31 Januari 2009

Secercah Harapan dari Barry

KOLOM

Semarang, 31 Januari 2009
Secercah Harapan dari Barry
Oleh Anindityo Wicaksono

(Sumber gambar: http://willnevergiveup.wordpress.com)

AMERIKA Serikat baru saja menorehkan lembar baru dalam sejarah kontemporer mereka. Barack Hussein Obama, pria keturunan Afrika-Amerika, akhirnya resmi dilantik menjadi presiden ke-44 Amerika Serikat pada 20 Januari 2008. Obama yang akrab dipanggil ”Barry” oleh teman-teman masa kecilnya di Indonesia ini tercatat sebagai pria kulit hitam pertama yang mendiami Gedung Putih.

Kini pekik sukacita masyarakat pinggiran AS dan eforia global yang hadir sejak kemenangan Obama itu berakhir sudah. Berganti dengan sorotan luas dunia pada masa 100 hari pemerintahannya. Pasalnya, bertumpuk persoalan berlarut-larut warisan Presiden George W. Bush, baik dalam negeri maupun dunia internasional, kini menantinya. Ada dua tantangan pokok Obama kurun empat tahun ke depan.

Pertama, perekonomian negara adikuasa membutuhkan suatu gebrakan besar. AS sedang didera resesi hebat yang turut menyeret prekonomian global: PHK besar-besaran di sebagian besar industri manufaktur, membengkaknya utang nasional, hingga angka pengangguran yang mencapai tingkat tertinggi dalam lebih dari seperempat abad.

Kedua, kebijakan luar negerinya sedang ditunggu-tunggu dunia. Khususnya yang berpusat di kawah konflik Timur Tengah. Kawasan ini telah jenuh dan jatuh apatis akibat kebijakan Bush yang terang-terangan merestui 22 hari agresi militer Israel di Jalur Gaza. Selain itu, konflik di Irak dan Afghanistan pun masih berlarut-larut tanpa sikap yang jelas.

Proaktif

Hemat penulis, optimisme adalah langkah bijak dalam menyikapi semua duri onak yang menghadangnya. Sebab, apalah artinya dunia tanpa pengharapan. Stephen Covey, dalam bukunya yang masyhur, Seven Habits of Hoghly Effective People, menyebutkan, proaktif adalah salah satu kebiasaan efektif yang harus selalu dikembangkan dalam mencapai tujuan.

Proaktif yang dimaksudkan Covey adalah sikap yang memandang bahwa segala keadaan yang berlaku pada seseorang tidaklah dapat menggoyahkan visi semula. Kita bertanggung jawab atas hidup kita sendiri. Masalah boleh saja menghadang. Kritik kaum pesimistis tak akan pernah hilang. Namun, selama teguh berpatokan pada prinsip ”we are what we think” (kita adalah apa yang kita pikirkan), seburuk apapun keadaan di luar sana, sikap positif yang konsisten lambat laun akan menuai hasilnya.

Nampaknya Obama tahu benar prinsip ini. Di tengah sorotan negatif yang dihembuskan sebagian besar pengamat, dia pelan namun pasti terus menempuh manuver-manuver yang sesuai dengan kebijakan ambisius dalam dan luar negeri yang menjadi bahan kampanyenya.

Untuk konflik di Gaza, kedekatan Obama dengan tokoh Yahudi dan Palestina di Amerika bisa menjadi modal utamanya untuk menyikapi konflik secara lebih arif. Konflik ini adalah sentral persoalan yang tak dapat ditunda-tunda. Pasalnya, penyelesaian konflik Israel-Palestina sangat menentukan hubungan AS dengan 1,4 milyar umat Muslim dunia.

Memang, keberpihakan Obama dengan organisasi lobi Yahudi sangat besar. Lihat saja, sehari setelah ditetapkan menjadi capres Partai Demokrat awal Juni 2008, Obama berpidato di hadapan AIPAC—sebuah organisasi pelobi Yahudi di Amerika—untuk menepis keraguan dukungan Obama terhadap negara Israel.

Dukung AIPAC

Tak dapat dipungkiri, Obama pun cenderung memilih hemat bicara kala diperhadapkan pada persoalan Timur Tengah. Hal ini adalah sebuah konsekuensi logis seorang presiden di sebuah negara adikuasa yang sarat tarik-ulur kepentingan dan ekspektasi besar masyarakat dunia. Namun, penulis melihat, Obama adalah sosok yang lebih mengedepankan politik diplomasi dan lobi.

