ia adalah pemancing yang terlambat melarikan diri ketika gelombang pasang datang. Agar terhindar dari kemungkinan terjangkit kuman-kuman yang terbawa jenasah busuk ini, kantong-kantong yang sudah dipakai kami bakar. Satu kantong, satu korban.

Di hari ketiga, Presiden SBY datang beserta rombongan untuk menilik kondisi pantai Cilacap pasca-tsunami. Tak ayal, kedatangan orang nomor satu negeri ini menimbulkan gelombang pengamanan ekstra di sejumlah ruas jalan dan titik-titik sentral yang dilewatinya.

Pasukan pengaman presiden (paspampres) disebar di berbagai titik. Dari ring 1, 2, hingga radius 2 km dari pantai disterilkan dari warga. Sejak di pintu masuknya, 1 km sebelum pantai, pos pengamanan memperketat pengawalannya.

Sejumlah personil dari TNI mengamankan area garis pantai untuk menghadapi kemungkinan infiltrasi yang tak diinginkan. Para serdadu ini berjejer tiap 10 meter sekali, lengkap dengan SS-1, senapan serbu buatan Indonesia, milik mereka.

Mata mereka awas, tajam ke arah pantai. Apa saja yang menunjukkan gelagat aneh, tak segan mereka pelototi hingga benar-benar dirasa tak membahayakan.

Di hari ke-4 hingga 6, barulah kami merambahi wilayah perairan dangkal dan muara yang disinyalir menjadi tempat para korban tertahan. Dengan, dua perahu karet bermotor, satu milik SAR Semarang dan satu pinjaman dari Kesbanglinmas setempat, kami berputar-putar. Area yang awas kami perhatikan ialah sebuah muara luas di dekat tambak.

Tempat itu adalah wilayah di mana para penambang pasir biasa beroperasi. Jengkal demi jengkal muara kami telusuri. Mulai dari pinggirannya yang berbatasan dengan rawa-rawa, hingga memasuki semacam goa pada sebuah delta di pinggir muara. Namun, kebanyakan hasilnya nihil. Korban justru paling banyak ditemukan di sekitar jembatan-jembatan yang berbatasan langsung dengan pantai.

Setelah genap seminggu masa tugas kami, sebelum pulang kami masing-masing disuntik obat anti infeksi. Kata salah seorang tim medis, potensi keterjangkitan kuman yang dibawa jenasah busuk sangat berbahaya. Kalau tak diantisipasi dengan segera, sang penderita bisa tewas. "Mirip kuman rabies yang dibawa anjing gila," terangnya.

Kami pun pulang dengan membawa pesan: manusia, sehebat apapun dia, akan mati tanpa membawa apapun. Ia akan busuk dimakan belatung dan hilang bersama tanah. Itu pun masih lebih baik, ketimbang mereka yang tewas tenggelam. Badan mereka pecah; hancur bersama buih ombak.

[+/-] klik judul kecil di atas untuk melanjutkan...

19 Oktober 2008

Mereka Mengaku Pasrah

FEATURES
Semarang, 7 Oktober 2008
Mereka Mengaku Pasrah
*Drainase sebagai Solusi Alternatif Rob
Oleh Anindityo Wicaksono


WARGA Kota Semarang yang menetap di kawasan resapan air laut hanya bisa pasrah ketika rob (limpasan air laut) mengenai areal permukiman. Sebab, upaya peninggian jalan dan lantai bangunan, selama ini belum mampu menyelesaikan masalah ini secara permanen.

"Segala upaya peninggian lantai rumah hingga jalan kampung sia-sia. Ditinggikan berapa meter pun, tanah perlahan ambles lagi. Nyatanya, saban air laut pasang, kawasan perumahan selalu tergenang," kata Andono Karyo (43), warga Kampung Blusuk 58C RT 02/RW 11, Kelurahan Kemijen, Semarang Timur, kemarin.

