19 Oktober 2008

Alat Kontrol Sosial

KOLOM
Semarang, 6 Agustus 2008
Alat Kontrol Sosial

Oleh Anindityo Wicaksono

GERAKAN mahasiswa adalah buah dari kredo penegakan kebenaran, keadilan, dan rasionalitas. Mahasiswa adalah bagian integral masyarakat yang berperan sebagai pendorong, pemberi semangat, dan menjadi garda terdepan pengawal cita-cita bangsa.

Peran mahasiswa dalam masyarakat dapat digolongkan sebagai kontrol sosial dan agen pembaharu. Mereka diharapkan mampu melakukan pembaruan terhadap sistem yang ada. Contoh paling fenomenal adalah peristiwa turunnya rezim Orde Baru yang didahului aksi mahasiswa yang masif di seluruh Indonesia.

Di alam demokrasi, perjalanan bangsa membentuk potret mahasiswa sebagai insan yang kritis, netral, dan alat kontrol sosial; sebagai aktor intelektual yang tetap mampu bersikap netral dalam memperjuangkan rakyat. Potret ini membentuk pesona mahasiswa yang mampu menarik simpati masyarakat.

Hingga kini mahasiswa masih dipercaya sebagai aktor intelektual yang tetap mampu bersikap netral dalam memperjuangkan rakyat. Pesona ini dapat dijadikan modal utama gerakan mahasiswa, terutama dalam peranannya membantu upaya pemberantasan korupsi. Menarik kita cermati analogi mahasiswa dalam tulisan Arif Budiman (Prisma, No 11, 1976).

Mahasiswa bak seorang pendeta yang sedang bertapa di gunung (kampus). Ketika terjadi kekacauan di masyarakat, dia turun gunung guna menyelesaikan persoalan. Setelah selesai, barulah dia kembali ke gunung. Menurut penulis, ada tiga upaya yang dapat diambil mahasiswa dalam pemberantasan korupsi.

Pertama, tindakan preventif dengan membantu masyarakat mewujudkan peraturan yang adil dan berpihak pada rakyat banyak. Mahasiswa sekaligus mengkritisi peraturan yang tidak adil dan tidak berpihak kepada rakyat banyak. Kontrol bisa berupa tekanan demonstrasi atau dialog dengan pemerintah maupun lembaga legislatif.

Serupa dengan istilah "gerakan korektif" bagi aksi mahasiswa seperti kata Michael Fremerey (1976). Kedua, tindakan edukatif. Ini bisa dilakukan ketika kuliah kerja lapangan (KKL).Ketimbang sekadar berekreasi, KKL bisa diisi dengan memberikan bimbingan dan penyuluhan mengenai bahaya korupsi kepada masyarakat.

Hal ini dapat menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk melaporkan indikasi praktik korupsi yang ditemuinya. Ketiga, mahasiswa dapat menerapkan strategi pendampingan kepada masyarakat dalam upaya penegakan hukum kepada pelaku korupsi. Hal ini mampu menambah tekanan aparat penegak hukum untuk bertindak tegas terhadap pelaku korupsi.

Tekanan bisa berupa demonstrasi ataupun pembentukan opini publik. Peran dan fungsi mahasiswa harus kembali dipertegas. Mahasiswa harus mampu mengawasi dan mengontrol Reformasi yang mereka bidani sendiri kelahirannya pada Mei 1998. Seperti kata Arif Budiman, kini saatnya mahasiswa turun gunung. Melulu bertapa di gunung niscaya tak akan mengubah apa-apa. (*)

(Dimuat di Harian Seputar Indonesia, 6 Agustus 2008)

[+/-] klik judul kecil di atas untuk melanjutkan...

Spirit Ekonomi Kerakyatan

KOLOM
Semarang, 4 April 2008
Spirit Ekonomi Kerakyatan
Oleh Anindityo Wicaksono

HARI-HARI ini agaknya menjadi saat yang gelap penuh ketakutan bagi pelaku ekonomi dunia. Profesor ekonomi John Hopkins University Steve H. Hanke, belum lama ini, mengingatkan pemerintah Indonesia untuk bersiap diri menghadapi ancaman krisis hebat yang mendera perekonomian dunia dewasa ini (Kompas, 27/3).