Walaupun terang mendukung AIPAC, Obama juga diberitakan dekat dengan tokoh-tokoh Palestina di AS. Bahkan kedekatan ini membuat Rashid Khalidi, salah satu cendekiawan Palestina berpengaruh di AS, pernah menggalang dana untuk Obama ketika mencalonkan diri sebagai senator. Konon pula, Obama sering hadir dalam kuliah-kuliah cendekiawan besar Palestina.

Latar belakang ini mampu membuat Obama berani menawarkan kebijakan yang berbeda dari pendahulunya yang sangat ”pro-Israel”. Dia mau memetakan kebijakan luar negeri, khususnya Timur Tengah, dengan perhatian utama pada Arab dan dunia Islam. Dalam KTT Arab yang diadakan pasca-agresi Israel, Utusan Khusus AS untuk Timur Tengah mengundang Iran (Presiden Mahmoud Ahmadinejad) untuk urun rembug. Suatu hal yang jarang sekali terjadi di masa kepemimpinan presiden sebelumnya.

Kita semua berharap, resolusi perdamaian dunia bisa mulai dirajut di bawah kepemimpinan Obama. Dengan komitmen yang kuat dan berkesinambungan, serta keterampilan diplomasi semua pihak untuk menyelesaikan masalah-masalah mendesak dan status final, solusi di Gaza mendekat dalam jangkauan.

Obama pernah menegaskan dukungannya pada prinsip ”dua negara (Israel-Palestina) yang hidup berdampingan dengan damai”. Obama pun berjanji memilih jalur diplomasi, bukan konfrontasi. Penulis melihat, ada sinyalemen Obama mau memainkan perannya melibatkan Hamas, mengakui Israel, dan berkomitmen terhadap pengawasan cara-cara non-kekerasan dalam menyelesaikan konflik.

Jika Obama konsisten memegang ucapannya seperti dalam pidato pelantikannya, "Kepada dunia muslim, kami mencari jalan ke depan baru berdasarkan kepentingan timbal-balik dan saling menghormati," maka secercah harapan mulai terlihat mengisi lembaran baru dunia Islam.

[+/-] klik judul kecil di atas untuk melanjutkan...

06 Januari 2009

Ortoddok, Enak Ditonton dan Perlu

FEATURES

Semarang, 6 Januari 2009
Ortoddok, Enak Ditonton dan Perlu
Oleh Anindityo Wicaksono

TIBA-TIBA serombongan gelandangan berlarian memasuki ruangan. Wajah mereka riang. Sejurus kemudian, mereka semua bernyanyi menirukan lagu yang sedang diputar di radio yang dipanggul orang terdepan: "Ada nggak ada, yang penting kita gembira .... Sekarang miskin, siapa tahu besok kaya. Sekarang bokek, siapa tahu besok ... tokek ...."

Sekelumit adegan jenaka di atas adalah pembuka pementasan teater berjudul "Oge-Oge" (Opera Gembala, Opera Gelandangan) yang dibawakan Teater Ortoddok UNDIP Semarang, pada malam natal 2008, di Gereja Kristen Jawa Tengah, Tegal.

Pementasan yang berdasarkan naskah gubahan Agus Merdeka ini hendak mengingatkan penonton untuk selalu mensyukuri hidup. Penonton diajak untuk berkaca diri melalui kehidupan para gelandangan. Bagimana orang-orang "terbuang" itu tetap dapat bersukacita merayakan kehidupan dalam kondisi apapun.

Salah satu adegan yang paling baik menyampaikan pesan itu adalah ketika mereka melelang organ tubuh salah satu teman mereka. Hal itu bermula ketika sang pemimpin--gelandangan yang paling sok tahu--ingin membuktikan, bahwa pada konkretnya, mereka para gelandangan adalah orang-orang kaya.

"Siapa yang mau menawar 'ginjal' orang ini?" tanya sang pemimpin sambil menarik seorang teman di dekatnya.

Mendengar tawaran itu, dengan segera para gelandangan lain antusias menawar. Rp50 juta, Rp100 juta, Rp150 juta, dan ... akhirnya ditutup pada Rp200 juta.

"Nah, habis ginjal ... sekarang kita ganti dengan model 'ganti rugi'. Bagaimana kalau kedua matamu, saya ganti dengan rumah besar dan mewah di real estate?"

"Mau, mau, Kang! Ada kolam renangnya, lho!" bujuk gelandangan lain.

"Iya, mau, ada parabolanya, tuh ...!" timpal yang lainnya.

Si gelandangan yang dilelang terdiam. Berpatut diri. "Ah, ya saya tidak mau! Meskipun punya rumah besar dan mewah, tetapi kalau tidak punya mata ... ya, sama juga bohong! Saya tidak mau!"

