<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6229740364415250960</id><updated>2011-12-23T08:14:07.030+07:00</updated><category term='sketsa'/><category term='features'/><category term='olahraga'/><category term='kuliner'/><category term='buku'/><category term='berita'/><category term='Jurnalisme'/><category term='film'/><category term='alam bebas'/><category term='puisi'/><category term='kolom'/><title type='text'>Celoteh Mas Gareng</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6229740364415250960/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Anindityo Wicaksono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06767330856974408139</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/Scz2ra1pbII/AAAAAAAAAr0/kSL6Y5gYhTQ/S220/Om+garenk2.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>64</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6229740364415250960.post-145413801134995319</id><published>2009-10-08T18:08:00.010+07:00</published><updated>2010-05-08T12:11:03.893+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='features'/><title type='text'>Semua Ada Tarifnya</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;FEATURE&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Jakarta, 5 Oktober 2009&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);font-size:180%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Semua Ada Tarifnya&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh Anindityo Wicaksono&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/Ss3Jys3CYfI/AAAAAAAAAyo/09Ago6qYw3s/s1600-h/jail.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 265px; height: 400px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/Ss3Jys3CYfI/AAAAAAAAAyo/09Ago6qYw3s/s400/jail.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5390186201904996850" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Sumber gambar: http://www.pacamat.com&lt;/span&gt;&lt;cite style="font-style: italic;"&gt;&lt;/cite&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;TEMBOK &lt;/span&gt;beton setinggi delapan meter itu tampak kokoh menjulang. Untaian kawat berduri di sepanjang puncaknya menambah keangkerannya. Dindingnya memampang sebuah poster ukuran jumbo bertuliskan: "Memberi atau menarik pungutan liar melanggar hukum".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puluhan orang tampak gelisah duduk-duduk di areal depan tembok. Maya, 30, bukan nama sebenarnya, salah satunya, memasang telinga menunggui namanya dipanggil melalui alat pengeras suara. Ia hendak membesuk adiknya yang sudah 11 bulan mendekam LP Cipinang, Jakarta Timur. Ia datang bersama Ani, 20, kekasih sang adik.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;LP Cipinang membuka waktu besuk setiap hari kecuali Jumat dan Minggu. Waktunya dibagi dua kali, pukul 09.30-12.00 dan 12.30-15.00.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum memasuki ruang besuk, ada beberapa gerbang pengaman berlapis yang harus mereka lewati. Total ada empat pos pemeriksaan. Paling pertama,  loket pendaftaran. Di tempat ini mereka terlebih dulu mengisi semacam blangko yang memuat berbagai keterangan. Tertulis nama-nama pembesuk, nama napi yang dibesuk, dan nomor identitas diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari situ kita akan mendapat nomor antrian. Empat deret kursi plastik menjadi tempat menunggu sampai nama kita disebut melalui pengeras suara. Area menanti itu terletak di sebuah pelataran terbuka persis di depan sebuah gerbang besi yang terlihat kokoh. Tingginya pas satu orang dewasa. Ada lubang tempat mata yang hanya bisa dibuka dari dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Grekk...", bunyi grendel gembok gerbang itu menyentak lamunan Maya. Nomor antriannya, 148, sudah dipanggil melalui alat pengeras suara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memasuki gerbang, terhampar ruangan seluas sekitar 5x5 meter. Beberapa penjaga berseragam coklat tampak berjaga-jaga. Saku kiri seragamnya berterakan: "Polsuspas" (polisi khusus pemasyarakatan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini masih ada tiga pos lagi. Perhentian pertama, petugas akan memeriksa ulang blangko yang kita isi. Khusus pria harus meninggalkan KTP. Kemudian punggung tangan kanan diberi cap berdiameter 1 cm bertuliskan: "LP Cipinang Kelas I".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah tas para pembesuk melewati alat sinar-X, ada pos dua, tempat penitipan hp (hand phone). Segala alat komunikasi yang dibawa pembesuk diminta dan dimasukkan ke dalam loker-loker kecil. Di tempat ini juga, pria akan diberi kartu bertuliskan "pengunjung" beserta nomornya untuk digantungkan di leher.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pos terakhir, persis di sebelah pos kedua, khusus pria, sang petugas akan menggeledah seluruh tubuh. Isi dompet pun tak ketinggalan diperiksa benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sukses melewati ini semua, barulah pembesuk dapat memasuki ruang besuk, semacam aula besar berbentuk persegi panjang. Ukurannya sekitar 10x6 meter. Udaranya segar berkat kipas angin yang tersebar di langit-langit ruangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di situ berjejer kumpulan kursi-kursi yang mengelilingi meja semacam di kafe. Tiap kumpulan berisi empat kursi, dua saling berhadap-hadapan. Dinding paling belakang ruangan itu memampang poster jumbo ukuran 4x2 meter. Isinya tentang prosedur pengurusan pembebasan bersyarat (PB ) bagi narapidana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bagian pojok terdapat semacam kios yang menjual barang kebutuhan sehari-hari. Dari rokok, gula, teh, kopi, mie instan, sampai bahan deterjen. Kios ini disediakan bagi pembesuk yang hendak membelikan barang bagi narapidana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sewa Kamar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/Ss3KPnO4JrI/AAAAAAAAAyw/HSrIXUnLy2U/s1600-h/sm1lpcipinangant6eps.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 149px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/Ss3KPnO4JrI/AAAAAAAAAyw/HSrIXUnLy2U/s200/sm1lpcipinangant6eps.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5390186698610583218" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Suasana ketika itu sudah ramai benar. Para narapidana sudah tenggelam dengan pembesuknya masing-masing. Semuanya mengenakan rompi berwarna kuning terang. Di punggungnya melingkar tulisan "Narapidana LP Cipinang". Dituliskan dengan huruf besar semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rahmat, 26, bukan nama sebenarnya, tampak sudah menunggu tak sabar di kursi tunggu dengan napi-napi lain. Ia langsung menghampiri Maya dan Ani Tangan sang kakak langsung diciumnya. Sedang Ani, langsung diciumnya di pipi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kak, nanti jangan lupa belikan rokok putih satu pak untuk sipir. Tadi saya sudah dipesannya. Wajib!" pesan Rahmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua bisa diatur asal ada imbalannya berlaku benar di sini. Dari balik jeruji, segala kebutuhan bisa terpenuhi. Mulai dari air mineral, hp, televisi, magic jar, sampai alat permainan playstation bisa tersedia asal ada uangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya itu, untuk menuju dan kembali dari ruang besuk saja ada uangnya. Tiap napi harus menyediakan minimal Rp30 ribu jika tak mau dipukuli sipir. Dari sel mereka harus melewati lima  sipir. Masing-masing meminta Rp5 ribu. Plus "biaya sewa" rompi kuning yang menjadi identitas diri para napi selama di ruang besuk, Rp5 ribu lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rahmat sendiri mengaku kini tinggal di kamar khusus. Ukurannya lumayan luas, 3x3 meter. Isinya komplit. Mulai dari dispenser, televisi, vcd player, sampai playstation ada. &lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kamar mewah itu dipatok uang sewa Rp300 ribu sebulan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dari pengakuannya, di dalam LP ada banyak kamar sewa yang disediakan khusus bagi napi berduit. Di kamar itu, hanya playstation yang harus dia bawa sendiri. Kakaknya lah yang menitipkan pada petugas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bayar Rp50 ribu untuk 'ongkos kirimnya'," kata Maya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rahmat bisa dikatakan napi yang beruntung. Kakak dan keluarganya rela merogoh kocek demi memenuhi segala kebutuhan dia di dalam. Pada minggu-minggu pertama pria berkulit sawo matang itu ditahan, dia langsung meminta Rp500 ribu pada keluarganya. Uang sebesar itu diminta napi-napi lain di bloknya sebagai syarat jaminan keamanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarganya pun menuruti sebisanya. "Habis kasihan. Kalau tidak bisa menyediakan, katanya dia akan digebukin," kata Maya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rahmat adalah narapidana kasus narkoba. Ia dibui gara-gara dijebak kawannya. "Teman saya itu 'cepu'," tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Cepu" adalah istilah di antara narapidana untuk menyebut mata-mata polisi. Mantan narapidana atau mereka yang pernah terkait kasus yang kemudian direkrut kepolisian. Kerjanya menjebak kawan-kawan lainnya dengan imbalan uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangannya lalu menerawang mengingat kembali masa dia pertama kali berurusan dengan hukum. Waktu itu dua bulan menjelang Lebaran 2008. Teman Rahmat hendak berpesta besar. Dia meminta tolong padanya untuk mencarikan paket ganja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski sadar risikonya besar, dia tak sanggup menolak. "Saya ini terlalu setiakawan. Apapun yang teman minta, saya usahakan selagi saya mampu," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malang baginya. Sesampainya di tempat bandar yang biasa menjadi tempat langganan temannya, tak hanya sang  bandar yang menyambut, beberapa polisi berpakaian preman langsung mendekapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga hari ia ditahan di kantor Polres. Selama itu pula ia harus menerima perlakuan kasar di luar batas kewajaran. Ia dipukuli, diinjaki dengan sepatu lars, sampai disuruh tidur dengan posisi tergantung secara terbalik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari situ ia dipindahkan ke Rutan Cipinang, persis di sebelah komplek LP Cipinang. Tiga bulan ia di sana selama menunggu masa persidangannya selesai. Palu diketuk, hakim menjatuhkan vonis bersalah dengan masa hukuman penjara 1 tahun 8 bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari pertama dipindahkan ke LP tak akan pernah dilupakannya. Sama seperti kebanyakan kawan lain, sebelum dimasukkan ke sel, dia disambut 'ucapan selamat datang' dari para sipir. "Lagi-lagi saya dipukuli, ditendangi, sampai diinjak-injak. Memukulnya jarang pakai tangan kosong, minimal kabel listrik besar dijadikan alatnya," kisahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini setelah 11 bulan mendekam di penjara, kehidupannya makin membaik. Dia sudah dikenal baik oleh beberapa sipir dan napi-napi dari blok lain. Dia kini bergabung menjadi "tangpir" musik. Tangpir adalah istilah bagi napi yang dipercaya membantu tugas sipir. Macam-macam tugasnya. Ada yang bertugas di kantor pelayanan di lantai atas komplek LP, urusan kebersihan, hingga perkara makanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugasnya sebagai tangpir musik adalah menjadi pengisi saban ada acara yang digelar di sana. Lebaran lalu dia menjadi pengisi acara. Dia bermain drum di dalam sebuah band yang berisikan para napi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terasa sudah 30 menit berlalu. Jatah waktu kunjungan sudah habis. Para sipir sudah ramai berteriak-teriak: "Waktu habis... waktu habis...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secercah harapan terpintas di wajah Rahmat. Seperti teriakan sipir, waktunya di LP memang sebentar lagi akan habis. Ia menjalani hukuman 38 hari lagi. "Bulan lima, tahun 2010," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas dari penjara, dia mengaku hendak pulang ke kampung asal orangtuanya, Serang, Banten. "Saya sudah kapok hidup begini. Ga lagi-lagi menyentuh dengan yang namanya narkoba. Saya ingin menjadi petani saja," tuturnya. (*)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6229740364415250960-145413801134995319?l=anindityowicaksono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/feeds/145413801134995319/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/2009/10/semua-ada-tarifnya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6229740364415250960/posts/default/145413801134995319'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6229740364415250960/posts/default/145413801134995319'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/2009/10/semua-ada-tarifnya.html' title='Semua Ada Tarifnya'/><author><name>Anindityo Wicaksono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06767330856974408139</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/Scz2ra1pbII/AAAAAAAAAr0/kSL6Y5gYhTQ/S220/Om+garenk2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/Ss3Jys3CYfI/AAAAAAAAAyo/09Ago6qYw3s/s72-c/jail.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6229740364415250960.post-8202065167303235044</id><published>2009-10-08T17:59:00.006+07:00</published><updated>2010-05-08T12:13:56.481+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='features'/><title type='text'>Rajawali itu Terbuntal Kain</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;FEATURE&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jakarta, 2 Oktober 2009&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);font-size:180%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rajawali itu Terbuntal Kain&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh Anindityo Wicaksono&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/Ss3H2Fw56ZI/AAAAAAAAAyY/trLfr24xJgs/s1600-h/pasar2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 268px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/Ss3H2Fw56ZI/AAAAAAAAAyY/trLfr24xJgs/s400/pasar2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5390184061106514322" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Sumber gambar: http://&lt;/span&gt;&lt;cite style="font-style: italic;"&gt;foto.detik.com)&lt;/cite&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;MATAHARI &lt;/span&gt;mulai membakar ubun-ubun di sebuah bilangan Jakarta Timur. Bau kotoran hewan bercampur aroma keringat menyengat hidung di sebuah gedung berlantai dua. Cat-cat dinding gedung itu terlihat kusam dan terkelupas di sana-sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di seluruh penjuru gedung beragam jenis satwa menyapa, mulai dari beraneka jenis burung, kucing, hamster, kelinci, marmut, ikan, ular, tupai, hingga ayam. Kicauan burung dari segala jenis menyeruak ke telinga. Ramai benar.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Di atas adalah potret sehari-hari di Pasar Burung Pramuka, Jakarta Timur. Saban Sabtu-Minggu, pasar yang konon terbesar se-Asia Tenggara itu selalu dijejali dengan pembeli, terutama para penggemar burung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksud kedatangan mereka sama beragamnya dengan asal kedatangan mereka. Ada yang hendak membeli pakan hewan, obat ternak, sangkar burung, sampai yang sekadar berkeliling melihat-lihat aneka ragam satwa di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya sudah sejak lama menggemari burung kicau. Selain mencari pakan burung, hampir tiap minggu saya kesini untuk menambah koleksi saya," ujar Teguh, 32, pembeli asal Rawa Barat, Jakarta Utara, bersemangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepintas lalu tak ada yang janggal di sini. Aktivitas antara padagang dan pembeli di sini tak jauh beda dengan di pasar-pasar hewan lain. Untuk koleksi satwanya? "Di sini jauh lebih komplit," akunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun jika jeli, kita akan mengelus dada menemukan realitas pelik yang mengancam dunia fauna bangsa ini terjadi di sini. Ternyata pasar inilah yang menjadi arena transaksi terbesar satwa langka di Indonesia, bahkan Asia Tenggara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, berkali-kali polisi maupun Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) menggelar razia satwa langka sebagai upaya membongkar rantai perdagangannya. Namun, di pasar gelap, nyatanya transaksi haram ini masih saja terus berlangsung. Perdagangan satwa langka nyatanya belum terhenti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasar Pramuka disebut-sebut sebagai titik sentral pusat transaksi. Tempat ini bagian dari Kota Jakarta yang diyakini menjadi salah satu simpul utama jaringan perdagangan satwa langka di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara kasat mata, aktivitas terlarang di Pasar Pramuka tak terlihat. Gencarnya operasi yang dilakukan berkenaan dengan kejahatan lingkungan ini memaksa para cukong dan pedagang untuk memutar otak. Keuntungan besar yang didapat per transaksi membuat mereka terus mencari siasat untuk bertahan. Proses transaksi dirapikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika didatangi orang-orang dari luar rantai mereka, mereka pun bersikap cermat. Mereka hanya akan menunjukkan "barang" kepada langganan tetap atau mereka yang menunjukkan minat kuat membeli. Dengan modus ini para pedagang melenggang kangkung mereguk uang haram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rajawali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/Ss3Kw5SS3JI/AAAAAAAAAzA/XaVZkZ4ySeA/s1600-h/Hawk_II_by_justinblackphotos.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 160px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/Ss3Kw5SS3JI/AAAAAAAAAzA/XaVZkZ4ySeA/s200/Hawk_II_by_justinblackphotos.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5390187270392437906" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Saya belum lama ini mengunjungi Pasar Pramuka untuk melihat sendiri. Dengan belagak menjadi calon pembeli, awalnya saya bersikap laksana pembeli biasa. Melihat-lihat burung hias, menikmati kiacauan-kicauan aneka burung, hingga bertanya ngalor-ngidul tentang jenis-jenis burung dan pakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di seluruh tempat, tak ada satupun pedagang yang memajang satwa-satwa terlarang di kios mereka. Namun ketika saya mulai bertanya mengenai keberadaan hewan langka ke beberapa pedagang, perlahan pintu membuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kios pertama yang memancing kecurigaan adalah los terdepan dekat area parkiran. Sepintas tak beda dengan kios lain. Di bagian depan tergantung puluhan kandang dari kayu berisikan burung beraneka jenis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam kios berderet rapi tumpukan menjulang puluhan kandang. Isinya burung kicau semua. Namun ketika pandangan sampai ke bagian pojok depan, terdapat sebuah kandang besi besar. Isinya dua anak beruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Primata rekan pemanjat pohon kelapa itu ditawarkan Rp350 ribu per ekor. "Sehat-sehat ini, Bang. Bagus kalau mau ditaruh di kandang-kandang di rumah," kata Robi, penjaga kios, menawarkan dengan ramah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecurigaan timbul karena tak biasanya kera setinggi 30-an cm ditempatkan di sebuah kandang setinggi hampir 2 meter. "Ada yang lebih besar lagi ga Bang? Mau ditaruh di kandang besar, biar bagus," saya coba memancing&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keramahan Robi di awal pertemuan segera sirna. Matanya memicing, mulai memperhatikan saya dari ujung kaki sampai rambut. Gesture tubuhnya mulai tertutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya terus meyakinkan mengaku sebagai orang suruhan, dia mulai sedikit melunak. "Disuruh bos. Buat mengisi kandang besar yang sudah disiapkan di areal pekarangan rumah," jelas saya berdalil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia lalu menawarkan siamang (Symphalangus syndactylus), salah satu primata yang dilindungi. Hewan ini dibanderol Rp2,5 juta untuk dewasa dan Rp3,5 juta untuk yang kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa yang muda justru lebih murah? "Lebih mudah dijinakkan," jelas Robi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengaku memang tidak membawa siamang ini di pasar. Kalau saya mau membeli hari itu juga, dia tinggal mengambilkannya di rumah kerabatnya di Jalan Pembina, persis belakang Pasar Pramuka. Dia juga menolak ketika saya meminta diajak ikut serta ke lokasi penyimpanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengaku punya pengalaman buruk dengan mengakan calon pembeli. Pernah ada orang yang mengaku pembeli ternyata seorang aktivis LSM lingkungan. Orang ini lalu mengadu ke aparat. Buntutnya panjang. Hewan-hewan dagangannya disita semua. Temannya sesana pedagang bahkan ada yang sampai diseret ke pengadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi untuk memajang siamang itu di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;display&lt;/span&gt;. "Takut kena razia Polisi Hutan. Kalau ketahuan dendanya Rp100 juta. Bukan untung malah tekor," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia juga menawarkan owa. Namun untuk mendapatkannya, dia harus memesan dulu ke cukong. Pembeli disuruh menunggu barang seminggu. "Mereka dapat dari pemburu liar di Kalimantan. Tapi kalau situ positif mau, tinggalkan uang muka saja. Paling lama seminggu pasti datang," ujarnya mantap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain kedua primata itu, dia juga bisa menyediakan burung jalak Bali (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Leucopsar rothschildi)&lt;/span&gt; dan kakatua. "Kalau burung-burung ini mudah didapat. Sudah banyak yang menangkarnya. Dua jenis ini sama harganya, Rp1 juta sepasang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut pengakuan Robi, tak seperti dulu, kini orang utan (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pongo pygmaeus&lt;/span&gt;) dan kuskus (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Phalanger spp&lt;/span&gt;) sudah sukar ditemukan di Pasar Pramuka. "Sekarang susah lakunya. Jadi kini kebanyakan barang langsung dilempar ke luar negeri," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beringsut dari situ, saya menemui pedagang lain di lantai dua. Jono namanya. Di sebelahnya tampak seorang kawannya. Badannya besar. Tangan kirinya yang penuh tato sampai pergelangan. Menurut beberapa pedagang di sana, dia ini salah satu "sekuriti" yang disegani di situ. Keduanya tampak duduk santai di sebuah dipan panjang dari kayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jono sedang menunggui tiga kandang di depannya. Isinya tiga ekor kucing ningrat: Anggora, Persia, dan Himalaya. Yang paling mahal Himalaya, mencapai Rp1,25 juta per ekor. Kemudian jenis Persia Rp1 juta dan Anggora Rp750 ribu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yang awalnya berpura-pura akan membeli kucing, lalu menanyakan elang Jawa (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Spizaetus bartelsi&lt;/span&gt;), burung langka yang dilindungi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wah, di sini mah udah ga ada, Bang," tukas Jono cepat. Nada suaranya seperti tertahan. Mimiknya lalu berubah serius. Sorot matanya seketika menajam memperhatikan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dia dia sanggup mencarikan, saya menjanjikan hubungan ini akan terus berlanjut. Jono mulai melunak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau situ memang pasti mau, ada," ujarnya lirih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia lalu menawarkan elang. Burung langka yang dirahasiakan tempat penyimpanannya ini dibanderol Rp750 ribu per ekor. Dia punya dua macam, warna hitam polos (elang hitam) dan abu-abu (elang Jawa). "Kalau situ mau, ada juga rajawali. Warnanya coklat. Bagus, masih jinak," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kemudian diminta menunggu di kios Jono. Ketika berdua saja dengan kawan Jono, sang pemuda bertato tampak gelisah. Matanya awas memperhatikan gerak-gerik saya. Bicaranya pun dijaga ketika saya mengorek beberapa informasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak sampai 10 menit, Jono kembali bersama seorang pemuda, Dede. Mereka kembali dengan menenteng seonggok buntalan kain berwarna merah. Kain itu tampak kumal, terlihat seperti kain yang sering digunakan untuk mengelap segala sesuatu yang kotor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isinya? Seekor rajawali muda. Warna coklat tua, umurnya tiga bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Burung itu terlihat sehat. Tak terlihat satupun bekas luka di seluruh tubuhnya. Namun cara Dede membawa layaknya memegang sulak itu membuat burung perkasa itu kehilangan kegagahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nanti kalau umur satu tahun, tinggi tegak bisa sampai semeter," terang Dede berpromosi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain rajawali, Dede mengaku masih memiliki seekor elang bondol umur satu tahun. Burung-burung langka itu didapatkannya dari hasil tangkapan para pemburu ilegal di Sumatera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Harus pesan dulu ke bos. Paling lama satu minggu barang sudah datang," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tidak menjelaskan lagi siapa bos yang dimaksud ini. Namun Dede hanya berkisaj bahwa si bos inilah yang mempunyai jaringan langsung sampai sumber satwa di Sumatra atau Kalimantan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiriman burung-burung itu datang melalui jalan darat. Burung-burung ini tidak dikirim sekaligus. Maksimal dua ekor sekali jalan. Hal itu untuk menghilangkan kecurigaan aparat dan menghindari razia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kaki burung kita ikat, lalu kita masukkan kardus. Kita masukkan saja di bagasi taksi atau mobil boks," kata Dede.