09 April 2009

Kegilaan Cinta Lars

FILM

Semarang, 8 April 2009
Kegilaan Cinta Lars
Oleh Anindityo Wicaksono
(Sumber gambar: http://www.thecinemasource.com)

Judul: Lars and The Real Girl (2007)
Genre: Drama-Komedi
Sutradara: Craig Gillespie
Naskah: Nancy Oliver
Pemain: Ryan Gosling, Emily Mortimer, Paul Schneider, Kelli Garner, Patricia Clarkson
Produksi: Sidney Kimmel Entertainment (USA)
Rilis: 12 Oktober 2007
Durasi: 106 menit

"Terkadang kau menemukan cinta setidaknya di mana kau mengharapkannya."

TEMA percintaan memang selalu memesona. Era kebangkitan dunia musik dan film negeri ini pun kini tak jauh-jauh dari tema ini. Band-band "kemarin sore" menjadi primadona dadakan cukup dengan bermodalkan satu lagu cinta. Begitu pun film. Para sineas, layar lebar hingga sinetron, saling adu cepat mencuri perhatian khalayak dengan kisah percintaan.

Namun, karena rendahnya kreatifitas dan sindrom "tiru-meniru" yang menjangkiti hampir sebagian besar sineas kita, tema cinta menjadi semakin basi dan mudah ditebak. Konflik yang dihadirkan masih tak pernah jauh dari perselingkuhan, iri-dengki, persekongkolan, dan kecemburuan buta.

Sinema garapan sutradara Craig Gillespie ini berhasil menghadirkan warna baru dalam film cinta. Konflik yang dihadirkan bukan lagi rebutan pacar, kata-kata puitis mendayu-dayu, atau tangisan kehilangan tiada henti.

Dikisahkan, Lars Lindstrom (Ryan Gosling), seorang pemuda introvert yang manis, tinggal di sebuah garasi kosong bersebelahan dengan rumah kakaknya, Gus (Paul Schneider) dan istrinya, Karin (Emily Mortimer) yang sedang mengandung.

Kehidupan dua bersaudara-bertetangga ini awalnya berjalan normal. Mereka bertiga dikenal sebagai jemaat gereja lokal yang rajin dan gemar menolong. Keseharian Lars pun dihabiskan dengan bekerja, layaknya orang kantoran biasa.

Keadaan tak pernah sama lagi sampai pada suatu malam. Lars mengunjungi rumah Gus dengan amat bersemangat. Layaknya pemuda kasmaran berat, muka Lars merah-padam dan berbicara dengan tersipu-sipu. Ternyata ia hendak memperkenalkan seorang gadis.

Kabar ini sontak disambut pasangan suami-istri ini dengan gembira. Apalagi Lars pun mengundang Gus dan Karin malam itu juga untuk bertemu dengan sang gadis, yang diakuinya berprofesi sebagai misionaris (penyebar agama).

Sesampainya di kediaman Lars, bukannya senang dan bergembira bersama, Gus dan Karin malah melotot dan ternganga. Olala! Bagaimana tidak, ternyata sang kekasih baru ini adalah seorang boneka-seks yang dipesan Lars dari sebuah situs di internet.

Yang lebih mengkhawatirkan, Lars berkomunikasi dengan boneka ini layaknya gadis sungguhan. Dia memberinya minum, mengajaknya ngobrol, dan menyebut namanya dengan amat mesra: Bianca, nama yang diberikan Lars sendiri.

Hasil diagnosa dr. Dagmar (Patricia Clarkson), sang dokter keluarga, menunjukkan bahwa Lars mengidap penyakit kejiwaan delusi, suatu gangguan psikosis fungsional mirip skizofrenia. Kondisi ini hadir akibat akumulasi penolakan yang pernah mendera Lars semasa kecil. Lars hidup dalam dunia imajinya yang liar: si boneka mati Bianca hidup menjadi realitas yang mampu berinteraksi dengan intens.

Memandikan

Sinema yang berlokasi syuting di Toronto, Kanada, ini menyuguhkan keteladanan cinta tanpa bersyarat. Pergulatan yang sesungguhnya hadir sejak Gus-Karin beserta Mrs. Gruner (Nancy Beatty), ibu tua warga gereja yang baik hati, mengambil keputusan terberat dan teraneh dalam hidup mereka dalam suatu rapat warga gereja.

"What would Jesus Do" menjadi kata kunci yang menohok seluruh peserta rapat ketika itu. "Melihat Lars dengan segala keanehannya, yang menganggap sebuah boneka mati menjadi seorang gadis memesona, apa yang akan dilakukan Yesus?" tanya sang pendeta gereja. Hasilnya, mereka satu suara untuk menerima dan tetap mengasihi Lars apa adanya selama masa terapi kejiwaannya.

Kisah selanjutnya adalah sensasi. Buah konsekuensinya memang amat berat buat Gus, Karin, Mrs, Gruner, dan seluruh warga kota yang akhirnya mau tidak mau harus turut terlibat. Mereka harus bersedia mengganggap dan berinteraksi sepenuhnya dengan Bianca layaknya seorang gadis yang hidup.

Bahkan bukan hanya dalam pikiran, mereka harus turut berinteraksi secara penuh dengan boneka-seks itu. Batas antara konyol dan mengharukan menjadi hilang di sini.

Mereka mulai berbicara dengan Bianca, menyuguhkannya segelas anggur, memandikannya, mendandaninya, bahkan hingga menemaninya tidur. Konyol memang, namun inilah satu-satunya jalan yang dianggap dr. Dagmar paling baik demi kesembuhan Lars.

Awalnya prosesnya berjalan perlahan bagi semua yang terlibat di dalamnya. Terutama Gus yang ragu dan takut "ketularan" gila. Namun karena kasihnya yang begitu besar pada Lars, ditambah rasa bersalahnya karena telah menahun mengacuhkan Lars, Gus lambat laun berubah. Dia bahkan mau turut memandikan dan menemani Bianca hingga tidur, aktifitas yang tadinya dianggap tak masuk akal.

Ketekunan seluruh warga mengasihi Lars mulai berbuah ketika suatu saat Lars bertanya pada Gus: "Apa yang menjadikan seseorang sebagai seorang pria dewasa?" "Well..." jawab Gus terbata-bata, kaget mendengar pertanyaan yang tak biasa dari Lars," sifat anak-anak akan selalu berada di dalammu sampai kamu memutuskan melakukan hal yang benar. Hal itu bukan yang terbaik buatmu, tetapi yang terbaik buat semua orang, meskipun hal itu melukai hatimu sendiri."