Penting diketahui, dampak resesi global kini telah berimbas pada pasar regional, lalu pasar lokal. Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, yang sempat mencapai level 2.800 tahun 2007, kini merosot hingga kisaran 2.300-2.400. Singkat kata, konon kelesuan pasar keuangan global ini koinsiden dengan krisis subprime mortgage atau kredit perumahan kualitas rendah di AS dan lonjakan harga minyak dunia yang tergolong dahsyat.

Apabila kondisi pasar uang regional seperti ini berkepanjangan, bukan tidak mungkin akan membawa permasalahan baru yang akut bagi Indonesia. Pertanyaannya, di mana ruang eksistensi pemerintah kini selaku regulator ekonomi? Lalu bagaimana sebaiknya menghadapi goncangan krisis dunia berkepanjangan di tengah himpitan ekonomi masyarakat seperti saat sekarang?

Untuk menyikapi ekses-ekses negatif krisis global yang berpotensi mengeyakkan kita, sudah saatnya Indonesia mulai membangun penguatan fundamental ekonomi secara menyeluruh.
Dari sisi dana, pemerintah boleh berbangga diri atas kesuksesannya mengalang dana dari masyarakat lokal semisal SUN dan ORI. Begitupun tingkat inflasi dan tingkat konsumsi masyarakat yang masih cukup stabil dapat masih dapat menjadi modal dasar bangsa untuk bertahan dari krisis ekonomi global.

Stabilitas ekonomi
Kiranya ada tiga langkah yang dapat dimulai dari sekarang. Pertama, konsep ekonomi kerakyatan dan ekonomi Pancasila yang jauh-jauh hari dulu dikembangkan para pendiri bangsa ini kini selayaknya mendapat perhatian lebih banyak. Dipungut dari pengalaman, peran partisipasi aktif ekonomi masyarakat yang telah terbukti menjadi kekuatan utama penggerak sektor ekonomi riil perlu lebih diselaraskan.

Pemberdayaan sektor informal seperti UKM dan industri kecil kreatif perlu disokong dan disuppot sebagai faktor penentu penggalang spirit ekonomi kerakyatan. Kita maklum, selama ini sektor ini masih menjadi anak tiri pemerintah dalam hal dukungan. Padahal, sektor riil atau informal terbukti masih menjadi pilar utama perekonomian negara kecil berkembang seperti Indonesia.

Kedua, jangan sampai krisis ini malah dijadikan alasan pembenaran pemerintah untuk bermain pada tataran liberalisasi ekonomi. Kebijakan ekonomi harus berpihak pada kemashlatan bersama, dengan memisahkan antara pemberesan krisis politik internal yang masih berlangsung dan melanjutkan pemberesan ekonomi secara independen sambil mengupayakan stabilitas sosial.

Meski saat ini pemerintah tengah menghadapi kendala serius dalam menyelamatkan APBN 2008 akibat pembengkakan subsidi, kita masih mempunyai banyak modal dasar untuk bertahan. Dengan meniadakan berbagai subsidi secara bertahap, pemerintah dengan sengaja menyerahkan harga barang-barang pada mekanisme pasar. Hal ini jelas akan menukik langsung pada keadaan yang menyulitkan kaum tak berpunya yang sudah lama tertindih kesulitan ekonomi.

Ketiga, semua ketergantungan ekonomi asing harus perlahan-lahan mulai kita tanggalkan. Pemerintah harus berani mengurangi cengkeraman asing dalam kepemilikan modal di berbagai perusahaan pengerukan sumber daya di Indonesia yang terbukti lebih banyak merugikan kita.
Mengapa demikian? Sungguh ironis, negeri ini kaya, tapi selalu saja dijarah orang. Masih segar dalam ingatan, bagaimana rendahnya posisi tawar kita dalam menghadapi ketidakjelasan kontrak kerja di Blok Cepu dan Natuna yang lebih banyak rugi ketimbang untungnya.

