Semarang, 25 Desember 2008
TUHAN memberkati!
Anindityo Wicaksono
26 Desember 2008
21 Desember 2008
Buah Kecermatan Malaysia
KOLOM
Semarang, 20 Desember 2008
Buah Kecermatan Malaysia
Oleh Anindityo Wicaksono
PEMIMPIN yang baik adalah sosok yang diharapkan selalu hadir pada serba pergulatan masyarakat. Dia merupakan penjelmaan semangat Ki Hajar Dewantara yang masyhur: Ing Ngarso Mangun Karso, Ing Madya Sing Tuladha, Tut Wuri Handayani (dari depan memimpin; dari tengah memberikan teladan; dari belakang mendukung).
Namun pemimpin model begini nampaknya masih jauh sekali dari negeri ini. Lihat saja figur Presiden SBY yang terlihat terlalu mendewakan simpati masyarkat. Dia hilang di kala pengeluaran keputusan yang memberatkan, namun terdepan ketika menelurkan kebijakan populis.
Mari kita cermati. Ketika pemerintah mengumumkan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dari Rp4.500 menjadi Rp6.000 pada medio Mei 2008, SBY sama sekali tak menunjukkan batang hidungnya. Hanya para menterinya yang hadir.
Sebaliknya, pada pengumuman turunnya harga BBM (per 1 Desember dan 15 Desember 2008), beliau hadir. Bahkan dia menjadi yang terdahulu mengumumkannya di depan pers.
Melihat keganjilan pola kepemimpinan begini, tak pelak kini beredar isu bahwa BBM tak ubahnya komoditas politik. Apalagi kini mendekati pemilu 2009. Kebijakan ini dianggap sekadar bagian dari politik pencitraan yang dibangun kader Partai Demokrat ini demi mendulang dukungan rakyat.
Tarif Angkutan
Realitas di lapangan pun menunjukkan bahwa penurunan ini nyatanya tidak terlalu berimbas positif bagi perekonomian. Harga-harga kebutuhan relatif stagnan karena biaya transportasi publik belum juga turun.
Penyebabnya apalagi kalau bukan Organda (Organisasi Pengusaha Nasional Angkutan Bermotor) yang enggan menurunkan tarif angkutan. Jika dulu alasan kenaikan tarif karena BBM adalah penyumbang terbesar biaya produksi, kini ketika turun, dalih persoalan bergeser: biaya suku cadang, pungli, dan retribusi yang membengkak.
Hemat penulis, situasi ini terjadi akibat pemerintah masih tanggung-tanggung berkeputusan. Sebagai regulator, menjadi tanggung jawab pemerintah untuk mendorong para pengusaha angkutan menurunkan tarifnya. Jika tidak, tidak ada dalam kamus mereka menurunkan tarif yang sudah terlanjur naik.
Kondisi ini realistis. Sebagai lembaga bisnis, prinsip utama mereka adalah meraih keuntungan sebanyak-banyaknya. Berkurangnya pos pengeluaran BBM pascapenurunan harga mereka jadikan bonus penghasilan dalam kalkulasi tarif yang sudah terlanjur naik.
Selain itu, sebenarnya, menurut hitungan ekonomisnya, pemerintah sudah dapat menurunkan minyak ke harga semula pada Mei 2008, di mana harga premium Rp4.500 per liternya. Pasalnya, kini harga minyak dunia sudah berkurang hingga lebih dari 50 persen (150 dolar AS menjadi 40 dolar AS per barel).
Namun sayang, momentum itu diabaikan pemerintah. Mereka lebih peduli menggenjot popularitas dengan menurunkan harga sedikit demi sedikit.
Akibatnya, nasib rakyat tetap saja terombang-ambing. Niatan baik peningkatan daya beli masyarakat tak dapat berbicara banyak sepanjang harga aneka kebutuhan pokok masih berkutat pada angka lama.
Kebijakan Malaysia
Pemerintah sebaiknya belajar dari Malaysia. Upaya negara tetangga dalam menurunkan beban rakyatnya tidak hanya terbatas menurunkan harga BBM--hingga empat kali--tetapi juga harga barang kebutuhan lainnya, terutama kebutuhan pokok.
Saat harga minyak dunia melambung hingga 138 dolar AS per barel per 5 Juni 2008, pemerintah Malaysia juga tak punya pilihan lain selain menaikkan harga BBM. Namun, keunggulan mereka adalah pada kecermatan membaca pergerakan harga minyak yang menunjukkan kecenderungan turun.
Selang dua bulan, begitu harga minyak turun mendekati 100 dolar AS per barel, Malaysia cepat-cepat menurunkan harga BBM. Begitu juga saat harga minyak anjlok hingga 80 dolar AS per barel. Total, pemerintah Malaysia menurunkan harga BBM sebanyak empat kali (2 Agustus, 24 September, 15 Oktober, dan 31 Oktober 2008).
Selain kecermatan membaca pergerakan harga minyak, Menteri Perdagangan Malaysia sekaligus berperan sebagai penjamin perlindungan konsumen. Demi mengusahakan iklim usaha yang kondusif, dia gencar melobi para pengusaha supermarket besar.
Langkahnya terbukti tepat sasaran. Supermarket-supermarket yang jejaringnya tersebar di seluruh negara bagian ini--seperti Mydin, Carrefour dan Jusco--mau menurunkan harga-harga kebutuhan sehari-hari.
Bahkan, supermarket Tesco, yang memiliki 26 supermarket di seluruh negara bagian Malaysia, bersedia menurunkan harga hingga 47 persen dari 50 jenis barang kebutuhan sehari-hari, seperti ikan, daging, ayam, beras, dan sayur-sayuran (Antara News, 31 Oktober 2008).
Belajar dari Malaysia, pemerintah harus proaktif dan tegas mengawasi perekonomian domestik. Kita berharap, wacana politisasi harga BBM ini hanyalah kecurigaan yang tak terbukti. Semoga ini hanyalah bagian dari intrik para pesaing incumbent saat ini, terutama menjelang pemilu 2009.
Jika benar-benar pro-rakyat, pemerintah harus serius mengurangi beban hidup yang menghimpit masyarakat. Urusan peningkatan daya beli khalayak tidak bisa dilepaskan begitu saja pada mekanisme pasar. Jika begitu, yakinlah, perekonomian rakyat akan selamanya kalah digerus roda kapitalisme.
Buah Kecermatan Malaysia
Oleh Anindityo Wicaksono
PEMIMPIN yang baik adalah sosok yang diharapkan selalu hadir pada serba pergulatan masyarakat. Dia merupakan penjelmaan semangat Ki Hajar Dewantara yang masyhur: Ing Ngarso Mangun Karso, Ing Madya Sing Tuladha, Tut Wuri Handayani (dari depan memimpin; dari tengah memberikan teladan; dari belakang mendukung).
Namun pemimpin model begini nampaknya masih jauh sekali dari negeri ini. Lihat saja figur Presiden SBY yang terlihat terlalu mendewakan simpati masyarkat. Dia hilang di kala pengeluaran keputusan yang memberatkan, namun terdepan ketika menelurkan kebijakan populis.
Mari kita cermati. Ketika pemerintah mengumumkan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dari Rp4.500 menjadi Rp6.000 pada medio Mei 2008, SBY sama sekali tak menunjukkan batang hidungnya. Hanya para menterinya yang hadir.
Sebaliknya, pada pengumuman turunnya harga BBM (per 1 Desember dan 15 Desember 2008), beliau hadir. Bahkan dia menjadi yang terdahulu mengumumkannya di depan pers.
Melihat keganjilan pola kepemimpinan begini, tak pelak kini beredar isu bahwa BBM tak ubahnya komoditas politik. Apalagi kini mendekati pemilu 2009. Kebijakan ini dianggap sekadar bagian dari politik pencitraan yang dibangun kader Partai Demokrat ini demi mendulang dukungan rakyat.
Tarif Angkutan
Realitas di lapangan pun menunjukkan bahwa penurunan ini nyatanya tidak terlalu berimbas positif bagi perekonomian. Harga-harga kebutuhan relatif stagnan karena biaya transportasi publik belum juga turun.
Penyebabnya apalagi kalau bukan Organda (Organisasi Pengusaha Nasional Angkutan Bermotor) yang enggan menurunkan tarif angkutan. Jika dulu alasan kenaikan tarif karena BBM adalah penyumbang terbesar biaya produksi, kini ketika turun, dalih persoalan bergeser: biaya suku cadang, pungli, dan retribusi yang membengkak.
Hemat penulis, situasi ini terjadi akibat pemerintah masih tanggung-tanggung berkeputusan. Sebagai regulator, menjadi tanggung jawab pemerintah untuk mendorong para pengusaha angkutan menurunkan tarifnya. Jika tidak, tidak ada dalam kamus mereka menurunkan tarif yang sudah terlanjur naik.
Kondisi ini realistis. Sebagai lembaga bisnis, prinsip utama mereka adalah meraih keuntungan sebanyak-banyaknya. Berkurangnya pos pengeluaran BBM pascapenurunan harga mereka jadikan bonus penghasilan dalam kalkulasi tarif yang sudah terlanjur naik.
Selain itu, sebenarnya, menurut hitungan ekonomisnya, pemerintah sudah dapat menurunkan minyak ke harga semula pada Mei 2008, di mana harga premium Rp4.500 per liternya. Pasalnya, kini harga minyak dunia sudah berkurang hingga lebih dari 50 persen (150 dolar AS menjadi 40 dolar AS per barel).
Namun sayang, momentum itu diabaikan pemerintah. Mereka lebih peduli menggenjot popularitas dengan menurunkan harga sedikit demi sedikit.
Akibatnya, nasib rakyat tetap saja terombang-ambing. Niatan baik peningkatan daya beli masyarakat tak dapat berbicara banyak sepanjang harga aneka kebutuhan pokok masih berkutat pada angka lama.