Ketika pertama menetap di kampung ini tahun 1993, ia dan warga lain belum pernah mengalami rob. Namun, ketika kawasan industri Pelabuhan Tanjung Mas mulai dibangun tahun 1995, setiap terjadi air laut pasang, air selalu merembes. Jalan-jalan tergenang hingga masuk ke dalam rumah-rumah warga.

Sejak 1995 rob terjadi hampir setiap sekali sebulan. Sejak itu, Andono meninggikan rumahnya lima kali dengan akumulasi ketinggian satu meter. "Karena kondisi ekonomi warga berbeda, koordinasi upaya peninggian jalan tidak dapat dilakukan bersama-sama warga satu RT," katanya. Berbeda dengan RT lain yang kondisi ekonomi warga memungkinkan, katanya, bisa dilakukan peninggian secara swadaya dengan iuran sebesar Rp50 ribu per KK.

Tahun 1997 Andono bersama tetangga dekat meninggikan permukaan jalan dan menutup dengan paving blok hingga setengah meter. Namun, lanjutnya, upaya itu tidak membuahkan hasil memuaskan, karena setelah lima tahun peninggian permukaan jalan, rob kembali terjadi. "Dibanding ketika saya pertama kali tinggal di sini, permukaan jalan sudah ambles sekitar satu meter," kata dia.

Menurut pantauan, pada rumah-rumah warga kurang mampu, ada rumah yang ketinggian lantai dengan langit-langitnya tinggal tersisa 1,5 meter akibat tanah yang terus ambles. Untuk masuk rumah, pemilik rumah pun terpaksa membungkukkan badan.

Andono mengaku, hingga sekarang, rob selalu datang tiap kali air laut pasang. Biasanya, air laut pasang sekitar pukul 16.00 dan surut 23.00. "Ketinggian air mencapai 30-50 sentimeter dan masuk dalam rumah," kata dia.

Iuran Warga

Hal serupa dirasakan Tumini (34), warga Tegalrejo Gang 6 RT 06/RW 09, Kelurahan Kemijen, Semarang Timur. Ia mengaku, selama tinggal di sana sudah tiga kali meninggikan lantai rumahnya dengan akumulasi ketinggian mencapai satu meter.

Namun, lanjut dia, permukaan tanah perlahan-lahan ambles lagi, sekitar setengah meter tiap tahunnya, sehingga ketinggian rumah yang tadinya melebihi tinggi jalan, perlahan turun hingga di bawah ketinggian badan jalan.

Ia mengatakan, permasalahan yang selalu dibicarakan dalam setiap rapat pertemuan RT itu akhirnya menghasilkan kesepakatan untuk meninggikan jalan secara swadaya. "Pengurukan jalan sesetinggi setengah meter itu selesai dilakukan pada Desember 2006 lalu. Biaya dan tenaga dilakukan ditanggung swadaya warga," kata dia.

Tumini mengatakan, untuk peninggian jalan, per KK iuran Rp50 ribu untuk membeli bahan-bahan material, seperti tanah, pasir, dan paving blok. Untuk menghemat biaya, tambah dia, pengerjaannya dilakukan oleh kepala keluarga secara gotong royong.

"Peninggian jalan ini hanya dilakukan sebatas per RT, tergantung koordinasi warga masing-masing. Kalau di RT lain, peninggian dilakukan sendiri-sendiri oleh masing-masing warga. Di RT 02 koordinasinya dapat cepat dilakukan karena hanya terdiri dari 17 KK, sehingga rembug warganya tidak terlalu sulit dilakukan," kata dia.

Namun, lanjut dia, permasalahan peninggian jalan itu mempunyai dampak buruk yang lain. "Setelah ditinggikan, ketinggian jalan sekarang melebihi tinggi rumah, maka tiap kali hujan deras, giliran air hujan yang masuk ke dalam rumah. Mau tidak mau rumah harus ditinggikan kembali, untuk itu tentu perlu dana lagi," kata dia.