Kalau kita belum bisa mengambilnya, lebih baik tetap kita simpan saja di dalam tanah sampai kita bisa menggalinya sendiri. Toh yang akan menikmati anak-cucu kita. Itu lebih baik daripada dijarah.

Hendaknya analisis Hanke dapat dijadikan cemeti yang melecut pemerintah untuk mengonstruksi arah kebijakan ekonomi yang memihak pada stabilitas. Jika tidak, perekonomian kita akan tinggal menunggu waktu terjerembab bersama kenangan buruk krisis ekonomi 10 tahun silam.

(Dimuat di Harian Kompas Jateng, 4 April 2008)

[+/-] klik judul kecil di atas untuk melanjutkan...

Balada Keluarga Nelayan

FEATURES
Semarang, 27 Agustus 2008

Balada Keluarga Nelayan
Oleh Anindityo Wicaksono

SEHARIAN tadi saya ikut meliput bersama salah seorang wartawan Harian Suara Merdeka Biro Kota, Aris Mulyawan (27). Dia adalah wartawan "floating", wartawan yang tak punya bidang tetap; pewartayang harus terus menemukan berita-beritanya sendiri. Ini berarti dia tak boleh masuk ke dinas-dinas, pengadilan, atau kepolisian.

Liputan kali ini mengenai proses penyerahan sertifikat tanah warga Desa Tanggulsari, Kecamatan Tugu, oleh Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kota Semarang. Kepala BPN Kota Semarang Yahmah mengatakan, hal ini dilakukan agar tanah eks bengkok milik Pemkot itu dapat diperuntukkan kegiatan produktif warga yang sebagian besar nelayan itu.

Menurut dia, penyerahan sertifikat ini adalah puncak dari proses panjang yang dilakukan BPN. Di tahun 2002, BPN melakukan tukar guling tanah, tahun 2006, mulai proses pengalihan status kepemilikan tanah. Lalu sejak tahun 2007, BPN mulai mengurus segala yang terkait proses sertifikasi.

Selain itu, tanah seluas 10.850 meter persegi ini disisihkan sekitar luasan 3.000 meter persegi untuk dipergunakan pembangunan fasilitas sosial seperti jalan umum dan MCK.

Senyum lega tersungging di wajah para warga ketika menerima sertifikat tanah itu. Rohiyah, (43), warga Desa Tanggulsari penerima sertifikat, misalnya. Dia mengaku senang karena status tanah tempatnya bermukim kini mendapat kejelasan. "Apalagi kini status kepemilikan tanah sah menjadi hak milik para warga," katanya yang mengaku tinggal di daerah itu sejak tahun 1987.

King-king

Sebelum pulang, Aris mengajak saya untuk ikut melihat para nelayan di daerah pinggiran laut. Desa Tanggulsari memang dekat dengan laut, tak sampai satu kilometer. Itulah mengapa sebagian besar warga di sini bermata pencaharian sebagai nelayan. Pemandangan kapal-kapal yang merapat dan tambak-tambak menjadi tak asing di sini.

Kami memutuskan untuk menghampiri kumpulan beberapa perahu yang merapat di pinggiran muara. Ada tiga perahu yang baru kembali dari laut. Di dalam semua perahu, ada beberapa nelayan yang sedang mengeluarkan hasil tangkapan dari jala.

Di salah satu perahu yang kami hampiri, ada empat orang sedang asyik memisahkan sejenis kepiting kecil dari jeratan jala. Tiga orang satu keluarga yaitu bapak, ibu, dan seorang anak laki-laki usia lima tahun. Satu orang lagi seorang bapak usia sekitar 40 tahun, turut membantu.

Menurut Syafii (37), salah satu nelayan, mereka sedang mengeluarkan King-king, semacam jenis Rajungan. Namun bedanya, King-king ukurannya lebih kecil.

Karena ukurannya yang lebih kecil dan rasanya yang kalah enak ketimbang Rajungan, King-king dihargai lebih murah. Jika Rajungan dihargai Rp 40.000 per kg, King-king hanya Rp 10.000 per kg. "Sekarang sedang tidak musim Rajungan," katanya.