Kebijakan Malaysia
Pemerintah sebaiknya belajar dari Malaysia. Upaya negara tetangga dalam menurunkan beban rakyatnya tidak hanya terbatas menurunkan harga BBM--hingga empat kali--tetapi juga harga barang kebutuhan lainnya, terutama kebutuhan pokok.Saat harga minyak dunia melambung hingga 138 dolar AS per barel per 5 Juni 2008, pemerintah Malaysia juga tak punya pilihan lain selain menaikkan harga BBM. Namun, keunggulan mereka adalah pada kecermatan membaca pergerakan harga minyak yang menunjukkan kecenderungan turun.
Selang dua bulan, begitu harga minyak turun mendekati 100 dolar AS per barel, Malaysia cepat-cepat menurunkan harga BBM. Begitu juga saat harga minyak anjlok hingga 80 dolar AS per barel. Total, pemerintah Malaysia menurunkan harga BBM sebanyak empat kali (2 Agustus, 24 September, 15 Oktober, dan 31 Oktober 2008).
Selain kecermatan membaca pergerakan harga minyak, Menteri Perdagangan Malaysia sekaligus berperan sebagai penjamin perlindungan konsumen. Demi mengusahakan iklim usaha yang kondusif, dia gencar melobi para pengusaha supermarket besar.
Langkahnya terbukti tepat sasaran. Supermarket-supermarket yang jejaringnya tersebar di seluruh negara bagian ini--seperti Mydin, Carrefour dan Jusco--mau menurunkan harga-harga kebutuhan sehari-hari.
Bahkan, supermarket Tesco, yang memiliki 26 supermarket di seluruh negara bagian Malaysia, bersedia menurunkan harga hingga 47 persen dari 50 jenis barang kebutuhan sehari-hari, seperti ikan, daging, ayam, beras, dan sayur-sayuran (Antara News, 31 Oktober 2008).
Belajar dari Malaysia, pemerintah harus proaktif dan tegas mengawasi perekonomian domestik. Kita berharap, wacana politisasi harga BBM ini hanyalah kecurigaan yang tak terbukti. Semoga ini hanyalah bagian dari intrik para pesaing incumbent saat ini, terutama menjelang pemilu 2009.
Jika benar-benar pro-rakyat, pemerintah harus serius mengurangi beban hidup yang menghimpit masyarakat. Urusan peningkatan daya beli khalayak tidak bisa dilepaskan begitu saja pada mekanisme pasar. Jika begitu, yakinlah, perekonomian rakyat akan selamanya kalah digerus roda kapitalisme.
Label:
kolom
18 Desember 2008
Harga Seorang Manusia
FILM
Semarang, 17 Desember 2008
Harga Seorang Manusia
Oleh Anindityo Wicaksono
Judul: Les Miserables
Genre: Drama
Sutradara: Bille August
Naskah: Victor Hugo (novel), Rafael Yglesias (screenplay)
Pemain: Liam Neeson, Geoffrey Rush, Uma Thurman, Hans Matheson, Claire Danes
Produksi: Columbia/Tristar
Tanggal Rilis: 1 Mei 1998
Durasi: 128 menit
Harga Seorang Manusia
Oleh Anindityo Wicaksono
Judul: Les Miserables
Genre: Drama
Sutradara: Bille August
Naskah: Victor Hugo (novel), Rafael Yglesias (screenplay)
Pemain: Liam Neeson, Geoffrey Rush, Uma Thurman, Hans Matheson, Claire Danes
Produksi: Columbia/Tristar
Tanggal Rilis: 1 Mei 1998
Durasi: 128 menit
TAHUKAH anda berapa "harga" seorang manusia? Tanya saja Prof. Norweigh, seorang pakar kimia dan komputer yang pernah meneliti hal ini.
Jika diuangkan, tulisnya dalam sebuah jurnal kedokteran, total harga seluruh organ-organ tubuh manusia ternyata mencapai kurang lebih USD 85 milyar (http://semarbagong- petrukgareng.blogspot.com). Harga zat penumbuh rambut saja, dengan asumsi rata-rata kebutuhan sampai umur 50 tahun sebanyak 20 gram, sebesar USD 2 juta per gramnya.
Tunggu dulu, ini baru organ tubuh yang kasat mata; belum nyawa dan jiwa. Tentu bisa berjuta-juta kali lipatnya jika turut dikalkulasikan.
Namun, seringkali kita lihat betapa banyaknya orang-orang yang tak dianggap atau disingkirkan dari lingkungannya. Mereka yang diketahui melakukan pelanggaran atau kesalahan di masa lalu akan selamanya dianggap tak berharga oleh masyarakat.
Lihat juga perlakuan masyarakat kepada mantan narapidana yang kembali di lingkungannya. Kehadiran mereka kadang sudah menimbulkan rasa curiga dan tak aman. Meski mengaku sudah bertobat, tetap saja mereka susah mendapat tempat di masyarakat.
"Pembuat kejahatan itu watak, mustahil untuk merubahnya," begitu kira-kira yang terpatri dalam masyarakat model begini.
Namun, bukan begitu yang diteladankan Uskup Bienvenu Myriel dalam film Les Miserables (1998). Dalam film besutan sutradara Bille August ini, Myriel menunjukkan apa itu pengampunan tiada batas. Dia mengampuni Jean Valjean (Liam Neeson), seorang mantan narapidana yang mencuri di rumahnya ketika diberi tumpangan olehnya.
Ketika Jean tertangkap polisi dan dibawa ke rumahnya keesokan harinya, Uskup Myriel justru membelanya. "Oh, tidak Pak ... tidak. Dia tidak mencuri. Sayalah yang memberikan sendiri barang-barang itu kepadanya," kata Myriel kepada para polisi.
Jean, yang sungguh terheran-heran pada apa yang didengarnya ini, bertanya, "Mengapa kau lakukan itu, setelah apa yang kulakukan padamu?"
Dengan penuh kasih, bahkan sambil menambahkan lagi barang-barang berharga lain miliknya yang tak sempat "terbawa" Jean, Myriel berkata: "Kemarin kamu berjanji akan menjadi seorang manusia baru. Hari ini aku telah membeli jiwamu dengan perak ini, dan aku ingin kamu menepati janjimu. Aku telah ditebus Bapa, sehingga kamu pun juga ditebus oleh-Nya."
Kehidupan baru
Film ini berdasarkan novel Victor Hugo (1802 – 1885) terbitan 1862 dengan judul yang sama. Ia membawakan pesan moral yang teramat dalam: Betapa besarnya kuasa pengampunan mengubah kehidupan.
Ia hendak mengisahkan kebutuhan hakiki manusia untuk dihargai dan diterima apa adanya.
Dikisahkan bagaimana pengampunan tulus yang diberikan Uskup Myriel mampu mengubah drastis kehidupan Jean 180 derajat. Dari seorang pencuri roti, Jean berhasil menjadi pengusaha kaya raya di sebuah kota kecil bernama Vigau, tempatnya melanjutkan kehidupan barunya.
Karena dikenal bijaksana, sederhana, saleh, dan memiliki kepedulian tinggi, ia pun dipercaya menjadi walikota. Ia disayangi segenap rakyatnya.
Sang Jean "baru" ini terus menunjukkan kebaikan-kebaikan hatinya kepada sesama. Suatu waktu, Jean, sang Walikota Vigau, tak segan-segan turun ke jalan untuk menolong seorang pengendara kereta kuda yang terperosok lubang jalan.
Di lain waktu, dia memaafkan Fantine (Uma Thurman), seorang pelacur yang tertangkap polisi. Fantine adalah mantan buruh pabriknya yang terpaksa menjajakan dirinya karena dipecat setelah diketahui punya anak di luar nikah.
Jean bersedia merawatnya yang saat itu sedang sakit keras. Ia pun menepati komitmennya untuk mengasuh anak Fantine, Cosette (Claire Danes), ketika Fantine tiada, hingga dewasa.
Kehidupan baru Jean ini berubah sejak seorang inspektur polisi baru bernama Javert (Geoffrey Rush) mulai bertugas di kota itu. Javert adalah mantan pemimpin kerja paksa para tahanan di mana Jean menjalani masa hukumannya.
Wajah Jean yang familiar baginya membuatnya curiga. Setelah terbukti benar--Jean adalah buronan yang selama ini dicarinya--kisah pengejaran tiada henti pun dimulai.
Javert digambarkan sebagai orang yang tak punya belas kasihan. Baginya, seseorang dengan catatan masa lalu buruk, akan selamanya buruk. Betapa pun baiknya orang itu berubah.
Sampai akhirnya, Javert frustasi dan memilih untuk bunuh diri. Dia merasa hidupnya tak pantas lagi ketika mengetahui Jean yang begitu dibencinya justru memaafkannya. Jean bahkan dengan sukarela menyerahkan dirinya ditangkap.
Cermin diri
Novelnya sendiri memang sensasional pada jamannya. Ia sudah dialihbahasakan di puluhan negara. Ia melambungkan nama Victor Hugo--yang juga pengarang The Hunchback of Notredamme--sebagai penulis dengan karya-karya yang penuh pesan moral dan kemanusiaan.
Versi terjemahan Indonesia hadir pada 2007 lewat penerbit Bentang Pustaka. Kisahnya yang mengambil setting pada kurun revolusi Perancis ini komplit. Ada konflik-percintaan, moral, kemanusiaan, pengkhianatan, hingga penggambaran arsitektural Eropa klasik. Les Miserables, yang berarti "Yang Menderita", selesai ditulis saat Victor Hugo berusia 60 tahun.
Maka tak heran jika pesona kisahnya membuat ia ramai-ramai diadaptasi ke berbagai bentuk karya lain, mulai dari drama musik, sandiwara radio, film, film animasi, bahkan sampai game komputer. Mulai dari 1907 hingga 2008, terhitung 52 film yang mengangkat kisah novel ini.
Ya, kisah Jean memang istimewa. Film--atau novelnya--ini hendaknya membuat kita bercermin diri: Maukah kita mengampuni orang lain?
Seperti teladan Uskup Myriel, mengampuni berarti "mengubahkan". Seseorang yang tak diampuni akan selalu berkubang dalam kesalahannya. Ada tertulis: Bukan tugas kita untuk menghakimi, namun sudah ditetapkan-Nya Hari Penghakiman bagi setiap kita menurut segala perbuatan.