Ia mengatakan, walaupun selalu kebanjiran, ia mengaku tidak akan berpindah rumah. "Walau pas-pasan, penghasilan saya menghidupi anak-anak saya sudah berpuluh-puluh tahun dari usaha warung di sini. Kalau pindah rumah, nanti mau cari uang di mana," kata dia.

Permukaan tanah yang ambles dan rob juga sering terjadi di Kelurahan Mlatiharjo. Banyak bangunan lama di daerah ini kondisinya memprihatinkan karena ketinggian bangunan menurun drastis.

Beberapa kusen jendela pada bangunan lama tersebut terlihat hampir menyentuh permukaan tanah. Bagi warga yang mampu, untuk menghindari genangan rob, mereka terpaksa beberapa kali meninggikan permukaan lantai dan atap.

Di daerah ini, pemukaan jalan di gang sebagian besar memang sudah dibangun dengan konstruksi paving blok, namun jalan utama Mlatiharjo saat ini masih dalam proses peninggian permukaan.

Drainase

Terpisah, staf Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman Kota Semarang Sarbidi mengatakan, selama ini pemerintah dan masyarakat wilayah pantai kota Semarang mengandalkan sistem drainase, yang menjadi kesatuan dengan sistem drainase perkotaan, untuk menangani masalah rob dan banjir karena hujan.

"Sistem drainase disinergikan dengan normalisasi sungai, pembangunan tanggul sungai, pembagunan kolam penyimpan air, pompa dan pintu air," tuturnya.

Prasarana dasar yang harus ada bagi permukiman di daerah pantai adalah sistem drainase, mengingat kawasan tersebut rawan genangan air akibat rob dan banjir."Sistem drainase permukiman pantai yang ada di Semarang masih menjadi satu kesatuan dengan sistem drainase perkotaan, dan terbagi menjadi empat wilayah pelayanan," tambah dia.

Wilayah-wilayah pelayanan tersebut adalah drainase Tugu mencakup areal seluas 35,4 kilometer persegi, drainase Semarang Barat 12,4 kilometer persegi, Drainase Semarang Tengah 27,2 kilometer persegi, dan drainase Semarang Timur 47,8 kilometer persegi. "Total biaya proyek pembangunan sistem drainase mencapai Rp940 milyar," ungkap Sarbidi.

Mengenai penanganan rob yang mempengaruhi, merusak, rumah dan bangunan, kata dia, antara lain dilakukan dengan pengurugan lahan secara bertahap, peninggian lantai rumah setiap lima tahun sekali, peninggian lantai halaman atau pemasangan bendung pengendali agar tidak memasuki rumah, dan, alternatif terakhir, pembuatan rumah bertiang / rumah panggung.

"Setelah dilakukan peninggian lahan dua sampai tiga kali, biasanya rumah terpaksa harus dibongkar," pungkas dia.

[+/-] klik judul kecil di atas untuk melanjutkan...

Berkah Sampah Terpadu

FEATURES

Semarang, 15 Oktober 2008
Berkah Sampah Terpadu
Oleh Anindityo Wicaksono


TAHUKAH Anda, jumlah sampah Kota Semarang yang masuk ke tempat penampungan akhir (TPA) Jatibarang, Mijen, Semarang mencapai 600 ton/hari? Keterbatasan kapasitas membuat jumlah ini tak tertampung sepenuhnya. Sebagai satu-satunya di Jawa Tengah, TPA seluas 40 ha ini pun lambat laun akan mencapai titik jenuhnya.

Hal inilah yang mendasari berdirinya pengelolaan sampah terpadu di Perumahan Bukit Kencana Jaya Semarang pada Januari 2007. Di tempat penampungan sementara (TPS), tumpukan sampah sisa yang selama ini tak terangkut ke TPA dapat diolah menjadi pupuk kompos.

Pengelolaan sampah terpadu swadaya-warga yang pertama di Jawa Tengah ini bermitra dengan GTZ Jerman dan Yayasan Bintari. Kedua LSM lingkungan hidup ini menanggung sepenuhnya biaya operasional dan sosialisasi program untuk tiga bulan pertama.