Pekabaran Injil

Pementasan teater yang berdurasi 30 menit itu hendak membangunkan penonton dari fatamorgana kehidupan yang acapkali menjauhkan kita dari rasa bersyukur. Mereka hendak mengingatkan, betapa kita masih seringkali salah dalam memandang hidup dan kehidupan.

Kita terlampau sering mengeluh. Makanan buatan ibu kurang asin sedikit, mengeluh. Udara panas, mengeluh. Hujan deras tak henti-henti, mengeluh. Bahkan kalau kaki ini bisa kita tinggalkan, mungkin setelah capai berjalan jauh kita juga akan mengeluh dan meninggalkannya. Ah, manusia ....

Kita juga seringkali menganggap hidup sebagai sekadar urusan pemupukan aneka harta dan barang. Tujuannya, apalagi kalau bukan kepuasan dan prestise yang tak berujung. Segala cara dilakukan demi tujuan ini. Hidup yang begitu berharga ini kita sia-siakan demi harta benda duniawi yang tak akan dibawa ketika kita mati itu.

Kita lupa bahwa tubuh beserta seluruh organ di dalamnya yang kita punyai ini sendiri adalah salah satu harta yang tak ternilai. Kita lupa mensyukuri tubuh, yang dengan segala kekompleksan penciptaanya, adalah anugerah TUHAN yang tak terkira.

Tingkah polah para aktor dalam memerankan gelandangan memang jenaka. Dengan kostum compang-camping sekadarnya ala gelandangan, para mahasiswa itu sukses merepresentasikan kaum marjinal yang lugu, polos,. dan sok tahu--demi menutupi kebodohan mereka. Kisahnya ringan. Mudah dicerna.

Menurut Bayu (21), Ketua Ortoddok, naskah cerita memang sengaja dibuat ringan namun padat pesan. "Teater kami berkiblat pada Teater Gandrik Yogyakarta yang memang tak terlalu mengandalkan bahasa-bahasa gerak yang penuh simbol. Kelemahan bahasa gerak yang mulitafsir adalah masih susah dimengerti publik awam. Bagi kami, yang terpenting adalah pesan. Prinsip ini persis moto kami, yaitu 'enak ditonton dan perlu'," tukasnya yang malam itu juga menjadi aktor.

"Karena kami teater Kristiani yang memfokuskan diri pada pekabaran injil, sebagian besar ruang lingkup pementasan kami masih di lingkungan gereja atau komunitas Nasrani. Namun, tak jarang juga kami diundang pentas di berbagai tempat bertepatan momentum sosial-budaya, seperti Hari AIDS atau pagelaran budaya di kampus," terang Bayu.

Visi teater yang berdiri pada 16 Desember 1992 itu adalah menjadi lembaga pekabaran injil dengan media teater yang eksis. Nama "Ortoddok" sendiri adalah singkatan dari "Teaternya Orang-Orang yang Dididik dan Diberkati oleh Kristus".

Nakal dan Nyeleneh

Menurut Agus Merdeka (36), pendiri Ortoddok, teater ini berangkat dari keinginan para mahasiswa Kristen untuk membuat dobrakan bagi dunia drama gerejani yang selama ini terkesan monoton. Awal pertemuan para pendirinya terjadi di Perkantas, sebuah komunitas mahasiswa Kristen Semarang.

"Di banyak gereja, hingga kini drama-drama yang dipentaskan masih sebatas rutinitas setiap Natal dan Paskah. Penggambarannya pun standar. Kalau Natal, ya tentang Maria yang mencari tempat melahirkan. Paskah, ya sudah pasti seputar kisah penyaliban Yesus," tukas Agus yang kini menjadi sutradara-cum-penulis naskah lembaga pelayanan film Kristen Christopherus ini.

Atas dasar itulah, lanjutnya, mereka hendak membalikkan keadaan bahwa kisah rohani yang digelar di tempat ibadah tak selamanya harus kaku. Bisa diangkat dari kehidupan sehari-hari agar mengena penonton. "Kalau penonton saja sudah bosan, bagaiman pesannya bisa sampai?"

Teater Ortoddok sendiri hingga kini punya sembilan naskah unggulan yang dijadikan andalannya ketika berpentas di berbagai tempat. Naskah-naskah yang kesemuanya ditulis Agus Merdeka itu terdiri dari beragam kisah.

Di antaranya tentang pergulatan cinta sepasang muda-mudi, kehidupan bebas anak muda, pertengkaran rumah tangga, masa-masa kematian seorang raja, hingga kepongahan seorang pemuka daerah yang menyebabkan pertempuran antarkelompok.