Nah, sekarang pertanyaannya, apa bedanya mengampuni dengan menghakimi? Mengampuni adalah ketika seorang maling tertangkap tangan merampok di rumah Anda, Anda lalu berkata: "Saya memaafkanmu. Pergilah dan janganlah berbuat dosa lagi!" Anda mengijinkannya berdamai dengan jiwa dan TUHAN-nya.
Sedangkan menghakimi, adalah saat ada maling tertangkap di lingkungan tempat tinggal Anda; Anda merasa turut dirugikan, lalu turut menggebuki bersama warga.
Belum puas atau untuk membuatnya lebih jera, anda naik jabatan--dari penggebuk menjadi provokator--lalu berteriak: "Bakar ... bakar ... bakar!"
Jika diuangkan, tulisnya dalam sebuah jurnal kedokteran, total harga seluruh organ-organ tubuh manusia ternyata mencapai kurang lebih USD 85 milyar (http://semarbagong- petrukgareng.blogspot.com). Harga zat penumbuh rambut saja, dengan asumsi rata-rata kebutuhan sampai umur 50 tahun sebanyak 20 gram, sebesar USD 2 juta per gramnya.
Tunggu dulu, ini baru organ tubuh yang kasat mata; belum nyawa dan jiwa. Tentu bisa berjuta-juta kali lipatnya jika turut dikalkulasikan.
Namun, seringkali kita lihat betapa banyaknya orang-orang yang tak dianggap atau disingkirkan dari lingkungannya. Mereka yang diketahui melakukan pelanggaran atau kesalahan di masa lalu akan selamanya dianggap tak berharga oleh masyarakat.
Lihat juga perlakuan masyarakat kepada mantan narapidana yang kembali di lingkungannya. Kehadiran mereka kadang sudah menimbulkan rasa curiga dan tak aman. Meski mengaku sudah bertobat, tetap saja mereka susah mendapat tempat di masyarakat.
"Pembuat kejahatan itu watak, mustahil untuk merubahnya," begitu kira-kira yang terpatri dalam masyarakat model begini.
Namun, bukan begitu yang diteladankan Uskup Bienvenu Myriel dalam film Les Miserables (1998). Dalam film besutan sutradara Bille August ini, Myriel menunjukkan apa itu pengampunan tiada batas. Dia mengampuni Jean Valjean (Liam Neeson), seorang mantan narapidana yang mencuri di rumahnya ketika diberi tumpangan olehnya.
Ketika Jean tertangkap polisi dan dibawa ke rumahnya keesokan harinya, Uskup Myriel justru membelanya. "Oh, tidak Pak ... tidak. Dia tidak mencuri. Sayalah yang memberikan sendiri barang-barang itu kepadanya," kata Myriel kepada para polisi.
Jean, yang sungguh terheran-heran pada apa yang didengarnya ini, bertanya, "Mengapa kau lakukan itu, setelah apa yang kulakukan padamu?"
Dengan penuh kasih, bahkan sambil menambahkan lagi barang-barang berharga lain miliknya yang tak sempat "terbawa" Jean, Myriel berkata: "Kemarin kamu berjanji akan menjadi seorang manusia baru. Hari ini aku telah membeli jiwamu dengan perak ini, dan aku ingin kamu menepati janjimu. Aku telah ditebus Bapa, sehingga kamu pun juga ditebus oleh-Nya."
Kehidupan baru
Film ini berdasarkan novel Victor Hugo (1802 – 1885) terbitan 1862 dengan judul yang sama. Ia membawakan pesan moral yang teramat dalam: Betapa besarnya kuasa pengampunan mengubah kehidupan.Ia hendak mengisahkan kebutuhan hakiki manusia untuk dihargai dan diterima apa adanya.
Dikisahkan bagaimana pengampunan tulus yang diberikan Uskup Myriel mampu mengubah drastis kehidupan Jean 180 derajat. Dari seorang pencuri roti, Jean berhasil menjadi pengusaha kaya raya di sebuah kota kecil bernama Vigau, tempatnya melanjutkan kehidupan barunya.
Karena dikenal bijaksana, sederhana, saleh, dan memiliki kepedulian tinggi, ia pun dipercaya menjadi walikota. Ia disayangi segenap rakyatnya.
Sang Jean "baru" ini terus menunjukkan kebaikan-kebaikan hatinya kepada sesama. Suatu waktu, Jean, sang Walikota Vigau, tak segan-segan turun ke jalan untuk menolong seorang pengendara kereta kuda yang terperosok lubang jalan.
Di lain waktu, dia memaafkan Fantine (Uma Thurman), seorang pelacur yang tertangkap polisi. Fantine adalah mantan buruh pabriknya yang terpaksa menjajakan dirinya karena dipecat setelah diketahui punya anak di luar nikah.
Jean bersedia merawatnya yang saat itu sedang sakit keras. Ia pun menepati komitmennya untuk mengasuh anak Fantine, Cosette (Claire Danes), ketika Fantine tiada, hingga dewasa.
Kehidupan baru Jean ini berubah sejak seorang inspektur polisi baru bernama Javert (Geoffrey Rush) mulai bertugas di kota itu. Javert adalah mantan pemimpin kerja paksa para tahanan di mana Jean menjalani masa hukumannya.
Wajah Jean yang familiar baginya membuatnya curiga. Setelah terbukti benar--Jean adalah buronan yang selama ini dicarinya--kisah pengejaran tiada henti pun dimulai.
Javert digambarkan sebagai orang yang tak punya belas kasihan. Baginya, seseorang dengan catatan masa lalu buruk, akan selamanya buruk. Betapa pun baiknya orang itu berubah.
Sampai akhirnya, Javert frustasi dan memilih untuk bunuh diri. Dia merasa hidupnya tak pantas lagi ketika mengetahui Jean yang begitu dibencinya justru memaafkannya. Jean bahkan dengan sukarela menyerahkan dirinya ditangkap.
Cermin diri
Novelnya sendiri memang sensasional pada jamannya. Ia sudah dialihbahasakan di puluhan negara. Ia melambungkan nama Victor Hugo--yang juga pengarang The Hunchback of Notredamme--sebagai penulis dengan karya-karya yang penuh pesan moral dan kemanusiaan.
Versi terjemahan Indonesia hadir pada 2007 lewat penerbit Bentang Pustaka. Kisahnya yang mengambil setting pada kurun revolusi Perancis ini komplit. Ada konflik-percintaan, moral, kemanusiaan, pengkhianatan, hingga penggambaran arsitektural Eropa klasik. Les Miserables, yang berarti "Yang Menderita", selesai ditulis saat Victor Hugo berusia 60 tahun.
Maka tak heran jika pesona kisahnya membuat ia ramai-ramai diadaptasi ke berbagai bentuk karya lain, mulai dari drama musik, sandiwara radio, film, film animasi, bahkan sampai game komputer. Mulai dari 1907 hingga 2008, terhitung 52 film yang mengangkat kisah novel ini.
Ya, kisah Jean memang istimewa. Film--atau novelnya--ini hendaknya membuat kita bercermin diri: Maukah kita mengampuni orang lain?
Seperti teladan Uskup Myriel, mengampuni berarti "mengubahkan". Seseorang yang tak diampuni akan selalu berkubang dalam kesalahannya. Ada tertulis: Bukan tugas kita untuk menghakimi, namun sudah ditetapkan-Nya Hari Penghakiman bagi setiap kita menurut segala perbuatan.
Nah, sekarang pertanyaannya, apa bedanya mengampuni dengan menghakimi? Mengampuni adalah ketika seorang maling tertangkap tangan merampok di rumah Anda, Anda lalu berkata: "Saya memaafkanmu. Pergilah dan janganlah berbuat dosa lagi!" Anda mengijinkannya berdamai dengan jiwa dan TUHAN-nya.
Sedangkan menghakimi, adalah saat ada maling tertangkap di lingkungan tempat tinggal Anda; Anda merasa turut dirugikan, lalu turut menggebuki bersama warga.
Belum puas atau untuk membuatnya lebih jera, anda naik jabatan--dari penggebuk menjadi provokator--lalu berteriak: "Bakar ... bakar ... bakar!"
Label:
film
Pers dan Penerbitan Pers
JURNALISME
Semarang, 17 Desember 2008
Pers dan Penerbitan Pers
Oleh Anindityo Wicaksono
A. PENGERTIAN DAN FUNGSI PERS
MENURUT leksikon komunikasi, "pers" berarti: (1) usaha percetakan atau penerbitan; (2) usaha pengumpulan dan penyiaran berita; (3) penyiaran berita melalui surat kabar, majalah, radio, dan televisi; (4) orang-orang yang bergerak dalam penyiaran berita; dan (5) medium penyiaran berita.
Sebagai lembaga, ia mengelola informasi yang terdiri dari fakta dan opini, yang disajikan kepada masyarakat sebagai salah satu komoditi (Totok Djuroto, 2000: 91).
Istilah "pers" yang berasal dari bahasa Inggris, "press", dapat diartikan secara luas maupun sempit. Dalam pengertian luas, "pers" mencakup semua media komunikasi-massa seperti radio, televisi, dan film.
Ia berfungsi memancarkan/ menyebarkan informasi, berita, gagasan, pikiran, atau perasaan seseorang atau sekelompok orang kepada orang lain (Rachmadi, 1990: 9).
Dalam pengertian luas, "pers" merupakan manifestasi dari freedom of speech (kebebasan berbicara); dalam pengertian sempit, manifestasi freedom of the press (kebebasan pers). Keduanya tercakup dalam pengertian freedom of expression (kebebasan berekspresi).
Rachmadi, dalam bukunya, Perbandingan Sistem Pers (1990: 10), menyebutkan dua fungsi pers di dalam masyarakat:
1. Medium komunikasi
Ditinjau dari kerangka proses komunikasi, "pers" adalah medium (perantara) atau saluran (channel) bagi pernyataan-pernyataan yang hendak ditujukan kepada khalayak. Dalam proses komunikasi melalui media, ada lima unsur atau komponennya, yaitu:
a. penyampai
b. pesan
c. saluran
d. penerima
e. efek
2. Lembaga masyarakat atau institusi sosial
Pers dan masyarakat merupakan dua lembaga yang satu sama lainnya tak terpisahkan. Sebagai subsistem sosial, pers selalu tergantung dan berkaitan erat dengan masyarakat di mana ia berada. Di mana pun pers berada, ia membutuhkan masyarakat sebagai sasaran penyebaran informasi atau pemberitaannya.