Sejak saat itu Lars mulai menghilangkan Bianca secara perlahan dari dunia imajinya. Dia menganggap Bianca sakit hingga akhirnya meninggal. Inilah titik awal kesembuhan penyakit kejiwaan Lars.

Dia yang tadinya kikuk berinteraksi dengan lawan jenis menjadi mulai membuka diri sejak "kematian" Bianca. Rasa tertariknya pada Margo, (Kelli Garner), teman sekantornya yang jatuh hati pada Lars, mulai berkembang seiring waktu.

Box Office

Film yang menduduki "10 film terbaik tahun ini" versi The Associated Press ini melambung berkat ide briliannya. Apalagi permainan memukau Ryan Gosling sebagai Lars yang sensasional tak perlu dipertanyakan lagi. Pantaslah jika aktingnya diganjar Academy Award untuk pemeran pria terbaik.

Tema cinta yang diangkat pun segar; tak serupa film-film lain yang bergenre sejenis. Kisahnya cerdas, meneladankan cinta tanpa syarat melalui metafora sebuah boneka-seks. Film ini pun sukses di pasaran. Ia menduduki Box Office AS papan atas dengan raihan US $5,949,693.

Meski begitu bukan berarti film ini luput dari kritik. Lambatnya alur cerita dan musik latar yang kurang beragam sekilas membuat film ini menjadi menjemukan. Plotnya agak statis di awal-awal film. Beberapa adegan yang ingin menunjukkan perlakuan Lars maupun Gus dan Karin terhadap Bianca terlalu sering diulang-ulang.

Namun di luar kekurangan itu, bolehlah film ini menjadi oase di tengah keringnya ide para sineas lokal spesialis film cinta kita. Kita semua patut belajar banyak makna cinta dari Lars and The Real Girl. Belajar bagaimana kasih yang tulus ternyata bisa mengubahkan seluruh warga di lingkungan tinggal Lars; dari iba menjadi rela "gila" dan memahami Bianca sebagai realitas-semu Lars.

Si gila Lars tak hanya memaknai cinta sebagai kata-kata puitis dalam syair. Cinta baginya tak hanya buta, tetapi juga gila. Kegilaannya yang lebih membuat iba ketimbang simpatik ini patut kita jadikan bahan introspeksi. Lars mencintai Bianca sepenuh hati meski boneka mati itu tak pernah bisa merespon atau membalas cintanya.

Sebaliknya, kita, yang tak pernah mengidap delusi atau skizofrenia ini, masih teramat sering berpikir ulang dan menimbang-nimbang saat seseorang yang kita kasihi tak pernah atau kurang membalas cinta kita. Kita menjadi ragu apakah cinta ini sepadan dengan pengorbanan kita atau tidak.

Bahkan kita pongah; sering merasa sudah mengasihi sesorang terlalu banyak. Kita anggap kasih dan balasannya harus berjalan selaras. Kita anut hitung-hitungan bisnis: jika hasilnya tak sepadan, berarti salah satu pihak menang dan lainnya merugi. Kalau begitu, nyatanya kita tak lebih baik dan tulus dari seorang pengidap delusi seperti Lars Lindstrom. (*)

[+/-] klik judul kecil di atas untuk melanjutkan...

06 April 2009

Para Wartawan Menjawab

JURNALISME

Semarang, 6 April 2009
Para Wartawan Menjawab
Oleh Anindityo Wicaksono
(Sumber gambar: http://stavrotoons.com)

BANYAK orang bercita-cita menjadi dokter, insinyur, pengusaha atau bahkan presiden. Kini tambah lagi satu cita-cita bagi banyak orang: caleg. Entah karena memang berjiwa negarawan atau sekadar silap terbuai gaya hidup caleg yang flamboyan.

Tapi entah mengapa tidak banyak orang bercita-cita sama sepertiku: menjadi jurnalis ulung atau wartawan terkenal. Padahal saya rasa profesi ini mulia, bersanding dengan guru. Keduanya toh sama-sama mengajar. Namun jika guru mengajar di papan tulis di hadapan para murid sebagai mitra, media ajar jurnalis adalah pena.

Tugas utama jurnalis ialah memenuhi hak masyarakat atas pemenuhan informasi. Bahkan ruang lingkup jurnalis, yang mencapai pelosok desa melalui distribusi surat kabar, lebih besar ketimbang guru yang terbatas pada institusi pendidikan tempatnya bernaung.

Orang tua dan banyak kawanku yang bertanya, "Heran. Mengapa kamu ngebet sekali sih menjadi wartawan? Padahal kan wartawan gajinya kecil, mana bisa jadi orang kaya. Resikonya besar lagi, banyak musuhnya."

"Ah, biar," tangkis saya cuek," meski 'miskin' kan bisa berguna bagi masyarakat. Kalau bukan wartawan, siapa lagi yang rela 'miskin' demi menjadi terang dan penyedia informasi bagi masyarakat?"

Kebulatan tekad ini akibat petuah ibu yang mengingatkan saya untuk fokus pada satu hal jika ingin berhasil. Ibarat seorang pemburu yang tak dapat menangkap kijang sekaligus babi hutan dalam sekali perburuan.

"Jika kamu ingin membawa pulang kijang, perhatikan saja kijang itu. Ke mana ia makan, tidur, dan bersantai. Jangan sedikitpun melepaskan pandangan dan bidikan tombakmu padanya sampai kamu menangkapnya. Jika kamu rakus ingin menangkap kijang dan babi hutan sekaligus, bisa-bisa kau malah takkan mendapat apa-apa," begitu petuah beliau.

Kesadaran akan panggilan di bidang kewartawanan membuat saya belum lama ini bertanya kepada beberapa wartawan yang saya kenal via email. Sekadar usaha sebelum lulus agar tak menjadi "pungguk merindukan bulan" ketika berimpian menjadi jurnalis.

Total ada empat poin pertanyaan yang saya ajukan: (1) Awal mula menjadi wartawan; (2) Seperti apa bentuk tes-tes wartawan yang diadakan media kekinian; (3) Kualifikasi apa saja yang dibutuhkan untuk menjadi wartawan; (4) Saran bagi para mahasiswa yang berimpian menjadi wartawan.