Menurut Ketua Pokja Pengelolaan Sampah Terpadu, Ari Sulistyono, belum lama ini, visi program ini adalah mengurangi volume sampah yang dibuang ke TPA. Hal ini timbul dari kekhawatiran warga melihat tumpukan sisa sampah di TPS yang menggunung akibat volume sampah yang sanggup terangkut ke TPA hanya 60 persen.

"Dalam sehari, volume sampah yang masuk ke TPS diperkirakan 1,5-2 ton. Perhitungan ini dari jumlah pembuangan sampah di lima RW yang dihuni 1.016 KK. Asumsinya, per KK menghasilkan 1,5-2 kg sampah per hari," terangnya.

Jumlah sampah sebanyak ini, lanjutnya, dapat menjadi permasalahan yang serius jika tidak ditangani dengan baik oleh seluruh masyarakat.

Selain mengurangi volume sampah sisa, pengolahan terpadu ini ternyata sanggup membuka lapangan kerja. Lihat saja, untuk mengurusi pengelolaan, pihaknya mempekerjakan dua tenaga kerja baru di TPS. Satu pekerja digaji Rp 750 ribu/bulan, sedang satu lagi selain gaji pokok, masih ditambah persentase hasil penjualan produk pengolahan.

Pembagian Area

Di tempat pengolahan, area dibagi menjadi tiga petak. Masing-masing area memuat sampah-sampah yang telah dipilah menurut jenisnya.

Jenis pertama, sampah kering (organik) yaitu kardus, botol minum, dan plastik. Kedua, sampah basah (non-organik) yaitu sisa makanan, sayuran, dedaunan, dan sisa buah. Terakhir, sampah beracun (un-recycle) yaitu pembalut wanita, semprotan bahan kimia, dan baterai.

Untuk memudahkan proses pemilahan, seluruh warga diharapkan partisipasinya dengan memilahkan sampah pada kantong yang telah disepakati. Kantong kain untuk sampah kering, kantong plastik hitam untuk sampah basah, dan untuk sampah beracun boleh kantong apa saja selain dua di atas.

Sampah yang dapat diproses menjadi kompos hanya jenis non-organik. Sisanya, sampah organik dapat langsung dijual, sedang sampah beracun dikumpulkan untuk diangkut ke TPA Jatibarang.

Proses mengolah kompos, pertama-tama pada sampah basah dicampurkan bakteri pengurai (monukulen). Bahannya antara lain bekatul, air tebu, ragi, humus pohon pisang, dan air secukupnya. Aduk hingga warna sampah basah berubah hijau. Lalu, tambahkan dengan sampah coklat (serbuk gergaji, sekam, daun kering) dengan perbandingan 1:1.

Setelah itu, tambahkan kompos yang sudah jadi atau lapisan tanah atas, kemudian diaduk. Jangan lupa sirami sedikit air untuk menjaga kelembaban, lalu endapkan tumpukan ini antara tiga hari hingga satu minggu. Setelah hasil penguraian ini dirajang di dalam mesin penggiling, endapkan lagi selama satu minggu.

Kini kompos telah siap dan tinggal diayak dan dikemas. Ia dapat dipasarkan pada pedagang-pedagang tanaman hias, pupuk tanaman, dan pada program penghijauan

“Untuk sementara ini proses pemasaran belum sepenuhnya berjalan karena jumlah kompos yang didapat masih sedikit. Namun, Yayasan Bintari telah menyatakan kesiapannya menggunakan pupuk kami untuk program penghijauan mereka," terang Ari.

Mesin Lokal

Mesin pengayak sampah yang mereka gunakan buatan LPTP Surakarta. Berkekuatan 16 pk, mesin ini sanggup berproduksi hingga 400 kg/jam.

Menurut Koordinator Teknik Pokja Pengelolaan Sampah Terpadu, Sucipto, mesin seharga Rp 14 juta ini didesain mampu menggunakan bahan bakar minyak bekas (jelantah) menggantikan solar.