Pengertian "pers", menurut UU No 40/1999 tentang Pers, adalah lembaga sosial dan wahana komunikasi-massa yang melaksanakan kegiatan jurnalistik.
Kegiatannya meliputi mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi, baik dalam bentuk tulisan, suara, gambar, suara dan gambar, serta data dan grafik dengan menggunakan media cetak, media elektronik, dan segala jenis saluran yang ada.
"Perusahaan pers", adalah badan hukum Indonesia yang menyelenggarakan usaha pers; meliputi perusahaan media cetak, media elektronik, kantor berita, serta perusahaan media lainnya yang secara khusus menyelenggarakan, menyiarkan, atau menyalurkan informasi.
Sedangkan fungsi pers nasional, masih mengutip UU No 40/1999, yaitu sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, kontrol sosial, serta juga berfungsi sebagai lembaga ekonomi.
B. PENGERTIAN, BENTUK, DAN ISI PENERBITAN PERS
"Penerbitan pers", yang lebih sering disebut media massa cetak, adalah perusahaan pers yang dalam menyajikan informasinya melewati usaha percetakan (print-out). Atas perbedaannya itu, ia berbeda dengan "pers" dalam arti luas yang mencakup media elektronik, seperti radio, televisi, film, dan internet (Totok Djuroto, 2000: 10).
Menurut Indiwan Seto (2006: 10), media cetak bisa dibedakan dari berbagai segi. Salah satunya, dari bentuk dan ukurannya dalam menyajikan informasi. Ia bisa berupa kumpulan artikel, berita, cerita, dan iklan. Pembedanya bisa juga dari periodesasi terbit (harian, mingguan, dwi-mingguan, atau bulanan), jangkauan sirkulasi, gaya bahasa, dan segmen pembaca.
Berikut ini format-formatnya:
1. Surat kabar (broadsheet)
Untuk ukurannya, rata-rata surat kabar umum di Indonesia dicetak pada medium kertas ukuran plano (352 x 540 mm). Ia biasanya terbit teratur: harian atau mingguan.
2. Tabloid
Format ini berukuran setengahnya broadsheet. Dalam sejarahnya di AS, ia diperkenalkan bagi mereka yang selalu sibuk; sampai-sampai hanya bisa membaca di bus atau kereta api.
Format ini menjadikan koran praktis dan mudah dibaca di berbagai tempat sempit. Contohnya dapat kita lihat pada tabloid: Nova, Bintang, Aura, dan Bola. Kini tak sedikit surat kabar yang mulai menggunakan format ini. Taruh misal Koran Tempo dan Jawa Pos.
3. Majalah
Format ini setengahnya ukuran tabloid atau seperempat broadsheet. Halaman demi halamannya diikat dengan kawat atau dilem. Bagian sampul menggunakan jenis kertas yang lebih tebal dan mengkilat dibandingkan kertas bagian dalam.
Ia terbit teratur: seminggu, dua minggu, atau satu bulan sekali. Contohnya antara lain majalah Tempo, Femina, Gatra, dan Gadis.
4. Buku
Berukuran setengahnya majalah; sekitar seperdelapan broadsheet. Isinya biasanya tulisan mengenai ilmu pengetahuan, esai, atau kisah-kisah panjang. Ia dicetak dalam kertas berukuran setengah kwarto atau folio dan dijilid rapi. Contohnya: Intisari, Hidayah, Prisma, dan Sabili.
Pada umumnya, isi produk pers atau produk jurnalistik dapat digolongkan menjadi tiga kelompok besar, yaitu berita, nonberita, dan fotojurnalistik. Adapun secara keseluruhan, isi penerbitan pers, yaitu (Totok Djuroto, 2000: 46):
1. Pemberitaan (news getter)
a. Pengertian berita (perception news)
b. Berita langsung (straight news)
c. Penggalian berita (investigative news)
d. Pengembangan berita (depth news)
e. Feature (human interest news)
2. Pandangan atau opini
a. Pendapat masyarakat (public opinion)
1) Komentar
2) Artikel
3) Surat Pembaca
b. Opini penerbit (press opinion)
1) Tajuk rencana
2) Pojok
3) Karikatur
3. Periklanan (advertising)
a. Iklan display
b. Iklan baris
c. Iklan pariwara (advertorial)
Rahcmadi, F. 1990. Perbandingan Sistem Pers. Jakarta: Penerbit PT Gramedia.
Djuroto, Totok. 2000. Manajemen Penerbitan Pers. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Wibowo, Indiwan Seto Wahju. 2006. Dasar-dasar Jurnalistik. Jakarta: Lembaga Pelatihan Jurnalistik Antara Press.
Semarang, 17 Desember 2008
Pers dan Penerbitan Pers
Oleh Anindityo Wicaksono
A. PENGERTIAN DAN FUNGSI PERS
MENURUT leksikon komunikasi, "pers" berarti: (1) usaha percetakan atau penerbitan; (2) usaha pengumpulan dan penyiaran berita; (3) penyiaran berita melalui surat kabar, majalah, radio, dan televisi; (4) orang-orang yang bergerak dalam penyiaran berita; dan (5) medium penyiaran berita.
Sebagai lembaga, ia mengelola informasi yang terdiri dari fakta dan opini, yang disajikan kepada masyarakat sebagai salah satu komoditi (Totok Djuroto, 2000: 91).
Istilah "pers" yang berasal dari bahasa Inggris, "press", dapat diartikan secara luas maupun sempit. Dalam pengertian luas, "pers" mencakup semua media komunikasi-massa seperti radio, televisi, dan film.
Ia berfungsi memancarkan/ menyebarkan informasi, berita, gagasan, pikiran, atau perasaan seseorang atau sekelompok orang kepada orang lain (Rachmadi, 1990: 9).
Dalam pengertian luas, "pers" merupakan manifestasi dari freedom of speech (kebebasan berbicara); dalam pengertian sempit, manifestasi freedom of the press (kebebasan pers). Keduanya tercakup dalam pengertian freedom of expression (kebebasan berekspresi).
Rachmadi, dalam bukunya, Perbandingan Sistem Pers (1990: 10), menyebutkan dua fungsi pers di dalam masyarakat:
1. Medium komunikasi
Ditinjau dari kerangka proses komunikasi, "pers" adalah medium (perantara) atau saluran (channel) bagi pernyataan-pernyataan yang hendak ditujukan kepada khalayak. Dalam proses komunikasi melalui media, ada lima unsur atau komponennya, yaitu:
a. penyampai
b. pesan
c. saluran
d. penerima
e. efek
2. Lembaga masyarakat atau institusi sosial
Pers dan masyarakat merupakan dua lembaga yang satu sama lainnya tak terpisahkan. Sebagai subsistem sosial, pers selalu tergantung dan berkaitan erat dengan masyarakat di mana ia berada. Di mana pun pers berada, ia membutuhkan masyarakat sebagai sasaran penyebaran informasi atau pemberitaannya.
Pengertian "pers", menurut UU No 40/1999 tentang Pers, adalah lembaga sosial dan wahana komunikasi-massa yang melaksanakan kegiatan jurnalistik.
Kegiatannya meliputi mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi, baik dalam bentuk tulisan, suara, gambar, suara dan gambar, serta data dan grafik dengan menggunakan media cetak, media elektronik, dan segala jenis saluran yang ada.
"Perusahaan pers", adalah badan hukum Indonesia yang menyelenggarakan usaha pers; meliputi perusahaan media cetak, media elektronik, kantor berita, serta perusahaan media lainnya yang secara khusus menyelenggarakan, menyiarkan, atau menyalurkan informasi.
Sedangkan fungsi pers nasional, masih mengutip UU No 40/1999, yaitu sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, kontrol sosial, serta juga berfungsi sebagai lembaga ekonomi.
B. PENGERTIAN, BENTUK, DAN ISI PENERBITAN PERS
"Penerbitan pers", yang lebih sering disebut media massa cetak, adalah perusahaan pers yang dalam menyajikan informasinya melewati usaha percetakan (print-out). Atas perbedaannya itu, ia berbeda dengan "pers" dalam arti luas yang mencakup media elektronik, seperti radio, televisi, film, dan internet (Totok Djuroto, 2000: 10).
Menurut Indiwan Seto (2006: 10), media cetak bisa dibedakan dari berbagai segi. Salah satunya, dari bentuk dan ukurannya dalam menyajikan informasi. Ia bisa berupa kumpulan artikel, berita, cerita, dan iklan. Pembedanya bisa juga dari periodesasi terbit (harian, mingguan, dwi-mingguan, atau bulanan), jangkauan sirkulasi, gaya bahasa, dan segmen pembaca.
Berikut ini format-formatnya:
1. Surat kabar (broadsheet)
Untuk ukurannya, rata-rata surat kabar umum di Indonesia dicetak pada medium kertas ukuran plano (352 x 540 mm). Ia biasanya terbit teratur: harian atau mingguan.
2. Tabloid
Format ini berukuran setengahnya broadsheet. Dalam sejarahnya di AS, ia diperkenalkan bagi mereka yang selalu sibuk; sampai-sampai hanya bisa membaca di bus atau kereta api.
Format ini menjadikan koran praktis dan mudah dibaca di berbagai tempat sempit. Contohnya dapat kita lihat pada tabloid: Nova, Bintang, Aura, dan Bola. Kini tak sedikit surat kabar yang mulai menggunakan format ini. Taruh misal Koran Tempo dan Jawa Pos.
3. Majalah
Format ini setengahnya ukuran tabloid atau seperempat broadsheet. Halaman demi halamannya diikat dengan kawat atau dilem. Bagian sampul menggunakan jenis kertas yang lebih tebal dan mengkilat dibandingkan kertas bagian dalam.