Di bawah ini saya sajikan jawaban dari para wartawan yang menanggapi email saya, yakni Hendra Wibawa, Arif Gunawan, Bambang Jatmiko, dan Fita Indah Maulani, semuanya dari Harian Bisnis Indonesia. Semoga dapat menjadi bahan masukan bagi teman-teman yang punya cita-cita sama menjadi jurnalis.

1. Hendra Wibawa (Bisnis Indonesia)

Semoga saja aku tidak terlambat menjawab pertanyaan Anda. Jujur aku terkesan dengan keingnan Anda menjadi jurnalis. Apalagi, Anda belajar di Undip, tempat yang sama aku belajar Sejarah di Fakultas Sastra. Kebetulan, majalah mahasiswa sastra HAYAMWURUK (LPM Fakultas Sastra Undip Semarang) adalah tempatku awal menekuni dunia jurnalistik.

Kini tak banyak mahasiswa yang sejak awal bercita-cita menjadi jurnalis seperti Anda. Padahal, profesi jurnalis itu profesi mulia: melayani publik memperoleh informasi yang benar.

Awal mula menjadi wartawan

Aku masuk bisnis melalui proses pemagangan seperti pertama kali aku magang di LPM HAYAMWURUK. Menerima penugasan, meliputnya lantas menuliskannya dalam bentuk berita dengan model piramida terbalik. Model penulisan itu memang sudah ketinggalan. Namun, di Bisnis masih diperlukan untuk pembaca Bisnis yang umumnya tak memiliki banyak waktu untuk membaca koran.

Bentuk tes-tes wartawan yang diadakan media kekinian

Model tes itu hampir sama seperti kita melamar pekerjaan di satu perusahaan. Ada psikotes dan wawancara. Cuma bedanya ada tes menulis berita.

Khusus untuk pertanyaan ketiga dan keempat (kualifikasi yang dibutuhkan dan saran bagi para mahasiswa), ada baiknya Anda membaca laporan jurnalistik yang ditulis Andreas Harsono berjudul "Sembilan Elemen Jurnalisme". Laporan itu bagus sekali bagi yang ingin mendalami jurnalisme. Laporan itu bisa diakses di www.pantau.or.id.

Demikian, terus semangat.

2. Arif Gunawan (Bisnis Indonesia)

Terima kasih atas apresiasi kamu. Semoga ke depan aku bisa terus mengembangkan penulisanku agar bisa memberi informasi bermanfaat bagi pembaca. Dan tentu saja, menjaga konsistensi agar tetap menjadi jurnalis yang baik.

Awal mula menjadi wartawan

Puji syukur kepada Allah, ketika aku lulus pada 2005, Bisnis Indonesia sedang memburu calon reporter baru. Seorang kawan, penggiat komunitas Pantau di Jakarta merekomendasikanku untuk mencoba tes seleksi di media yang kugeluti sekarang.

Setelah magang tiga bulan dan kontrak sembilan bulan, akhirnya aku diangkat menjadi karyawan tetap. Namun di tengah kondisi krisis seperti sekarang, kantorku sedang tiarap. Ada sepuluhan wartawan magang yang kontraknya diperpanjang karena kantor belum berani mengangkat karyawan baru.

Bentuk tes-tes wartawan yang diadakan media kekinian

Tes wartawan sangat mudah. Calon reporter (carep) diberi waktu menulis artikel dari materi yang sudah ada. selain itu, carep juga harus melalui serangkaian tes psikologi umum, dan harus magang minimal 3 bulan.

Selama magang itulah produk kita dan kemampuan kita dinilai. Bukan hanya kemampuan menulis dan mencari angle berita, tapi juga kemampuan menembus narasumber, kedisiplinan menjalankan tugas, kemampuan mematuhi etika jurnalistik, dan termasuk juga kemampuan interpersonal di tempat kerja.

Kualifikasi menjadi wartawan

Khusus di Bisnis Indonesia, carep dengan kemampuan analitis sepertinya lebih diutamakan. Pemred pernah mengatakan bahwa tulisan kami harus lebih mudah dicerna, naratif, dan kalau bisa analitis.

Saran bagi para mahasiswa yang berimpian menjadi wartawan

Masuklah ke dunia jurnalistik selekas mungkin. apapun, jangan lihat medianya. sekali kamu berada di lingkaran kaum jurnalistik, kamu akan lebih mudah mendapat informasi penerimaan carep di media lain, yang mungkin lebih bonafid. kalau perlu, segeralah bergabung dengan milis seputar dunia jurnalistik.

Dan dua hal lagi; jangan kalah oleh harta dan rindukanlah mati sebagai pribadi yang terhormat, seperti dicontohkan Yesus, Muhammad, atau Sidharta.

Sekali kamu menerima amplop, 99 persen kemungkinan kamu akan menerima amplop selanjutnya. Sekali kamu anggap mati terhormat adalah lebih baik (daripada hidup menghinakan diri sendiri di bawah ketiak orang berduit), maka yakinlah kematian akan menjemput layaknya kereta yang membawa kita menuju kekasih yang selama ini dirindukan.

Mengenai IPK (indeks prestasi kumulatif), setahuku bukan menjadi penilaian utama. IPK 2,75 sudah sangat cukup untuk memenuhi syarat FORMAL menjadi jurnalis.

Semoga sukses.

3. Bambang Jatmiko (Bisnis Indonesia)

Terimakasih sebelumnya atas konsen Mas Anindityo membaca Bisnis Indonesia, khususnya tulisan saya. Sebelum di Bisnis Indonesia, saya juga kuliah dan ikut aktif di pers kampus. Saya dulu kuliah di Fisipol UGM lulus Agustus 2006, kemudian masuk ke Bisnis Indonesia tiga bulan setelahnya.

Sebenarnya nggak ada persyaratan yang detail untuk bisa masuk Bisnis Indonesia. Yang penting mau belajar ekonomi dan nggak alergi sama angka. Ada beberapa tes yang sebelumnya harus dilalui saat masuk Bisnis Indonesia, di antaranya tes psikologi, kesehatan, serta tes tulis dan wawancara.

Aku dulu pas masih sekolah dan kuliah memang ngebet jadi wartawan, dan Puji Tuhan, akhirnya kesampaian juga niatku itu.