"Sisa sampah yang tidak terangkut ke TPA mencapai 800 kg per hari. Dengan kapasitas produksi 400 kg/jam, maka mesin akan beroperasi selama dua jam per hari," ungkap staf pengajar Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang ini.

Dikatakannya, sementara ini mesin belum maksimal berfungsi karena pihaknya masih kewalahan mengurusi sisa sampah yang belum terangkut ke TPA.

"Agar efektif, tumpukan sisa sampah harus terangkut semuanya dulu ke TPA. Hingga jumlah sampah di TPS kembali nol, barulah mesin dapat beroperasi normal dua jam/hari," ujarnya.

[+/-] klik judul kecil di atas untuk melanjutkan...

Ketika Gamelan Tak Lagi Diminati

FEATURES
Semarang, 17 September 2008

Ketika Gamelan Tak Lagi Diminati
Oleh Anindityo Wicaksono

BERMAIN DEMUNG: Mbah Parjo (78), sedang memainkan alat musik
tradisonal Demung buatannya, Rabu (17/9).
(FOTO: Anindityo Wicaksono)

TRADISI kuno menyebutkan, irama gamelan Jawa berasal dari kepribadian asli Jawa yaitu keselarasan. Berbeda dengan ritme gamelan Bali yang rancak dan Sunda yang didominasi seruling, gamelan Jawa lebih lembut. Dengan memainkannya, kita diharapkan mampu mengatur keseimbangan emosi dan menata perilaku yang laras dan harmonis.

Kini, di tengah gempuran budaya modern, musik tradisi bernilai luhur ini kian terpinggirkan, terutama oleh kaum muda. Seiring menurunnya peminat, pengrajin gamelan pun nyaris selalu sepi orderan.

Kondisi ini ternyata tak mengurangi kesetiaan Mbah Parjo (78) pada alat musik tradisi ini. Kini, Mbah Jo Gong, begitu dia dikenal masyarakat, terus berusaha melestarikan aset budaya Jawa ini dengan bertahan menjadi satu-satunya pengrajin gamelan di Semarang.

“Sudah selama 56 tahun saya setia membuat gamelan,” katanya ketika ditemui di kediamannya di Jalan Dworowati Raya 4, Kelurahan Krobokan, Semarang, kemarin.

Awalnya, pria asli Bekong Surakarta ini mulai belajar pembuatan gamelan di Desa Gendingan, Mangkunegaran, Surakarta. Ketika berusia 18 tahun, dia bekerja pada seorang pembuat gamelan ternama yang bernama Mpu Kartopandoyo.

Ketika itu, katanya, dia hanya boleh ikut membantu, belum boleh belanja bahan dan membuat sendiri. Setelah dua tahun bekerja, barulah dia diperbolehkan menempa logam dan 'nglaras' (menyetel nada gamelan). "Oleh guru saya, saya dijuluki 'Darso Berdhonggo', artinya Darso si tukang gamelan," kenangnya.

Ketika dianggap mampu mandiri, Mpu Kartopandoyo menyuruhnya ke Semarang untuk membuka usaha sendiri. Syaratnya, dia tidak boleh buka usaha lain selain membuat gamelan dan harus menurunkan ilmunya pada orang lain. "Ketika itu saya dipinjami modal sebesar Rp 10, jaman sekarang nilainya sekitar Rp 2,5 juta," ujarnya.

Di Semarang, seiring namanya makin dikenal penikmat gamelan, usahanya berkembang pesat. Pesanan terus berdatangan dari dalang, sekolah-sekolah, hingga instansi-instansi daerah. Cukup sering dia mendapat order dari kota-kota lain di Jawa Tengah selain Semarang.

Ketika itu, sempat dia mengantongi ijin usaha untuk kerajinan timah dan tembaga. Nama perusahaannya, Perusahaan Gamelan "Gotong Royong". Area di belakang rumah, dia jadikan tungku pembakaran bahan baku. "Waktu itu belum ramai penduduk seperti sekarang. Asap dari tungku tidak terlalu mengganggu warga," kata ayah lima putra ini.