Judul-judulnya pun dibuat nyeleneh agar menarik rasa penasaran. Tengok saja nama-nama ini: "Memomamimurtad", "Sedulur Mulur", "Kirab", "We Lha Dalah!", hingga "Lonceng Jatuh".

Ada benang merah yang dapat ditarik dari kesemua naskah-naskah mereka: keseimbangan antara pesan-pesan yang bernas, petilan dialog-dialog nakal, dan pergerakan teatrikal yang nyeleneh namun mudah dimengerti. Maka tak heran, dalam setiap pementasan mereka, gelak tawa selalu memenuhi arena pertunjukan.

[+/-] klik judul kecil di atas untuk melanjutkan...

26 Desember 2008

Selamat Natal!

Semarang, 25 Desember 2008
Image Hosted by ImageShack.us

TUHAN memberkati!
Anindityo Wicaksono

[+/-] klik judul kecil di atas untuk melanjutkan...

21 Desember 2008

Buah Kecermatan Malaysia

KOLOM

Semarang, 20 Desember 2008
Buah Kecermatan Malaysia
Oleh Anindityo Wicaksono

(Sumber gambar: http://governing.typepad.com)

PEMIMPIN yang baik adalah sosok yang diharapkan selalu hadir pada serba pergulatan masyarakat. Dia merupakan penjelmaan semangat Ki Hajar Dewantara yang masyhur: Ing Ngarso Mangun Karso, Ing Madya Sing Tuladha, Tut Wuri Handayani (dari depan memimpin; dari tengah memberikan teladan; dari belakang mendukung).

Namun pemimpin model begini nampaknya masih jauh sekali dari negeri ini. Lihat saja figur Presiden SBY yang terlihat terlalu mendewakan simpati masyarkat. Dia hilang di kala pengeluaran keputusan yang memberatkan, namun terdepan ketika menelurkan kebijakan populis.

Mari kita cermati. Ketika pemerintah mengumumkan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dari Rp4.500 menjadi Rp6.000 pada medio Mei 2008, SBY sama sekali tak menunjukkan batang hidungnya. Hanya para menterinya yang hadir.

Sebaliknya, pada pengumuman turunnya harga BBM (per 1 Desember dan 15 Desember 2008), beliau hadir. Bahkan dia menjadi yang terdahulu mengumumkannya di depan pers.

Melihat keganjilan pola kepemimpinan begini, tak pelak kini beredar isu bahwa BBM tak ubahnya komoditas politik. Apalagi kini mendekati pemilu 2009. Kebijakan ini dianggap sekadar bagian dari politik pencitraan yang dibangun kader Partai Demokrat ini demi mendulang dukungan rakyat.

Tarif Angkutan

Realitas di lapangan pun menunjukkan bahwa penurunan ini nyatanya tidak terlalu berimbas positif bagi perekonomian. Harga-harga kebutuhan relatif stagnan karena biaya transportasi publik belum juga turun.

Penyebabnya apalagi kalau bukan Organda (Organisasi Pengusaha Nasional Angkutan Bermotor) yang enggan menurunkan tarif angkutan. Jika dulu alasan kenaikan tarif karena BBM adalah penyumbang terbesar biaya produksi, kini ketika turun, dalih persoalan bergeser: biaya suku cadang, pungli, dan retribusi yang membengkak.

Hemat penulis, situasi ini terjadi akibat pemerintah masih tanggung-tanggung berkeputusan. Sebagai regulator, menjadi tanggung jawab pemerintah untuk mendorong para pengusaha angkutan menurunkan tarifnya. Jika tidak, tidak ada dalam kamus mereka menurunkan tarif yang sudah terlanjur naik.

Kondisi ini realistis. Sebagai lembaga bisnis, prinsip utama mereka adalah meraih keuntungan sebanyak-banyaknya. Berkurangnya pos pengeluaran BBM pascapenurunan harga mereka jadikan bonus penghasilan dalam kalkulasi tarif yang sudah terlanjur naik.

Selain itu, sebenarnya, menurut hitungan ekonomisnya, pemerintah sudah dapat menurunkan minyak ke harga semula pada Mei 2008, di mana harga premium Rp4.500 per liternya. Pasalnya, kini harga minyak dunia sudah berkurang hingga lebih dari 50 persen (150 dolar AS menjadi 40 dolar AS per barel).

Namun sayang, momentum itu diabaikan pemerintah. Mereka lebih peduli menggenjot popularitas dengan menurunkan harga sedikit demi sedikit.