Untuk jenis jala yang dimiliki perahunya, dia mengakui paling banyak menangkap King-king dan udang besar. Namun, karena sepinya hasil laut, pendapatan yang diperoleh setelah menjual King-king sering kali tak mampu menutupi biaya perjalanan seperti logistik dan perbekalan bahan bakar.

"Untuk membeli bahan bakar dari campuran minyak tanah dan solar saya biasanya menghabiskan Rp 60.000 untuk 10 liter tiap kali jalan. Sedang tiap hari rata-rata mendapat enam kg King-king yang dijual seharga Rp 60.000. Ini kan berarti hanya impas," katanya.

Terkait isu pencabutan subsidi harga minyak tanah, ia mengaku pasrah. "Bayangkan nasib nelayan seperti saya ini, sebelum harga minyak tanah naik saja penghasilan sudah seret. Apalagi masih ditambah kenaikan harga," katanya.

[+/-] klik judul kecil di atas untuk melanjutkan...

Kapalmu, Tak Seindah Surga

PUISI
Semarang, 5 Oktober 2008
Kapalmu, Tak Seindah Surga
Oleh Anindityo Wicaksono

Aku ingin sederhana mencintaimu

Bukan pakai bunga merah jambu,

bukan dengan syair mendayu-dayu,

bukan pula lagu melayu


Aku ingin mencintaimu sesederhana mungkin

sesederhana mentari yang tak pernah terlambat membuka hari

sesederhana setia kicau burung menemani pagi

sesederhana koloni semut pekerja mengumpulkan remah roti


Cinta sejati bukan hidup di dunia puisi

Cinta tidak buta, ia tidak sok gagah


Jangan tanyakan padaku:

Apa Kakanda rela mati
memetikkan
bunga Edelweiss di tepi tebing itu, untukku?
Maukah menyeberangi lautan ganas itu, demi Adinda?


Jawabku: Tidak, tidak akan pernah!


Cinta tak senaif itu
Ia tidak gegabah dan pendek akal
Ia tak tahan mendengar tangisan kehilangan
bila ia tahu, harga yang harus dibayar tak sebanding penderitaannya

Ia sadar, cinta itu bertahan, bukan meninggalkan

Ia juga bukan serdadu pongah
yang maju sendiri di garis terdepan medan perang
Lalu kembali membawa kepala musuh, seraya berkata:
"Ini bukti cintaku untuk gadis tercantik di dunia!"


Makin sederhana, makin sejati cinta itu

Ia betah menunggu di depan pintu,
hanya untuk menjadi yang pertama membukakannya,

bahkan ketika pintu itu belum kau ketuk


Ia sabar menjadi yang terakhir bertahan

untuk hanya diam dan mendengarkan

saat kau sedih, lalu berkata:
Tinggalkan aku sendiri!


Ia sabar menjadi pecinta
yang rela melepaskan
ketika dia tahu,
itulah satu-satunya jalan membahagiakanmu

Ada tertoreh di hati: kebahagiaanmu, kebahagiaanku jua!


Bagiku, cinta kata lain sederhana

Selebihnya, naif!


Ia buah Roh surgawi, bukan hasrat duniawi

Cinta anak kata komitmen, bukan pilihan, atau kesempatan

Linguistiknya: kata aktif, bukan kata sifat

Ia proaktif dan proaksi, bukan reaktif dan reaksi


Percayalah, sayangku,

cinta tak sekadar jalinan kata langit ketujuh
Kita ada di dunia bukan untuk
mencari
seseorang yang sempurna untuk dicintai
(Itu bahasa kebohongan dunia!)

Tapi untuk belajar mencintai
orang yang tidak sempurna

dengan cara paling sempurna


Maka, cepatlah masuk dan melompat

menarilah dan terus tertawa
di atas bahtera kapal cintaku

Meski dunia bilang: Kapalmu tak seindah surga...

==============================================================
"Tetapi buah Roh ialah: KASIH, SUKACITA, DAMAI SEJAHTERA, KESABARAN, KEMURAHAN, KEBAIKAN, KESETIAAN, KELEMAHLEMBUTAN, PENGUASAAN DIRI. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu."
(Galatia 5: 22-23)

==============================================================

[+/-] klik judul kecil di atas untuk melanjutkan...