Tergantung Bahan

Sekitar tahun 1980-an, ketika omzet usahanya terus mengalami penurunan, ijin itu dia kembalikan karena pendapatannya tidak sanggup menutupi pajak tiap tahunnya. Bahkan, aku dia, sudah tiga bulan terakhir ini tak ada pesanan maupun panggilan jasa nglaras gamelan sama sekali.

Menurut dia, peminat gamelan mulai sepi sejak campur sari marak. “Apalagi ketika musik barat dan karaoke mulai digandrungi," jelasnya yang mengaku hanya sekolah sampai kelas tiga Sekolah Rakyat (setingkat SD) ini.

Harga satu set gamelan beragam tergantung jenis bahan bakunya. Untuk bahan perunggu, misalnya, mencapai Rp 360 juta. Sedangkan besi lebih murah yaitu sekitar Rp 40 juta.

Bahan baku amat menentukan warna dan ketepatan nada gamelan. Gamelan paling baik suaranya, berbahan perunggu. “Tapi karena biayanya sangat mahal, biasanya digantikan kuningan atau besi kualitas unggul, meski tak bisa semerdu perunggu," ungkapnya.

Selain nada, besarnya selisih harga dikarenakan kualitas bahan sangat menentukan usia alat sebelum berkarat. Dia mencontohkan, umur gamelan dari besi mencapai 10 tahun, kuningan 50 tahun, dan perunggu bisa sampai 80-100 tahun.

Dia menuturkan, untuk satu set gamelan bahan perunggu, proses pembuatannya memakan waktu satu bulan dengan pekerja 12 orang. Bahan kuningan lebih cepat yaitu 20 hari. "Gamelan perunggu komposisi bahannya 10:3, yaitu 10 perunggu, 3 timah," katanya.

Satu set lengkap gamelan khas Jawa, lanjutnya, terdiri dari gambang, senthem, bonang, tenong, peking, saron, gender, demung, siter, kempul, dan gong.

Prihatin

Laras dalam gamelan Jawa adalah nada pentatonis. Satu permainan gamelan komplit terdiri dari dua putaran, yaitu slendro dan pelog.

Slendro, terangnya, memiliki 5 nada per oktaf dengan perbedaan interval kecil yaitu 1-2-3-5-6. Sedangkan pelog, memiliki 7 nada per oktaf dengan perbedaan interval besar yaitu 1-2-3-4-5-6-7. "Untuk nglaras gamelan, saya harus berkiblat pada satu demung yang dijadikan patokan, tidak boleh meleset," ungkapnya.

Dia mengaku masih kesulitan untuk memasarkan sendiri. Kendala pemasaran dan modal kerap menjadi hambatan usahanya. "Pernah karena lama tak mendapat order, saya coba titipkan gamelan pada toko barang antik. Namun hingga 1,5 tahun tak laku-laku," tuturnya.

Selain karena usaha gamelannya yang terus merugi, ada lagi yang menjadi keprihatinan Mbah Jo Gong. Sebagai pengrajin gamelan tertua di Semarang, dia mengkhawatirkan masa depan musik gamelan akibat mulai ditinggalkan generasi muda.

Dari kelima anaknya, ujarnya, hanya satu yang hingga kini membantunya ketika ada orderan. "Sisanya, lebih memilih pekerjaan lain yang lebih menguntungkan ketimbang sekadar membuat gamelan,” pungkasnya.

[+/-] klik judul kecil di atas untuk melanjutkan...

Balada Keluarga Nelayan

FEATURES
Semarang, 27 Agustus 2008

Balada Keluarga Nelayan
Oleh Anindityo Wicaksono

SEHARIAN tadi saya ikut meliput bersama salah seorang wartawan Harian Suara Merdeka Biro Kota, Aris Mulyawan (27). Dia adalah wartawan "floating", wartawan yang tak punya bidang tetap; pewartayang harus terus menemukan berita-beritanya sendiri. Ini berarti dia tak boleh masuk ke dinas-dinas, pengadilan, atau kepolisian.