Akibatnya, nasib rakyat tetap saja terombang-ambing. Niatan baik peningkatan daya beli masyarakat tak dapat berbicara banyak sepanjang harga aneka kebutuhan pokok masih berkutat pada angka lama.

Kebijakan Malaysia

Pemerintah sebaiknya belajar dari Malaysia. Upaya negara tetangga dalam menurunkan beban rakyatnya tidak hanya terbatas menurunkan harga BBM--hingga empat kali--tetapi juga harga barang kebutuhan lainnya, terutama kebutuhan pokok.

Saat harga minyak dunia melambung hingga 138 dolar AS per barel per 5 Juni 2008, pemerintah Malaysia juga tak punya pilihan lain selain menaikkan harga BBM. Namun, keunggulan mereka adalah pada kecermatan membaca pergerakan harga minyak yang menunjukkan kecenderungan turun.

Selang dua bulan, begitu harga minyak turun mendekati 100 dolar AS per barel, Malaysia cepat-cepat menurunkan harga BBM. Begitu juga saat harga minyak anjlok hingga 80 dolar AS per barel. Total, pemerintah Malaysia menurunkan harga BBM sebanyak empat kali (2 Agustus, 24 September, 15 Oktober, dan 31 Oktober 2008).

Selain kecermatan membaca pergerakan harga minyak, Menteri Perdagangan Malaysia sekaligus berperan sebagai penjamin perlindungan konsumen. Demi mengusahakan iklim usaha yang kondusif, dia gencar melobi para pengusaha supermarket besar.

Langkahnya terbukti tepat sasaran. Supermarket-supermarket yang jejaringnya tersebar di seluruh negara bagian ini--seperti Mydin, Carrefour dan Jusco--mau menurunkan harga-harga kebutuhan sehari-hari.

Bahkan, supermarket Tesco, yang memiliki 26 supermarket di seluruh negara bagian Malaysia, bersedia menurunkan harga hingga 47 persen dari 50 jenis barang kebutuhan sehari-hari, seperti ikan, daging, ayam, beras, dan sayur-sayuran (Antara News, 31 Oktober 2008).

Belajar dari Malaysia, pemerintah harus proaktif dan tegas mengawasi perekonomian domestik. Kita berharap, wacana politisasi harga BBM ini hanyalah kecurigaan yang tak terbukti. Semoga ini hanyalah bagian dari intrik para pesaing incumbent saat ini,
terutama menjelang pemilu 2009.

Jika benar-benar pro-rakyat, pemerintah harus serius mengurangi beban hidup yang menghimpit masyarakat. Urusan peningkatan daya beli khalayak tidak bisa dilepaskan begitu saja pada mekanisme pasar. Jika begitu, yakinlah, perekonomian rakyat akan selamanya kalah digerus roda kapitalisme.

[+/-] klik judul kecil di atas untuk melanjutkan...

18 Desember 2008

Harga Seorang Manusia

FILM

Semarang, 17 Desember 2008
Harga Seorang Manusia
Oleh Anindityo Wicaksono

(Sumber gambar: http://www.teachwithmovies.org)

Judul: Les Miserables
Genre: Drama
Sutradara: Bille August
Naskah: Victor Hugo (novel), Rafael Yglesias (screenplay)
Pemain: Liam Neeson, Geoffrey Rush, Uma Thurman, Hans Matheson, Claire Danes
Produksi: Columbia/Tristar
Tanggal Rilis: 1 Mei 1998
Durasi: 128 menit

TAHUKAH anda berapa "harga" seorang manusia? Tanya saja Prof. Norweigh, seorang pakar kimia dan komputer yang pernah meneliti hal ini.

Jika diuangkan, tulisnya dalam sebuah jurnal kedokteran, total harga seluruh organ-organ tubuh manusia ternyata mencapai kurang lebih USD 85 milyar (http://semarbagong- petrukgareng.blogspot.com). Harga zat penumbuh rambut saja, dengan asumsi rata-rata kebutuhan sampai umur 50 tahun sebanyak 20 gram, sebesar USD 2 juta per gramnya.

Tunggu dulu, ini baru organ tubuh yang kasat mata; belum nyawa dan jiwa. Tentu bisa berjuta-juta kali lipatnya jika turut dikalkulasikan.

Namun, seringkali kita lihat betapa banyaknya orang-orang yang tak dianggap atau disingkirkan dari lingkungannya. Mereka yang diketahui melakukan pelanggaran atau kesalahan di masa lalu akan selamanya dianggap tak berharga oleh masyarakat.