Ia terbit teratur: seminggu, dua minggu, atau satu bulan sekali. Contohnya antara lain majalah Tempo, Femina, Gatra, dan Gadis.
4. Buku
Berukuran setengahnya majalah; sekitar seperdelapan broadsheet. Isinya biasanya tulisan mengenai ilmu pengetahuan, esai, atau kisah-kisah panjang. Ia dicetak dalam kertas berukuran setengah kwarto atau folio dan dijilid rapi. Contohnya: Intisari, Hidayah, Prisma, dan Sabili.
Pada umumnya, isi produk pers atau produk jurnalistik dapat digolongkan menjadi tiga kelompok besar, yaitu berita, nonberita, dan fotojurnalistik. Adapun secara keseluruhan, isi penerbitan pers, yaitu (Totok Djuroto, 2000: 46):
1. Pemberitaan (news getter)
a. Pengertian berita (perception news)
b. Berita langsung (straight news)
c. Penggalian berita (investigative news)
d. Pengembangan berita (depth news)
e. Feature (human interest news)
2. Pandangan atau opini
a. Pendapat masyarakat (public opinion)
1) Komentar
2) Artikel
3) Surat Pembaca
b. Opini penerbit (press opinion)
1) Tajuk rencana
2) Pojok
3) Karikatur
3. Periklanan (advertising)
a. Iklan display
b. Iklan baris
c. Iklan pariwara (advertorial)
* * *
DAFTAR PUSTAKARahcmadi, F. 1990. Perbandingan Sistem Pers. Jakarta: Penerbit PT Gramedia.
Djuroto, Totok. 2000. Manajemen Penerbitan Pers. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Wibowo, Indiwan Seto Wahju. 2006. Dasar-dasar Jurnalistik. Jakarta: Lembaga Pelatihan Jurnalistik Antara Press.
Label:
Jurnalisme
15 Desember 2008
Romantisme Si Mozart Cilik
FILM
Semarang, 14 Desember 2008
Romantisme Si Mozart Cilik
Oleh Anindityo Wicaksono
Judul: August Rush (2007)
Genre: Drama Musikal
Pemeran: Freddie Highmore, Jonathan Rhys Meyers, Kerri Russel, Terrence Howard, Robin Williams, Mykelti Williamson
Sutradara: Kirsten Sheridan (Irlandia)
Durasi: 100 Menit
Produksi: Warner Bros
Tanggal Rilis: 21 November 2007 (USA), Januari 2008 (Blitz Megaplex)
MUSIK adalah bahasa universal; pemersatu yang mampu melintasi segala perbedaan. Ia agung, cara yang diyakini manusia sebagai alat pengakuan eksistensi di luar dirinya. Maka tak heran jika musik disebut-sebut sebagai salah satu produk kebudayaan tertua manusia.
Dalam bukunya, Multiple Intelligence, Howard Gardner pun menyebutkan bahwa kecerdasan musikal adalah satu dari tujuh tipe kecerdasan yang menjadi keunikan manusia (www.swopnet.com), selain linguistik, matematik, visual/spasial, kinestetika, intrapersonal, dan interpersonal. Bakat-bakat bawaan sejak lahir ini kini digunakan sebagai penentuan pola pendidikan seseorang.
Kecerdasan musikal, menurut dosen psikologi Harvard School of Education ini, ialah kecerdasan untuk mengembangkan, mengekspresikan, dan menikmati bentuk musik dan suara. Ciri-cirinya, yakni peka pada nada, dapat dengan mudah mengikuti irama, dan mampu mendengar musik dengan tingkat ketajaman lebih.
Dalam film August Rush (2007), adalah Evan Taylor (Freddie Highmore), seorang anak 12 tahun yang jenius dalam kecerdasan musikalnya. Darah musiknya ini berasal dari kedua orang tuanya yang sama-sama pemusik, Louis Connelly (Jonathan Rhys Meyers), vokalis-gitaris sebuah band rock, dan Lyla Novacek (Kerri Russel), seorang pemain cello berbakat di New York Philharmonic Orchestra.
Darah musik ini membuatnya tumbuh dengan kepekaan luar biasa dalam mengenali ragam nada dan bebunyian di sekelilingnya. Namun nasib berbicara lain. Ternyata talentanya yang luar biasa tak seiring dengan nasibnya. Sejak bayi, Evan, yang lahir dari hasil hubungan di luar nikah ini, diasingkan ke panti asuhan oleh ayah sang ibu yang tak menginginkan kehadirannya.
Namun, meski hidup terpisah dari orang tuanya sejak lahir, jiwa musik ini tetap mengakar dalam dirinya. Di panti asuhan, dia selalu terpukau mendengarkan suara-suara apa saja di sekitarnya. Mulai dari desiran angin, lonceng angin di kamarnya, hingga irama kibasan rumput.
"Musik ada di sekitar kita. Kita hanya perlu mendengarkan," katanya.
New York
Petualangannya dalam jibaku pencarian orang tuanya membawa Evan ke New York. Di sana, bakat musiknya semakin terasah sejak dia bergabung dalam grup pemusik jalanan pimpinan Wizard Wallace (Robin Williams).
Evan, yang kemudian diberi nama "August Rush" oleh Wizard, mulai sering mengamen di jalanan menggunakan gitar pemberian Wizard.
Bakat yang besar dalam bermusik membuat permainan Evan mampu memukau banyak orang. Meski belum tahu kunci-kunci dasar gitar, dia bahkan sudah dapat memperagakan beragam teknik sulit dalam gitar: tapping, gitar-perkusi, dan harmonik.
"Kadang-kadang, dunia mencoba menjauhkan musik darimu. Tetapi, aku percaya pada musik sama seperti dongeng bagi banyak orang. Aku yakin, apa yang kudengar ini berasal dari ibu dan ayahku. Mungkin nada demi nada ini sama dengan apa yang mereka dengar di malam mereka bertemu," katanya dalam narasi pembuka film.
Kejadian demi kejadian semakin mempertemukannya pada puncak pencapaiannya. Bahkan, lewat pertemuannya dengan seorang pendeta yang menyaksikannya memainkan organ klasik nan rumit di gereja, Evan disekolahkan ke The Julliard School, sekolah musik termasyhur di New York.
Di sana, si "Mozart kecil" ini mampu menggubah sebuah komposisi luar biasa, perpaduan orkestra dengan beragam alat dan bunyi-bunyian, seperti gelas, gitar, dan lonceng-lonceng angin. Seperti mimpi-mimpinya, kemampuan musiknya inilah yang akhirnya mempertemukannya kembali dengan kedua orang tuanya.
Musik latar
Film drama-keluarga musikal besutan sutradara Kirsten Sheridan (Irlandia) ini benar-benar dapat memanjakan telinga para pecinta musik. Para penggubah musik latarnya, Hans Zimmer dan Mark Mancina, patut kita acungi jempol. Mereka mampu menghadirkan ragam musik yang tersulam rapi dengan jalinan adegan demi adegan film.
Genre musik yang dipakai lengkap. Mulai dari techno, klasik, rock, hingga harmonisasi gitar--adegan ketika August Rush mengamen di jalan--yang luar biasa.
Akting para pemainnya pun patut mendapat apresiasi. Bahkan, Freddie Highmore (Charlie and the Chocolate Factory, Arthur and the Minimoys), aktor cilik pemeran Evan Taylor, disebut-sebut sebagai pesaing terberat permainan brilian aktor cilik Haley Joel Osment (The Sixth Sense).
Permainan Jonathan Rhys Meyers sebagai Louis Connely pun tak kalah apiknya. Ia mampu bermain natural; menghidupkan baik sisi romantisme maupun musikalitas sang rocker melankolis ini.
Meski minim dialog--syarat umum sebuah drama musikal--bukan berarti film ini miskin nilai. Dominasi musik hampir di sepanjang film tak membuatnya ompong dalam dialog-dialog yang bernas. Pesona dialog para tokohnya patut menjadi bahan renungan, terutama yang berkaitan dengan filosofi musik.
Lihat saja kata-kata Louis ketika bertemu August Rush di jalanan ini: "Kamu harus mencintai musik lebih dari makanan. Lebih dari hidup; lebih dari dirimu sendiri! Kamu tak boleh berhenti dari musik apapun yang terjadi. Karena tiap kali hal-hal buruk terjadi, musik adalah tempatmu melarikan diri dan membiarkannya berlalu."
Satu-satunya kekurangan film ini adalah pada plot cerita yang acapkali melompat-lompat. Sang penulis naskah terlalu memaksakan kisahnya menjadi "sempurna".
Ia terlalu terbuai menjadikannya berakhir "happy-ending", namun lupa memperhatikan kesesuaian jalinan adegan demi adegan. Ada terlalu banyak kebetulan-kebetulan yang dipaksakan menjembatani scene demi scene-nya.
Namun, setitik kekurangan itu tak terlalu mengurangi keasyikan menontonnya. Ceritanya yang terlihat tidak sinkron di beberapa scene masih dapat tertutupi aspek lain, yaitu kualitas para aktornya, dan--tentu saja--musik latarnya. Sesuai genrenya, film ini sukses membangkitkan kembali romantisme musik.
Nah, jika masih ada di antara Anda yang hingga kini belum bisa menikmati musik, dengar saja definisi musik menurut Wizard ini:
"Anugerah TUHAN yang mengingatkan kita bahwa ada hal lain di luar kita di alam semesta ini. Keharmonisan yang menghubungkan semua makhluk hidup di mana pun, hingga bintang-bintang sekalipun."
Romantisme Si Mozart Cilik
Oleh Anindityo Wicaksono
Judul: August Rush (2007)
Genre: Drama Musikal
Pemeran: Freddie Highmore, Jonathan Rhys Meyers, Kerri Russel, Terrence Howard, Robin Williams, Mykelti Williamson
Sutradara: Kirsten Sheridan (Irlandia)
Durasi: 100 Menit
Produksi: Warner Bros
Tanggal Rilis: 21 November 2007 (USA), Januari 2008 (Blitz Megaplex)
MUSIK adalah bahasa universal; pemersatu yang mampu melintasi segala perbedaan. Ia agung, cara yang diyakini manusia sebagai alat pengakuan eksistensi di luar dirinya. Maka tak heran jika musik disebut-sebut sebagai salah satu produk kebudayaan tertua manusia.