Jadi wartawan itu jangan didasarkan pada semata-mata masalah mendapatkan uang, namun didasari pada niat untuk memberikan informasi yang bermanfaat kepada publik. Memang ada yang bilang gaji wartawan pas-pasan. Namun kalau Mas Anindityo jeli memilih media yang dimasuki, maka Mas Anindityo akan menemukan fakta bahwa wartawan pun juga bisa hidup sejahtera.

Di sinilah saya menyarankan Mas Anindityo perlu mengawali profesi menjadi wartawan dengan niat yang lurus, dan tidak hanya memikirkan uangnya. Uang akan datang sendiri sebagai konsekuensi bahwa kita telah melakukan pengabdian.

Selanjutnya, Mas Anindityo juga perlu untuk memilih dan memilah media yang dimasuki. Pilihlah media-media yang memberikan kesejahteraan yang cukup bagi wartawan. Puji Tuhan, Bisnis Indonesia adalah salah satu yang bisa memberikan kesejahteraan bagi para wartawannya.

Apabila Mas Anindityo ingin mencoba magang ataupun belajar jurnalistik ke Bisnis Indonesia, mungkin bisa mengirim surat magang ke HRD Bisnis Indonesia, Wisma Bisnis Indonesia Lt8. Jl. KH Mas Mansyur 12A, Karet Tengsin-Jakarta Pusat, 10220. Belakangan ini ada sejumlah mahasiswa yang magang di Bisnis, yang berasal dari Universitas Padjadjaran Bandung.

Mengenai IPK, sebagaimana yang ditentukan oleh banyak perusahaan dewasa ini, memang ada batasan minimal. Mungkin Mas Anin sudah banyak tahu bahwa IPK minimal yang disyaratkan perusahaan di level 2,75.

Kalaupun Mas Anin sudah mencatat IPK di posisi itu, saya kira Mas Anindityo sudah "aman". Namun demikian, untuk menjadi wartawan yang hebat sebenarnya bukan IPK yang menentukan, tapi karya-karya jurnalistik yang dihasilkan.

Banyak dari teman-teman wartawan di ibu kota mencatat IPK yang tinggi, namun mereka kurang tangguh dalam mencari berita. Demikian pula sebaliknya, banyak teman-teman yang IPK-nya pas-pasan, namun mereka menjadi wartawan yang hebat, dan tulisannya ditunggu-tunggu oleh pembaca.

Saya kira Mas Anindityo nggak usah berkecil hati dengan IPK yang dicatat itu. Banyak kesempatan yang bisa diraih untuk bisa menjadi wartawan yang hebat. Belajar menulis yang bagus dan setiap saat berusaha meningkatkan mutu tulisan itu jauh lebih memberi peluang yang besar untuk menjadi jurnalis handal, daripada hanya mengandalkan IPK.

Dan, di Bisnis Indonesia dan media-media besar lainnya, jauh lebih menghargai orang-orang yang selalu berusaha meningkatkan kemampuan jurnalismenya seperti itu.

4. Fita Indah Maulani (Bisnis Indonesia)

Salam Dityo,

Wah, sudah fokus nih jadi jurnalis. Pertanyaannya singkat dan jelas. Oke, saya jawab per poin ya, agar lebih jelas juga. Semoga bermanfaat.

Awal mula menjadi wartawan

Setelah lulus kuliah di salah satu universitas swasta di Jogja, saya kembali lagi ke Bandung. Di sana ada lowongan sebagai koresponden atau kontributor untuk salah satu harian ekonomi terbesar di Indonesia. Jujur awalnya saya ga ngerti apapun yang berbau ekonomi, dan stigma awal saya koran ekonomi, ya isinya ga jauh dari angka dan lingkup ekonomi.

Awal menjadi kontributor untuk wilayah Bandung, saya harus mengikuti tes membuat naskah berita. Bahannya tidak wawancara di lapangan, namun mengambil dari materi sebuah seminar. Selain tes membuat naskah, ada proses wawancara dengan salah seorang redpel (redaktur pelaksana) dari Jakarta. Lulus itu, saya diterima sebagai wartawan dengan jenjang karir sebagai kontributor Bisnis Indonesia.

Bentuk tes-tes wartawan yang diadakan media kekinian

Tes biasanya ada pengetahuan, bahasa Inggris, psikologi (sejauh mana IQ dan EQ), dan yang paling penting: kesehatan. Jadi wartawan ga sekedar menyorongkan recorder, namun banyak tempat liputan yang memerlukan kualitas fisik prima.

Kualifikasi menjadi wartawan

Standar sih, kemampuan menulis dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar, bertutur, berbicara dengan bahasa Inggris, serta daya juang. Di harian Bisnis Indonesia tidak ada pelatihan khusus begi seorang jurnalis untuk mendalami isu sebuah bidang yang menjadi tanggung jawabnya, misal: transportasi dan logistik maupun teknologi informasi.

Namun, setiap jurnalis dituntut untuk langsung memahami isu yang ada di desk dia. Ketika ada rolling atau perputaran desk liputan, kita harus belajar lagi dari awal, banyak baca, tanya orang lain.

Saran bagi para mahasiswa yang berimpian menjadi wartawan

Latihan menulis dan berinteraksi dengan semua orang dari level manapun. Wartawan harus percaya diri menghadapi semua narasumber, mulai dari pedagang kaki lima, hingga menteri, presiden, duta besar negara lain, dll. Soal indeks
IPK (prestasi kumulatif), minimal 2,75. Yang penting kamu punya pengalaman di luar IPK yang bisa jadi nilai jual, seperti aktif di organisasi atau beberapa tulisan kamu yang pernah di muat di media massa.(*)

[+/-] klik judul kecil di atas untuk melanjutkan...

Jangan Takut Negosiasi Gaji

BERITA

Semarang, 5 April 2009
Jangan Takut Negosiasi Gaji
Oleh Anindityo Wicaksono
(Sumber gambar: http://workexposed.files.wordpress.com)

DALAM proses wawancara kerja, para pelamar tidak perlu takut menyebut jumlah gaji yang diinginkan karena hal ini justru dapat menjadi nilai tambah pelamar di mata pewawancara.