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mendapatkan rajawali itu sejak umur sebulan. Dia yang memberinya makan setiap hari. Memandikannya, cukup taruh di kandang, dan disemprot air lewat selang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau tahu kena air, dia akan membuka sayapnya lebar-lebar sendiri," kata Dede.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedang si elang, didapatkannya ketika umur satu tahunan. "Makanya sudah susah menjinakkannya," terangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepintas memang agak susah membedakan antara rajawali (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Accipiter striatus&lt;/span&gt;) dengan elang. Apalagi ketika masih sama-sama muda. Bentuk paruh keduanya mirip. Yang membedakannya ada di ukurannya ketika dewasa. Tinggi rajawali dewasa bisa lebih tinggi, mencapai semeter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika tertarik, dia meminta saya secepatnya meninggalkan uang panjer. "Barang bagus begini harus cepat, Bang. Lebih tiga hari bisa hilang. Yang nyari dari mana-mana. Pedagang pasar hewan Jatinegara atau Barito juga kalau butuh barang pasti kemari. Tapi kalau Abang sudah kasih panjer, jangan takut, ada yang nawar sampai Rp2 juta pun ga akan kami lepas," timpal Jono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mafia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelurusan di Pasar Burung Jatinegara, Jakarta Timur, membuahkan hasil serupa. Penjualan satwa langka di pasar yang berlokasi di Jalan Kemuning, Jatinegara, itu masih terus hingga kini meski lewat jalur belakang. Sudah tak ada lagi para pedagang yang berani memajang hewan-hewan eksotis ini terang-terangan. Mereka mengaku menyimpannya di tempat lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada uang, ada barang," sebut sang pedagang ilegat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabar bahwa perdagangan satwa ilegal di Jakarta memang bukan isapan jempol. Transaksi terlarang ini nyatanya masih terus terjadi meski selalu dilakukan diam-diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pedagang satwa itu ternyata punya jaringan luas sampai ke sumber satwa di Kalimantan dan Sumatera. Mereka bagian dari mafia yang sulit disentuh aparat. Pengirimannya pun dilakukan rapi dan bisanya dilakukan dalam jumlah sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal kegiatan ini jelas-jelas melanggar UU No 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem. Di situ jelas, setiap orang dilarang untuk melukai, membunuh, memelihara, memperniagakan, atau menyimpan fauna langka dalam keadaan hidup atau mati maupun bagian tubuhnya. Hukumannya denda hingga Rp100 juta atau kurungan penjara selama 5 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih tingginya permintaan akan hewan-hewan ini bisa jadi menjadi salah satu muara permasalahan ini. Hukum ekonomi berbicara di sini. Penawaran berjalan berbarengan dengan permintaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski memang, aku Dede, karena harga dan biaya perawatan yang selangit ini, bukan sembarang orang yang mencari burung-burung langka ini. Jika bukan pejabat, ya orang yang memang sudah hobi benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain harganya yang selangit, biaya perawatan burung-burung besar juga menguras kocek dalam-dalam. Lihat saja kebutuhan makannya. Burung-burung pemangsa ini harus diberi makan minimal dua ekor ikan lele dewasa setiap hari, pagi-sore. Bisa juga tiga kepala ayam per hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dede bercerita, belum lama ini ada orang yang mengaku sebagai suruhan seorang pejabat terkemuka negeri ini datang membeli sepasang rajawali sekaligus. Waktu itu mereka berani membayar Rp3 juta sepasang. "Katanya mau ditempatkan di sangkar besi yang besar," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka selama ada yang mencari dan berani membayar mahal, sang rajawali itu akan terus tenggelam dalam buntalan kain merah kumal itu. (*)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6229740364415250960-8202065167303235044?l=anindityowicaksono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/feeds/8202065167303235044/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/2009/10/rajawali-itu-terbuntal-kain.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6229740364415250960/posts/default/8202065167303235044'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6229740364415250960/posts/default/8202065167303235044'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/2009/10/rajawali-itu-terbuntal-kain.html' title='Rajawali itu Terbuntal Kain'/><author><name>Anindityo Wicaksono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06767330856974408139</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/Scz2ra1pbII/AAAAAAAAAr0/kSL6Y5gYhTQ/S220/Om+garenk2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/Ss3H2Fw56ZI/AAAAAAAAAyY/trLfr24xJgs/s72-c/pasar2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6229740364415250960.post-4087684664715014692</id><published>2009-05-23T18:37:00.005+07:00</published><updated>2009-05-23T18:53:35.926+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='berita'/><title type='text'>FISIP Undip Perbarui Pedoman Penulisan Karya Ilmiah</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;BERITA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Semarang, 23 Mei 2009&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);font-size:180%;" &gt;FISIP Undip Perbarui&lt;br /&gt;Pedoman Penulisan Karya Ilmiah&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Oleh Anindityo Wicaksono&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/ShfiTgrLAKI/AAAAAAAAAx8/_El6ZhTzB84/s1600-h/untitled.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 286px; height: 214px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/ShfiTgrLAKI/AAAAAAAAAx8/_El6ZhTzB84/s400/untitled.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5338984708087414946" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Sumber gambar: http://gcaptain.com)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;FAKULTAS &lt;/b&gt;Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro (Undip) Semarang terus berbenah terkait visi "Undip menuju universitas riset yang unggul di Indonesia". Sebuah tim yang terdiri dari 21 orang staf pengajarnya kini sedang menggodok pedoman baru penulisan karya ilmiah mahasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;"Pedoman baru ini ditargetkan selesai empat bulan mendatang. Hasil rumusan tim ini nantinya akan disosialisasikan kepada seluruh staf pengajar FISIP Undip," kata Sekretaris Tim Penyusunan Pedoman Karya Ilmiah FISIP Undip, dra. Apriatni Endang, Msi., ditemui di sela-sela rapat pleno pembahasan pedoman di ruang Prambanan lantai 2, Hotel Santika Semarang, Sabtu (23/5).&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tim yang terdiri dari seluruh ketua jurusan, sektretaris jurusan, dan perwakilan dosen dari masing-masing jurusan ini dibagi atas empat tim sesuai pokok bahasan yang menjadi tanggung jawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun tim penanggung jawab terdiri dari Pembantu Dekan I dra. Sri Widowati H, M.S. sebagai pengarah, Dr. Sunarto, M.Si. dari Ilmu Komunikasi (ketua pelaksana), dan dra. Apriatni Endang P, M.Si. dari Ilmu Administrasi Bisnis (sekretaris).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Apriatni, dalam rapat pleno yang berlangsung antara pukul 08.00—16.30 ini masing-masing tim diberi waktu secara bergantian untuk mempresentasikan kajian pedoman yang menjadi tugasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rinciannya yakni karya ilmiah kuantitatif dibawakan Tim Kuantitatif, karya ilmiah kualitatif (Tim Kualitatif), teknik penulisan karya ilmiah (Tim Penyusun Teknik Penulisan), dan pedoman penulisan makalah (Tim Penyusun Pedoman Penulisan Makalah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Seluruh anggota forum akan saling memberi masukan dan sanggahan dalam menelaah pemaparan masing-masing tim. Dari sini diharapkan dapat ditemukan rumusan pedoman yang paling ideal," terangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Merapikan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apriatni mengatakan, rumusan pedoman karya ilmiah kualitatif maupun kuantitatif mencakup metodologi-metodologi baru yang dapat diterapkan pada penulisan karya-karya ilmiah mahasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan untuk materi teknik dan pedoman penulisan, tambahnya, tatacara penulisan yang selama ini berlaku akan diperbarui. "Semisal pada sistematika penulisan per bab dan sub-bab, daftar isi, catatan kaki (&lt;i&gt;foot-note&lt;/i&gt;), catatan akhir (&lt;i&gt;end-note&lt;/i&gt;), atau daftar pustaka," katanya mencontohkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, "Tujuan akhir kegiatan ini adalah untuk merapikan dan memperbarui pedoman penulisan karya ilmiah yang sebelumnya berlaku." Hasil akhirnya yang berupa rumusan pedoman selanjutnya akan dijabarkan dalam buku pegangan mahasiswa mengenai pedoman penulisan karya ilmiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pedoman baru ini akan mulai berlaku di lingkungan FISIP Undip sejak disahkan melalui surat keputusan (SK) dekan, ujarnya. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dimuat di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;www.fisip.undip.ac.id&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6229740364415250960-4087684664715014692?l=anindityowicaksono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/feeds/4087684664715014692/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/2009/05/pedoman-penulisan-karya-ilmiah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6229740364415250960/posts/default/4087684664715014692'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6229740364415250960/posts/default/4087684664715014692'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/2009/05/pedoman-penulisan-karya-ilmiah.html' title='FISIP Undip Perbarui Pedoman Penulisan Karya Ilmiah'/><author><name>Anindityo Wicaksono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06767330856974408139</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/Scz2ra1pbII/AAAAAAAAAr0/kSL6Y5gYhTQ/S220/Om+garenk2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/ShfiTgrLAKI/AAAAAAAAAx8/_El6ZhTzB84/s72-c/untitled.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6229740364415250960.post-2438267042630842598</id><published>2009-05-22T20:00:00.002+07:00</published><updated>2009-05-22T20:15:07.979+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jurnalisme'/><title type='text'>Kunci Keberhasilan SOLOPOS (3-habis)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;JURNALISME&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Semarang, 22 Mei 2009&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);font-size:180%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kunci Keberhasilan SOLOPOS (3-habis)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh Anindityo Wicaksono (penyunting)&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/ShalQPpLhsI/AAAAAAAAAx0/QdIaxWOgXjM/s1600-h/SOLOPOS+-+Beteng+Plaza,+Mei+98.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 210px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/ShalQPpLhsI/AAAAAAAAAx0/QdIaxWOgXjM/s320/SOLOPOS+-+Beteng+Plaza,+Mei+98.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5338636106790045378" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;(Sumber gambar: Pusdok &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS, 2007)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PARA &lt;/span&gt;pakar yang menulis berbagai buku soal manajemen pemasaran, hampir tak satupun yang mengungkap adanya faktor keberuntungan dalam setiap upaya membangun sebuah usaha. Secara teoretis, dalam upaya membangun usaha sehingga bisa sukses harus melalui tahapan-tahapan perancangan matang mulai dari survei pasar, melakukan segmentasi, targeting hingga positioning.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Philip Kotler menyatakan bahwa manajemen pemasaran adalah, “Proses perencanaan dan pelaksanaan pemikiran, penetapan harga, promosi serta penyaluran gagasan, barang dan jasa untuk menciptakan pertukaran yang memenuhi sasaran-sasaran individu dan organisasi.” (Philip Kotler, 2002: 9).&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Lantas bagaimana proses penerimaan konsumen terhadap sebuah produk baru? Apakah para pakar manajemen pemasaran juga tak menyinggung soal keberuntungan? Kotler menyatakan bahwa pada awalnya, para pemasar menggunakan pendekatan pasar massal (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;mass-market approach&lt;/span&gt;) dalam meluncurkan produk mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka mendistribusikan suatu produk ke semua tempat dan mengiklankannya ke semua orang dengan asumsi bahwa kebanyakan orang merupakan pembeli potensial. Pendekatan itu ternyata mempunyai dua kelemahan: membutuhkan biaya besar dan melibatkan banyak pengungkapan padahal mereka bukan konsumen potensial (Philip Kotler, 2002: 404).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendekatan pemasaran kedua adalah apa yang disebut sebagai pemasaran dengan sasaran pemakai utama (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;heavy-user target marketing&lt;/span&gt;), yaitu produk mula-mula diarahkan kepada pemakai utama. Pendekatan itu masuk akal, asalkan para pemakai utama itu dapat diidentifikasi dan mereka juga merupakan penerima awal. Tetapi bahkan dalam kelompok&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemakai utama pun, konsumen memiliki perbedaan minat terhadap produk dan merk baru; banyak pemakai utama setia pada merk yang telah ada. Banyak pemasar produk baru sekarang mengarahkan strategi ke konsumen yang merupakan penerima awal yak pengungkapan padahal mereka bukan konsumen potensial (Philip Kotler, 2002: 405).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penerbitan pers&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut teori penerima awal (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;early-adopter theory&lt;/span&gt;), orang-orang yang ada di pasar sasaran memerlukan jumlah waktu yang berbeda dari saat mereka mengetahui produk baru sampai saat mereka mencobanya. Penerima awal juga disebut memiliki beberapa sikap tertentu yang membedakan mereka dari penerima kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penerima awal cenderung menjadi pemimpin opini dan berguna dalam mengiklankan produk baru tersebut ke pembeli potensial lain. Dalam teori manajemen pemasaran, dikenal pula adanya konsep tentang adanya lima tahap bagaimana seseorang bisa menerima produk baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, adalah tahap kesadaran (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;awareness&lt;/span&gt;) yaitu konsumen menyadari adanya inovasi tersebut tapi masih kekurangan informasi mengenai hal tersebut. Kedua, munculnya tahap minat (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;interest&lt;/span&gt;) dimana konsumen terdorong untuk mencari informasi mengenai inovasi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahap ketiga konsumen memasuki tahap mempertimbangkan untuk mencoba inovasi atau tahap evaluasi (evaluation), keempat tahap percobaan (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;trial&lt;/span&gt;) di mana konsumen mencoba inovasi tersebut untuk memperbaiki perkiraannya atas nilai inovasi tersebut dan tahap kelima atau terakhir adalah tahap penerimaan (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;adoption&lt;/span&gt;), yaitu konsumen memutuskan untukmenggunakan inovasi tersebut sepenuhnya secara teratur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari uraian di atas, jelas bahwa faktor keberuntungan tak pernah diakui secara ilmiah sebagai salah satu faktor yang menyebabkan sebuah produk baru bisa diterima oleh konsumen. Namun demikian, dalam bisnis penerbitan pers –setidaknya dalam kasus Harian &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS&lt;/span&gt;—ada beberapa kalangan yang menyebut bahwa faktor keberuntungan menjadi salah satu penentu diterimanya produk koran baru di wilayah Solo dan sekitarnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sakdani Darmopamujo, sebagai orang yang mempunyai banyak pengalaman dalam membuat penerbitan media massa di Kota Solo mengatakan bahwa dalam kasus Harian &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS&lt;/span&gt;, momentum kerusuhan di Kota Solo pada bulan Mei 1998 menjadi salah satu faktor pendukung keberhasilan koran ini terbit di Solo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ketika &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS &lt;/span&gt;lahir, terus terang saya meragukan (bisa hidup). Saya kenal Pak Kamdani (Sukamdani S Gitosardjonored), tapi kekuatan dananya kuat. Saya dulu ragu-ragunya kok namanya SOLOPOS, itu kan sangat lokal. Tapi dalam perkembangannya mungkin kemampuan redaksional, kemampuan pasar, pada waktu bersamaan peristiwa Mei bakar-bakaran di Solo (menjadi pendukung),” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, ketika kerusuhan terjadi, koran-koran yang biasa masuk Kota Solo ketika itu sama sekali tidak bisa hadir. “Waktu peristiwa di Solo itu koran-koran lainnya tidak hidup istilahnya, lalu ada yang berani membuat harian (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS&lt;/span&gt;) sekaligus waktu itu langsung terekspos. Saya ada pengalaman lain, dulu ketika Darma Nyata itu pernah didongkrak oleh berita ketika Solo terjadi obong-obongan China sekitar tahun 1981-1982. Berita itu akhirnya saya manfaatkan juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS &lt;/span&gt;bersamaan dengan peristiwa itu ada momentumnya. Andaikata Solo tidak terjadi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;obong-obongan&lt;/span&gt; belum tentu jadi (seperti sekarang). Tentu saja saya harus diakui bahwa manajemennya mampu dan lebih profesional,” kisahnya (Mulanto Utomo, 2007: 113).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dipaparkan Sakdani tersebut bermakna bahwa ada faktor keberuntungan yang menyebabkan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS &lt;/span&gt;bisa menjadi besar. Hal itupun diakui oleh salah seorang perintis koran ini, Bambang Natur Rahardi selaku Pemimpin Perusahaan, sekalipun “keberuntungan” itu bukan semata-mata sesuatu hal yang turun dari langit, namun juga karena ada faktor pembelajaran yang dilakukan manajemen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya lihat, yang dimaksud keberuntungannya itu sebetulnya lebih sebagai suatu momentum. Jadi tujuh sampai delapan bulan sejak kita mengeluarkan produk &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS &lt;/span&gt;ke masyarakat, pertumbuhannya tidak signifikan. Dari cetak 10.000 cenderung turun ke bawah sampai ke titik nadir sekitar 4.000-5.000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu pergerakannya hanya 3.000, 3.500, 4.000 itu paling tinggi pada tujuh sampai delapan bulan pertama. Tapi dengan momentum kerusuhan itu mungkin yang membuat masyarakat tibatiba harus mengatakan saya harus memakai produk (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS&lt;/span&gt;) ini,” terangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun demikian, menurut Bambang Natur, ada fenomena dari sisi pemasaran setelah ada momentum tersebut. Dari sisi pemasaran, sesuatu yang fenomenal itu adalah bagaimana mengubah persepsi orang dalam waktu pendek dan seketika bisa menerima dari produk lama ke produk baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Bambang Natur, untuk melihat kasus tersebut butuh kajian sendiri dan karena kasus ini mungkin agak unik. “Saya berpikir begini, kayaknya orang pada saat kerusuhan itu tingkat kesadaran merknya hilang. Tiba-tiba ada merk baru yang bisa mereka anggap bagian dari mereka. Mereka terima, dan mulai hari itu mereka bergerak, saya mulai pakai produk ini,”&lt;br /&gt;jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Momentum&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertumbuhan pembaca &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS &lt;/span&gt;memang beda dengan pertumbuhan iklan. Pertumbuhan pembaca bisa tumbuh secara tiba-tiba ketika orang merasa ada kebutuhan untuk membaca &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS&lt;/span&gt;, sementara untuk memberi penyadaran orang untuk beriklan membutuhkan edukasi atau proses pembelajaran, sehingga tidak ada istilah keajaiban. Menurut data yang ada, di awal-awal &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS&lt;/span&gt;, pertumbuhan iklan ternyata lebih lambat ketimbang pertumbuhan pembaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kalangan menilai pada saat kerusuhan Mei 1998, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS &lt;/span&gt;mampu mengangkat isu secara tepat. Dan isu-isu kerusuhan yang diangkat saat itu ternyata sesuai kebutuhan masyarakat. Dari situlah awal ketertarikan awal masyarakat Solo dan sekitarnya kepada &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS &lt;/span&gt;dan terus berproses menjadi kepercayaan masyarakat kepada koran ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ntok Pancowarno, salah seorang yang sejak tahun 1960-an ikut bergelut untuk membangun pers cetak di Solo, juga menyebut hal yang sama tentang momentum kerusuhan Mei itu. Dia menilai pada awalnya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS &lt;/span&gt;hampir saja menambah jumlah bangkai koran di Kota Solo. Saat itu masyarakat Solo belum menerima &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS &lt;/span&gt;sebagai korannya orang Solo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat kerusuhan terjadi, lanjut Ntok, orang Solo mulai butuh informasi tentang kerusuhan. Koran-koran lain ternyata menulis secara terbatas, sementara &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS &lt;/span&gt;mengekspos agak besar peristiwa tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Foto-foto dan beritanya itu dibutuhkan orang-orang Solo yang kepingin tahu tentang kotanya. Naik oplahnya, begitu kerusuhan reda sudah tenang, hening itu turun tapi nyantholnya tinggi sekali. Terus mulai hari demi hari orang mulai butuh &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS&lt;/span&gt;,” bebernya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, Ntok menyebut profesionalisme sebagai nilai tambah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS &lt;/span&gt;sehingga mampu bertahan dan berkembang setelah momentum kerusuhan itu berakhir. Sebab momentum seperti itu pernah pula terjadi jauh sebelum &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS &lt;/span&gt;ada dan pada saat yang bersamaan telah pula terdapat media lokal. Namun media itu tak mampu memanfaatkannya karena ketiadaan profesionalitas para pengelola.