Liputan kali ini mengenai proses penyerahan sertifikat tanah warga Desa Tanggulsari, Kecamatan Tugu, oleh Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kota Semarang. Kepala BPN Kota Semarang Yahmah mengatakan, hal ini dilakukan agar tanah eks bengkok milik Pemkot itu dapat diperuntukkan kegiatan produktif warga yang sebagian besar nelayan itu.

Menurut dia, penyerahan sertifikat ini adalah puncak dari proses panjang yang dilakukan BPN. Di tahun 2002, BPN melakukan tukar guling tanah, tahun 2006, mulai proses pengalihan status kepemilikan tanah. Lalu sejak tahun 2007, BPN mulai mengurus segala yang terkait proses sertifikasi.

Selain itu, tanah seluas 10.850 meter persegi ini disisihkan sekitar luasan 3.000 meter persegi untuk dipergunakan pembangunan fasilitas sosial seperti jalan umum dan MCK.

Senyum lega tersungging di wajah para warga ketika menerima sertifikat tanah itu. Rohiyah, (43), warga Desa Tanggulsari penerima sertifikat, misalnya. Dia mengaku senang karena status tanah tempatnya bermukim kini mendapat kejelasan. "Apalagi kini status kepemilikan tanah sah menjadi hak milik para warga," katanya yang mengaku tinggal di daerah itu sejak tahun 1987.

King-king

Sebelum pulang, Aris mengajak saya untuk ikut melihat para nelayan di daerah pinggiran laut. Desa Tanggulsari memang dekat dengan laut, tak sampai satu kilometer. Itulah mengapa sebagian besar warga di sini bermata pencaharian sebagai nelayan. Pemandangan kapal-kapal yang merapat dan tambak-tambak menjadi tak asing di sini.

Kami memutuskan untuk menghampiri kumpulan beberapa perahu yang merapat di pinggiran muara. Ada tiga perahu yang baru kembali dari laut. Di dalam semua perahu, ada beberapa nelayan yang sedang mengeluarkan hasil tangkapan dari jala.

Di salah satu perahu yang kami hampiri, ada empat orang sedang asyik memisahkan sejenis kepiting kecil dari jeratan jala. Tiga orang satu keluarga yaitu bapak, ibu, dan seorang anak laki-laki usia lima tahun. Satu orang lagi seorang bapak usia sekitar 40 tahun, turut membantu.

Menurut Syafii (37), salah satu nelayan, mereka sedang mengeluarkan King-king, semacam jenis Rajungan. Namun bedanya, King-king ukurannya lebih kecil.

Karena ukurannya yang lebih kecil dan rasanya yang kalah enak ketimbang Rajungan, King-king dihargai lebih murah. Jika Rajungan dihargai Rp 40.000 per kg, King-king hanya Rp 10.000 per kg. "Sekarang sedang tidak musim Rajungan," katanya.

Untuk jenis jala yang dimiliki perahunya, dia mengakui paling banyak menangkap King-king dan udang besar. Namun, karena sepinya hasil laut, pendapatan yang diperoleh setelah menjual King-king sering kali tak mampu menutupi biaya perjalanan seperti logistik dan perbekalan bahan bakar.

"Untuk membeli bahan bakar dari campuran minyak tanah dan solar saya biasanya menghabiskan Rp 60.000 untuk 10 liter tiap kali jalan. Sedang tiap hari rata-rata mendapat enam kg King-king yang dijual seharga Rp 60.000. Ini kan berarti hanya impas," katanya.

Terkait isu pencabutan subsidi harga minyak tanah, ia mengaku pasrah. "Bayangkan nasib nelayan seperti saya ini, sebelum harga minyak tanah naik saja penghasilan sudah seret. Apalagi masih ditambah kenaikan harga," katanya.

[+/-] klik judul kecil di atas untuk melanjutkan...