Demikian disampaikan Training Officer Oto Finance, Darmawan Ajari Purba, kepada peserta pembekalan pra-alumni yang diadakan Persekutuan Mahasiswa Kristen (PMK) FISIP Universitas Diponegoro Semarang, di gedung perpustakaan lantai 2 FISIP Undip, Sabtu (4/4).

Dia mengatakan, masalah gaji memang persoalan yang kompleks bagi pelamar, khususnya para fresh graduate. "Mau menyebut, takut dikira mata duitan. Kalau tidak, malah runyam di tengah-tengah masa kerja," tandas alumnus FISIP Undip Jurusan Administrasi Niaga lulusan tahun 2005 itu.

Dengan berani menyebutkan jumlah gaji yang diinginkan, tambahnya, pelamar akan mendapatkan kesan positif dari pewancara. Pelamar dianggap punya nilai lebih dan mengetahui kapasitas dan kemampuan dirinya sendiri.

Selain itu dia mengingatkan, pelamar harus memperhatikan bahasa tubuh (gesture) saat menjawab pertanyaan yang dilontarkan pewawancara. Pasalnya, kriteria lolos tidaknya seorang pelamar kadang amat subyektif. Di luar baik tidaknya jawaban yang dilontarkan, kesan pertama pelamar yang ditangkap pewawancara juga amat menentukan.

"Saat mewawancara pelamar, saya sangat mengharapkan jawaban yang lugas dan tidak 'mbulet'. Sikap tubuh pelamar yang gelisah mudah dikenali, seperti menggerak-gerakkan kakinya, memainkan kuku, atau nada suara lemah dan bergetar. Tipe pelamar seperti ini cepat tersingkir karena menyiratkan kurang percaya diri," ungkapnya mencontohkan.

Saat ini persaingan mencari kerja semakin ketat. Dia menceritakan ketika perusahaannya menggelar perekrutan karyawan model walk-in-interview dalam suatu bursa kerja di UGM Yogyakarta medio Maret 2009, pesertanya mencapai seribuan orang. Padahal saat itu pihaknya hanya mencari lima orang.

"Bisa dibayangkan bagaimana lelahnya proses itu bagi pewawancara. Maka tak heran, seringkali yang lolos, yang paling terlihat beda. Artinya, meski isi jawabannya tak jauh beda dengan pelamar lain, orang ini menunjukkan karisma, antusiasme, dan dapat menjawab dengan lugas dan tenang," ujar pria asal Pematang Siantar, Sumatera Utara, ini.

Menurut Ketua Penyelenggara, Oktavia Ruth Prawidiasari, mahasiswa Ilmu Komunikasi 2006, kegiatan ini bertujuan membekali para calon wisudawan sebelum memasuki persaingan mencari kerja yang kian ketat. "Selain kiat lolos wawancara kerja, mereka juga diajarkan bagaimana memilih bidang kerja yang sesuai, mencari lowongan, dan membuat surat lamaran dan CV yang efektif," katanya.

Sotar Tohab, calon wisudawan Ilmu Komunikasi, mengatakan kegiatan seperti ini amat bermanfaat baginya yang akan diwisuda periode April 2009 ini. Menjelang wisuda, dia mengaku belum tahu betul bagaimana menghadapi wawancara kerja. Juga bagaimana membuat surat lamaran dan CV yang efektif dan mampu memikat perusahaan.

"Selama ini saya hanya mencontoh yang dibuat teman atau dari buku. Meski banyak pilihan, saya masih belum yakin surat lamaran dan CV seperti apa yang benar-benar efektif meyakinkan perekrut," tuturnya. (*)

[+/-] klik judul kecil di atas untuk melanjutkan...

27 Maret 2009

Kutu Loncat

SKETSA

Semarang, 26 Maret 2009
Kutu Loncat
Oleh Anindityo Wicaksono
(Sumber Gambar: http://www.richard-seaman.com)

PEMAHAMAN akan potensi diri ramai digadang-gadang penulis-penulis buku motivasi sebagai salah satu kunci kesuksesan. Dituliskan bahwa kita harus mengetahui kepribadian, minat, dan tingkat kemampuan diri sebelum melangkah memasuki gerbang kehidupan. Bagi mahasiswa, gerbang ini berujung pada realitas yang pelik: dunia kerja.

Pasalnya, dunia kerja adalah kompleksitas yang penuh dengan serba persoalan dan pergulatan. Setidaknya, dengan mengenali diri sendiri--bersamaan dengan pemahaman kemampuan diri--kita dapat memutuskan bidang apa yang menjadi panggilan kita untuk berkarya di kehidupan.

Ada dua contoh cerita teman semasa kuliah saya dulu, Tunggul Joko (25) dan Surrahman (26). Keduanya pintar secara akademis. Mereka meraih gelar sarjana tepat waktu, empat tahun. Hal ini karena ketika kuliah, mereka memfokuskan diri pada kegiatan perkuliahan, tanpa komitmen berarti pada kegiatan-kegiatan ekstra kampus.

Hal ini berarti tak ada waktu di luar perkuliahan mereka yang hilang. Berbeda dengan para aktivis organisasi yang di luar serba tugas dan tuntutan kuliah, masih disibukkan dengan beragam kegiatan pada organisasi yang mereka ikuti.

Joko, misalnya, saat di kampus dia memang pernah turut aktif dalam teater fakultas bersama saya. Namun, entah kenapa, baru sekitar empat bulan bergabung, tiba-tiba dia menghilang. Dia tak pernah lagi terlihat datang pada latihan-latihan selanjutnya.

Suatu ketika saya tanyakan perihal kepergiannya itu. Dengan enteng dijawabnya, "Ah, tidak ada apa-apa. Saya cuma bosan, Dit! Kegiatannya begitu-begitu saja."

Praktis sejak itu, semester tiga, tak ada satupun kegiatan ekstra kampus yang dia ikuti. Dia sempat bekerja menjadi reporter di Koran Sore Wawasan, Semarang. Namun itupun tak lama. Sekitar tiga bulan bekerja, dia keluar dengan alasan tak mampu mengatur waktu. Sejak itu, kerjanya ya cuma bangun-kuliah-pulang-tidur.

Ketika masuk dunia kerja, mulai terdengar betapa seringnya dia berganti-ganti pekerjaan. Setelah lulus, pemuda asal Cilacap yang selama dua semester pernah menimba ilmu di Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, ini memulai karirnya dengan menjadi reporter di Harian Suara Pembaruan, Jakarta.