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di Solo waktu ada kerusuhan Cina (tahun 1980-an), satu-satunya koran di Solo dan sekitarnya hanya Dharma Nyata. Tapi Dharma Nyata tidak pernah memanfaatkan itu karena mingguan. Satu lembar isinya berita harian tapi terbitnya mingguan, ” jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Momentum yang terkadang diartikan sebagai sebuah keberuntungan atau karunia (blessing) dengan balutan profesionalisme, akhirnya memang menjadi kata kunci pertumbuhan sebuah perusahaan pers yang sedang dibangun. Koran sebesar Kompas pun, seperti dipaparkan Jakob Oetama sebagai salah seorang perintis, juga mengalami masa perkembangan yang sangat signifikan ketika memperoleh momentum yang tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan koran ini (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kompas&lt;/span&gt;) barulah terjadi setelah ada perubahan besar dalam tahun 1965, setelah peristiwa G.30.S/PKI. Pada mulanya perkembangan itu disebabkan oleh, pertama, peristiwa yang tegang setelah peristiwa G.30S/PKI, kedua adanya kebebasan pers yang lebih leluasa dibandingkan dengan periode sebelumnya dan ketiga adalah kemungkinan embrio sikap profesionalisme dalam redaksi maupun dalam pengelolaan bisnis yang berupa sirkulasi, iklan serta pengelolaan keuangan. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dikutip dari Buku &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS, Satu Dasawarsa Meningkatkan Dinamika Masyarakat&lt;/span&gt; karya Mulyanto Utomo [2007], halaman 75-92)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6229740364415250960-2438267042630842598?l=anindityowicaksono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/feeds/2438267042630842598/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/2009/05/kunci-keberhasilan-solopos-3-habis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6229740364415250960/posts/default/2438267042630842598'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6229740364415250960/posts/default/2438267042630842598'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/2009/05/kunci-keberhasilan-solopos-3-habis.html' title='Kunci Keberhasilan SOLOPOS (3-habis)'/><author><name>Anindityo Wicaksono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06767330856974408139</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/Scz2ra1pbII/AAAAAAAAAr0/kSL6Y5gYhTQ/S220/Om+garenk2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/ShalQPpLhsI/AAAAAAAAAx0/QdIaxWOgXjM/s72-c/SOLOPOS+-+Beteng+Plaza,+Mei+98.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6229740364415250960.post-3910267589056443793</id><published>2009-05-22T19:50:00.006+07:00</published><updated>2009-05-23T18:23:37.006+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jurnalisme'/><title type='text'>Kunci Keberhasilan SOLOPOS (2)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;JURNALISME&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Semarang, 22 Mei 2009&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);font-size:180%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kunci Keberhasilan SOLOPOS (2)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh Anindityo Wicaksono (penyunting)&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/Shahp6AsKeI/AAAAAAAAAxs/OObQB_5D4tE/s1600-h/Prof+Dr+H+Sukamdani+Sahid+Gitosardjono+saat+peresmian+SOLOPOSFM.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 200px; height: 244px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/Shahp6AsKeI/AAAAAAAAAxs/OObQB_5D4tE/s320/Prof+Dr+H+Sukamdani+Sahid+Gitosardjono+saat+peresmian+SOLOPOSFM.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5338632149613160930" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Sumber gambar: Pusdok &lt;/span&gt;SOLOPOS&lt;span style="font-style: italic;"&gt;, 2007)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;NTOK &lt;/span&gt;Pancowarno, salah seorang saksi sejarah penerbitan pers di Kota Solo sejak tahun 1960-an hingga tahun 1990-an menyatakan pers yang pernah terbit di Solo akhirnya terkubur lebih banyak diakibatkan kurang profesionalnya organisasi industri itu secara keseluruhan (Mulyanto Utomo, 2007: 97).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Solo punya julukan kuburan koran, itu karena koran yang ditangani waktu itu tidak ada yang profesional. Sebenarnya ada beberapa penulis (wartawan) yang potensial waktu itu, seperti Pak Nur Sahid, Pak Anjar Any dan Pak Sakdani. Mereka itu sudah boleh dikatakan bertaraf nasional. Tapi dalam pengelolaannya tidak ada rambu-rambu yang dibuat pimpinan secara jelas, jadinya ya macet," katanya.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kalau misalnya waktu itu pemimpin membuat kebijakan merekrut orang yang mampu dan dibayar secara layak, mungkin beda sejarahnya. Beberapa ide pernah Ntok lontarkan, tapi tidak pernah digubris pimpinan, walaupun benar atau salahnya ide itu belum diuji. Misalnya soal mekanisme perekrutan tenaga, menurut dia itu penting sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ngapain &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sih &lt;/span&gt;kita digaji segitu (tak cukup layak)? Waktu itu dua ratus ribu. Sebelumnya bahkan kita digaji enam puluh ribu. Ngapain kita digaji sementara tidak ada prospek. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mbok &lt;/span&gt;sudah aku nggak usah digaji, gajiku &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kuwi dikumpulke kanca&lt;/span&gt;-&lt;span style="font-style: italic;"&gt;kanca &lt;/span&gt;untuk merekrut orang yang mampu. Kontrak satu tahun misalkan. Aku malah dikira sok pahlawan.” ujar Ntok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sakdani Darmopamudjo mengatakan tahun 1982 &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Darma Nyata&lt;/span&gt; dibuat menjadi bahasa Indonesia. Karena juga sebagian tidak profesional, dalam artian teman-teman (yang bekerja) itu masih merangkap, misalnya merangkap jadi guru dan sebagainya. Yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;full &lt;/span&gt;ada tapi tidak banyak, terutama penentu-penentu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;policy &lt;/span&gt;orangnya merangkap. Sebenarnya pada tahun itu juga berjalan tapi juga rugi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sakdani menuturkan bahwa dia aktif di koran mulai 1965-1966. Sebelumnya dia adalah penulis lepas, pengarang di berbagai majalah, surat kabar. Pertama masuk di  Mingguan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Andika &lt;/span&gt;di Mesen. Pengusahanya namanya Masi Sen seorang Tionghoa, dia juga pengusaha toko emas. Sakdani membuka rubrik &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pisungsung &lt;/span&gt;berbahasa Jawa. Kemudian &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Andika &lt;/span&gt;pecah menjadi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Andika&lt;/span&gt; lalu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Andika Baru&lt;/span&gt;. Sakdani juga mengaku pernah di Mingguan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Gelora Berdikari&lt;/span&gt; yang terbit bersama &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Andika &lt;/span&gt;tahun 1965-1967.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Gelora Berdikari &lt;/span&gt;dulu milik PNI. Pecahnya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Andika &lt;/span&gt;dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Andika Baru &lt;/span&gt;karena manajemennya tidak rukun dan aturan-aturannya tidak kuat. Lalu ada &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Gelora Berdikari &lt;/span&gt;yang tetap terbit, tetapi kemudian tahun 1969 karena ada pemikiran masyarakat terutama masyarakat pecinta bahasa Jawa perlu ada koran berbahasa Jawa. Kemudian lahirlah yang namanya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Darmo Kondo&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kebetulan saya yang menjadi Pemimpin  Redaksi. Tapi itu dilakukan karena adanya kesimpulan, keputusan Musyawarah Kerja Pengarang Sastra Jawa. Yang keputusannya adalah mendirikan koran di Yogya dan Solo. Akhirnya saya kembangkan menjadi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Darmo Kondo&lt;/span&gt;. Modalnya dari beberapa, tidak hanya dari satu orang tetapi juga dari yayasan. Begitu lahir lalu besar sekali, jumlahnya sampai 33 ribu. Tapi tidak langgeng karena pecah lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya (Sakdani) sebagai Pemimpin Redaksi, Pak Tukijo sebagai pemimpin umum tidak cocok dengan manajemen. Unsur-unsurnya ya unsur kurang transparan. Pemimpin Redaksi usianya masih muda yaitu usia 28 tahun. Lalu terjadilah konflik yang akhirnya pecah. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Darmo Kondo&lt;/span&gt; sendiri saya membuat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Darma Nyata&lt;/span&gt;. Pemimpin Redaksi nya diganti Pak Maryono yang waktu itu Ketua PWI. Karena dananya lebih, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Darma Nyata &lt;/span&gt;dapat berkembang sejak tahun 1970 berkembang sampai tahun 1982.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanannya hingga mencapai sepuluh tahun, manajemen Harian &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS &lt;/span&gt;oleh informan yang diwawancarai dinilai telah dikelola sebagai mana layaknya sebuah organisasi industri modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sakdani mengatakan, “Yang dimaksud ‘hidup’-nya sebuah media massa itu kan ada hidup yang dalam tanda petik dan juga hidup sesungguhnya. Mingguan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Adil &lt;/span&gt;itu misalnya, juga &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Darma Nyata &lt;/span&gt;meskipun mampu 28 tahun hidup, tapi hidupnya ya... (seadanya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya (ketika mengelola pers) dikenal teman-teman agak mendingan dalam memberi kesejahteraan. Ada perusahaan pers yang gajinya hanya bisa buat beli es saja. Nah itu pengertian hidup itu kan harus sehat dalam artian yang sebetulnya, karyawan harus sejahtera. Solo bertahun-tahun begitu, karena lahirnya pers di Solo ada ambisi dari orang pers di Solo. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS &lt;/span&gt;itu menurut saya campuran dari keberhasilan yaitu momennya pas, manajemennya yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Organisasi yang mengelola pers memang harus seimbang. Kalau kita hanya fokus idealisme, nanti apa yang dipakai buat makan karyawan? Kasarannya kan begitu. Nah sekarang kan banyak teman-teman yang tidak mengindahkan idealisme tadi. Jadi ibarat orang berumah tangga, bukan rasa cinta, kasih sayangnya, tapi seksnya saja. Itu kan harus dipadukan. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS &lt;/span&gt;sudah melakukan itu.” (Mulyanto Utomo, 2007: 98-99).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Modal usaha&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budaya korporasi profesional yang terbentuk di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS &lt;/span&gt;bukan terbangun secara serta merta namun melalui proses panjang karena pengaruh komitmen kuat para pendiri lebih khusus lagi para pimpinan. Pengaruh kepemimpinan yang tegas, tanpa kompromi ketika ada pelanggaran telah membentuk budaya disiplin, etos kerja rasa tanggung jawab di tingkat korporasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketegasan dalam meneggakkan aturan tanpa kompromi ini yang kemudian menimbulkan kepercayaan dari publik. Hal ini pula yang membedakan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS &lt;/span&gt;dengan koran lain. Budaya kerja seperti ini yang perlu diteruskan dari generasi awal koran ini hingga saat ini dan ke depan. Budaya kerja tersebut salah faktor yang membuat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS &lt;/span&gt;tetap eksis meski menghadapi para pesaing-pesaingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang akuntan publik di Solo, Rachmad Wahyudi, juga menyebut pengaruh kepemimpinan telah membangun budaya perusahaan dan etos kerja karyawan secara profesional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya bukan mengagung-agungkan atau melebih-lebihkan seorang Pak Danie (Danie H Soe’oed, Pemred) atau Pak Natur (Bambang Natur Rahadi, Pemimpin Perusahaan), tapi apa yang sudah mereka lakukan itu patut diteladani dan secara jujur harus kita akui eksistensinya," ujar Rachmad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengutip wawancara Harian &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kompas &lt;/span&gt;dengan Pimred Majalah Berita Mingguan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tempo&lt;/span&gt; Goenawan Muhamad yang menyatakan bahwa pers di Indonesia telah berkembang ke arah suatu bisnis, Jakob Oetama berpendapat bahwa pers Indonesia memang telah memasuki fase baru yang dalam pertumbuhannya menunjukkan perbedaan yang mencolok dengan postur pers masa lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pers dulu, tambahnya, umumnya hanya terdiri dari redaksi yang hanya menguasai proses produksi berita; mesin cetak milik orang lain, iklan tidak banyak, oplah juga terbatas.  Pers sekarang menjadi lembaga yang lengkap; redaksi, percetakan, manajemen (modern). Ada iklan cukup banyak pencapaian oplah di atas 100.000. Penampilan koran dan majalah itu pun modern, bertata warna dan memberikan kesan ditangani secara profesional (Jacob Oetama, 2001: 303).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkaca dari Harian &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kompas&lt;/span&gt;, seperti dipaparkan Jakob Oetama selaku perintis penerbitan koran nomor satu di Indonesia yang terbit mulai 28 Juni 1965 itu, pada awalnya juga dibangun dalam suatu keterbatasan bahkan kesulitan dalam semua bidang, mulai personalia dalam bidang redaksi hingga personalia bidang distribusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tetapi kesulitan terbesar pada waktu itu adalah percetakan sehingga harus berpindah-pindah. Perubahan politik besar pada tahun 1965 telah membuat distribusi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kompas &lt;/span&gt;bisa ditangani sendiri. Tahun 1972 kami memiliki mesin percetakan sendiri berkat tersedianya kredit modal dari bank pemerintah asal sanggup menyediakan sisanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Embrio sikap profesionalisme dalam redaksi maupun dalam pengelolaan bisnis berupa sirkulasi, iklan serta pengelolaan keuangan menjadi salah satu faktor penting tumbuhnya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kompas &lt;/span&gt;sejak itu,” terang Jacoeb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal tersebut berarti pula bahwa modal usaha menjadi hal yang sangat penting dalam penerbitan pers modern yang menekankan profesionalisme sebagai landasan usaha. Begitu pula dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS &lt;/span&gt;saat pertama kali dibangun, untuk mencapai visi yang ditetapkan oleh para dewan pendiri bahwa penerbitan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS &lt;/span&gt;harus dilaksanakan secara profesional maka perlu dukungan dana yang memadai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Profesionalisme&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bambang Natur Rahadi selaku Pemimpin Perusahaan Harian &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS &lt;/span&gt;kala itu menyebut bahwa pemodal, dalam hal ini PT Jurnalindo Aksara Grafika (penerbit Harian &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bisnis Indonesia&lt;/span&gt;) memiliki komitmen untuk menerbitkan koran daerah di Solo ini. Artinya, segala kebutuhan finansial yang berkait dengan sumber daya manusia maupun infrastruktur semaksimal mungkin akan dipenuhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dana yang disediakan untuk &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS &lt;/span&gt;waktu itu awalnya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;no limit &lt;/span&gt;(tidak ada batas). Dalam proyeksi anggaran dari bagian keuangan itu sudah dibuat perkiraan dana selama lima tahun. Dan diproyeksikan dalam tempo lima tahun itu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS &lt;/span&gt;diproyeksi baru untung. Namun karena proyek &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS &lt;/span&gt;berbarengan dengan krisis ekonomi, maka itu menjadi persoalan tersendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski awalnya dana untuk &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS &lt;/span&gt;tidak terbatas, kenyataannya setelah jalan bulan ke-7 sudah tidak ada lagi bahasa no limit karena pada saat-saat seperti itu uang sudah menjadi persoalan termasuk di Bisnis Indonesia selaku induk perusahaan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau mau jujur sebetulnya di bulan-bulan ke-6 setelah terbit itu kami sudah mulai kesulitan karena di Jakarta (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bisnis Indonesia&lt;/span&gt;) sendiri sudah ribut. Sampai tahun pertama waktu mulai Maret masuk sampai bulan Maret tahun 1998 saya kira sudah lebih dari Rp3 miliar habis. Dan uang Rp3 miliar waktu itu sudah sangat besar,” ungkap Bambang Natur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Modal menjadi komponen penting dalam industri pers, karena menurut Jakob Oetama realitas yang berkembang dalam sejarah pers di seluruh dunia memang ke arah profesionalisme seperti itu. Jika pers tidak dapat membiayai dirinya dari penghasilan langganan dan iklan –atau dengan kata lain dari usahanya sendiri—maka pers itu harus memperoleh subsidi dari pihak lain; pemerintah, organisasi politik, atau organisasi kepentingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam situasi demikian pers akan terhambat perkembangan profesionalisme dan kebebasannya. Pers yang dalam posisi demikian justru tidak akan dapat menjalankan fungsi “kerohaniannya” atau –yang oleh masyarakat pers kita sering disebut—peranan idealnya (Jacob Oetama, 2001: 307).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presiden Komisaris Kelompok Kompas Gramedia itu berpendapat, pers tidak dibagi-bagikan secara gratis. Surat kabar yang digratiskan akan kehilangan minat pembacanya, karena dianggap kurang bobot kredibilitasnya. Surat kabar dijual, kecuali untuk memenuhi porsi kredibilitasnya, juga karena proses produksinya memerlukan biaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu berarti bahwa pers sebagai industri harus memperoleh keuntungan yang berfungsi sebagai komponen untuk keberlangsungan hidup surat kabar itu sendiri; sebab jika hanya impas—sementara ongkos-ongkos produksinya cenderung naik—tidaklah mungkin surat kabar itu mempertahankan kehadirannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat kabar yang dapat hidup dari penghasilannya sendiri akan lebih dapat menjalankan tanggung jawab idealnya dan memelihara kebebasan yang diperlukan untuk dapat melaksanakan tanggung jawabnya secara memadai (Jacob Oetama, 2001: 308).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bersambung....&lt;/span&gt; (*)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6229740364415250960-3910267589056443793?l=anindityowicaksono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/feeds/3910267589056443793/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/2009/05/kunci-keberhasilan-solopos-2.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6229740364415250960/posts/default/3910267589056443793'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6229740364415250960/posts/default/3910267589056443793'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/2009/05/kunci-keberhasilan-solopos-2.html' title='Kunci Keberhasilan SOLOPOS (2)'/><author><name>Anindityo Wicaksono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06767330856974408139</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/Scz2ra1pbII/AAAAAAAAAr0/kSL6Y5gYhTQ/S220/Om+garenk2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/Shahp6AsKeI/AAAAAAAAAxs/OObQB_5D4tE/s72-c/Prof+Dr+H+Sukamdani+Sahid+Gitosardjono+saat+peresmian+SOLOPOSFM.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6229740364415250960.post-8779553495862833148</id><published>2009-05-22T19:27:00.005+07:00</published><updated>2009-05-23T18:27:21.901+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jurnalisme'/><title type='text'>Kunci Keberhasilan SOLOPOS (1)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;JURNALISME&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Semarang, 22 Mei 2009&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);font-size:180%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kunci Keberhasilan SOLOPOS (1)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh Anindityo Wicaksono (penyunting)&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/ShafFXCL4SI/AAAAAAAAAxk/blZQP5vwpVk/s1600-h/SOLOPOS+-+Kendaraan+Hias.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 219px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/ShafFXCL4SI/AAAAAAAAAxk/blZQP5vwpVk/s320/SOLOPOS+-+Kendaraan+Hias.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5338629322725646626" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Sumber gambar: Pusdok &lt;/span&gt;SOLOPOS&lt;span style="font-style: italic;"&gt;, 2007)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;DARI &lt;/span&gt;berbagai penerbitan yang lahir di Kota Solo, boleh dikatakan sejauh ini baru &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS&lt;/span&gt; yang tercatat mampu hidup secara komersial serta bertahan dengan tingkat kredibilitas cukup tinggi di kalangan masyarakat. Secara faktual, salah satu hal yang menjadikan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS&lt;/span&gt; mampu bertahan adalah terkait dengan masih dipercayainya harian ini sebagai salah satu acuan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan informasi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini bisa dibuktikan dengan respons publik baik pembaca maupun nara sumber yang masih menjadikan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS &lt;/span&gt;sebagai referensi mereka untuk mengetahui serta menyampaikan berita di wilayah eks Karesidenan Surakarta. Kepercayaan, adalah salah satu kata kunci yang menjadikan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS &lt;/span&gt;tetap dibaca masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Gaye Tuchman (1978), menyebut proses pembuatan berita di ruang redaksi (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;news room&lt;/span&gt;) dengan nilai-nilai yang menyertainya menjadi hal yang menentukan dalam menyusun berita. Dalam konteks sejarah, pers telah berperan dalam memfasilitasi publik yang rasional. Atau pers berperan dalam memfasilitasi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;public sphare&lt;/span&gt; sebagaimana pada sejarah Eropa Abad ke-18-19. Pers dengan isu-isu yang diangkat akan menjadi bahan bagi pembicaraan publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks demikian, maka proses &lt;span style="font-style: italic;"&gt;encoding &lt;/span&gt;di dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;newsroom &lt;/span&gt;Harian &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS &lt;/span&gt;memiliki peran yang sangat penting bagaimana nilai-nilai ideologi jurnalis, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;corporate culture&lt;/span&gt; (budaya perusahaan) dilaksanakan dengan konsistensi tinggi oleh seluruh awak di redaksi (Antoni, 2004). Namun dalam pers modern, di mana media massa telah berubah menjadi sebuah industri, bidang usaha (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;business department&lt;/span&gt;) juga memiliki peran yang sangat besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya, ciri khusus industri pers profesional yang memisahkan secara tegas garis kebijakan redaksi dengan usaha seperti telah dilakukan Harian &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS&lt;/span&gt;, menjadikan koran ini sejauh ini masih menjadi referensi terpercaya untuk memenuhi kebutuhan informasi masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harian &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS &lt;/span&gt;sebagai salah satu bentuk media massa (pers) pada umumnya, merupakan produk ideologis yang mempunyai misi tertentu sehingga tidak sama dengan produk barang lainnya. Karena itu pula, penyelesaian pekerjaan penerbitan pers melibatkan banyak personel yang ada di bidang redaksional, bidang usaha dan bidang percetakan, dengan segala latar belakang kemampuan mereka guna menuangkan segala ide dan gagasan, menciptakan suatu produk penerbitan berkualitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu diperlukan suatu sistem kerja yang saling memahami, saling mengerti dan memiliki rasa tanggung jawab penuh terhadap bidang masing-masing. Dalam memproduksi suatu penerbitan pers, masing-masing bidang mempunyai tanggung jawab, peran serta tujuan yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu manajemen penerbitan pers harus mampu menciptakan, memelihara dan menerapkan sistem kerja yang proporsional dengan menumbuhkembangkan rasa kebersamaan di antara sesama personel (karyawan). Tidak boleh ada salah satu bidang perusahaan penerbitan pers, merasa paling penting sendiri. Untuk kepentingan itu diperlukan suatu tatanan kerja dalam organisasi perusahaan penerbitan pers.