Dalam bukunya, Multiple Intelligence, Howard Gardner pun menyebutkan bahwa kecerdasan musikal adalah satu dari tujuh tipe kecerdasan yang menjadi keunikan manusia (www.swopnet.com), selain linguistik, matematik, visual/spasial, kinestetika, intrapersonal, dan interpersonal. Bakat-bakat bawaan sejak lahir ini kini digunakan sebagai penentuan pola pendidikan seseorang.
Kecerdasan musikal, menurut dosen psikologi Harvard School of Education ini, ialah kecerdasan untuk mengembangkan, mengekspresikan, dan menikmati bentuk musik dan suara. Ciri-cirinya, yakni peka pada nada, dapat dengan mudah mengikuti irama, dan mampu mendengar musik dengan tingkat ketajaman lebih.
Dalam film August Rush (2007), adalah Evan Taylor (Freddie Highmore), seorang anak 12 tahun yang jenius dalam kecerdasan musikalnya. Darah musiknya ini berasal dari kedua orang tuanya yang sama-sama pemusik, Louis Connelly (Jonathan Rhys Meyers), vokalis-gitaris sebuah band rock, dan Lyla Novacek (Kerri Russel), seorang pemain cello berbakat di New York Philharmonic Orchestra.
Darah musik ini membuatnya tumbuh dengan kepekaan luar biasa dalam mengenali ragam nada dan bebunyian di sekelilingnya. Namun nasib berbicara lain. Ternyata talentanya yang luar biasa tak seiring dengan nasibnya. Sejak bayi, Evan, yang lahir dari hasil hubungan di luar nikah ini, diasingkan ke panti asuhan oleh ayah sang ibu yang tak menginginkan kehadirannya.
Namun, meski hidup terpisah dari orang tuanya sejak lahir, jiwa musik ini tetap mengakar dalam dirinya. Di panti asuhan, dia selalu terpukau mendengarkan suara-suara apa saja di sekitarnya. Mulai dari desiran angin, lonceng angin di kamarnya, hingga irama kibasan rumput.
"Musik ada di sekitar kita. Kita hanya perlu mendengarkan," katanya.
New York
Petualangannya dalam jibaku pencarian orang tuanya membawa Evan ke New York. Di sana, bakat musiknya semakin terasah sejak dia bergabung dalam grup pemusik jalanan pimpinan Wizard Wallace (Robin Williams).Evan, yang kemudian diberi nama "August Rush" oleh Wizard, mulai sering mengamen di jalanan menggunakan gitar pemberian Wizard.
Bakat yang besar dalam bermusik membuat permainan Evan mampu memukau banyak orang. Meski belum tahu kunci-kunci dasar gitar, dia bahkan sudah dapat memperagakan beragam teknik sulit dalam gitar: tapping, gitar-perkusi, dan harmonik.
"Kadang-kadang, dunia mencoba menjauhkan musik darimu. Tetapi, aku percaya pada musik sama seperti dongeng bagi banyak orang. Aku yakin, apa yang kudengar ini berasal dari ibu dan ayahku. Mungkin nada demi nada ini sama dengan apa yang mereka dengar di malam mereka bertemu," katanya dalam narasi pembuka film.
Kejadian demi kejadian semakin mempertemukannya pada puncak pencapaiannya. Bahkan, lewat pertemuannya dengan seorang pendeta yang menyaksikannya memainkan organ klasik nan rumit di gereja, Evan disekolahkan ke The Julliard School, sekolah musik termasyhur di New York.
Di sana, si "Mozart kecil" ini mampu menggubah sebuah komposisi luar biasa, perpaduan orkestra dengan beragam alat dan bunyi-bunyian, seperti gelas, gitar, dan lonceng-lonceng angin. Seperti mimpi-mimpinya, kemampuan musiknya inilah yang akhirnya mempertemukannya kembali dengan kedua orang tuanya.
Musik latar
Film drama-keluarga musikal besutan sutradara Kirsten Sheridan (Irlandia) ini benar-benar dapat memanjakan telinga para pecinta musik. Para penggubah musik latarnya, Hans Zimmer dan Mark Mancina, patut kita acungi jempol. Mereka mampu menghadirkan ragam musik yang tersulam rapi dengan jalinan adegan demi adegan film.Genre musik yang dipakai lengkap. Mulai dari techno, klasik, rock, hingga harmonisasi gitar--adegan ketika August Rush mengamen di jalan--yang luar biasa.
Akting para pemainnya pun patut mendapat apresiasi. Bahkan, Freddie Highmore (Charlie and the Chocolate Factory, Arthur and the Minimoys), aktor cilik pemeran Evan Taylor, disebut-sebut sebagai pesaing terberat permainan brilian aktor cilik Haley Joel Osment (The Sixth Sense).
Permainan Jonathan Rhys Meyers sebagai Louis Connely pun tak kalah apiknya. Ia mampu bermain natural; menghidupkan baik sisi romantisme maupun musikalitas sang rocker melankolis ini.
Meski minim dialog--syarat umum sebuah drama musikal--bukan berarti film ini miskin nilai. Dominasi musik hampir di sepanjang film tak membuatnya ompong dalam dialog-dialog yang bernas. Pesona dialog para tokohnya patut menjadi bahan renungan, terutama yang berkaitan dengan filosofi musik.
Lihat saja kata-kata Louis ketika bertemu August Rush di jalanan ini: "Kamu harus mencintai musik lebih dari makanan. Lebih dari hidup; lebih dari dirimu sendiri! Kamu tak boleh berhenti dari musik apapun yang terjadi. Karena tiap kali hal-hal buruk terjadi, musik adalah tempatmu melarikan diri dan membiarkannya berlalu."
Satu-satunya kekurangan film ini adalah pada plot cerita yang acapkali melompat-lompat. Sang penulis naskah terlalu memaksakan kisahnya menjadi "sempurna".
Ia terlalu terbuai menjadikannya berakhir "happy-ending", namun lupa memperhatikan kesesuaian jalinan adegan demi adegan. Ada terlalu banyak kebetulan-kebetulan yang dipaksakan menjembatani scene demi scene-nya.
Namun, setitik kekurangan itu tak terlalu mengurangi keasyikan menontonnya. Ceritanya yang terlihat tidak sinkron di beberapa scene masih dapat tertutupi aspek lain, yaitu kualitas para aktornya, dan--tentu saja--musik latarnya. Sesuai genrenya, film ini sukses membangkitkan kembali romantisme musik.
Nah, jika masih ada di antara Anda yang hingga kini belum bisa menikmati musik, dengar saja definisi musik menurut Wizard ini:
"Anugerah TUHAN yang mengingatkan kita bahwa ada hal lain di luar kita di alam semesta ini. Keharmonisan yang menghubungkan semua makhluk hidup di mana pun, hingga bintang-bintang sekalipun."
* * *
"Diam ... bisakah kau mendengarnya?
Musik; aku bisa mendengarnya di mana-mana.
Dalam angin, di udara, dalam cahaya; dia ada di mana-mana.
Yang kamu perlu lakukan hanyalah membuka dirimu
dan mendengarkan."
Dalam angin, di udara, dalam cahaya; dia ada di mana-mana.
Yang kamu perlu lakukan hanyalah membuka dirimu
dan mendengarkan."
(August Rush)
Label:
film
11 Desember 2008
Menyelami Perilaku Pembaca
JURNALISME
Semarang, 11 Desember 2008
Menyelami Perilaku Pembaca
Oleh Anindityo Wicaksono
PEMASARAN bukanlah urusan penjualan atau distribusi saja. Prosesnya, yang meliputi kegiatan praproduksi sampai pemenuhan kepuasan konsumen purnajual, mencakup juga tujuan perusahaan demi menciptakan kepuasan konsumen.
Demi memenangkan persaingan, pemahaman perilaku konsumen adalah akar persoalan yang tak dapat perusahaan pandang sebelah mata. Wajib hukumnya, perusahaan menjadi yang terdahulu melakukan analisa kesempatan pasar, pemenuhan marketing-mix, serta penyelarasan ulang strategi yang berkiblat pada perilaku konsumen. Mengapa demikian?
Kini, seiring terjadinya kemajuan di berbagai bidang, konsumen menjadi lebih selektif dalam membeli. Merka semakin jeli menilai atribut-atribut produk. Artinya, merka hanya akan memilih produk/merk yang memberikan kepuasan tertinggi, sesuai dengan jangkauan ekonominya.
Banyak faktor pengaruh yang turut andil jika kita hendak membicarakan perilaku konsumen, baik yang berasal dari diri sendiri (faktor internal), maupun luar (faktor eksternal). Faktor-faktor internal ini antara lain: motivasi, sikap, kepribadian, penghematan, dan proses belajar. Sedangkan faktor eksternal, di antaranya: faktor kebudayaan, keluarga, kelompok referensi, kelas sosial, demografi, dan ekonomi (James F. Engel, 1995: 10).
Perilaku konsumen sendiri, menurut James F. Engel dalam (dalam Fandy Tjiptono, 1997: 19), merupakan tindakan-tindakan individu yang secara langsung terlibat dalam usaha memperoleh, menggunakan, dan menentukan produk dan jasa. Juga termasuk di dalamnya, proses pengambilan keputusan yang mendahului dan mengikuti tindakan-tindakan tersebut.
Keputusan pembelian mempunyai beberapa pertimbangan, di antaranya: harga, keputusan tentang jenis produk, bentuk produk, merk, hingga ke baik-buruknya pelayanan yang dirasakannya.
Salah satu pertimbangan pokok konsumen yang tak kalah penting adalah kualitas produk. Menurut Philip Kotler (2004: 347), kualitas erat berkaitan dengan kemampuan suatu produk dalam melaksanakan fungsinya. Ia meliputi: daya tahan, kehandalan, ketepatan, kemudahan operasi dan perbaikan, serta atribut bernilai lainnya.