Namun baru dua bulan bekerja, dia keluar. Alasannya? Lagi-lagi bosan. "Setiap hari ada kebaktian untuk para pegawai beragama Nasrani," terangnya, entah serius apa tidak.

Setelah itu dia diterima bekerja di Harian Kontan, Jakarta. Gaji awalnya pun cukup besar untuk seorang bujangan, Rp2,5 juta. Namun baru-baru ini saya dikabari bahwa per Januari 2009 mendatang lagi-lagi dia mengundurkan diri. Alasannya? Ah, sudah tertebak, lagi-lagi bosan. Tak betah? Diiyakannya.

Gorontalo

Teman saya yang kedua, Surrahman, tak jauh berbeda. Rahman, begitu dia biasa dipanggil, langsung hijrah mengadu nasib ke Jakarta begitu lulus. Temanku yang lulus dengan predikat cumlaude ini istimewa. Dia mahasiswa paling kritis di angkatanku.

Selain aktif di lembaga mahasiswa dan acara-acara debat mahasiswa, putra Magelang ini pun giat menulis. Di tingkat akhirnya, dia menjadi salah satu wakil FISIP Universitas Diponegoro, Semarang, untuk turut dalam kegiatan studi banding mahasiswa Indonesia ke Filipina selama satu bulan.

Dia inilah pemacu, atau kalau tak berlebihan kusebut guruku, dalam menulis. Ini yang paling penting. Jauh sebelum aku mulai gemar menulis dan mengirimkan tulisan-tulisan opiniku pada kolom mahasiswa surat-surat kabar, sudah berulang kali tulisannya dimuat.

Pembahasan dan bahasanya jernih. Kawan ini pulalah yang mengenalkanku pada karya-karya penulis sosialis Indonesia macam Pramoedya Ananta Toer.

Di Jakarta, karir awalnya bermula di Indomobil Finance untuk posisi Management Trainee. Gajinya di atas Rp2 juta. Namun, baru bekerja satu bulan, dia keluar karena diterima di perusahaan manufaktur anak usaha Astra Group. Alasannya ketika itu adalah ingin menambah pengalaman dan mencari suasana kerja yang lebih "bersahabat".

Kelanjutannya mungkin sudah Anda tebak, satu bulan bekerja di perusahaan yang bertempat di Cikarang itu dia menerima panggilan dari PT HM Sampoerna. Alasannya, tak betah. Dia gerah dengan atmosfir kerja di Astra Group yang terlalu kapitalis, istilah dia untuk menggambarkan etos kerja yang superketat.

PT HM Sampoerna ini menempatkannya di Gorontalo untuk posisi pemasaran. Pasar yang masih labil di sana mengharuskan kawanku ini membuka pasar, merebut kue persaingan yang sebelumnya diisi perusahaan-perusahaan rokok lokal.

Saat kutanyakan mengapa dia menerima pekerjaan ini walaupun mengharuskannya pindah di pulau berbentuk huruf "K" ini, "Mumpung masih muda, aku ingin merasakan bekerja di ladang orang, di pulau Sulawesi yang masih asing bagiku."

Awalnya kami, teman-teman seperjuangan kuliahnya, salut dengan kegigihannya merintis kehidupan sampai-sampai nekat merantau ke pulau jauh. Siapa pula yang berani menolak pinangan perusahaan sekelas Sampoerna, perusahaan rokok nomor wahid yang identik dengan tingkat kesejahteraan pegawai yang tinggi.

Memasuki masa kerja satu bulan, Rahman mulai mengeluhkan pekerjaannya. Posisinya sebagai pemasar yang bertugas memasok produk hingga ke pedagang-pedagang kecil mulai mendapat tantangan. Ada kesalahan dalam manajemennya yang membuat harga yang ditawarkan orang-orang baru seperti Rahman menjadi tak kompetitif. Warung dan pedagang-pedagang kecil lebih memilih agen besar yang berani mematok harga jauh lebih murah.

Seperti umumnya divisi pemasaran, ada target pencapaian yang dibebankan pada tenaga pemasarnya. Perbedaan harga dengan agen besar membuat target per hari Rahman tak pernah tercapai. Dia bahkan bercerita kalau dia mau tak mau harus rela merogoh koceknya sendiri sebesar Rp15 ribu setiap hari untuk menutupi target.

Lebih runyamnya, meski Rahman sudah berulang kali menceritakan kondisi ini, supervisor lapangan seakan masa bodoh. Dia tak pernah mau memahami permasalahan para anak buahnya. Yang utama baginya, target penjualan per hari harus selalu tercapai.

"Kerjanya duduk-duduk saja di kantor ber-AC, tak pernah mau melihat langsung kondisi pasar," gerutu Rahman.

Kondisi ini menjadi dilema baginya. Ingin berganti pekerjaan, tak ada satupun saudara ia miliki di sana. Tapi kalau tidak, bisa-bisa mati muda karena terus menanggung beban moral yang berat.

Sekarang, setelah bekerja belum genap dua bulan di sana, dia memutuskan keluar dan kembali mengadu nasib ke Jakarta. "Lah kalau harus 'tombok" terus Rp15 ribu setiap hari, apa yang kudapat untuk diriku sendiri," ujarnya kesal.

Kutu loncat

Kisah Joko dan Rahman ini menyadarkanku. Dunia kerja memang dunia yang begitu kompleks. Belum terbayangkan sebelumnya, kemampuan dan kepandaian yang menjadi mahkota kesombongan para mahasiswa saat di kampus ternyata menjadi nomor sekian di dunia kerja. Sarjana lulus tepat waktu dengan IPK cumlaude sekalipun, nyatanya masih harus berjibaku dalam kompleksitas dunia kerja yang kejam.

Yang masih susah ditemukan pada lulusan-lulusan sarjana masa kini adalah kegigihan, kata lain keuletan dan ketekunan, atau mentalitas tak kenal menyerah. Banyak lulusan sarjana jaman sekarang yang alpa pada hal ini. Mereka terlalu pongah dengan predikat nilainya, syukur-syukur didapatnya dengan cara yang jujur.

Padahal, bukan orang yang sekadar pintar yang dibutuhkan negeri yang sedang sakit ini. Jumlah orang pintar di republik amburadul ini sudah banyak. Mengutip syair salah satu lagu Iwan Fals, "tak beda dengan roti". Jumlah perguruan tinggi beserta lulusannya terus membludak seiring kenaikan jumlah orang pintar.