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simpulan dari pernyataan di atas, berarti faktor idealisme dan bisnis dalam perusahaan penerbitan pers modern harus berjalan agar perusahaan penerbitan pers itu dipercaya publik. Faktor-faktor itu pulalah yang oleh beberapa kalangan di internal maupun eksternal perusahaan dikatakan telah membuat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS &lt;/span&gt;mampu bertahan hidup dan berkembang sebagai koran daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengelolaan secara profesional antara bidang redaksi dan bidang usaha telah membuat koran ini mampu bertahan sebagai sebuah industri yang sangat sehat. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS &lt;/span&gt;sebagai perusahaan yang sangat sehat, baik ditinjau dari sisi keuangan, maupun dari sisi pemasaran &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manajemen &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS &lt;/span&gt;dari awal memang menekankan manajemen pers modern. Jadi antara redaksi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;room &lt;/span&gt;dan bisnis &lt;span style="font-style: italic;"&gt;room &lt;/span&gt;itu memang betul-betul berdampingan dan itu membikin &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS &lt;/span&gt;bisa mencapai hasil seperti sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indikasi kesehatan keuangan perusahaan itu dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;cashflow&lt;/span&gt;-nya yang sehat. Di samping mempunyai idealisme pers, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS &lt;/span&gt;juga betul-betul profesional dalam menentukan produksi maupun menentukan harga jual produk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Budaya organisasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk organisasi perusahaan penerbitan pers yang baku, hingga saat ini masih belum ada. Masing-masing perusahaan menyusun organisasi tata kerjanya berdasarkan keadaan serta misi yang dimiliki. Tetapi secara sederhana, organisasi perusahaan penerbitan pers umumnya tersusun dalam bidang-bidang redaksi (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;editor department/newsroom&lt;/span&gt;), bidang usaha (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;business&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;department&lt;/span&gt;) dan bidang percetakan (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;printing department&lt;/span&gt;) (Totok Juroto, 2000).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatanan organisasi yang khas seperti itu, tentu saja baru akan bisa berjalan baik jika strukturnya tersusun sesuai dengan kebutuhan. Bahkan Stephen P Robbins, dalam bukunya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Perilaku Organisasi&lt;/span&gt; (2001), menyebut bahwa struktur-struktur dalam organisasi akan mempengaruhi sikap dan perilaku para karyawannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stephen kemudian mengurai, bahwa struktur organisasi itu menetapkan cara tugas pekerjaan dibagi, dikelompokkan dan dikoordinasi secara formal. Ada enam unsur kunci yang perlu disampaikan kepada manajer bila mereka merancang struktur organisasinya. Elemen-elemen tersebut adalah: spesialisasi pekerjaan, departementalisasi, rantai komando, rentang kendali, sentralisasi dan desentralisasi, serta formalisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keenam unsur itu merupakan jawaban atas pertanyaan struktural yang penting dari; pada tingkat apa tugas dibagikan dalam pemisahan pekerjaan? Dalam basis apa pekerjaan dikelompokkan bersama-sama?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk siapa pekerjaan dilakukan untuk individu dan kelompok? Berapa banyak individu yang dapat diatur secara efisien dan efektif? Di mana letak wewenang pengambilan keputusan? Pada tingkat apa suatu aturan dan kemudahan akan mengatur pekerja dan manajer? (Stephen Robbins, 2003: 177-204).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari uraian di atas dapatlah disebut bahwa struktur internal suatu organisasi membantu menjelaskan dan meramalkan perilaku. Artinya, di samping faktor individu dan kelompok, hubungan struktural di mana orang-orang bekerja mempunyai pengaruh yang penting pada sikap dan perilaku karyawan. Apa yang merupakan dasar untuk argumen bahwa struktur mempunyai suatu dampak baik pada sikap maupun pada perilaku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai tingkat mana struktur suatu organisasi mengurangi ambiguitas untuk karyawan dan memperjelas hal-hal seperti; “Apa yang harus saya lakukan?” “Bagaimana seharusnya saya melakukan itu?” “Kepada siapa saya melapor?” dan “Kepada siapa saya harus bicara bila menemukan masalah?”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Struktur itu membentuk sikap mereka dan mempermudah serta memotivasi mereka ke tingkat kinerja yang lebih tinggi (hal 205). Kata kunci yang bisa ditarik dari peran penting sebuah organisasi adalah “budaya korporasi”. Andre A. Hardjana, mengutip Terrence Deal dan Allen Kennedy (1982); Charles Hampden-Turner (1990); John Kotter dan James Heskett (1992); menyebut budaya korporasi sebagai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;corporate culture&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatian terhadap budaya korporasi ini muncul pada saat timbul kesadaran bahwa kerangka kerja organisasi, seperti teknologi, sistem, struktur, strategi, gaya kepemimpinan dan karyawan tidak dapat dipisahkan dari landasan nilai-nilai yang hidup dan dihayati. Artinya rasionalitas organisasi dalam mengejar tujuan bersama tidak lepas dari posisi sentral martabat manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rapat redaksi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan sejarah menunjukkan bahwa serangkaian studi tentang budaya korporasi kekalahan Barat dalam persaingan melawan Jepang dalam industri otomotif di tahun 1970-an, meskipun dari segi teknologi, struktur organisasi dan sistem kerja serta insentif ekonominya tidak terlihat perbedaan mencolok (Stephen Robbins, 2003).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan struktur organisasi dan peran pemimpin di Harian &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS &lt;/span&gt;dan mampukah menciptakan budaya organisasi yang kondusif? Setidaknya sesuai dengan prinsip-prinsip organisasi perusahaan penerbitan pers profesional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana pula dengan pandangan pihak eksternal, khususnya mereka yang pernah menggeluti pers di Solo? Danie H Soe’oed, Wakil Pemimpin Umum &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS&lt;/span&gt;, menyatakan media massa sekarang sudah menjadi industri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya katakan, industri koran bukan lagi melulu mengusung idealisme, tapi juga memikirkan sisi bisnis. Taruhlah kami bikin koran penuh dengan idealisme, tapi kalau tidak laku dijual bagaimana? Segi bisnis juga harus dipertimbangkan. Sekarang faktanya dalam berita-berita lokal ketika ada Pilkada lokal itu kan masyarakat yang tahu. Nah yang kita ungkapkan itu yang diketahui masyarakat, sehingga itu yang kita jadikan bahan, informasi apa yang sedang dibutuhkan masyarakat bukan karena ada kepentingan siapapun,” ujar Danie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai dengan sistem organisasi industri pers yang profesional di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS&lt;/span&gt;, rapat redaksi adalah forum tinggi dalam menetapkan layak muat atau tidaknya sebuah berita. “Paling tidak hal itu dibicarakan sehingga nanti kalau ada kesalahan atau apa berarti kita kecolongan. Ketika koran lain mengangkat berita A kenapa kita mengangkat berita B. Mereka yang bertanggung jawab pada rapat itu. Misalkan saya tidak ikut rapat akan saya tanya, kenapa pilihannya seperti itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi ada penjelasan-penjelasan yang harus logis dan dapat diterima oleh kita semua dalam rapat redaksi itu. Tanpa kehadiran Pemred, seharusnya rapat redaksi tetap berjalan. Mekanisme harus jalan terus, yang berjalan kan sistem bukan orang. Seperti waktu saya pergi seminggu, ya rutin pelaksana harian (Redpel) memberikan laporan. Tetapi saya tidak perlu mengawasi 24 jam seperti itu. Jadi sistem yang jalan,” jelas Danie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait dengan struktur organisasi perusahaan pers di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS &lt;/span&gt;di mana terdapat bidang keredaksian dan bidang usaha, sebagai penopang bisnis badan usaha memang seringkali ada perbedaan kepentingan. Misalnya ketika ada perusahaan yang mau pasang iklan, dia minta perusahaan itu diberitakan sebagai “imbalan” atas pemasangan iklan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika menghadapi kondisi demikian, pihak &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS &lt;/span&gt;selalu mengatakan bahwa perusahaan Anda bisa diberitakan asal fakta yang ditampilkan memang layak berita. Kalau fakta yang disodorkan ternyata tidak memenuhi kelayakan berita, tentu fakta itu tidak bisa dimuat. Kalau mereka tanya apa layak berita itu? Tentu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS &lt;/span&gt;akan menjelaskan indikator-indikator kelayakan berita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau mereka tidak bisa menerima, pihak &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS &lt;/span&gt;akan mengatakan bahwa tidak ada orang luar yang bisa mengatur &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS&lt;/span&gt;. Yang bisa mengatur &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS &lt;/span&gt;adalah dari dalam sendiri. Bagian iklan selalu mengatakan kepada klien bahwa bagian iklan tidak ada hubungannya dengan bagian redaksi. Artinya kalau ada perusahaan yang mau pasang iklan silakan pasang iklan, tidak ada kaitannya dengan pemberitaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas mengapa banyak media massa yang terkubur di Solo? Antara lain disebabkan model kepemimpinan yang kurang visioner, tidak profesional dalam menetapkan arah dengan mengembangkan suatu visi terhadap masa depan serta tak mampu menyatukan potensi sumber daya manusia dengan mengkomunikasikan visi untuk mengatasi rintangan-rintangan. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersambung.... &lt;/span&gt;(*)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6229740364415250960-8779553495862833148?l=anindityowicaksono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/feeds/8779553495862833148/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/2009/05/kunci-keberhasilan-solopos-1.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6229740364415250960/posts/default/8779553495862833148'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6229740364415250960/posts/default/8779553495862833148'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/2009/05/kunci-keberhasilan-solopos-1.html' title='Kunci Keberhasilan SOLOPOS (1)'/><author><name>Anindityo Wicaksono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06767330856974408139</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/Scz2ra1pbII/AAAAAAAAAr0/kSL6Y5gYhTQ/S220/Om+garenk2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/ShafFXCL4SI/AAAAAAAAAxk/blZQP5vwpVk/s72-c/SOLOPOS+-+Kendaraan+Hias.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6229740364415250960.post-7009020529624429072</id><published>2009-05-15T01:02:00.008+07:00</published><updated>2009-05-23T18:31:45.580+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jurnalisme'/><title type='text'>Mengapa SOLOPOS Terbit di Surakarta</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;JURNALISME&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Semarang, 15 Mei 2009&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Mengapa SOLOPOS Terbit di Surakarta&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh Anindityo Wicaksono (penyunting)&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SgxgeKiGC_I/AAAAAAAAAxM/N-bzRal0Ks8/s1600-h/Suasana+pengepakan+edisi+perdana+SOLOPOS..jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 305px; height: 215px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SgxgeKiGC_I/AAAAAAAAAxM/N-bzRal0Ks8/s320/Suasana+pengepakan+edisi+perdana+SOLOPOS..jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5335745729866894322" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Sumber gambar: Pusdok &lt;/span&gt;SOLOPOS&lt;span style="font-style: italic;"&gt;, 2007)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;HARIAN &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Suara Bengawan&lt;/span&gt; adalah koran terakhir—sebelum &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS &lt;/span&gt;terbit—yang terlihat serius ingin menggarap wilayah eks Karesidenan Surakarta dan sekitarnya. Koran ini mulai terbit 16 Juni 1986, namun ketika harian baru berjalan dua tahun, sekitar tahun 1988 sempat berhenti terbit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koran yang dipimpin oleh HS Maryono ini pada tahun 1991 sempat terbit lagi, namun hal itu tidak berlangsung lama karena beberapa bulan kemudian akhirnya tutup untuk selamanya. Setelah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Suara Bengawan&lt;/span&gt;, praktis Kota Solo tidak lagi ada koran harian yang terbit secara kontinu sampai kemudian pada tahun 1997 Harian &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS &lt;/span&gt;muncul.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun demikian, di antara 1991 hingga 1997 tersebut, beberapa penerbitan pers—sekalipun bukan dalam format koran—masih mencoba keberuntungan untuk berbisnis di bidang ini, misalnya tabloid berbahasa Jawa, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jawa Anyar&lt;/span&gt;. Toh tabloid yang bermaksud menyajikan beragam berita dengan bahasa Jawa ini akhirnya tak berhasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun demikian, baik ada atau tidak ada koran harian, tabloid mingguan berbahasa Indonesia maupun Jawa, sesungguhnya Kota Solo dianggap sebagai daerah subur untuk memasarkan koran, tabloid atau majalah. Sehingga kota ini tetap menjadi ajang pertempuran berbagai perusahaan penerbitan pers dari luar Kota Solo untuk memasarkan produknya di wilayah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai kota terbesar kedua di Jawa Tengah setelah Semarang, Solo dilihat oleh para pengusaha penerbitan pers secara ekonomi memiliki potensi kuat. Namun di sisi lain, kota yang juga dikenal sebagai Kota Budaya ini mempunyai kekuatan yang luar biasa dalam isu-isu berita politik, ekonomi maupun sosial kemasyarakatan. Tak heran jika hampir semua koran terkenal, baik lokal maupun nasional bersaing memperebutkan simpati pembaca di wilayah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah itu pula yang mendasari diterbitkannya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS &lt;/span&gt;di kota Solo? Secara implisit jawabannya adalah ya, sekalipun di sisi lain tentu saja juga ada visi ideal yang hendak diusung oleh para pendiri koran ini ketika menerbitkan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengambil keputusan diterbitkannya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS &lt;/span&gt;di Kota Solo, Prof Dr Sukamdani Sahid Gitosardjono yang juga Presiden Komisaris penerbit koran ini mengatakan bahwa langkah untuk menerbitkan koran di Solo memang sebuah gagasan idealis untuk menghidupkan koran daerah di Kota Solo yang memiliki sejarah panjang tentang penerbitan pers (hal. 37).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gagasan untuk menerbitkan koran di Solo ini sebenarnya sudah lama kami niatkan, mengingat bahwa Kota Solo adalah tempat kelahiran organisasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) tanggal 9 Februari 1946, tapi ironisnya tiap ada penerbitan koran di Solo tidak berumur panjang,” ungkap Sukamdani (hal. 37).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;Sukamdani juga menjelaskan bahwa pilihan jatuh di Kota Solo karena sebagai orang yang lahir dan besar di kawasan ini, pihaknya melihat Solo mempunyai potensi yang luar biasa besar. Sebagai sebuah kota, Solo mempunyai potensi di berbagai bidang, seperti perdagangan sehingga layak mendapat julukan sebagai kota niaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula di bidang industri, bidang pendidikan dan sekaligus juga di bidang pariwisata dan budaya. Sukamdani berkeyakinan besar bahwa dengan adanya rencana pemerintah pusat ketika itu untuk mengembangkan Solo menjadi Kota Internasional di antaranya dengan mempersiapkan pembangunan tol Joglosemar (Jogja-Solo-Semarang) dan menjadikan Bandara Adisumarmo sebagai bandara internasional, maka Kota Solo akan menjadi salah satu kawasan pertumbuhan ekonomi baru di Jawa Tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu Kota Solo menjadi kota potensial untuk penerbitan koran. Belajar dari pengalaman keberhasilan mengelola koran ekonomi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bisnis Indonesia&lt;/span&gt; di Jakarta sejak 14 Desember 1985, maka tahun 1996 dengan persetujuan Direksi dan Komisaris PT Jurnalindo Aksara Grafika, penerbit Harian &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bisnis Indonesia&lt;/span&gt; sepakat untuk mengajukan permohonan surat izin usaha penerbitan pers (SIUPP) di Solo, kepada Menteri Penerangan RI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Satu kesatuan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SgxmqPtyTuI/AAAAAAAAAxc/Iw2uA0VXrsU/s1600-h/SOLOPOS,+1+Agustus+2005.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 138px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SgxmqPtyTuI/AAAAAAAAAxc/Iw2uA0VXrsU/s200/SOLOPOS,+1+Agustus+2005.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5335752534486306530" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Sambil menunggu keluarnya izin koran tersebut, urai Sukamdani, pihaknya memproses pendirian Badan Hukum, mencari kantor yang strategis, menunjuk tiga orang wartawan harian &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bisnis Indonesia &lt;/span&gt;Jakarta yakni Danie H Soe’oed, YA Sunyoto dan Bambang Natur Rahadi di bawah koordinasi Lukman Setiawan, Wakil Pemimpin Umum Harian &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bisnis Indonesia&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka bertugas menyeleksi calon wartawan/wartawati karyawan pers dan kemudian melatihnya bagi mereka yang lolos seleksi (hal. 38).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ide awal menerbitkan koran di Solo adalah untuk pemerataan informasi aktual mengenai peristiwa-peristiwa yang terjadi untuk bisa diketahui masyarakat antara daerah kabupaten/kota dan provinsi di Indonesia dan antara daerah dengan pemerintah pusat di Jakarta serta berita-berita penting dari manca negara yang bisa diinformasikan kepada masyarakat daerah sampai ke pelosok pedesaan sesuai dengan kemajuan teknologi dan informasi di era global-internasional dewasa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang batasan dan kriteria yang dicanangkan kepada para pelaksana di lapangan dalam menyajikan berita di Harian Umum &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS&lt;/span&gt;, jelas Sukamdani, harus bermoral tinggi, berwatak mulia, berintegritas, profesional dan kompeten selayaknya seseorang jurnalis yang ingin meraih prestasi jurnalisme setinggi-tingginya dalam profesinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tagline &lt;/span&gt;(motto) “Meningkatkan Dinamika Masyarakat”, dimaksudkan agar masyarakat pembacanya termotivasi untuk bertindak jujur, disiplin, tanggung jawab, kerja keras dan berprestasi yang optimal dan hasil prestasinya itu agar bermanfaat untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga, lingkungan hidup dan masyarakat banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, gagasan menerbitkan koran di Solo itu, kata Pemimpin Perusahaan Harian &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS&lt;/span&gt; Bambang Natur Rahadi, juga tidak terlepas dari insting bisnis Sukamdani yang dinilai memahami karakter perekonomian Kota Solo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pak Kamdani melihat ada kesempatan mendirikan koran di Solo. Karena ini kampungnya, beliau tahu di sini punya peluang untuk mendirikan koran baru. Dari situ akhirnya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bisnis&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Indonesia &lt;/span&gt;memutuskan untuk melakukan ekspansi,” ungkap Bambang Natur (hal. 40).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai konsep apa yang dibawa oleh &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bisnis Indonesia&lt;/span&gt; dalam mengembangkan koran ini, lanjutnya, sebetulnya tidak ada. Semua dipasrahkan kepada pelaksananya. “Coba saja bikin koran di Solo, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;gimana &lt;/span&gt;caranya terserah,” kata Bambang Natur menirukan pernyataan Sukamdani (hal. 40).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga orang yang ditunjuk, Danie H Soe’oed, (Pemimpin Redaksi ), YA Sunyoto, dan Bambang Natur Rahadi akhirnya berembug. Tiap orang masing-masing bawa bekal dan konsep untuk didiskusikan. Bambang Natur sendiri mengaku membawa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;frame &lt;/span&gt;gaya koran lokal Jawa Timur-an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana polanya? Menurutnya, pertama harus punya nilai informasi nasional. Karena ini menyangkut masalah gengsi. Koran daerah kalau bisa pegang koran yang punya informasi nasional pasti punya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;headline&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, koran daerah itu harus bicara daerah. Ini yang harus dipadukan. Ini yang dilakukan koran Jawa Timur dengan konsep lokalnya yang cukup besar. Gayanya harus dibuat sebagai sebuah gaya penyajian hiburan. Jadi tulisan itu bukan hanya memberikan informasi yang sifatnya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;straight-news&lt;/span&gt; seperti polanya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bisnis Indonesia&lt;/span&gt;, tapi harus menjadi sebuah feature.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berdialog akhirnya ketemu konsep koran nasional dan koran lokal. Belakangan berkembang menjadi terjemahan-terjemahan. Konsep "Soloraya" di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS &lt;/span&gt;itu sudah hasil diskusi. Konsepnya pers lokal di Solo harus menggunakan basis 6 kabupaten dan 1 daerah kota itu menjadi satu kesatuan. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dikutip dari buku &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS, Satu Dasawarsa Meningkatkan Dinamika Masyarakat&lt;/span&gt; karya Mulyanto Utomo [2007], halaman 36-41)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6229740364415250960-7009020529624429072?l=anindityowicaksono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/feeds/7009020529624429072/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/2009/05/mengapa-solopos-terbit-di-surakarta.