Lihat juga perlakuan masyarakat kepada mantan narapidana yang kembali di lingkungannya. Kehadiran mereka kadang sudah menimbulkan rasa curiga dan tak aman. Meski mengaku sudah bertobat, tetap saja mereka susah mendapat tempat di masyarakat.

"Pembuat kejahatan itu watak, mustahil untuk merubahnya," begitu kira-kira yang terpatri dalam masyarakat model begini.

Namun, bukan begitu yang diteladankan Uskup Bienvenu Myriel dalam film Les Miserables (1998). Dalam film besutan sutradara Bille August ini, Myriel menunjukkan apa itu pengampunan tiada batas. Dia mengampuni Jean Valjean (Liam Neeson), seorang mantan narapidana yang mencuri di rumahnya ketika diberi tumpangan olehnya.

Ketika Jean tertangkap polisi dan dibawa ke rumahnya keesokan harinya, Uskup Myriel justru membelanya. "Oh, tidak Pak ... tidak. Dia tidak mencuri. Sayalah yang memberikan sendiri barang-barang itu kepadanya," kata Myriel kepada para polisi.

Jean, yang sungguh terheran-heran pada apa yang didengarnya ini, bertanya, "Mengapa kau lakukan itu, setelah apa yang kulakukan padamu?"

Dengan penuh kasih, bahkan sambil menambahkan lagi barang-barang berharga lain miliknya yang tak sempat "terbawa" Jean, Myriel berkata: "Kemarin kamu berjanji akan menjadi seorang manusia baru. Hari ini aku telah membeli jiwamu dengan perak ini, dan aku ingin kamu menepati janjimu. Aku telah ditebus Bapa, sehingga kamu pun juga ditebus oleh-Nya."

Kehidupan baru

Film ini berdasarkan novel Victor Hugo (1802 – 1885) terbitan 1862 dengan judul yang sama. Ia membawakan pesan moral yang teramat dalam: Betapa besarnya kuasa pengampunan mengubah kehidupan.

Ia hendak mengisahkan kebutuhan hakiki manusia untuk dihargai dan diterima apa adanya.

Dikisahkan bagaimana pengampunan tulus yang diberikan Uskup Myriel mampu mengubah drastis kehidupan Jean 180 derajat. Dari seorang pencuri roti, Jean berhasil menjadi pengusaha kaya raya di sebuah kota kecil bernama Vigau, tempatnya melanjutkan kehidupan barunya.

Karena dikenal bijaksana, sederhana, saleh, dan memiliki kepedulian tinggi, ia pun dipercaya menjadi walikota. Ia disayangi segenap rakyatnya.

Sang Jean "baru" ini terus menunjukkan kebaikan-kebaikan hatinya kepada sesama. Suatu waktu, Jean, sang Walikota Vigau, tak segan-segan turun ke jalan untuk menolong seorang pengendara kereta kuda yang terperosok lubang jalan.

Di lain waktu, dia memaafkan Fantine (Uma Thurman), seorang pelacur yang tertangkap polisi. Fantine adalah mantan buruh pabriknya yang terpaksa menjajakan dirinya karena dipecat setelah diketahui punya anak di luar nikah.

Jean bersedia merawatnya yang saat itu sedang sakit keras. Ia pun menepati komitmennya untuk mengasuh anak Fantine, Cosette (Claire Danes), ketika Fantine tiada, hingga dewasa.

Kehidupan baru Jean ini berubah sejak seorang inspektur polisi baru bernama Javert (Geoffrey Rush) mulai bertugas di kota itu. Javert adalah mantan pemimpin kerja paksa para tahanan di mana Jean menjalani masa hukumannya.

Wajah Jean yang familiar baginya membuatnya curiga. Setelah terbukti benar--Jean adalah buronan yang selama ini dicarinya--kisah pengejaran tiada henti pun dimulai.

Javert digambarkan sebagai orang yang tak punya belas kasihan. Baginya, seseorang dengan catatan masa lalu buruk, akan selamanya buruk. Betapa pun baiknya orang itu berubah.

Sampai akhirnya, Javert frustasi dan memilih untuk bunuh diri. Dia merasa hidupnya tak pantas lagi ketika mengetahui Jean yang begitu dibencinya justru memaafkannya. Jean bahkan dengan sukarela menyerahkan dirinya ditangkap.

Cermin diri

Novelnya sendiri memang sensasional pada jamannya. Ia sudah dialihbahasakan di puluhan negara. Ia melambungkan nama Victor Hugo--yang juga pengarang The Hunchback of Notredamme--sebagai penulis dengan karya-karya yang penuh pesan moral dan kemanusiaan.