Apalagi tak sedikit universitas, baik negeri ataupun swasta sekalipun, yang masih perlu dibenahi kualitasnya di sana-sini. Kualitas pengajar maupun output yang dihasilkannya masih perlu dipertanyakan.

Lihat saja bagaimana universitas-universitas "kacangan" yang mem-branding dirinya layaknya produk sabun mandi makin tumbuh subur. Anda tentu tak asing dengan spanduk-spanduk universitas yang berbunyi: "Lulus 3 tahun", "Satu mahasiswa satu laptop". Sasaran mereka adalah orang-orang yang mendambakan gelar sarjana demi sekadar status dan pengakuan masyarakat. Yang penting punya gelar di belakang nama; isi nol besar.

Yang paling dibutuhkan masyarakat sekarang adalah orang-orang yang mau berkomitmen tinggi pada bidangnya masing-masing. Yang mau membangun dan mencerahkan secara kontinyu, seberat apapun risikonya. Bukan tipe mental tempe dan kutu loncat yang sedikit-sedikit mengeluh, mengaku tak betah, lalu seenaknya keluar dari pekerjaan untuk memimpikan dunia yang lebih santai.

Kutu loncat adalah sejenis hewan kecil yang oportunis, mendekati apapun yang dapat memberinya keuntungan paling besar. Hidupnya di kepala manusia. Ketika kepala yang ia diami itu tak lagi menguntungkan, atau sudah habis dihisap, loncatlah ia pada kepala lain yang lebih menjanjikan. Masa bodoh ia dengan kerusakan yang sudah ia sebabkan pada sumber penghidupannya yang lama.

Sebagai teman, aku ingin mengutipkan kata-kata Thomas Alva Edisson: "Kesuksesan hanya 1 persen kejeniusan, sisanya, 99 persen, kerja keras." Dalam bahasa Thukul, sang master di bidang ketekunan itu, "Buah kristalisasi keringat tanpa henti." (*)

[+/-] klik judul kecil di atas untuk melanjutkan...

22 Maret 2009

Sapi dan Kapitalisme Mutakhir

SKETSA
Semarang, 22 Maret 2009
Sapi dan Kapitalisme Mutakhir
(Sumber: itemic@gmail.com)

PEMBAHASAN mengenai sistem perekonomian terbaik di suatu negara memang tak habis-habisnya. Aneka kepentingan selalu saja menemukan titik pergulatannya di sini. Antara mementingkan rakyat, mendewakan kesetaraan, atau menganggap penguasa adalah sosok tunggal penentu kesejahteraan rakyatnya.

Berikut ini anekdot yang saya kutip dari sebuah posting di milis. Dengan jenaka tergambarkan perbedaan tipis di antara masing-masing sistem perekonomian mutakhir yang dianut di banyak negara. Untuk memudahkan pemahaman, ilustrasinya menggunakan hak kepemilikan atas sapi. Lho, lho ... kok sapi? Simak saja.

SOSIALISME
kau punya 2 sapi
1 sapi kau berikan untuk tetanggamu

KOMUNISME
kau punya 2 sapi
negara mengambil alih keduanya dan memberimu 2 kaleng susu

FASISME
kau punya 2 sapi
negara mengambil alih keduanya dan menjual susu padamu

NAZISME
kau punya 2 sapi
negara mengambil keduanya dan menembakmu

KAPITALISME TRADISIONAL
kau punya 2 sapi betina
kau jual satu dan beli satu sapi jantan
ternakmu bertambah, dan ekonomi tumbuh

MODEL THE ANDERSEN
kau punya 2 sapi
kau cincang-cincang dua-duanya

SISTEM EKONOMI AMERIKA
kau punya 2 sapi
kau jual satu, dan satunya kau paksa untuk memproduksi susu sebanyak 4 sapi. kemudian, kau menyewa konsultan untuk menganalisa mengapa sapinya mati

SISTEM EKONOMI PERANCIS
kau punya 2 sapi
kau turun ke jalan, menyusun massa, memblokade jalanan, karena kau
ingin punya 3 sapi

SISTEM EKONOMI JEPANG
kau punya 2 sapi
kau medesainnya ulang hingga bisa menghasilkan 20 kali lipat susu
kemudian kau buat profil kartun sapi pintar "Cowkemon" dan menjualnya ke seluruh dunia

SISTEM EKONOMI JERMAN
kau punya 2 sapi
kau merekayasanya supaya bisa hidup lebih dari 100 tahun,
makan cukup sebulan sekali
dan mereka bisa saling memerah susu sendiri

SISTEM EKONOMI ITALIA
kau punya 2 sapi, tapi kau tak tahu dimana mereka
kau putuskan untuk makan siang saja

SISTEM EKONOMI RUSIA
kau punya 2 sapi
kau menghitungnya dan berandai bagaimana kalau punya 5 sapi
kau menghitungnya lagi dan berandai bagaimana kalau punya 42 sapi
kau menghitungnya lagi dan menemukan bahwa sapimu cuma dua
kau berhenti mengitung, lalu buka sebotol vodka

SISTEM EKONOMI SWIS
kau ada 5000 sapi. tak satupun adalah milikmu
kau mengenakan biaya adaministratif kepada pemiliknya untuk menyimpannya

SISTEM EKONOMI CINA
kau punya 2 sapi
kau punya 300 orang untuk memerah susunya
kau nyatakan bahwa tak ada pengangguran, dan nilai produksi susu tinggi
kau menangkap wartawan yang melaporkan kenyataanya

SISTEM EKONOMI INDIAN
kau punya 2 sapi
kau sembah mereka

SISTEM EKONOMI INGGRIS
kau punya 2 sapi
dua-duanya sapi gila

SISTEM EKONOMI IRAK
semua orang berpikir kau punya banyak sapi
kau bilang ke mereka kau cuma punya satu
tak ada yang percaya, maka mereka mengebom daerahmu dan menginvasi negaramu
kau masih tak punya sapi satupun, tapi setidaknya sekarang kau bagian dari demokrasi

SISTEM EKONOMI NEW ZEALAND
kau punya 2 sapi
sapi yang di kiri kelihatan sangat atraktif

SISTEM EKONOMI AUSTRALIA
kau punya 2 sapi
bisnis kelihatannya sedang bagus
kau tutup kantor dan pergi mencari bir untuk merayakannya

SISTEM EKONOMI INDONESIA
kau punya 2 sapi
dua-duanya curian
lalu kau jual dua-duanya
kemudian kau simpan uangnya di acount nonbudgeter yang tak jelas
kemudian kau gunakan beberapa untuk mendanai kampanye partaimu
tapi sebagaian besar kau simpan untuk anak cucumu

SISTEM EKONOMI MALAYSIA
kau punya 2 sapi
dua-duanya kau curi dari indonesia

(*)

[+/-] klik judul kecil di atas untuk melanjutkan...