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6229740364415250960/posts/default/7009020529624429072'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6229740364415250960/posts/default/7009020529624429072'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/2009/05/mengapa-solopos-terbit-di-surakarta.html' title='Mengapa SOLOPOS Terbit di Surakarta'/><author><name>Anindityo Wicaksono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06767330856974408139</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/Scz2ra1pbII/AAAAAAAAAr0/kSL6Y5gYhTQ/S220/Om+garenk2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SgxgeKiGC_I/AAAAAAAAAxM/N-bzRal0Ks8/s72-c/Suasana+pengepakan+edisi+perdana+SOLOPOS..jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6229740364415250960.post-2129304017971504325</id><published>2009-05-14T23:50:00.013+07:00</published><updated>2009-05-23T18:34:16.124+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jurnalisme'/><title type='text'>Jurnalisme dan Pers Profesional SOLOPOS (2-habis)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;JURNALISME&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Semarang, 14 Mei 2009&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Jurnalisme dan Pers Profesional&lt;br /&gt;SOLOPOS (2-habis)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh Anindityo Wicaksono (penyunting)&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://lh4.ggpht.com/_-44iuSlGSWs/Sgxfv-MsblI/AAAAAAAAAw8/dZZEO1ZhgmU/s1600-h/Prof+Dr+H+Sukamdani,+Danie,+dan+Lukman.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 221px;" src="http://lh4.ggpht.com/_-44iuSlGSWs/Sgxfv-MsblI/AAAAAAAAAw8/dZZEO1ZhgmU/s320/Prof+Dr+H+Sukamdani,+Danie,+dan+Lukman.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5335744936281927250" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Sumber gambar: Pusdok SOLOPOS, 2007)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;BEBERAPA &lt;/span&gt;kalangan (khususnya mereka yang menjadi pemerhati pers) menganggap Harian &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS &lt;/span&gt;sebagai sebuah koran daerah (lokal) telah berhasil berkembang dan mempertahankan diri sebagai industri pers daerah, di tengah-tengah gelombang besar revolusi multimedia di Indonesia bahkan dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antoni (2004), dalam salah satu kesimpulannnya mengenai koran lokal &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS&lt;/span&gt; menyebutkan, faktor ekonomi dan politik yang berlangsung dalam pers industri merupakan salah satu variabel yang ikut menentukan kebijakan redaksional &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS &lt;/span&gt;(Antoni, 2004: 169).&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sebagai sebuah industri pers modern, sejauh ini &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS &lt;/span&gt;dinilai telah berhasil dalam merangkum kepentingan redaksional dengan kepentingan bisnis, sehingga diminati masyarakat khususnya di wilayah eks Karesidenan Surakarta khususnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini artinya, peran koran lokal (media daerah) tetap dominan di tengah perubahan sistem komunikasi massa modern yang terus berkembang pesat akhir-akhir ini. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS&lt;/span&gt;, sebagai salah satu bentuk media tradisional (koran), dibandingkan media baru multimedia pada kenyataannya tetap mampu bertahan dan berkembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu pula yang membuktikan bahwa media tradisional (cetak), pada dasarnya tetap bisa bertahan di tengah perkembangan beragam jenis media massa. Pertanyaannya adalah, mengapa sebuah media lokal mampu bertahan di tengah-tengah perkembangan media massa yang sangat beragam itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah seminar hasil evaluasi Proyek Pengembangan Profesionalisme dan Manajemen Pers Daerah (1993-1996) yang dilakukan oleh Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerapan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) disebutkan bahwa perkembangan ekonomi tempat media massa (koran daerah) berkiprah akan sangat menentukan peluang pertumbuhan pers di daerah yang bersangkutan (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kompas&lt;/span&gt;, 27/3/1996).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam rekomendasinya, seminar itu juga menyebutkan bahwa keberadaan pers dengan berbagai informasi yang disajikannya membuat masyarakat terangsang semakin maju. Keduanya bisa melahirkan spiral yang terus membesar dan saling mendorong untuk terus berkembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berangkat dari kenyataan ini, penerbitan pers daerah diharapkan mengetahui potensi perekonomian masyarakat tempat ia berkiprah untuk kemudian dipakai sebagai pedoman pengembangan media bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sinilah pengelola penerbitan pers di daerah harus pandai memosisikan diri di tengah persaingan antarmedia yang semakin ketat, termasuk dalam merebut potensi iklan lokal yang sesungguhnya sangat besar. Sedangkan menyangkut manajemen (pers daerah), banyak ditentukan oleh latar belakang kepemilikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koran daerah yang tidak menjadi jaringan koran besar, biasanya belum punya pola manajemen baku, bahkan banyak di antaranya merupakan manajemen keluarga. Sedangkan koran daerah yang menjadi jaringan koran besar, biasanya meniru manajemen induknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini terkadang muncul konflik, dan potensi ini membesar bila prospek bisnis koran daerah tersebut terlihat cerah. Masih kecilnya pemasukan dana dari iklan, kemampuan wartawan serta sulitnya penagihan piutang juga merupakan persoalan pelik yang dihadapi pers daerah (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kompas&lt;/span&gt;, 27/3/1996).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Minat pembaca&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SgxRYYtI92I/AAAAAAAAAws/v1fR_Gmtmko/s1600-h/Masyarakat+berebut+untuk+mendapatkan+edisi+perdana+SOLOPOS.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 169px; height: 114px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SgxRYYtI92I/AAAAAAAAAws/v1fR_Gmtmko/s200/Masyarakat+berebut+untuk+mendapatkan+edisi+perdana+SOLOPOS.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5335729137917687650" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Memperhatikan simpulan tersebut di atas, dengan kata lain bisa dikatakan bahwa sebuah koran daerah (lokal) bisa bertahan dan menjaga keberlangsungan penerbitannya manakala faktor-faktor seperti yang telah dikemukakan tadi mampu diatasi oleh manajemen pengelola koran yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ada beberapa faktor pendukung lain yang secara teoritis keilmuan dianggap mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap berkembangnya media massa. Sesuai dengan ciri dan sifatnya, pers adalah bagian dari pembahasan paling penting dalam ilmu komunikasi massa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan pesat teknologi baru (di bidang komunikasi) telah menyebabkan dipertanyakannya kembali definisi komunikasi massa. Definisi komunikasi massa yang sebelumnya sudah cukup jelas, yakni dibagi ke dalam tiga ciri. Pertama, diarahkan kepada audiens yang relatif besar, heterogen dan anonim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, pesan-pesan yang disebarkan secara umum, sering dijadwalkan untuk bisa mencapai sebanyak mungkin anggota audiens secara serempak dan sifatnya sementara. Ketiga, komunikator cenderung berada atau beroperasi dalam sebuah organisasi yang kompleks yang membutuhkan biaya yang sangat tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perkembangan paling mutakhir, media (massa) kemudian mempunyai lingkungan baru dengan ciri-ciri pertama, teknologi yang digunakan. Jika dulu berbeda dan terpisah seperti percetakan dan penyiaran, sekarang ini bergabung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, keberlimpahan media yang tersedia di masyarakat, ketiga, terjadinya pergeseran dari mengarah kepuasan massa audiens kolektif menuju kepuasan grup atau individu dan terakhir adalah terjadinya pergeseran dari media satu arah kepada media interaktif (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kompas&lt;/span&gt;, 27/3/1996).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciri-ciri seperti yang tersebut di atas, tentunya akan berkorelasi signifikan terhadap rasa puas audiens sehingga sebuah media massa masa kini tetap diminati pembacanya sekalipun sistem komunikasi (massa) telah berkembang secara revolusioner memunculkan media-media (massa) jenis baru yang sangat mempengaruhi perubahan besar dalam berbagai bidang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari data yang diperoleh dari Litbang Harian &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS &lt;/span&gt;menunjukkan bahwa ketika terbit pertama kali pada 1998, (&lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;harian ini) &lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;mampu merebut minat pembaca warga masyarakat di wilayah eks Karesidenan Surakarta khususnya, dan hingga tahun 2007 telah mampu berkembang dan bertahan dalam arti &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS &lt;/span&gt;sebagai sebuah industri media, sudah bisa dikatakan berhasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa ukuran keberhasilan sebuah koran? Jakob Oetama menyebut, surat kabar yang dapat hidup dari keberhasilannya sendiri akan lebih dapat melaksanakan tanggung jawab idealnya dan memelihara kebebasan yang diperlukan untuk dapat melaksanakan tanggung jawabnya secara memadai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, kualitas pers dihadapkan pula pada tantangan untuk terus memperbaiki diri. Itu berarti, perbaikan pertama-tama pada sumber daya manusia dan kemudian pada perangkat keras, yang kesemuanya memerlukan biaya. Biaya itu diperoleh dari hasil penjualan surat kabar, baik langganan, eceran maupun penjualan ruangan untuk iklan (Jakob Oetama, 2001: 308).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakob Oetama kemudian menyimpulkan, kemampuan ekonomi pers atau berkembangnya pers sebagai bisnis, mempunyai dua dimensi. Pertama, dimensi intern ditinjau dari persoalan di dalam lembaga pers itu sendiri dan kedua, dimensi ekstern dilihat dari kaitan kemasyarakatan, terutama dalam bidang bisnis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata almarhum PK Ojong, seperti dikutip Jakob Oetama, “Perusahaan surat kabar tidak sama dengan perusahaan pengangkutan atau pabrik sepatu yang dapat diperjualbelikan begitu saja. Akan tetapi, surat kabar bukan perusahaan komersial melulu, ia juga bahkan terutama merupakan wadah idiil” (Jakob Oetama, 2001: 310).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kondisi seperti itulah, perusahaan penerbitan pers (profesional) umumnya mempunyai dua divisi (bidang) kerja yang saling dipisahkan dan tidak bisa dicampuradukkan. Ibarat sebuah kapal dengan dua nakhoda, perusahaan penerbitan pers yang konsisten dalam menjaga fungsinya sebagai institusi ideal dan bisnis akan memiliki seorang Pemimpin Redaksi dan pemimpin (bidang) bisnis yang lebih mengelola bidang finansial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti diketahui, dalam perjalannya pers di Indonesia yang berawal dari sebuah pers perjuangan, kini telah berkembang menjadi sebuah institusi ideal, profesional dan profit tanpa harus melepaskan sisi perjuangan itu sendiri. Oleh karenanya, fungsi bisnis dalam sistem pembagian kerja dalam pers sangat penting. Bagian perusahaan (bisnis) akan menyelenggarakan upaya pembiayaan agar institusi itu dapat berjalan sesuai dengan tujuan awal didirikannya lembaga pers tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisnis biasanya meliputi bidang kerja sirkulasi koran, periklanan, promosi, keuangan, termasuk bagian personalia. Sedangkan bidang keredaksian, hanya akan mengurus soal-soal yang berkait dengan urusan pemberitaan. Biasanya, secara struktural akan terdiri dari dewan redaksi, pemimpin redaksi, redaktur pelaksana, redaktur serta para wartawan/ reporter/ koresponden/ stringer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Koran lokal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/Sgxg1qhem5I/AAAAAAAAAxU/iBpmwMstEes/s1600-h/Pemimpin+Perusahaan+SOLOPOS+Bambang+Natur+Rahadi+mengamati+hasil+cetak..jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 179px; height: 103px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/Sgxg1qhem5I/AAAAAAAAAxU/iBpmwMstEes/s200/Pemimpin+Perusahaan+SOLOPOS+Bambang+Natur+Rahadi+mengamati+hasil+cetak..jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5335746133591235474" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Danie H Soe’oed, salah seorang yang membidani lahirnya Harian &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS&lt;/span&gt;, menilai sejauh ini &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS &lt;/span&gt;sudah menjadi koran lokal yang dinilai berhasil. Masyarakat Surakarta sudah bisa menerima atau boleh dikatakan cocok dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS &lt;/span&gt;sehingga koran ini cukup eksis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa koran ini bisa diterima masyarakat Solo dan sekitarnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Danie, secara umum karena standar bahasa Indonesia yang dipakai benar. Meski diakui ada beberapa idiom-idiom Jawa atau lokal, tapi itu dalam rubrik-rubrik tertentu. Tapi pada umumnya dalam rubrik-rubrik yang umum yang dipakai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS &lt;/span&gt;menggunakan standar bahasa Indonesia yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Danie mengakui &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS &lt;/span&gt;ini juga dibaca kalangan masyarakat bawah. Misi koran ini adalah mendidik pembaca tentang bahasa Indonesia yang baik dan benar. Tentang budaya setempat, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS &lt;/span&gt;hanya memberikan ruang secukupnya karena ini memang bukan koran budaya tapi koran umum sehingga pihaknya berusaha menyajikan semua yang dibutuhkan oleh masyarakat dari mulai sosial, politik, ekonomi, budaya dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awal-awal &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS&lt;/span&gt;, muatan lokal yang bersifat kultural memang sangat kental, namun lama-lama masyarakat jenuh. Meski demikian &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS &lt;/span&gt;tetap menampilkan berita-berita seperti itu meski tidak secara mendalam karena tidak signifikan dengan oplah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi kalau orang mengatakan bahwa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS &lt;/span&gt;hanya sebatas berita di keraton, sebenarnya itu tidak benar. Koran ini berusaha untuk mendudukkan semua persoalan secara porposional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau memang berita itu menarik karena anggota masyarakat ada yang tertarik pada berita itu, ya kami coba angkat dengan tampilan selengkap mungkin, dengan standar profesional bukan karena kami mem-blow up pertimbangan-pertimbangan ekonomi,” tegasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di jajaran redaksi, rapat redaksi merupakan kekuasaan tertinggi. Di rapat ini diputuskan berita-berita yang akan dimuat. Meski demikian Pemimpin Redaksi punya hak untuk memveto suatu berita atas berbagai pertimbangan. Pertimbanganya bukan karena kepentingan pribadi atau kepentingan orang per orang, namun ada standar sudah ditetapkan. Seperti misalnya berita itu melanggar kepentingan umum, melanggar kesusilaan, dan pertimbangan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS &lt;/span&gt;juga dinilai telah berhasil menggerakkan dinamisasi masyarakat Solo dan sekitarnya. Ini lantaran &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS &lt;/span&gt;selalu menampilkan berita-berita aktual yang selalu dekat dengan masyarakat serta menarik bagi komunitas masyarakat Soloraya (Solo dan sekitarnya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa demikian? Karena tidak semua berita yang diinginkan masyarakat terakomodasi di media-media lainnya, khususnya media yang terbit di luar Solo. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dikutip dari buku &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS, Satu Dasawarsa Meningkatkan Dinamika Masyarakat&lt;/span&gt; karya Mulyanto Utomo [2007], halaman 62-75)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6229740364415250960-2129304017971504325?l=anindityowicaksono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/feeds/2129304017971504325/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/2009/05/jurnalisme-dan-pers-profesional-solopos_14.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6229740364415250960/posts/default/2129304017971504325'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6229740364415250960/posts/default/2129304017971504325'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/2009/05/jurnalisme-dan-pers-profesional-solopos_14.html' title='Jurnalisme dan Pers Profesional SOLOPOS (2-habis)'/><author><name>Anindityo Wicaksono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06767330856974408139</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/Scz2ra1pbII/AAAAAAAAAr0/kSL6Y5gYhTQ/S220/Om+garenk2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://lh4.ggpht.com/_-44iuSlGSWs/Sgxfv-MsblI/AAAAAAAAAw8/dZZEO1ZhgmU/s72-c/Prof+Dr+H+Sukamdani,+Danie,+dan+Lukman.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6229740364415250960.post-6125201362127878686</id><published>2009-05-14T23:28:00.009+07:00</published><updated>2009-05-23T18:36:51.490+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jurnalisme'/><title type='text'>Jurnalisme dan Pers Profesional SOLOPOS (1)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;JURNALISME&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Semarang, 14 Mei 2009&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);font-size:180%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jurnalisme dan Pers Profesional&lt;br /&gt;SOLOPOS (1)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh Anindityo Wicaksono (penyunting)&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SgxKTrflSFI/AAAAAAAAAwM/rBD5x8II6KE/s1600-h/SOLOPOS+-+Awarding.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 205px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SgxKTrflSFI/AAAAAAAAAwM/rBD5x8II6KE/s400/SOLOPOS+-+Awarding.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5335721360480356434" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Sumber gambar: Pusdok SOLOPOS, 2007)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PERS &lt;/span&gt;merupakan medium penyiaran berita. Dalam perkembangannya, pers telah memiliki makna yang sangat luas. Bukan lagi sekadar medium, namun sudah menyangkut segala sesuatu yang berkait dengan penyiaran itu sendiri. Mulai dari sumber daya manusia, institusi yang menaungi, bahkan lebih luas dari itu, yakni meliputi sistem dalam proses penyiaran fakta menjadi berita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pers profesional adalah pers yang mempraktikkan jurnalisme sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku di dalamnya, memaparkan kebenaran sebuah fakta, peristiwa atau kejadian seobyektif dan seakurat mungkin. Kebenaran itu dicapai melalui sebuah prosedur dan proses.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kebenaran yang diberitakan media dibentuk lapisan demi lapisan. Berita dibentuk hari demi hari, lapisan demi lapisan. Ibaratnya stalagmit, tetes demi tetes kebenaran sehingga membentuk stalagmit yang besar dengan memakan waktu yang tidak singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu sejak awal Harian Umum (HU) &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS &lt;/span&gt;bertekad menerapkan prinsip-prinsip jurnalisme secara baik dan benar. Tidak hanya soal sikap wartawan dalam menulis berita, tapi pola penulisan di Harian &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS &lt;/span&gt;pun dibuat seprofesional mungkin dengan membukukan standar gaya penulisan (buku &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Gayane SOLOPOS&lt;/span&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini merupakan pedoman untuk penyeragaman gaya penulisan di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS &lt;/span&gt;berikut kaidah-kaidah dalam penulisan berita. Buku &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Gayane SOLOPOS&lt;/span&gt; memuat pedoman penulisan sejak dari judul berita, teras berita, tubuh berita, cara memeroleh sumber hingga penulisan koreksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum, dari berbagai pedoman penulisan itu, satu prinsip yang dipegang, bahwa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS &lt;/span&gt;menerapkan prinsip kejujuran dalam penulisan berita. Tiga kata kunci, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;accurate&lt;/span&gt; (akurat), &lt;span style="font-style: italic;"&gt;balance &lt;/span&gt;(berimbang), dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;clear &lt;/span&gt;(bersih)—disingkat "ABC"—merupakan prinsip kualitas berita di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS&lt;/span&gt;. Hanya berita-berita yang memenuhi unsur "ABC"-lah yang akan lolos seleksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam penulisan judul, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS &lt;/span&gt;menerapkan prinsip haruslah ditulis semenarik mungkin sehingga pembaca terus bertahan membaca berita hingga akhir. Judul ditulis harus mencerminkan isi berita, tidak bombastis dan tidak manipulatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai koran yang menjunjung tinggi kejujuran, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS &lt;/span&gt;menerapkan standar tegas dalam penyebutan cara reporter (wartawan) dalam memperoleh berita. Apakah reporter menemui langsung narasumber, menghubungi narasumber melalui telepon, narasumber yang menghubungi reporter, atau memerolehnya melalui siaran pers atau konferensi pers. Wartawan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS &lt;/span&gt;mesti menulis sumber itu secara jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas bagaimana kalau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS &lt;/span&gt;melakukan kesalahan penulisan berita? Sebagai media yang mengutamakan nilai kebenaran dalam penyampaian fakta, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS &lt;/span&gt;akan bertindak &lt;span style="font-style: italic;"&gt;fair &lt;/span&gt;dalam menyikapi kesalahan. Kesalahan tidak pernah lepas dari manusia, meski sudah diupayakan seakurat mungkin dalam menurunkan tulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya yang perlu ditekankan di sini, seperti diungkakan tokoh bijak, bahwa jangan pernah terpikirkan di nurani Anda untuk berniat membuat kesalahan. Jika ini, mulai muncul di benak Anda, bunuhlan keinginan itu, atau mulailah bicara kepada kawan Anda tentang keganjilan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ada kesalahan, pengelola &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS &lt;/span&gt;wajib segera mengoreksinya, meski itu berat dan sulit dilaksanakan. Sikap jujur perlu dijunjung tinggi demi kepercayan pembaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar bisa menulis secara baik dan benar, independensi wartawan menjadi sesuatu yang penting. Wartawan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS &lt;/span&gt;boleh mengemukakan pendapatnya dalam kolom opini tapi tidak sama sekali dalam berita. Wartawan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS &lt;/span&gt;harus bersikap independen terhadap orang-orang yang mereka liput.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu juga tercantum dalam Kode Etik Jurnalistik Bab I bahwa wartawan Indonesia bersikap independen, menghasilkan berita yang akurat, berimbang dan tidak beriktikad buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Independen berarti memberitakan peristiwa atau fakta sesuai dengan suara hati nurani tanpa campur tangan, paksaan dan intervensi dari pihak lain termasuk pemilik perusahaan pers. Berimbang, berarti semua pihak mendapat kesempatan setara. Sedang tidak beriktikad buruk mempunyai makna tidak ada niat secara sengaja dan semata-mata untuk menimbulkan pihak lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa wartawan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS &lt;/span&gt;harus profesional? Hal ini karena pers memiliki kekuatan untuk mempengaruhi publik melalui informasi dan wartawan memiliki “hak istimewa” dalam menjalankan profesinya seperti hak untuk memperoleh akses informasi atau data dan hak tolak yang diatur dalam undang-undang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Antiamplop&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SgxPn-o6avI/AAAAAAAAAwk/UtzXmW1_A1E/s1600-h/SOLOPOS+-+reporter+dan+Amien+Rais.