Berpromosi
Selain dengan mengawal terus-menerus kualitas produk, kegiatan berpromosi pun tak boleh perusahaan anggap sepele. Ia juga titik sentral kegiatan pemasaran. Tujuan berpromosi adalah meningkatkan kesadaran akan merk (brand) dan citra (image) masyarakat terhadap produk maupun perusahaannya.
Jika menghendaki produknya terserap pasar, perusahaan harus menggunakan berbagai media, dalam usaha mengkomunikasikan, memengaruhi pemikiran, dan mengajak konsumen dalam membeli produknya. Maka tak berlebihan jika ia disebut-sebut sebagai salah satu penentu keberhasilan dalam kegiatan pemasaran.
Walaupun mutu sebuah barang baik, namun jika tanpa disertai promosi yang tepat, produk akan kurang dipahami konsumen. Kekurangpemahaman akan produk ini dapat menimbulkan banyak pertanyaan di benak calon pembeli: Sejauh mana produk ini bermanfaat bagi dirinya?
Menurut Fandy Tjiptono (1997: 219), promosi adalah aktivitas yang berusaha menyebarkan informasi, mempengaruhi/membujuk, dan/atau mengingatkan pasar sasaran atas perusahaan dan produknya. Dengannya, diharapkan pasar bersedia menerima, membeli, hingga terbentuk loyaitas akan produk yang ditawarkan.
Ada empat tujuan promosi, menurut Basu Swastha dan Irawan (1990: 353), yaitu: (1) memodifikasi tingkah laku, (2) memberitahu, (3) membujuk, dan (4) mengingatkan. Suatu promosi dikatakan berhasil hingga ia mampu memenuhi empat kriteria di atas. Ia harus dapat menumbuhkan kesadaran konsumen akan merk dan citra produk, untuk selanjutnya membujuk masyarakat membeli produknya.
Setelah konsumen minimal telah mengetahui manfaat produk, lantas terbujuk akan riuh-rendah keunggulan produk, intensitas penjualan diharapkan meningkat. Selaras dengan tercapainya tujuan perusahaan: meningkatkan laba.
Kini, di tengah pesatnya persaingan dunia usaha, segala sesuatu kian gencar dijadikan bahan jualan oleh para pelaku usaha. Demikan halnya dengan informasi. Ia bukan lagi sekadar kebutuhan.
Persis adagium information is power (penguasaan informasi adalah kekuatan), ia sudah menjadi komoditi strategis bagi khalayak. Beberapa penelitian bahkan menyebutkan, informasi menduduki urutan ke-10, setelah kesembilan bahan pokok kebutuhan masyarakat (Totok Djuroto, 2000: 5).
Pers Indonesia
Walhasil, karena berprospek cerah, tak heran jika sejak akhir abad ke-20 informasi berubah menjadi komoditi bisnis yang menggiurkan. Para pelaku usaha berlomba-lomba menjadikan pers sebagai lembaga bisnis.
Usaha penerbitan surat kabar, misalnya, kini mulai dikelola secara profesional dengan berorientasi keuntungan (profit oriented). Ia menjadi percaturan bisnis yang menggairahkan.
Mengapa bisnis penerbitan pers kian tumbuh subur? Menurut McLuhan, dalam melaksanakan hajatnya, manusia membutuhkan media massa untuk memperoleh informasi, sekaligus berkomunikasi dengan lingkungannya (dalam Totok Djuroto, 2000: 97).
Maxwell E. McCombs dan Lee B. Becker dalam bukunya, Using Mass Communication Theory, menyebutkan tujuh sebab mengapa manusia membutuhkan media massa: (1) mengetahui apa yang penting dan perlu baginya, (2) menjadi bahan rujukan sebelum mengambil keputusan, (3) memperoleh informasi sebagai bahan pembahasan, (4) memberikan perasaan ikut serta dalam setiap kejadian, (5) memberikan penguatan atas pendapatnya, (6) mencari konfirmasi atas keputusan yang diambilnya, dan (7) memperoleh relaksasi dan hiburan (dalam Totok Djuroto, 2000: 97).
Di Indonesia, momentum kebangkitan industri pers bermula sejak terbitnya UU No 40/1999 tentang Pers, tepatnya pasca-tumbangnya Orde Baru. Bak cendawan di musim hujan, surat kabar lokal alias community newspaper mulai tumbuh di mana-mana. Maklum, sejak adanya maktub ini, pendirian lembaga pers tak lagi mengharuskan lisensi dari pemerintah. Asalkan berbadan hukum, siapa saja boleh mendirikan penerbitan pers.
Tak pelak, tak hanya tingkat provinsi, wilayah kabupaten hingga kecamatan pun kini memiliki surat kabarnya sendiri. Berlakunya otonomi-daerah pun ditengarai membidani lahirnya beragam surat kabar lokal di daerah. Menurut data Depkominfo, hingga tahun 2000 saja, surat izin usaha penerbitan pers (SIUPP) yang telah dikeluarkan pemeritah mencapai sekitar 1.800-2.000, sementara oplahnya mencapai 14 juta eksemplar (Totok Djuroto, 2000: 93).
Di era kekinian, penerbitan pers dituntut mumpuni membaca keinginan konsumen dalam mempertahankan ataupun memperluas ceruk pasarnya. Pengelola surat kabar harus terang merumuskan bauran pemasaran yang tepat untuk memenangkan publik pembaca. Sebab, perubahan besar dunia komunikasi informasi dan meningkatnya kaum terdidik, ikut andil dalam mendongkrak tuntutan kualitas yang lebih baik.
Harian SOLOPOS
Untuk itu, di tengah gencarnya persaingan surat kabar, khususnya di Jawa Tengah, Harian Umum (HU) SOLOPOS, surat kabar harian pagi yang terbit di Kota Surakarta, harus terus berusaha mempertahankan oplahnya.
Awalnya, persiapan penerbitan koran terbesar di eks-Karesidenan Surakarta ini mulai intensif sejak SIUPP turun pada 12 Agustus 1997. SOLOPOS, berdasarkan SIUPP-nya, disebutkan terbit 7 kali seminggu. Edisi Minggu sendiri, terbit pertama kali pada 28 Juni 1998.
Berbeda dengan koran-koran di daerah lain yang umumnya mengklaim diri sebagai koran nasional yang terbit di daerah, SOLOPOS justru menempatkan diri sebagai koran daerah. Pasalnya, koran yang diterbitkan PT. Aksara SOLOPOS ini ingin besar di daerah bersama-sama dinamika masyarakat Surakarta yang bakal menjadi kota internasional.
Selain kejumudan persaingan surat kabar di atas, terbentuknya masyarakat lilterasi di negeri ini nyatanya masih jauh dari harapan. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2003 (Suara Merdeka, 15 Maret 2007), penduduk berusia di atas 15 tahun yang membaca koran hanya 55,11 persen, sedangkan tabloid/majalah sebesar 29,2 persen.
Untuk buku, ternyata jenis fiksi lebih digemari, yaitu sebesar 44,28 persen. Untuk nonfiksi, sebesar 21,07 persen. Data BPS tahun 2006 juga menunjukkan, masyarakat lebih memilih televisi sebagai sumber informasi, sebesar 85,9 persen. Sedangkan yang dari membaca, hanya 23,5 persen.
Di tengah tantangan ini, juga mengingat kian gencarnya persaingan surat kabar dewasa ini, penting bagi perusahaan untuk memahami perilaku konsumennya dalam memutuskan membeli.
Atas dasar latar belakang di atas, saat ini penulis sedang menjalankan penelitian untuk tahap akhir studi yang berjudul: “Pengaruh Promosi dan Kualitas Produk terhadap Keputusan Pembelian Harian Umum SOLOPOS di Kota Surakarta”.
DAFTAR PUSTAKA
Menyelami Perilaku Pembaca
Oleh Anindityo Wicaksono
PEMASARAN bukanlah urusan penjualan atau distribusi saja. Prosesnya, yang meliputi kegiatan praproduksi sampai pemenuhan kepuasan konsumen purnajual, mencakup juga tujuan perusahaan demi menciptakan kepuasan konsumen.
Demi memenangkan persaingan, pemahaman perilaku konsumen adalah akar persoalan yang tak dapat perusahaan pandang sebelah mata. Wajib hukumnya, perusahaan menjadi yang terdahulu melakukan analisa kesempatan pasar, pemenuhan marketing-mix, serta penyelarasan ulang strategi yang berkiblat pada perilaku konsumen. Mengapa demikian?
Kini, seiring terjadinya kemajuan di berbagai bidang, konsumen menjadi lebih selektif dalam membeli. Merka semakin jeli menilai atribut-atribut produk. Artinya, merka hanya akan memilih produk/merk yang memberikan kepuasan tertinggi, sesuai dengan jangkauan ekonominya.
Banyak faktor pengaruh yang turut andil jika kita hendak membicarakan perilaku konsumen, baik yang berasal dari diri sendiri (faktor internal), maupun luar (faktor eksternal). Faktor-faktor internal ini antara lain: motivasi, sikap, kepribadian, penghematan, dan proses belajar. Sedangkan faktor eksternal, di antaranya: faktor kebudayaan, keluarga, kelompok referensi, kelas sosial, demografi, dan ekonomi (James F. Engel, 1995: 10).
Perilaku konsumen sendiri, menurut James F. Engel dalam (dalam Fandy Tjiptono, 1997: 19), merupakan tindakan-tindakan individu yang secara langsung terlibat dalam usaha memperoleh, menggunakan, dan menentukan produk dan jasa. Juga termasuk di dalamnya, proses pengambilan keputusan yang mendahului dan mengikuti tindakan-tindakan tersebut.
Keputusan pembelian mempunyai beberapa pertimbangan, di antaranya: harga, keputusan tentang jenis produk, bentuk produk, merk, hingga ke baik-buruknya pelayanan yang dirasakannya.
Salah satu pertimbangan pokok konsumen yang tak kalah penting adalah kualitas produk. Menurut Philip Kotler (2004: 347), kualitas erat berkaitan dengan kemampuan suatu produk dalam melaksanakan fungsinya. Ia meliputi: daya tahan, kehandalan, ketepatan, kemudahan operasi dan perbaikan, serta atribut bernilai lainnya.