Versi terjemahan Indonesia hadir pada 2007 lewat penerbit Bentang Pustaka. Kisahnya yang mengambil setting pada kurun revolusi Perancis ini komplit. Ada konflik-percintaan, moral, kemanusiaan, pengkhianatan, hingga penggambaran arsitektural Eropa klasik. Les Miserables, yang berarti "Yang Menderita", selesai ditulis saat Victor Hugo berusia 60 tahun.

Maka tak heran jika pesona kisahnya membuat ia ramai-ramai diadaptasi ke berbagai bentuk karya lain, mulai dari drama musik, sandiwara radio, film, film animasi, bahkan sampai game komputer. Mulai dari 1907 hingga 2008, terhitung 52 film yang mengangkat kisah novel ini.

Ya, kisah Jean memang istimewa. Film--atau novelnya--ini hendaknya membuat kita bercermin diri: Maukah kita mengampuni orang lain?

Seperti teladan Uskup Myriel, mengampuni berarti "mengubahkan". Seseorang yang tak diampuni akan selalu berkubang dalam kesalahannya. Ada tertulis: Bukan tugas kita untuk menghakimi, namun sudah ditetapkan-Nya Hari Penghakiman bagi setiap kita menurut segala perbuatan.

Nah, sekarang pertanyaannya, apa bedanya mengampuni dengan menghakimi? Mengampuni adalah ketika seorang maling tertangkap tangan merampok di rumah Anda, Anda lalu berkata: "Saya memaafkanmu. Pergilah dan janganlah berbuat dosa lagi!" Anda mengijinkannya berdamai dengan jiwa dan TUHAN-nya.

Sedangkan menghakimi, adalah saat ada maling tertangkap di lingkungan tempat tinggal Anda; Anda merasa turut dirugikan, lalu turut menggebuki bersama warga.

Belum puas atau untuk membuatnya lebih jera, anda naik jabatan--dari penggebuk menjadi provokator--lalu berteriak: "Bakar ... bakar ... bakar!"

[+/-] klik judul kecil di atas untuk melanjutkan...

Pers dan Penerbitan Pers

JURNALISME
Semarang, 17 Desember 2008
Pers dan Penerbitan Pers
Oleh Anindityo Wicaksono

(Sumber gambar: http://www.sinaragapepress.com)

A. PENGERTIAN DAN FUNGSI PERS

MENURUT leksikon komunikasi, "pers" berarti: (1) usaha percetakan atau penerbitan; (2) usaha pengumpulan dan penyiaran berita; (3) penyiaran berita melalui surat kabar, majalah, radio, dan televisi; (4) orang-orang yang bergerak dalam penyiaran berita; dan (5) medium penyiaran berita.

Sebagai lembaga, ia mengelola informasi yang terdiri dari fakta dan opini, yang disajikan kepada masyarakat sebagai salah satu komoditi (Totok Djuroto, 2000: 91).

Istilah "pers" yang berasal dari bahasa Inggris, "press", dapat diartikan secara luas maupun sempit. Dalam pengertian luas, "pers" mencakup semua media komunikasi-massa seperti radio, televisi, dan film.

Ia berfungsi memancarkan/ menyebarkan informasi, berita, gagasan, pikiran, atau perasaan seseorang atau sekelompok orang kepada orang lain (Rachmadi, 1990: 9).

Dalam pengertian luas, "pers" merupakan manifestasi dari freedom of speech (kebebasan berbicara); dalam pengertian sempit, manifestasi freedom of the press (kebebasan pers). Keduanya tercakup dalam pengertian freedom of expression (kebebasan berekspresi).

Rachmadi, dalam bukunya, Perbandingan Sistem Pers (1990: 10), menyebutkan dua fungsi pers di dalam masyarakat:

1. Medium komunikasi

Ditinjau dari kerangka proses komunikasi, "pers" adalah medium (perantara) atau saluran (channel) bagi pernyataan-pernyataan yang hendak ditujukan kepada khalayak. Dalam proses komunikasi melalui media, ada lima unsur atau komponennya, yaitu:
a. penyampai
b. pesan
c. saluran
d. penerima
e. efek

2. Lembaga masyarakat atau institusi sosial

Pers dan masyarakat merupakan dua lembaga yang satu sama lainnya tak terpisahkan. Sebagai subsistem sosial, pers selalu tergantung dan berkaitan erat dengan masyarakat di mana ia berada. Di mana pun pers berada, ia membutuhkan masyarakat sebagai sasaran penyebaran informasi atau pemberitaannya.

Pengertian "pers", menurut UU No 40/1999 tentang Pers, adalah lembaga sosial dan wahana komunikasi-massa yang melaksanakan kegiatan jurnalistik.