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 191px; height: 128px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SgxPn-o6avI/AAAAAAAAAwk/UtzXmW1_A1E/s200/SOLOPOS+-+reporter+dan+Amien+Rais.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5335727206775286514" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Terkait dengan hal itulah, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS &lt;/span&gt;melaksanakan tugasnya sebagai pers yang profesional dan independen karena memegang teguh prinsip-prinsip jurnalisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menjaga independensi wartawan dalam menulis berita, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS &lt;/span&gt;menerapkan prinsip jurnalisme antiamplop. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS&lt;/span&gt; melarang wartawan menerima pemberian dari pihak luar yang diketahui atau patut diduga ada hubungan dengan kedudukan atau jabatan sebagai wartawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Larangan menerima imbalan dari pihak luar ini dituangkan melalui surat edaran (SE) Pemimpin Redaksi No 05/01/SP/XII/ 98. Menurut SE itu, yang dimaksud pemberian itu adalah dalam bentuk uang (baik uang kontan maupun berbentuk rekening bank), barang ataupun fasilitas dan lain sebagainya, termasuk pemberian potongan harga atau komisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemberian apapun dari narasumber harus ditolak pada kesempatan pertama. Jika situasi tidak memungkinkan menolak, wartawan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS &lt;/span&gt;wajib menyerahkan pemberian tersebut kepada Sekretariat Redaksi (Sekred). Pihak Sekred atau kurir akan mengembalikan pemberian tersebut kepada si pemberi. Sebagai bentuk pertanggungjawaban pengembalian amplop, daftar pengembalian amplop ini akan diumumkan di koran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelanggaran terhadap peraturan antiamplop dianggap sebagai pelanggaran berat dan sanksinya pemutusan hubungan kerja (PHK). Kebijakan ketat terhadap larangan menerima imbalan ternyata mendapatkan apresiasi positif, baik dari kalangan wartawan sendiri maupun dari pihak luar. Paling tidak wartawan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS &lt;/span&gt;dikenal sebagai wartawan yang tidak bisa dibeli untuk memuat atau tidak memuat berita tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh pers Solo yang telah memimpin setidaknya tujuh penerbitan pers di Kota Bengawan ini, N Sakdani Darmopamudjo menyatakan bahwa sejauh yang diamati &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS &lt;/span&gt;selama ini telah bertindak sebagai pers profesional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wartawan jangan sampai menerima amplop telah dilakukan secara ketat oleh &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS&lt;/span&gt;. Dengan cara seperti itu akan menimbulkan kepercayaan,” tegasnya. Kepercayaan itu, lanjut Sakdani, justru yang paling penting bagi pembaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia melihat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS &lt;/span&gt;bisa berkembang sampai sekarang karena salah satunya sikapnya yang antiamplop. Dengan tidak menerima amplop, wartawan akan bisa membuat berita secara seimbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau pemberitaan seimbang pasti kepercayaan akan tumbuh, berdampak pada tulisannya itu juga dipercaya. Selain melarang menerima imbalan, wartawan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS &lt;/span&gt;juga tidak diperkenankan merangkap mencari iklan. Kebijakan ini semata-mata untuk menjaga agar berita tidak terpengaruh oleh kepentingan si pemasang iklan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di beberapa media wartawan merangkap menjadi penjual iklan. Di mata Sakdani, fenomena tersebut menunjukkan wartawan tidak profesional karena telah rancu menjalankan tugas jurnalistik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebijakan manajemen dalam menerapkan kaidah-kaidah jurnalisme secara ketat, benar dan keras telah membuat wartawan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS &lt;/span&gt;memiliki rasa percaya diri, kehormatan dan martabat seorang pekerja profesional. Komitmen antiamplop itu justru sangat membantu wartawan dalam melaksanakan tugasnya sebagai seorang jurnalis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat masih menjabat sebagai Pemimpin Redaksi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS&lt;/span&gt;, Danie H Soe’oed menegaskan, apa yang dilakukan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS &lt;/span&gt;dengan menerapkan serta menjaga komitmen yang keras terkait dengan kaidah jurnalisme yang harus diterapkan adalah bagian dari upaya membangun kepercayaan masyarakat. Menurut Danie, bisnis koran sama prinsipnya dengan perbankan karena sama-sama berbisnis kepercayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas bagaimana membangun kepercayaan itu? Yakni dengan melarang wartawan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS&lt;/span&gt; menerima imbalan apapun dari narasumber. Meski diakui penerapan kebijakan larangan menerima imbalan ini tidaklah mudah karena (mungkin) bertentangan dengan budaya pers lokal waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penekanan terhadap kebijakan ini terus dilakukan dengan membangkitkan kesadaran dengan membangun etika moral wartawan. Kendati pada awalnya mendapatkan reaksi dari kalangan reporter ketika ada sanksi terhadap seorang reporter yang terbukti menerima imbalan, namun dari tahun ke tahun kebijakan ini justru menjadi tambah dan menjadi kebanggaan awak &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS&lt;/span&gt;. Dan dari situlah masyarakat menaruh kepercayaan kepada &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebijakan lain yang diterapkan manajemen &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS &lt;/span&gt;dalam menjaga independensi wartawan ialah dengan selalu me-&lt;span style="font-style: italic;"&gt;rolling &lt;/span&gt;(memindah) wartawan dari satu bagian (atau daerah) ke bagian atau daerah lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebijakan ini untuk menghindari interaksi antara wartawan (reporter) dengan nara sumber yang terlalu dekat (akrab). Kedekatan wartawan dengan nara sumber dalam waktu relatif lama dikhawatirkan bakal membahayakan obyektivitas wartawan dalam menulis berita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bersambung&lt;/span&gt;.... (*)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6229740364415250960-6125201362127878686?l=anindityowicaksono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/feeds/6125201362127878686/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/2009/05/jurnalisme-dan-pers-profesional-solopos.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6229740364415250960/posts/default/6125201362127878686'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6229740364415250960/posts/default/6125201362127878686'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/2009/05/jurnalisme-dan-pers-profesional-solopos.html' title='Jurnalisme dan Pers Profesional SOLOPOS (1)'/><author><name>Anindityo Wicaksono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06767330856974408139</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/Scz2ra1pbII/AAAAAAAAAr0/kSL6Y5gYhTQ/S220/Om+garenk2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SgxKTrflSFI/AAAAAAAAAwM/rBD5x8II6KE/s72-c/SOLOPOS+-+Awarding.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6229740364415250960.post-6829099982054957743</id><published>2009-05-08T11:46:00.005+07:00</published><updated>2009-05-15T01:46:06.502+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jurnalisme'/><title type='text'>Menuju Jurnalisme Berkualitas</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;JURNALISME&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Semarang, 7 Mei 2009&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);font-size:180%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Menuju Jurnalisme Berkualitas&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh Anindityo Wicaksono&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SgO8oAX68NI/AAAAAAAAAwE/o43xnKwhKR8/s1600-h/32.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 200px; height: 313px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SgO8oAX68NI/AAAAAAAAAwE/o43xnKwhKR8/s400/32.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5333313779217920210" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;(Sumber gambar: http://www.lspp.org)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;DEMI &lt;/span&gt;menghadirkan sebuah karya jurnalistik berkualitas yang memihak kepentingan publik, terkadang seorang jurnalis harus berani menempuh risiko dengan menabrak kaidah-kaidah baku jurnalistik. Semisal menggunakan identitas palsu, alat perekam tersembunyi, atau dengan tidak meminta persetujuan terlebih dahulu pada obyek peliputan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian disampaikan Darussalam Burhanan, pemenang Mochtar Lubis Award 2008 Kategori Liputan Mendalam Jurnalisme Televisi, dalam diskusi dan bedah buku &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Menuju Jurnalisme Berkualitas Kumpulan Karya Finalis dan Pemenang Mochtar Lubis Award 2008 &lt;/span&gt;di perpustakaan FISIP Universitas Diponegoro, Semarang, Rabu (6/5).&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan ini diadakan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Komunikasi FISIP Undip bekerjasama dengan Open Society Institute, Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP), dan Mochtar Lubis Award. Pembicara lainnya, mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP Undip Andina Dian Dwifatma dengan moderator staf pengajar FISIP Undip Triyono Lukmantoro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Darussalam, karya investigatif hadir dari sebuah proses yang panjang dan penuh resiko. Hal ini karena obyek investigasi merupakan ruang yang ditutup rapat-rapat dan biasanya dilakukan secara tersembunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Di sinilah peran jurnalis investigasi untuk berani menanggung risiko demi menyingkapkan kebenaran yang menjadi hak khalayak," kata jurnalis ANTV sejak 2005 ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam diskusi yang penuh sesak oleh para mahasiswa Ilmu Komunikasi dan D3 Public Relation FISIP Undip ini, dia membeberkan proses di balik pembuatan karya investigasinya yang keluar sebagai pemenang Mochtar Lubis Award 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Feature &lt;/span&gt;berdurasi 30 menit karyanya ini menghadirkan penelusuran pembuatan sapi glonggongan di salah satu rumah pemotongan hewan (RPH). Hal ini dianggap melanggar hak-hak konsumen, apalagi semakin marak ditemukan menjelang Lebaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya, dia mengaku sebagai pedagang agar dapat memasuki pasar tempat transaksi daging yang dilabelkan haram oleh MUI itu tanpa dicurigai. Hal ini terbukti ampuh. "Saya menemukan celah-celah untuk menyelidiki seluk-beluk sapi glonggongan dari hulu ke hilirnya," bebernya yang mengawali karir jurnalistiknya di SCTV ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari situ dia dengan kamera tersembunyinya lantas mendapat akses ke sebuah RPH. Lokasi ini menjadi tempat sapi-sapi "digelembungkan" dengan air demi menaikkan berat sapi secara drastis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya berhasil memasuki RPH dengan mengaku sebagai mahasiswa Fakultas Peternakan yang sedang mengerjakan tugas akhir. Mohon maaf, ini terpaksa saya lakukan. Apalagi saya mengaku sebagai mahasiswa Undip pula..." ujarnya meringis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ruang publik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Andina, karya jurnalistik investigatif dan liputan mendalam lainnya sangat diperlukan dalam masyarakat yang mendambakan kebenaran. Untuk itulah mengapa profesi jurnalis menjadi mulia. Mereka punya kontribusi besar membentuk opini publik yang sehat bagi masyarakat di era informasi kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Masyarakat ideal," terang mahasiswa angkatan 2004 ini mengutip Jurgen Habernas (dalam Ibrahim, 2004), "adalah masyarakat 'komunikatif' yang hidup dari ruang publik yang memiliki akses luas pada informasi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini, menurut dia, memberi nafas lega bagi para calon jurnalis. Benang merah kompilasi karya jurnalistik ini ada pada keberanian para penulisnya untuk memperhatikan dan menuangkan gagasan tentang hal-hal yang tidak dominan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mencermati karya demi karya di dalamnya menimbulkan kesadaran bahwa rupanya jadi jurnalis tidak hanya  berpotensi sebagai 'nyamuk nakal' yang bikin gatal, tapi juga bisa menyuarakan gagasan-gagasan yang terpinggirkan," pungkas kontributor lepas Harian &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Suara Merdeka&lt;/span&gt; edisi Minggu ini. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dimuat di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;http://fisip.undip.ac.id&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;http://LSPP.org&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6229740364415250960-6829099982054957743?l=anindityowicaksono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/feeds/6829099982054957743/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/2009/05/menuju-jurnalisme-berkualitas.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6229740364415250960/posts/default/6829099982054957743'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6229740364415250960/posts/default/6829099982054957743'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/2009/05/menuju-jurnalisme-berkualitas.html' title='Menuju Jurnalisme Berkualitas'/><author><name>Anindityo Wicaksono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06767330856974408139</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/Scz2ra1pbII/AAAAAAAAAr0/kSL6Y5gYhTQ/S220/Om+garenk2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SgO8oAX68NI/AAAAAAAAAwE/o43xnKwhKR8/s72-c/32.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6229740364415250960.post-2466950304095636177</id><published>2009-05-02T13:44:00.008+07:00</published><updated>2009-05-05T12:30:32.136+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kolom'/><title type='text'>Labirin Pendidikan Nasional</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KOLOM&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Semarang, 2 Mei 2009&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);font-size:180%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Labirin Pendidikan Nasional&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh Anindityo Wicaksono&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/Sfv0BLh9zLI/AAAAAAAAAvs/jzbo0rHHKoU/s1600-h/DSC00230.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 240px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/Sfv0BLh9zLI/AAAAAAAAAvs/jzbo0rHHKoU/s320/DSC00230.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5331122885035412658" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Sumber gambar: http://1.bp.blogspot.com)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PELAKSANAAN &lt;/span&gt;ujian nasional (UN) di setiap penghujung tahun ajaran memang tak pernah sepi polemik. Hampir seluruh pihak yang terlibat, mulai dari siswa, orang tua siswa, hingga pakar dan pemerhati pendidikan, kukuh menolak dengan beragam pertimbangan empiris. Namun pemerintah tetap bergeming; keras hati bahwa UN merupakan harga mati dalam mengukur mutu pendidikan nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemantapan pemerintah pada hajat akbar tahunan ini terlihat dari alokasi biaya dan energi yang tak main-main. Tak tanggung-tanggung dana yang disediakan: tidak kurang dari Rp439 miliar. Pengawas yang ambil bagian mencapai tidak kurang satu juta orang (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kompas&lt;/span&gt;, 17/4).&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah juga terus menaikkan standarnya demi meningkatkan kualitas luaran yang diharapkannya. Nilai kelulusan UN 2009 dinaikkan dari 5,00 menjadi 5,25. Jumlah mata pelajaran yang diujikan untuk SMP-SMA ditambah dari 3 menjadi 6 mata pelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsekuensinya, siswa, yang traumatis dengan UN 2008 yang banyak “menelan korban”, tak punya pilihan lain: ikut “berperang” atau mundur yang berarti kehilangan masa tiga tahun begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau begitu, UN sebagai pemicu perbaikan dan alat pemetaan mutu pendidikan nyatanya belum berbicara banyak. Saban pelaksanannya, selalu saja ditemukan aneka kasus kecurangan sistematis yang justru kian mengeruhkan keadaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa tidak, para pelakunya justru datang dari pihak intern sekolah: kepala sekolah, guru, tim sukses sekolah, bahkan dinas pendidikan (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wawasan&lt;/span&gt;, 28/4). Adapun kasus terbanyak ialah bocoran soal dan jawaban, lembar jawaban palsu, kasus pembetulan jawaban oleh guru, hingga penipuan jual-beli soal dan lembar jawaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, siapa biang keroknya? Pemerintah sebagai “subyek” pembuat kebijakan, ataukah para siswa dan sekolah sebagai “obyek” yang mencari jalan keluar lantas menghalalkan segala cara demi menuruti kemauan “subyek”?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hakim penentu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak dimungkiri, serbakecurangan yang ditemukan menunjukkan, tataran konsep yang bergelimang hal-hal ideal ternyata tak selamanya sejalan dengan pelaksanaan, dan, terutama, pengawasannya. Ini adalah buah logis pragmatisme yang dibawa UN. Bahwa hasil ujian berdurasi dua jam dijadikan pengukur keberhasilan proses pembelajaran tiga tahun, memang sarat intrik dan kecurangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Premis dari potret hitam pelaksanaan UN jelas. Terjadi sebuah pergeseran paradigma dalam memaknai nilai. Ia tereduksi sedemikian rupa dan tak pernah sama lagi sejak UN diterapkan. Nilai, dari sekadar bahan evaluasi kekurangan-kelebihan, baik bagi siswa maupun pengajar, berubah menjadi momok tunggal penentu masa depan siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah yang diwanti-wanti pedagog senior Mochtar Buchori (1995): “Jika kita kian terjebak hiruk-pikuk aneka persoalan ‘hilir’, aneka pemikiran dasar yang memberi arah kebijakan dan praktik pendidikan nasional akan terabaikan.” Walau begitu, terjadinya aneka praktik kecurangan yang melibatkan pihak intern sekolah tidak bisa disalahkan sepenuhnya kepada mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dirunut ke belakang, munculnya UN sejak 2003 berawal dari keinginan pemerintah men-standarisasi mutu sistem pendidikan nasional. Karena UN dianggap mampu mendongkrak kualitas kelulusan siswa, standarnya ditingkatkan secara periodik hingga mencapai besaran akhir yang diharapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelas, UN ialah buah kekurangpahaman pemerintah terhadap realitas pendidikan nasional. Tersebar menjadi 33 provinsi, Indonesia memiliki sejuta keanekaragaman dan latar belakang ekonomi-sosial-budaya-budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai 5,25 bisa jadi ringan di Jakarta dan kota-kota besar lainnya. Namun tak adil rasanya jika standar “kota” ini diterapkan pula di pelosok Provinsi Belitung, misalnya, desa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;setting &lt;/span&gt;sentral novel &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Laskar Pelangi&lt;/span&gt; karya Andre Hirata, di mana akses siswa terhadap pengetahuan amat terbatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarlah setiap sekolah mensyaratkan proses evaluasi tahap akhir berupa ujian. Namun jangan lupa bahwa tidak selamanya evaluasi begitu saja berhak menentukan kelulusan akhir. Apalagi jika predikat tidak lulus mengharuskan peserta didik mengulangi proses pembelajaran satu tahun kemudian untuk dapat melanjutkan ke jenjang lebih tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi yang tidak lulus, pemerintah memang menyodorkan ijasah penyetaraan (Program Paket A/B/C). Namun, hemat penulis, langkah ini hanyalah solusi pragmatis dan reaktif yang dipicu kebingungan sang penyelenggara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyatanya tidak semua perguruan tinggi menerima siswa berijasah Paket C (bagi siswa SMA). Pun penulis yakin, sangat berat rasanya siswa yang telah mennempuh pendidikan selama tiga tahun penuh menerima ijasah dengan "kasta” yang lebih rendah hanya gara-gara kegagalan ujian tiga hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Labirin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amanat pendidikan sesuai UUD 1945 pasal 31 adalah  mencerdaskan kehidupan bangsa dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta akhlak mulia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun menurut UU No. 20/ 2003 tentang Sisdiknas, agar peserta didik dapat mengembangkan potensi dirinya secara aktif untuk memiliki kekuatan spiritual keamanan, pengendalian diri, kepribadian, akhlak mulia, kecerdasan, dan keterampilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai konstitusi, tujuan utama pendidikan, selain peningkatan kecerdasan-keterampilan, juga aspek-aspek moral-spiritual. Yang terakhir bahkan disebutkan lebih dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika demikian, maraknya aksi curang tersistematis, yang bahkan digawangi oknum sekolah, menujukkan, pendidikan telah gagal; melenceng jauh dari cita-cita awalnya. Pendidikan kian mendewakan pencapaian nilai namun makin miskin empati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saatnya pendidikan nasional keluar dari kotak labirinnya. Ketika problematika UN menjadi tali tak berpangkal, solusi jangka panjang harus berpatut diri pada konstitusi. Pendidikan, mengutip bapak pedagogi Paulo Freire, harus kembali pada fungsinya semula: memerdekakan. Kita kembali pada semangat awal yang kini kita namai ESQ (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;emotional-spiritual quotient&lt;/span&gt;), kecerdasan spiritual-emosional. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;(Dimuat di Koran Sore &lt;em&gt;Wawasan&lt;/em&gt;, 5 April 2009)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6229740364415250960-2466950304095636177?l=anindityowicaksono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/feeds/2466950304095636177/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/2009/05/labirin-pendidikan-nasional.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6229740364415250960/posts/default/2466950304095636177'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6229740364415250960/posts/default/2466950304095636177'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/2009/05/labirin-pendidikan-nasional.html' title='Labirin Pendidikan Nasional'/><author><name>Anindityo Wicaksono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06767330856974408139</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/Scz2ra1pbII/AAAAAAAAAr0/kSL6Y5gYhTQ/S220/Om+garenk2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/Sfv0BLh9zLI/AAAAAAAAAvs/jzbo0rHHKoU/s72-c/DSC00230.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6229740364415250960.post-4706885504976174579</id><published>2009-04-29T10:39:00.007+07:00</published><updated>2009-05-04T10:57:52.079+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kolom'/><title type='text'>Memanusiawikan Manusia</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KOLOM&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Semarang, 29 April 2009&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Memanusiawikan Manusia&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh Anindityo Wicaksono&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SffO98tVVOI/AAAAAAAAAvU/QxRf_U_hw9I/s1600-h/ahmad+wahid-2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 208px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SffO98tVVOI/AAAAAAAAAvU/QxRf_U_hw9I/s400/ahmad+wahid-2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5329956247679882466" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial,sans-serif;"&gt;&lt;span class="a"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Sumber gambar: http:// pohonkatakata.blogspot.com)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;HINGAR-BINGAR &lt;/span&gt;deklarasi pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden periode 2009-2014 tak lama lagi berkumandang. Segera akan kita cicipi bersama manisnya madu janji dan program para pasangan kandidat bersamaan makin mendekatnya pelaksanaan pemilihan presiden (pilpres).