Berpromosi
Selain dengan mengawal terus-menerus kualitas produk, kegiatan berpromosi pun tak boleh perusahaan anggap sepele. Ia juga titik sentral kegiatan pemasaran. Tujuan berpromosi adalah meningkatkan kesadaran akan merk (brand) dan citra (image) masyarakat terhadap produk maupun perusahaannya.
Jika menghendaki produknya terserap pasar, perusahaan harus menggunakan berbagai media, dalam usaha mengkomunikasikan, memengaruhi pemikiran, dan mengajak konsumen dalam membeli produknya. Maka tak berlebihan jika ia disebut-sebut sebagai salah satu penentu keberhasilan dalam kegiatan pemasaran.
Walaupun mutu sebuah barang baik, namun jika tanpa disertai promosi yang tepat, produk akan kurang dipahami konsumen. Kekurangpemahaman akan produk ini dapat menimbulkan banyak pertanyaan di benak calon pembeli: Sejauh mana produk ini bermanfaat bagi dirinya?
Menurut Fandy Tjiptono (1997: 219), promosi adalah aktivitas yang berusaha menyebarkan informasi, mempengaruhi/membujuk, dan/atau mengingatkan pasar sasaran atas perusahaan dan produknya. Dengannya, diharapkan pasar bersedia menerima, membeli, hingga terbentuk loyaitas akan produk yang ditawarkan.
Ada empat tujuan promosi, menurut Basu Swastha dan Irawan (1990: 353), yaitu: (1) memodifikasi tingkah laku, (2) memberitahu, (3) membujuk, dan (4) mengingatkan. Suatu promosi dikatakan berhasil hingga ia mampu memenuhi empat kriteria di atas. Ia harus dapat menumbuhkan kesadaran konsumen akan merk dan citra produk, untuk selanjutnya membujuk masyarakat membeli produknya.
Setelah konsumen minimal telah mengetahui manfaat produk, lantas terbujuk akan riuh-rendah keunggulan produk, intensitas penjualan diharapkan meningkat. Selaras dengan tercapainya tujuan perusahaan: meningkatkan laba.
Kini, di tengah pesatnya persaingan dunia usaha, segala sesuatu kian gencar dijadikan bahan jualan oleh para pelaku usaha. Demikan halnya dengan informasi. Ia bukan lagi sekadar kebutuhan.
Persis adagium information is power (penguasaan informasi adalah kekuatan), ia sudah menjadi komoditi strategis bagi khalayak. Beberapa penelitian bahkan menyebutkan, informasi menduduki urutan ke-10, setelah kesembilan bahan pokok kebutuhan masyarakat (Totok Djuroto, 2000: 5).
Pers Indonesia
Walhasil, karena berprospek cerah, tak heran jika sejak akhir abad ke-20 informasi berubah menjadi komoditi bisnis yang menggiurkan. Para pelaku usaha berlomba-lomba menjadikan pers sebagai lembaga bisnis.Usaha penerbitan surat kabar, misalnya, kini mulai dikelola secara profesional dengan berorientasi keuntungan (profit oriented). Ia menjadi percaturan bisnis yang menggairahkan.
Mengapa bisnis penerbitan pers kian tumbuh subur? Menurut McLuhan, dalam melaksanakan hajatnya, manusia membutuhkan media massa untuk memperoleh informasi, sekaligus berkomunikasi dengan lingkungannya (dalam Totok Djuroto, 2000: 97).
Maxwell E. McCombs dan Lee B. Becker dalam bukunya, Using Mass Communication Theory, menyebutkan tujuh sebab mengapa manusia membutuhkan media massa: (1) mengetahui apa yang penting dan perlu baginya, (2) menjadi bahan rujukan sebelum mengambil keputusan, (3) memperoleh informasi sebagai bahan pembahasan, (4) memberikan perasaan ikut serta dalam setiap kejadian, (5) memberikan penguatan atas pendapatnya, (6) mencari konfirmasi atas keputusan yang diambilnya, dan (7) memperoleh relaksasi dan hiburan (dalam Totok Djuroto, 2000: 97).
Di Indonesia, momentum kebangkitan industri pers bermula sejak terbitnya UU No 40/1999 tentang Pers, tepatnya pasca-tumbangnya Orde Baru. Bak cendawan di musim hujan, surat kabar lokal alias community newspaper mulai tumbuh di mana-mana. Maklum, sejak adanya maktub ini, pendirian lembaga pers tak lagi mengharuskan lisensi dari pemerintah. Asalkan berbadan hukum, siapa saja boleh mendirikan penerbitan pers.
Tak pelak, tak hanya tingkat provinsi, wilayah kabupaten hingga kecamatan pun kini memiliki surat kabarnya sendiri. Berlakunya otonomi-daerah pun ditengarai membidani lahirnya beragam surat kabar lokal di daerah. Menurut data Depkominfo, hingga tahun 2000 saja, surat izin usaha penerbitan pers (SIUPP) yang telah dikeluarkan pemeritah mencapai sekitar 1.800-2.000, sementara oplahnya mencapai 14 juta eksemplar (Totok Djuroto, 2000: 93).
Di era kekinian, penerbitan pers dituntut mumpuni membaca keinginan konsumen dalam mempertahankan ataupun memperluas ceruk pasarnya. Pengelola surat kabar harus terang merumuskan bauran pemasaran yang tepat untuk memenangkan publik pembaca. Sebab, perubahan besar dunia komunikasi informasi dan meningkatnya kaum terdidik, ikut andil dalam mendongkrak tuntutan kualitas yang lebih baik.
Harian SOLOPOS
Untuk itu, di tengah gencarnya persaingan surat kabar, khususnya di Jawa Tengah, Harian Umum (HU) SOLOPOS, surat kabar harian pagi yang terbit di Kota Surakarta, harus terus berusaha mempertahankan oplahnya.Awalnya, persiapan penerbitan koran terbesar di eks-Karesidenan Surakarta ini mulai intensif sejak SIUPP turun pada 12 Agustus 1997. SOLOPOS, berdasarkan SIUPP-nya, disebutkan terbit 7 kali seminggu. Edisi Minggu sendiri, terbit pertama kali pada 28 Juni 1998.
Berbeda dengan koran-koran di daerah lain yang umumnya mengklaim diri sebagai koran nasional yang terbit di daerah, SOLOPOS justru menempatkan diri sebagai koran daerah. Pasalnya, koran yang diterbitkan PT. Aksara SOLOPOS ini ingin besar di daerah bersama-sama dinamika masyarakat Surakarta yang bakal menjadi kota internasional.
Selain kejumudan persaingan surat kabar di atas, terbentuknya masyarakat lilterasi di negeri ini nyatanya masih jauh dari harapan. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2003 (Suara Merdeka, 15 Maret 2007), penduduk berusia di atas 15 tahun yang membaca koran hanya 55,11 persen, sedangkan tabloid/majalah sebesar 29,2 persen.
Untuk buku, ternyata jenis fiksi lebih digemari, yaitu sebesar 44,28 persen. Untuk nonfiksi, sebesar 21,07 persen. Data BPS tahun 2006 juga menunjukkan, masyarakat lebih memilih televisi sebagai sumber informasi, sebesar 85,9 persen. Sedangkan yang dari membaca, hanya 23,5 persen.
Di tengah tantangan ini, juga mengingat kian gencarnya persaingan surat kabar dewasa ini, penting bagi perusahaan untuk memahami perilaku konsumennya dalam memutuskan membeli.
Atas dasar latar belakang di atas, saat ini penulis sedang menjalankan penelitian untuk tahap akhir studi yang berjudul: “Pengaruh Promosi dan Kualitas Produk terhadap Keputusan Pembelian Harian Umum SOLOPOS di Kota Surakarta”.
DAFTAR PUSTAKA
Djuroto, Totok. 2000. Manajemen Penerbitan Pers. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Engel, James F. , Roger D Blackwell, dan Paul W Miniard. 1995. Perilaku Konsumen, Jilid I Edisi 6 (alih bahasa: Drs. FX Budiyanto). Jakarta: Binarupa Aksara.
Kotler, Philip dan Amstrong. 2004. Prinsip-Prinsip Pemasaran, Jilid I Edisi 9. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Rahcmadi, F. 1990. Perbandingan Sistem Pers. Jakarta: Penerbit PT Gramedia.
Swastha, Basu. Dan T. Hani Handoko. 1987. Manajemen Pemasaran: Analisa Perilaku Konsumen. Yogyakarta: Liberty.
Tjiptono, Fandy. 1997. Strategi Pemasaran. Yogyakarta: Penerbit ANDI.
Wibowo, Indiwan Seto Wahju. 2006. Dasar-dasar Jurnalistik. Jakarta: Lembaga Pelatihan Jurnalistik Antara Press.
Engel, James F. , Roger D Blackwell, dan Paul W Miniard. 1995. Perilaku Konsumen, Jilid I Edisi 6 (alih bahasa: Drs. FX Budiyanto). Jakarta: Binarupa Aksara.
Kotler, Philip. 1997. Manajemen Pemasaran, Jilid 1 Edisi 9 (Alih Bahasa: Hendra Teguh dan Rony A. Rusli). Jakarta: Prenhallindo.
Kotler, Philip dan Amstrong. 2004. Prinsip-Prinsip Pemasaran, Jilid I Edisi 9. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Rahcmadi, F. 1990. Perbandingan Sistem Pers. Jakarta: Penerbit PT Gramedia.
Swastha, Basu. Dan T. Hani Handoko. 1987. Manajemen Pemasaran: Analisa Perilaku Konsumen. Yogyakarta: Liberty.
Tjiptono, Fandy. 1997. Strategi Pemasaran. Yogyakarta: Penerbit ANDI.
Wibowo, Indiwan Seto Wahju. 2006. Dasar-dasar Jurnalistik. Jakarta: Lembaga Pelatihan Jurnalistik Antara Press.
Label:
Jurnalisme
Langganan:
Postingan (Atom)