Kegiatannya meliputi mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi, baik dalam bentuk tulisan, suara, gambar, suara dan gambar, serta data dan grafik dengan menggunakan media cetak, media elektronik, dan segala jenis saluran yang ada.

"Perusahaan pers", adalah badan hukum Indonesia yang menyelenggarakan usaha pers; meliputi perusahaan media cetak, media elektronik, kantor berita, serta perusahaan media lainnya yang secara khusus menyelenggarakan, menyiarkan, atau menyalurkan informasi.

Sedangkan fungsi pers nasional, masih mengutip UU No 40/1999, yaitu sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, kontrol sosial, serta juga berfungsi sebagai lembaga ekonomi.

B. PENGERTIAN, BENTUK, DAN ISI PENERBITAN PERS

"Penerbitan pers", yang lebih sering disebut media massa cetak, adalah perusahaan pers yang dalam menyajikan informasinya melewati usaha percetakan (print-out). Atas perbedaannya itu, ia berbeda dengan "pers" dalam arti luas yang mencakup media elektronik, seperti radio, televisi, film, dan internet (Totok Djuroto, 2000: 10).

Menurut Indiwan Seto (2006: 10), media cetak bisa dibedakan dari berbagai segi. Salah satunya, dari bentuk dan ukurannya dalam menyajikan informasi. Ia bisa berupa kumpulan artikel, berita, cerita, dan iklan. Pembedanya bisa juga dari periodesasi terbit (harian, mingguan, dwi-mingguan, atau bulanan), jangkauan sirkulasi, gaya bahasa, dan segmen pembaca.

Berikut ini format-formatnya:

1. Surat kabar (broadsheet)
Untuk ukurannya, rata-rata surat kabar umum di Indonesia dicetak pada medium kertas ukuran plano (352 x 540 mm). Ia biasanya terbit teratur: harian atau mingguan.

2. Tabloid
Format ini berukuran setengahnya broadsheet. Dalam sejarahnya di AS, ia diperkenalkan bagi mereka yang selalu sibuk; sampai-sampai hanya bisa membaca di bus atau kereta api.

Format ini menjadikan koran praktis dan mudah dibaca di berbagai tempat sempit. Contohnya dapat kita lihat pada tabloid: Nova, Bintang, Aura, dan Bola. Kini tak sedikit surat kabar yang mulai menggunakan format ini. Taruh misal Koran Tempo dan Jawa Pos.

3. Majalah
Format ini setengahnya ukuran tabloid atau seperempat broadsheet. Halaman demi halamannya diikat dengan kawat atau dilem. Bagian sampul menggunakan jenis kertas yang lebih tebal dan mengkilat dibandingkan kertas bagian dalam.

Ia terbit teratur: seminggu, dua minggu, atau satu bulan sekali. Contohnya antara lain majalah Tempo, Femina, Gatra, dan Gadis.

4. Buku
Berukuran setengahnya majalah; sekitar seperdelapan broadsheet. Isinya biasanya tulisan mengenai ilmu pengetahuan, esai, atau kisah-kisah panjang. Ia dicetak dalam kertas berukuran setengah kwarto atau folio dan dijilid rapi. Contohnya: Intisari, Hidayah, Prisma, dan Sabili.

Pada umumnya, isi produk pers atau produk jurnalistik dapat digolongkan menjadi tiga kelompok besar, yaitu berita, nonberita, dan fotojurnalistik. Adapun secara keseluruhan, isi penerbitan pers, yaitu
(Totok Djuroto, 2000: 46):

1. Pemberitaan (news getter)

a. Pengertian berita (perception news)
b. Berita langsung (straight news)
c. Penggalian berita (investigative news)
d. Pengembangan berita (depth news)
e. Feature (human interest news)

2. Pandangan atau opini
a. Pendapat masyarakat (public opinion)
1) Komentar
2) Artikel
3) Surat Pembaca

b. Opini penerbit (press opinion)
1) Tajuk rencana
2) Pojok
3) Karikatur

3. Periklanan (advertising)
a. Iklan display
b. Iklan baris
c. Iklan pariwara (advertorial)

* * *
DAFTAR PUSTAKA

Rahcmadi, F. 1990. Perbandingan Sistem Pers. Jakarta: Penerbit PT Gramedia.

Djuroto, Totok. 2000. Manajemen Penerbitan Pers. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Wibowo, Indiwan Seto Wahju. 2006. Dasar-dasar Jurnalistik. Jakarta: Lembaga Pelatihan Jurnalistik Antara Press.

[+/-] klik judul kecil di atas untuk melanjutkan...