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mantapnya segera tergelar promosi dengan aneka ragam atribut para calon kepala negara beserta parpol pengusungnya. Wajah-wajah besar mereka akan segera menghiasi berbagai baleho, spanduk, umbul-umbul, poster, dan bendera di seantero negeri.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Mulai dari jalan protokol hingga sudut-sudut gang berpenerangan temaram. Dari tenda-tenda warung pecel, kios-kios nasi goreng, jendela belakang angkutan umum, bahkan sampai menjadi iklan berjalan di deretan mobil-mobil pikap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, ironiskan pemandangan begini, saat mereka seakan habis-habisan terus mencari segala ruang untuk "menjual diri"? Hal ini lazim terjadi dalam dunia politik. Bahkan politik praktis dalam dunia kampus pun mengajarkan demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana untuk saling adu strategi, bahkan kalau perlu sampai adu jotos, sikut, dan jegal, guna menarik simpati pendukung dan meraup suara sebanyak-banyaknya dari calon pemilih. Tak ketinggalan tim sukses yang sarat modal akan "jungkir-balik" sebisanya demi sebuah kemenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kondisi demikian, ada kesan, makna slogan, tulisan, dan serba jargon-jargon politik yang mereka usung dianggap sepi. Terbukti dari betapa asal-asalannya pesan yang mereka kemas dalam semua media kampanye itu. Tampaknya para jurkam ini sadar betul jenis masyarakat bagaimana yang sedang mereka hadapi. Hemat penulis, ada dua alasan penyebab ironi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, pilpres kekinian hidup dalam masyarakat yang sedang dijangkiti euforia kebebasan demokrasi. Insan-insan yang dipaksa untuk menelan bulat-bulat stigma politik yang terlanjur berkawan karib dengan ajang "adu modal". Artinya, calon pemilih memilih menganut asas manfaat dan hanya akan memilih calon yang paling banyak memberi manfaat (baca: imbalan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, kecacatan demokrasi yang lama terbentuk di republik ini tidak bisa dipersalahkan pada masyarakat sepenuhnya. Kondisi ini muncul sebagai akibat dari munculnya rsa ketidakpuasan masyarakat terhadap perilaku parpol dalam tatanan regulasi pemerintahan dan ketatanegaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapan akan sosok kepemimpinan yang ideal sudah terkubur dalam-dalam oleh realitas yang bertentangan. Maka sudah jamak jika visi, misi, apalagi kompetensi para calon dianggap sebagai angin lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, ketidaksehatan demokrasi yang sedang terjadi justru semakin diperparah perilaku kekanak-kanakan para elite politik yang bersaing. Para oknum kian gemar memanipulasi rakyat akibat dimanjakan euforia demokrasi. Mereka lepas dari tanggung jawab pilitik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka tak heran jika setiap kampanye mereka hanya mengerahkan massa; mendanai aksi; lalu setelah berjaya, meninggalkan begitu saja kewajiban dalam memberikan pembelajaran politik bagi masyarakat. Makin jauh, politik kita makin tenggelam dalam politik massifikasi massa yang makin miskin substansi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Memanusiawikan diri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada usia belia, Ahmad Wahid (LP3S, 1981) pernah menulis dalam buku hariannya: "Aku ingin bahwa orang memandang dan menilai aku sebagai suatu 'kemutlakan' (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;absolute entity&lt;/span&gt;) tanpa menghubung-hubungkan dari kelompok mana aku termasuk, serta dari aliran apa aku berangkat. Sekadar memahami manusia sebaagi manusia."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahid berani merenungkan dirinya itu "siapa" atau sekadar "apa". Ia memaknai dirinya sebagai "manusia" (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;human being&lt;/span&gt;) yang sedang berproses "memanusiawikan dirinya" (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;being human&lt;/span&gt;). Buah pikirannya kala itu terdesak pencarian jati dirinya sebagai seorang intelektual muda yang gelisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahid mampu menyadarkan bahwa dirinya pertama-tama tidak dijelaskan oleh namanya, dan tidak oleh pengetahuan dan keterampilannya. Tidak juga oleh pakaian dan kendaraannya, bahkan tidak agamanya. Ia menyadari bahwa ia hanya manusia yang sedang berproses menjadi dirinya sendiri, menaktualisasikan segenap potensi sebagaimana ia diciptakan (dalam Andreas Harefa, 2000).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini amat jarang kita jumpai Wahid-Wahid lain di Indonesia. Apalagi mereka yang berkecimpung di ranah politik kekinian. Nampaknya pesona politik memang telah memikat manusia tiada ampun. Muara krisis kepemimpinan masih saja berkutat pada masalah usang: selalu bermulut manis di kala kampanye, lalu setelah terpilih, seenaknya menimpakan setumpuk keserakahan pada rakyatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang saya berpikir, lalu apa gunanya menaruh harapan besar pada pentas demokrasi jika itu hanya berarti seremonial belaka untuk menggantikan "penindas" lama dengan "penindas" baru yang lebih kejam? Sudah saatnya kita, yang merasa lebih cerdas dan melek politik ini, untuk memulai perbaikan kondisi demokrasi bangsa yang kian memprihatinkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menghasilkan pilpres yang ideal demokratis memang tak semudah membalik telapak tangan. Dibutuhkan suatu kolaborasi besar di antara seluruh komponen bangsa. Pers, LSM, kaum cerdik-pandai, serta mahasiswa beserta seluruh civitas akademisi sebagai agen perubahan yang diharapkan untuk netral harus hadir di depan menggagas perubahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sinergitas di antara seluruh komponen itu merupakan titik penting eksistensi masyarakat terdidik (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;civil society&lt;/span&gt;) dalam menyongsong pilpres mendatang. Jika tidak, itu berarti sama saja kita sedang mempercepat laju kematian daya kreasi demokrasi untuk lepas dari kemandulan berpikirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dimuat di Koran Sore &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wawasan&lt;/span&gt;, 1 April 2008; dengan penyesuaian)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6229740364415250960-4706885504976174579?l=anindityowicaksono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/feeds/4706885504976174579/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/2009/04/memanusiawikan-manusia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6229740364415250960/posts/default/4706885504976174579'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6229740364415250960/posts/default/4706885504976174579'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/2009/04/memanusiawikan-manusia.html' title='Memanusiawikan Manusia'/><author><name>Anindityo Wicaksono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06767330856974408139</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/Scz2ra1pbII/AAAAAAAAAr0/kSL6Y5gYhTQ/S220/Om+garenk2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SffO98tVVOI/AAAAAAAAAvU/QxRf_U_hw9I/s72-c/ahmad+wahid-2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6229740364415250960.post-1004155160491243594</id><published>2009-04-09T17:56:00.013+07:00</published><updated>2009-04-10T11:14:18.058+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='film'/><title type='text'>Kegilaan Cinta Lars</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;FILM&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Semarang, 8 April 2009&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);font-size:180%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kegilaan Cinta Lars&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh Anindityo Wicaksono&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/Sd3d2scZq1I/AAAAAAAAAuc/HcacfV5nY20/s1600-h/Lars_and_the_Real_Girl_DVD-Ryan_Gosling-Emily_Mortimer-Patricia_Clarkson.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 282px; height: 400px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/Sd3d2scZq1I/AAAAAAAAAuc/HcacfV5nY20/s400/Lars_and_the_Real_Girl_DVD-Ryan_Gosling-Emily_Mortimer-Patricia_Clarkson.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5322654266334751570" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Sumber gambar: http://www.thecinemasource.com)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Judul&lt;/span&gt;: Lars and The Real Girl (2007)&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Genre&lt;/span&gt;: Drama-Komedi&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sutradara&lt;/span&gt;: Craig Gillespie&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Naskah&lt;/span&gt;: Nancy Oliver&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pemain&lt;/span&gt;: Ryan Gosling, Emily Mortimer, Paul Schneider, Kelli Garner, Patricia Clarkson&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Produksi&lt;/span&gt;: Sidney Kimmel Entertainment (USA)&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rilis&lt;/span&gt;: 12 Oktober 2007&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Durasi&lt;/span&gt;: 106 menit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center; font-style: italic;"&gt;"Terkadang kau menemukan cinta setidaknya di mana kau mengharapkannya."&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;TEMA &lt;/span&gt;percintaan memang selalu memesona. Era kebangkitan dunia musik dan film negeri ini pun kini tak jauh-jauh dari tema ini. Band-band "kemarin sore" menjadi primadona dadakan cukup dengan bermodalkan satu lagu cinta. Begitu pun film. Para sineas, layar lebar hingga sinetron, saling adu cepat mencuri perhatian khalayak dengan kisah percintaan.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Namun, karena rendahnya kreatifitas dan sindrom "tiru-meniru" yang menjangkiti hampir sebagian besar sineas kita, tema cinta menjadi semakin basi dan mudah ditebak. Konflik yang dihadirkan masih tak pernah jauh dari perselingkuhan, iri-dengki, persekongkolan, dan kecemburuan buta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sinema garapan sutradara Craig Gillespie ini berhasil menghadirkan warna baru dalam film cinta. Konflik yang dihadirkan bukan lagi rebutan pacar, kata-kata puitis mendayu-dayu, atau tangisan kehilangan tiada henti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikisahkan, Lars Lindstrom (Ryan Gosling), seorang pemuda introvert yang manis, tinggal di sebuah garasi kosong bersebelahan dengan rumah kakaknya, Gus (Paul Schneider) dan istrinya, Karin (Emily Mortimer) yang sedang mengandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan dua bersaudara-bertetangga ini awalnya berjalan normal. Mereka bertiga dikenal sebagai jemaat gereja lokal yang rajin dan gemar menolong. Keseharian Lars pun dihabiskan dengan bekerja, layaknya orang kantoran biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan tak pernah sama lagi sampai pada suatu malam. Lars mengunjungi rumah Gus dengan amat bersemangat. Layaknya pemuda kasmaran berat, muka Lars merah-padam dan berbicara dengan tersipu-sipu. Ternyata ia hendak memperkenalkan seorang gadis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabar ini sontak disambut pasangan suami-istri ini dengan gembira. Apalagi Lars pun mengundang Gus dan Karin malam itu juga untuk bertemu dengan sang gadis, yang diakuinya berprofesi sebagai misionaris (penyebar agama).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di kediaman Lars, bukannya senang dan bergembira bersama, Gus dan Karin malah melotot dan ternganga. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Olala&lt;/span&gt;! Bagaimana tidak, ternyata sang kekasih baru ini adalah seorang boneka-seks yang dipesan Lars dari sebuah situs di internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lebih mengkhawatirkan, Lars berkomunikasi dengan boneka ini layaknya gadis sungguhan. Dia memberinya minum, mengajaknya ngobrol, dan menyebut namanya dengan amat mesra: Bianca, nama yang diberikan Lars sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil diagnosa dr. Dagmar (Patricia Clarkson), sang dokter keluarga, menunjukkan bahwa Lars mengidap penyakit kejiwaan delusi, suatu gangguan psikosis fungsional mirip skizofrenia. Kondisi ini hadir akibat akumulasi penolakan yang pernah mendera Lars semasa kecil. Lars hidup dalam dunia imajinya yang liar: si boneka mati Bianca hidup menjadi realitas yang mampu berinteraksi dengan intens.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Memandikan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/Sd3eKFG8FTI/AAAAAAAAAuk/6wqI2PJKoTI/s1600-h/lars_and_the_real_girl_1-743113.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 179px; height: 120px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/Sd3eKFG8FTI/AAAAAAAAAuk/6wqI2PJKoTI/s200/lars_and_the_real_girl_1-743113.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5322654599373133106" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Sinema yang berlokasi syuting di Toronto, Kanada, ini menyuguhkan keteladanan cinta tanpa bersyarat. Pergulatan yang sesungguhnya hadir sejak Gus-Karin beserta Mrs. Gruner (Nancy Beatty), ibu tua warga gereja yang baik hati, mengambil keputusan terberat dan teraneh dalam hidup mereka dalam suatu rapat warga gereja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"&lt;span style="font-style: italic;"&gt;What would Jesus Do&lt;/span&gt;" menjadi kata kunci yang menohok seluruh peserta rapat ketika itu. "Melihat Lars dengan segala keanehannya, yang menganggap sebuah boneka mati menjadi seorang gadis memesona, apa yang akan dilakukan Yesus?" tanya sang pendeta gereja. Hasilnya, mereka satu suara untuk menerima dan tetap mengasihi Lars apa adanya selama masa terapi kejiwaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah selanjutnya adalah sensasi. Buah konsekuensinya memang amat berat buat Gus, Karin, Mrs, Gruner, dan seluruh warga kota yang akhirnya mau tidak mau harus turut terlibat. Mereka harus bersedia mengganggap dan berinteraksi sepenuhnya dengan Bianca layaknya seorang gadis yang hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan bukan hanya dalam pikiran, mereka harus turut berinteraksi secara penuh dengan boneka-seks itu. Batas antara konyol dan mengharukan menjadi hilang di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka mulai berbicara dengan Bianca, menyuguhkannya segelas anggur, memandikannya, mendandaninya, bahkan hingga menemaninya tidur. Konyol memang, namun inilah satu-satunya jalan yang dianggap dr. Dagmar paling baik demi kesembuhan Lars.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya prosesnya berjalan perlahan bagi semua yang terlibat di dalamnya. Terutama Gus yang ragu dan takut "ketularan" gila. Namun karena kasihnya yang begitu besar pada Lars, ditambah rasa bersalahnya karena telah menahun mengacuhkan Lars, Gus lambat laun berubah. Dia bahkan mau turut memandikan dan menemani Bianca hingga tidur, aktifitas yang tadinya dianggap tak masuk akal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketekunan seluruh warga mengasihi Lars mulai berbuah ketika suatu saat Lars bertanya pada Gus: "Apa yang menjadikan seseorang sebagai seorang pria dewasa?" "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Well&lt;/span&gt;..." jawab Gus terbata-bata, kaget mendengar pertanyaan yang tak biasa dari Lars," sifat anak-anak akan selalu berada di dalammu sampai kamu memutuskan melakukan hal yang benar. Hal itu bukan yang terbaik buatmu, tetapi yang terbaik buat semua orang, meskipun hal itu melukai hatimu sendiri."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saat itu Lars mulai menghilangkan Bianca secara perlahan dari dunia imajinya. Dia menganggap Bianca sakit hingga akhirnya meninggal. Inilah titik awal kesembuhan penyakit kejiwaan Lars.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia yang tadinya kikuk berinteraksi dengan lawan jenis menjadi mulai membuka diri sejak "kematian" Bianca. Rasa tertariknya pada Margo, (Kelli Garner), teman sekantornya yang jatuh hati pada Lars, mulai berkembang seiring waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Box Office&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/Sd3eVXkp19I/AAAAAAAAAus/1L003L5Puqg/s1600-h/Cairns-WebWide-CP29MAY08P999-NN368191-GIRL.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 171px; height: 114px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/Sd3eVXkp19I/AAAAAAAAAus/1L003L5Puqg/s200/Cairns-WebWide-CP29MAY08P999-NN368191-GIRL.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5322654793308166098" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Film yang menduduki "10 film terbaik tahun ini" versi T&lt;span style="font-style: italic;"&gt;he Associated Press&lt;/span&gt; ini melambung berkat ide briliannya. Apalagi permainan memukau Ryan Gosling sebagai Lars yang sensasional tak perlu dipertanyakan lagi. Pantaslah jika aktingnya diganjar Academy Award untuk pemeran pria terbaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tema cinta yang diangkat pun segar; tak serupa film-film lain yang bergenre sejenis. Kisahnya cerdas, meneladankan cinta tanpa syarat melalui metafora sebuah boneka-seks. Film ini pun sukses di pasaran. Ia menduduki Box Office AS papan atas dengan raihan US $5,949,693.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski begitu bukan berarti film ini luput dari kritik. Lambatnya alur cerita dan musik latar yang kurang beragam sekilas membuat film ini menjadi menjemukan. Plotnya agak statis di awal-awal film. Beberapa adegan yang ingin menunjukkan perlakuan Lars maupun Gus dan Karin terhadap Bianca terlalu sering diulang-ulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun di luar kekurangan itu, bolehlah film ini menjadi oase di tengah keringnya ide para sineas lokal spesialis film cinta kita. Kita semua patut belajar banyak makna cinta dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lars and The Real Girl&lt;/span&gt;. Belajar bagaimana kasih yang tulus ternyata bisa mengubahkan seluruh warga di lingkungan tinggal Lars; dari iba menjadi rela "gila" dan memahami Bianca sebagai realitas-semu Lars.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si gila Lars tak hanya memaknai cinta sebagai kata-kata puitis dalam syair. Cinta baginya tak hanya buta, tetapi juga gila. Kegilaannya yang lebih membuat iba ketimbang simpatik ini patut kita jadikan bahan introspeksi. Lars mencintai Bianca sepenuh hati meski boneka mati itu tak pernah bisa merespon atau membalas cintanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, kita, yang tak pernah mengidap delusi atau skizofrenia ini, masih teramat sering berpikir ulang dan menimbang-nimbang saat seseorang yang kita kasihi tak pernah atau kurang membalas cinta kita. Kita menjadi ragu apakah cinta ini sepadan dengan pengorbanan kita atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan kita pongah; sering merasa sudah mengasihi sesorang terlalu banyak. Kita anggap kasih dan balasannya harus berjalan selaras. Kita anut hitung-hitungan bisnis: jika hasilnya tak sepadan, berarti salah satu pihak menang dan lainnya merugi. Kalau begitu, nyatanya kita tak lebih baik dan tulus dari seorang pengidap delusi seperti Lars Lindstrom. (*)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6229740364415250960-1004155160491243594?l=anindityowicaksono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/feeds/1004155160491243594/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/2009/04/kegilaan-cinta-lars.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6229740364415250960/posts/default/1004155160491243594'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6229740364415250960/posts/default/1004155160491243594'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/2009/04/kegilaan-cinta-lars.html' title='Kegilaan Cinta Lars'/><author><name>Anindityo Wicaksono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06767330856974408139</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/Scz2ra1pbII/AAAAAAAAAr0/kSL6Y5gYhTQ/S220/Om+garenk2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/Sd3d2scZq1I/AAAAAAAAAuc/HcacfV5nY20/s72-c/Lars_and_the_Real_Girl_DVD-Ryan_Gosling-Emily_Mortimer-Patricia_Clarkson.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6229740364415250960.post-261502424112633533</id><published>2009-04-06T21:25:00.010+07:00</published><updated>2009-04-17T22:03:56.812+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jurnalisme'/><title type='text'>Para Wartawan Menjawab</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;JURNALISME&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Semarang, 6 April 2009&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Para Wartawan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Menjawab&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh Anindityo Wicaksono&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SdoZ2hZP4xI/AAAAAAAAAs8/aYWMOH74kyk/s1600-h/stavro+060305+s+-+Assassination+of+journalist+Samir+Kassir.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 239px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SdoZ2hZP4xI/AAAAAAAAAs8/aYWMOH74kyk/s320/stavro+060305+s+-+Assassination+of+journalist+Samir+Kassir.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5321594334159561490" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;(Sumber gambar: http://stavrotoons.com)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;BANYAK &lt;/span&gt;orang bercita-cita menjadi dokter, insinyur, pengusaha atau bahkan presiden. Kini tambah lagi satu cita-cita bagi banyak orang: caleg. Entah karena memang berjiwa negarawan atau sekadar silap terbuai gaya hidup caleg yang flamboyan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi entah mengapa tidak banyak orang bercita-cita sama sepertiku: menjadi jurnalis ulung atau wartawan terkenal. Padahal saya rasa profesi ini mulia, bersanding dengan guru. Keduanya toh sama-sama mengajar. Namun jika guru mengajar di papan tulis di hadapan para murid sebagai mitra, media ajar jurnalis adalah pena.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tugas utama jurnalis ialah memenuhi hak masyarakat atas pemenuhan informasi. Bahkan ruang lingkup jurnalis, yang mencapai pelosok desa melalui distribusi surat kabar, lebih besar ketimbang guru yang terbatas pada institusi pendidikan tempatnya bernaung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tua dan banyak kawanku yang bertanya, "Heran. Mengapa kamu ngebet sekali &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sih&lt;/span&gt; menjadi wartawan? Padahal kan wartawan gajinya kecil, mana bisa jadi orang kaya. Resikonya besar lagi, banyak musuhnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah, biar," tangkis saya cuek," meski 'miskin' kan bisa berguna bagi masyarakat. Kalau bukan wartawan, siapa lagi yang rela 'miskin' demi menjadi terang dan penyedia informasi bagi masyarakat?