Mantan Dosen yang Bersahaja Itu

SKETSA

Semarang, 22 Maret 2009
Mantan Dosen yang Bersahaja Itu
(Sumber: iwansams@gmail.com)
MAHMOUD Ahmadinejad, dalam sebuah sesi wawancara di TV Fox (AS) ditanyakan perihal kehidupan pribadinya: "Saat anda melihat di cermin setiap pagi, apa yang anda katakan pada diri anda?"

"Saya melihat orang di cermin itu dan mengatakan padanya: 'Ingat, kau tak lebih dari seorang pelayan, hari di depanmu penuh dengan tanggung jawab yang berat, yaitu melayani bangsa Iran,'" ujar mantan dosen Tehran University of Science and Technology itu.

Berikut adalah gambaran kebersahajaan Ahmadinejad, seorang Presiden Iran, yang membuat banyak orang ternganga tak percaya:

1. Saat pertama kali menduduki kantor kepresidenan, dia menyumbangkan seluruh karpet Istana Iran yang sangat tinggi nilainya itu kepada masjid-masjid di Teheran dan menggantikannya dengan karpet biasa yang mudah dibersihkan.

2. Ketika mengamati bahwa ada ruangan yang sangat besar untuk menerima dan menghormati tamu VIP, ia memerintahkan untuk menutup ruang tersebut dan menanyakan pada protokoler untuk menggantinya dengan ruangan biasa dengan dua kursi kayu. Alasannya, meski sederhana tetap dapat terlihat impresif.

3. Di banyak kesempatan ia bercengkerama dengan petugas kebersihan di sekitar rumah dan kantor kepresidenannya.

4. Di bawah kepemimpinannya, saat meminta para menterinya untuk datang kepadanya, ia memberikan mereka masing-masing sebuah dokumen yang ditandatangani yang berisikan arahan-arahan darinya. Arahan tersebut terutama sekali menekankan para menterinya untuk tetap hidup sederhana. Disebutkan juga, rekening pribadi maupun kerabat dekatnya akan diawasi. Sehingga pada saat menteri-menteri berakhir masa jabatannya, mereka dapat meninggalkan kantornya dengan kepala tegak.

5. Langkah pertama ketika menjabat presiden adalah mengumumkan kekayaan dan propertinya yang terdiri dari Peugeot 504 tahun 1977 dan sebuah rumah sederhana warisan ayahnya 40 tahun yang lalu di sebuah daerah kumuh di Teheran. Selain itu, rekening banknya bersaldo minimum, dan satu-satunya uang masuk adalah uang gaji bulanannya.

6. Gajinya sebagai dosen di sebuah universitas hanya senilai US$ 250.

7. Sebagai tambahan informasi, Ahmadinejad masih tinggal di rumahnya. Hanya itulah yang dimilikinya sebagai seorang presiden dari negara yang penting baik secara strategis, ekonomis, politis, belum lagi secara minyak dan pertahanan. Dia bahkan tidak mengambil gajinya, dengan alasan bahwa semua kesejahteraan adalah milik negara dan ia bertugas untuk menjaganya.

8. Satu hal yang membuat kagum staf kepresidenan adalah tas yg selalu dibawa sang presiden tiap hari selalu berisikan sarapan: roti isi atau roti keju yang disiapkan istrinya. Ia selalu memakannya dengan gembira. Ia juga menghentikan kebiasaan menyediakan makanan yang dikhususkan untuk presiden.

9. Hal lain yang ia ubah adalah kebijakan pesawat terbang kepresidenan. Dia mengubahnya menjadi pesawat kargo sehingga dapat menghemat pajak masyarakat dan untuk dirinya. Dia meminta terbang dengan pesawat terbang biasa dengan kelas ekonomi.

10. Ia kerap mengadakan rapat dengan menteri-menterinya untuk mendapatkan info tentang kegiatan dan efisiensi yang telah dilakukan. Ia juga memotong protokoler istana sehingga menteri-menterinya dapat masuk langsung ke ruangannya tanpa ada hambatan. Ia juga menghentikan kebiasaan upacara seremonial seperti karpet merah, sesi foto atau publikasi pribadi, dan hal-hal lain semacam itu saat mengunjungi berbagai tempat di negaranya.

11. Saat harus menginap di hotel, ia meminta diberikan kamar tanpa tempat tidur yang tidak terlalu besar karena ia tidak suka tidur di atas kasur, tetapi lebih suka tidur di lantai beralaskan karpet dan selimut. Apakah perilaku tersebut merendahkan posisi presiden? Tidak sama sekali.

Presiden Iran tidur di ruang tamu rumahnya sesudah lepas dari para pengawalnya yang selalu mengikuti kemanapun ia pergi. Menurut koran Wifaq, foto-foto yang diambil adiknya tersebut, kemudian dipublikasikan oleh media masa di seluruh dunia, termasuk Amerika.

12. Sepanjang sholat, anda dapat melihat bahwa ia tidak duduk di baris paling muka bila datang terlambat. Dia juga terbiasa antri makan dengan tertib bila hadir di sebuah pesta pernikahan.

13. Ketika suara azan berkumandang, ia langsung mengerjakan sholat dimanapun ia berada meskipun hanya beralaskan karpet biasa.

14. Ia juga tidak mau bersalaman dengan wanita yang bukan muhrimnya. Dia cukup menundukkan kepala dalam-dalam sebagai tanda rasa hormatnya seraya menjaga pandangannya.

Akankah nanti dari pemilu republik ini yang kabarnya diundur itu dapat hadir sesosok presiden amat bersahaja seperti itu? Bisa jadi. Tapi, ah, entah kapan....

[+/-] klik judul kecil di atas untuk melanjutkan...