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebulatan tekad ini akibat petuah ibu yang mengingatkan saya untuk fokus pada satu hal jika ingin berhasil. Ibarat seorang pemburu yang tak dapat menangkap kijang sekaligus babi hutan dalam sekali perburuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika kamu ingin membawa pulang kijang, perhatikan saja kijang itu. Ke mana ia makan, tidur, dan bersantai. Jangan sedikitpun melepaskan pandangan dan bidikan tombakmu padanya sampai kamu menangkapnya. Jika kamu rakus ingin menangkap kijang dan babi hutan sekaligus, bisa-bisa kau malah takkan mendapat apa-apa," begitu petuah beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesadaran akan panggilan di bidang kewartawanan membuat saya belum lama ini bertanya kepada beberapa wartawan yang saya kenal via &lt;span style="font-style: italic;"&gt;email&lt;/span&gt;. Sekadar usaha sebelum lulus agar tak menjadi "pungguk merindukan bulan" ketika berimpian menjadi jurnalis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Total ada empat poin pertanyaan yang saya ajukan: (1) Awal mula menjadi wartawan; (2) Seperti apa bentuk tes-tes wartawan yang diadakan media kekinian; (3) Kualifikasi apa saja yang dibutuhkan untuk menjadi wartawan; (4) Saran bagi para mahasiswa yang berimpian menjadi wartawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawah ini saya sajikan jawaban dari para wartawan yang menanggapi email saya, yakni Hendra Wibawa, Arif Gunawan, Bambang Jatmiko, dan Fita Indah Maulani, semuanya dari Harian &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bisnis Indonesia&lt;/span&gt;. Semoga dapat menjadi bahan masukan bagi teman-teman yang punya cita-cita sama menjadi jurnalis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:130%;" &gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;1. Hendra Wibawa &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;(&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bisnis Indonesia&lt;/span&gt;)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga saja aku tidak terlambat menjawab pertanyaan Anda. Jujur aku terkesan dengan keingnan Anda menjadi jurnalis. Apalagi, Anda belajar di Undip, tempat yang sama aku belajar Sejarah di Fakultas Sastra. Kebetulan, majalah mahasiswa sastra HAYAMWURUK (LPM Fakultas Sastra Undip Semarang) adalah tempatku awal menekuni dunia jurnalistik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini tak banyak mahasiswa yang sejak awal bercita-cita menjadi jurnalis seperti Anda. Padahal, profesi jurnalis itu profesi mulia: melayani publik memperoleh informasi yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Awal mula menjadi wartawan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masuk bisnis melalui proses pemagangan seperti pertama kali aku magang di LPM HAYAMWURUK. Menerima penugasan, meliputnya lantas menuliskannya dalam bentuk berita dengan model piramida terbalik. Model penulisan itu memang sudah ketinggalan. Namun, di Bisnis masih diperlukan untuk pembaca Bisnis yang umumnya tak memiliki banyak waktu untuk membaca koran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bentuk tes-tes wartawan yang diadakan media kekinian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model tes itu hampir sama seperti kita melamar pekerjaan di satu perusahaan. Ada psikotes dan wawancara. Cuma bedanya ada tes menulis berita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khusus untuk pertanyaan ketiga dan keempat (kualifikasi yang dibutuhkan dan saran bagi para mahasiswa), ada baiknya Anda membaca laporan jurnalistik yang ditulis Andreas Harsono berjudul "&lt;a style="color: rgb(255, 102, 0); font-style: italic;" href="http://72.14.235.132/search?q=cache:P5NMIFKA13oJ:www.freelists.org/post/ppi/ppiindia-Sembilan-Elemen-Jurnalisme+Andreas+Harsono+Sembilan+Elemen+Jurnalisme&amp;amp;cd=3&amp;amp;hl=id&amp;amp;ct=clnk&amp;amp;gl=id"&gt;Sembilan Elemen Jurnalisme&lt;/a&gt;". Laporan itu bagus sekali bagi yang ingin mendalami jurnalisme. Laporan itu bisa diakses di www.pantau.or.id.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian, terus semangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;2. Arif Gunawan &lt;/span&gt;(&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bisnis Indonesia&lt;/span&gt;)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih atas apresiasi kamu. Semoga ke depan aku bisa terus mengembangkan penulisanku agar bisa memberi informasi bermanfaat bagi pembaca. Dan tentu saja, menjaga konsistensi agar tetap menjadi jurnalis yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Awal mula menjadi wartawan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puji syukur kepada Allah, ketika aku lulus pada 2005, Bisnis Indonesia sedang memburu calon reporter baru. Seorang kawan, penggiat komunitas Pantau di Jakarta merekomendasikanku untuk mencoba tes seleksi di media yang kugeluti sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah magang tiga bulan dan kontrak sembilan bulan, akhirnya aku diangkat menjadi karyawan tetap. Namun di tengah kondisi krisis seperti sekarang, kantorku sedang tiarap. Ada sepuluhan wartawan magang yang kontraknya diperpanjang karena kantor belum berani mengangkat karyawan baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bentuk tes-tes wartawan yang diadakan media kekinian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tes wartawan sangat mudah. Calon reporter (carep) diberi waktu menulis artikel dari materi yang sudah ada. selain itu, carep juga harus melalui serangkaian tes psikologi umum, dan harus magang minimal 3 bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama magang itulah produk kita dan kemampuan kita dinilai. Bukan hanya kemampuan menulis dan mencari angle berita, tapi juga kemampuan menembus narasumber, kedisiplinan menjalankan tugas, kemampuan mematuhi etika jurnalistik, dan termasuk juga kemampuan interpersonal di tempat kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kualifikasi menjadi wartawan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khusus di Bisnis Indonesia, carep dengan kemampuan analitis sepertinya lebih diutamakan. Pemred pernah mengatakan bahwa tulisan kami harus lebih mudah dicerna, naratif, dan kalau bisa analitis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Saran bagi para mahasiswa yang berimpian menjadi wartawan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masuklah ke dunia jurnalistik selekas mungkin. apapun, jangan lihat medianya. sekali kamu berada di lingkaran kaum jurnalistik, kamu akan lebih mudah mendapat informasi penerimaan carep di media lain, yang mungkin lebih bonafid. kalau perlu, segeralah bergabung dengan milis seputar dunia jurnalistik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dua hal lagi; jangan kalah oleh harta dan rindukanlah mati sebagai pribadi yang terhormat, seperti dicontohkan Yesus, Muhammad, atau Sidharta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali kamu menerima amplop, 99 persen kemungkinan kamu akan menerima amplop selanjutnya. Sekali kamu anggap mati terhormat adalah lebih baik (daripada hidup menghinakan diri sendiri di bawah ketiak orang berduit), maka yakinlah kematian akan menjemput layaknya kereta yang membawa kita menuju kekasih yang selama ini dirindukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai IPK (indeks prestasi kumulatif), setahuku bukan menjadi penilaian utama. IPK 2,75 sudah sangat cukup untuk memenuhi syarat FORMAL menjadi jurnalis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga sukses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;3. Bambang Jatmiko&lt;/span&gt; (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bisnis Indonesia&lt;/span&gt;)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terimakasih sebelumnya atas konsen Mas Anindityo membaca Bisnis Indonesia, khususnya tulisan saya. Sebelum di Bisnis Indonesia, saya juga kuliah dan ikut aktif di pers kampus. Saya dulu kuliah di Fisipol UGM lulus Agustus 2006, kemudian masuk ke Bisnis Indonesia tiga bulan setelahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya nggak ada persyaratan yang detail untuk bisa masuk Bisnis Indonesia. Yang penting mau belajar ekonomi dan nggak alergi sama angka. Ada beberapa tes yang sebelumnya harus dilalui saat masuk Bisnis Indonesia, di antaranya tes psikologi, kesehatan, serta tes tulis dan wawancara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dulu pas masih sekolah dan kuliah memang ngebet jadi wartawan, dan Puji Tuhan, akhirnya kesampaian juga niatku itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi wartawan itu jangan didasarkan pada semata-mata masalah mendapatkan uang, namun didasari pada niat untuk memberikan informasi yang bermanfaat kepada publik. Memang ada yang bilang gaji wartawan pas-pasan. Namun kalau Mas Anindityo jeli memilih media yang dimasuki, maka Mas Anindityo akan menemukan fakta bahwa wartawan pun juga bisa hidup sejahtera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sinilah saya menyarankan Mas Anindityo perlu mengawali profesi menjadi wartawan dengan niat yang lurus, dan tidak hanya memikirkan uangnya. Uang akan datang sendiri sebagai konsekuensi bahwa kita telah melakukan pengabdian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, Mas Anindityo juga perlu untuk memilih dan memilah media yang dimasuki. Pilihlah media-media yang memberikan kesejahteraan yang cukup bagi wartawan. Puji Tuhan, Bisnis Indonesia adalah salah satu yang bisa memberikan kesejahteraan bagi para wartawannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila Mas Anindityo ingin mencoba magang ataupun belajar jurnalistik ke Bisnis Indonesia, mungkin bisa mengirim surat magang ke HRD Bisnis Indonesia, Wisma Bisnis Indonesia Lt8. Jl. KH Mas Mansyur 12A, Karet Tengsin-Jakarta Pusat, 10220. Belakangan ini ada sejumlah mahasiswa yang magang di Bisnis, yang berasal dari Universitas Padjadjaran Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai IPK, sebagaimana yang ditentukan oleh banyak perusahaan dewasa ini, memang ada batasan minimal. Mungkin Mas Anin sudah banyak tahu bahwa IPK minimal yang disyaratkan perusahaan di level 2,75.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Kalaupun Mas Anin sudah mencatat IPK di posisi itu, saya kira Mas Anindityo&lt;/span&gt; &lt;span id="fullpost"&gt;sudah "aman".&lt;/span&gt; &lt;span id="fullpost"&gt;Namun demikian, untuk menjadi wartawan yang hebat sebenarnya bukan IPK yang &lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;menentukan, tapi karya-karya jurnalistik yang dihasilkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Banyak dari teman-teman wartawan di ibu kota mencatat IPK yang tinggi, namun &lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;mereka kurang tangguh dalam mencari berita. Demikian pula sebaliknya, banyak &lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;teman-teman yang IPK-nya pas-pasan, namun mereka menjadi wartawan yang &lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;hebat, dan tulisannya ditunggu-tunggu oleh pembaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Saya kira Mas Anindityo nggak usah berkecil hati dengan IPK yang dicatat&lt;/span&gt; &lt;span id="fullpost"&gt;itu. Banyak kesempatan yang bisa diraih untuk bisa menjadi wartawan yang &lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;hebat. Belajar menulis yang bagus dan setiap saat berusaha meningkatkan mutu &lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;tulisan itu jauh lebih memberi peluang yang besar untuk menjadi jurnalis &lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;handal, daripada hanya mengandalkan IPK.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Dan, di Bisnis Indonesia dan media-media besar lainnya, jauh lebih&lt;/span&gt; &lt;span id="fullpost"&gt;menghargai orang-orang yang selalu berusaha meningkatkan kemampuan &lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;jurnalismenya seperti itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;4. Fita Indah Maulani &lt;/span&gt;(&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bisnis Indonesia&lt;/span&gt;)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam Dityo,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah, sudah fokus nih jadi jurnalis. Pertanyaannya singkat dan jelas. Oke, saya jawab per poin ya, agar lebih jelas juga. Semoga bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Awal mula menjadi wartawan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah lulus kuliah di salah satu universitas swasta di Jogja, saya kembali lagi ke Bandung. Di sana ada lowongan sebagai koresponden atau kontributor untuk salah satu harian ekonomi terbesar di Indonesia. Jujur awalnya saya ga ngerti apapun yang berbau ekonomi, dan stigma awal saya koran ekonomi, ya isinya ga jauh dari angka dan lingkup ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal menjadi kontributor untuk wilayah Bandung, saya harus mengikuti tes membuat naskah berita. Bahannya tidak wawancara di lapangan, namun mengambil dari materi sebuah seminar. Selain tes membuat naskah, ada proses wawancara dengan salah seorang redpel (redaktur pelaksana) dari Jakarta. Lulus itu, saya diterima sebagai wartawan dengan jenjang karir sebagai kontributor Bisnis Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bentuk tes-tes wartawan yang diadakan media kekinian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tes biasanya ada pengetahuan, bahasa Inggris, psikologi (sejauh mana IQ dan EQ), dan yang paling penting: kesehatan. Jadi wartawan ga sekedar menyorongkan recorder, namun banyak tempat liputan yang memerlukan kualitas fisik prima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kualifikasi menjadi wartawan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Standar sih, kemampuan menulis dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar, bertutur, berbicara dengan bahasa Inggris, serta daya juang. Di harian Bisnis Indonesia tidak ada pelatihan khusus begi seorang jurnalis untuk mendalami isu sebuah bidang yang menjadi tanggung jawabnya, misal: transportasi dan logistik maupun teknologi informasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, setiap jurnalis dituntut untuk langsung memahami isu yang ada di desk dia. Ketika ada rolling atau perputaran desk liputan, kita harus belajar lagi dari awal, banyak baca, tanya orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Saran bagi para mahasiswa yang berimpian menjadi wartawan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Latihan menulis dan berinteraksi dengan semua orang dari level manapun. Wartawan harus percaya diri menghadapi semua narasumber, mulai dari pedagang kaki lima, hingga menteri, presiden, duta besar negara lain, dll. Soal indeks &lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;IPK (&lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;prestasi kumulatif), minimal 2,75. Yang penting kamu punya pengalaman di luar IPK yang bisa jadi nilai jual, seperti aktif di organisasi atau beberapa tulisan kamu yang pernah di muat di media massa.(*)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6229740364415250960-261502424112633533?l=anindityowicaksono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/feeds/261502424112633533/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/2009/04/empat-pertanyaan-untuk-wartawan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6229740364415250960/posts/default/261502424112633533'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6229740364415250960/posts/default/261502424112633533'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/2009/04/empat-pertanyaan-untuk-wartawan.html' title='Para Wartawan Menjawab'/><author><name>Anindityo Wicaksono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06767330856974408139</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/Scz2ra1pbII/AAAAAAAAAr0/kSL6Y5gYhTQ/S220/Om+garenk2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SdoZ2hZP4xI/AAAAAAAAAs8/aYWMOH74kyk/s72-c/stavro+060305+s+-+Assassination+of+journalist+Samir+Kassir.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6229740364415250960.post-909406640313885054</id><published>2009-04-06T20:40:00.009+07:00</published><updated>2009-04-13T21:23:05.872+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='berita'/><title type='text'>Jangan Takut Negosiasi Gaji</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;BERITA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Semarang, 5 April 2009&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);font-size:180%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jangan Takut Negosiasi Gaji&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh Anindityo Wicaksono&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SdoJUQ7ca5I/AAAAAAAAAsU/TyD7A1b30no/s1600-h/a.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 234px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SdoJUQ7ca5I/AAAAAAAAAsU/TyD7A1b30no/s320/a.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5321576153437989778" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;(&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sumber gambar: http://workexposed.files.wordpress.com&lt;/span&gt;)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;DALAM &lt;/span&gt;proses wawancara kerja, para pelamar tidak perlu takut menyebut jumlah gaji yang diinginkan karena hal ini justru dapat menjadi nilai tambah pelamar di mata pewawancara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian disampaikan Training Officer Oto Finance, Darmawan Ajari Purba, kepada peserta pembekalan pra-alumni yang diadakan Persekutuan Mahasiswa Kristen (PMK) FISIP Universitas Diponegoro Semarang, di gedung perpustakaan lantai 2 FISIP Undip, Sabtu (4/4).&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dia mengatakan, masalah gaji memang persoalan yang kompleks bagi pelamar, khususnya para &lt;span style="font-style: italic;"&gt;fresh graduate&lt;/span&gt;. "Mau menyebut, takut dikira mata duitan. Kalau tidak, malah runyam di tengah-tengah masa kerja," tandas alumnus FISIP Undip Jurusan Administrasi Niaga lulusan tahun 2005 itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan berani menyebutkan jumlah gaji yang diinginkan, tambahnya, pelamar akan mendapatkan kesan positif dari pewancara. Pelamar dianggap punya nilai lebih dan mengetahui kapasitas dan kemampuan dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu dia mengingatkan, pelamar harus memperhatikan bahasa tubuh (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;gesture&lt;/span&gt;) saat menjawab pertanyaan yang dilontarkan pewawancara. Pasalnya, kriteria lolos tidaknya seorang pelamar kadang amat subyektif. Di luar baik tidaknya jawaban yang dilontarkan, kesan pertama pelamar yang ditangkap pewawancara juga amat menentukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saat mewawancara pelamar, saya sangat mengharapkan jawaban yang lugas dan tidak 'mbulet'. Sikap tubuh pelamar yang gelisah mudah dikenali, seperti menggerak-gerakkan kakinya, memainkan kuku, atau nada suara lemah dan bergetar. Tipe pelamar seperti ini cepat tersingkir karena menyiratkan kurang percaya diri," ungkapnya mencontohkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini persaingan mencari kerja semakin ketat. Dia menceritakan ketika perusahaannya menggelar perekrutan karyawan model &lt;span style="font-style: italic;"&gt;walk-in-interview&lt;/span&gt; dalam suatu bursa kerja di UGM Yogyakarta medio Maret 2009, pesertanya mencapai seribuan orang. Padahal saat itu pihaknya hanya mencari lima orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bisa dibayangkan bagaimana lelahnya proses itu bagi pewawancara. Maka tak heran, seringkali yang lolos, yang paling terlihat beda. Artinya, meski isi jawabannya tak jauh beda dengan pelamar lain, orang ini menunjukkan karisma, antusiasme, dan dapat menjawab dengan lugas dan tenang," ujar pria asal Pematang Siantar, Sumatera Utara, ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ketua Penyelenggara, Oktavia Ruth Prawidiasari, mahasiswa Ilmu Komunikasi 2006, kegiatan ini bertujuan membekali para calon wisudawan sebelum memasuki persaingan mencari kerja yang kian ketat. "Selain kiat lolos wawancara kerja, mereka juga diajarkan bagaimana memilih bidang kerja yang sesuai, mencari lowongan, dan membuat surat lamaran dan CV yang efektif," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sotar Tohab, calon wisudawan Ilmu Komunikasi, mengatakan kegiatan seperti ini amat bermanfaat baginya yang akan diwisuda periode April 2009 ini. Menjelang wisuda, dia mengaku belum tahu betul bagaimana menghadapi wawancara kerja. Juga bagaimana membuat surat lamaran dan CV yang efektif dan mampu memikat perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Selama ini saya hanya mencontoh yang dibuat teman atau dari buku. Meski banyak pilihan, saya masih belum yakin surat lamaran dan CV seperti apa yang benar-benar efektif meyakinkan perekrut," tuturnya. (*)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6229740364415250960-909406640313885054?l=anindityowicaksono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/feeds/909406640313885054/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/2009/04/jangan-takut-negosiasi-gaji.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6229740364415250960/posts/default/909406640313885054'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6229740364415250960/posts/default/909406640313885054'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/2009/04/jangan-takut-negosiasi-gaji.html' title='Jangan Takut Negosiasi Gaji'/><author><name>Anindityo Wicaksono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06767330856974408139</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/Scz2ra1pbII/AAAAAAAAAr0/kSL6Y5gYhTQ/S220/Om+garenk2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SdoJUQ7ca5I/AAAAAAAAAsU/TyD7A1b30no/s72-c/a.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6229740364415250960.post-2932060957572243849</id><published>2009-03-27T21:56:00.011+07:00</published><updated>2009-03-29T19:03:15.391+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sketsa'/><title type='text'>Kutu Loncat</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SKETSA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Semarang, 26 Maret 2009&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);font-size:180%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kutu Loncat&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh Anindityo Wicaksono&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SczyULKv2qI/AAAAAAAAArM/YExnIZLqdUo/s1600-h/ReddishRussianBug.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 230px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SczyULKv2qI/AAAAAAAAArM/YExnIZLqdUo/s320/ReddishRussianBug.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5317891688426887842" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Sumber Gambar: http://www.richard-seaman.com)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PEMAHAMAN &lt;/span&gt;akan potensi diri ramai digadang-gadang penulis-penulis buku motivasi sebagai salah satu kunci kesuksesan. Dituliskan bahwa kita harus mengetahui kepribadian, minat, dan tingkat kemampuan diri sebelum melangkah memasuki gerbang kehidupan. Bagi mahasiswa, gerbang ini berujung pada realitas yang pelik: dunia kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasalnya, dunia kerja adalah kompleksitas yang penuh dengan serba persoalan dan pergulatan. Setidaknya, dengan mengenali diri sendiri--bersamaan dengan pemahaman kemampuan diri--kita dapat memutuskan bidang apa yang menjadi panggilan kita untuk berkarya di kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ada dua contoh cerita teman semasa kuliah saya dulu, Tunggul Joko (25) dan Surrahman (26). Keduanya pintar secara akademis. Mereka meraih gelar sarjana tepat waktu, empat tahun. Hal ini karena ketika kuliah, mereka memfokuskan diri pada kegiatan perkuliahan, tanpa komitmen berarti pada kegiatan-kegiatan ekstra kampus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini berarti tak ada waktu di luar perkuliahan mereka yang hilang. Berbeda dengan para aktivis organisasi yang di luar serba tugas dan tuntutan kuliah, masih disibukkan dengan beragam kegiatan pada organisasi yang mereka ikuti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Joko, misalnya, saat di kampus dia memang pernah turut aktif dalam teater fakultas bersama saya. Namun, entah kenapa, baru sekitar empat bulan bergabung, tiba-tiba dia menghilang. Dia tak pernah lagi terlihat datang pada latihan-latihan selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika saya tanyakan perihal kepergiannya itu. Dengan enteng dijawabnya, "Ah, tidak ada apa-apa. Saya cuma bosan, Dit! Kegiatannya begitu-begitu saja."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Praktis sejak itu, semester tiga, tak ada satupun kegiatan ekstra kampus yang dia ikuti. Dia sempat bekerja menjadi reporter di Koran Sore &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wawasan&lt;/span&gt;, Semarang. Namun itupun tak lama. Sekitar tiga bulan bekerja, dia keluar dengan alasan tak mampu mengatur waktu. Sejak itu, kerjanya ya cuma bangun-kuliah-pulang-tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika masuk dunia kerja, mulai terdengar betapa seringnya dia berganti-ganti pekerjaan. Setelah lulus, pemuda asal Cilacap yang selama dua semester pernah menimba ilmu di Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, ini memulai karirnya dengan menjadi reporter di Harian &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Suara Pembaruan&lt;/span&gt;, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun baru dua bulan bekerja, dia keluar. Alasannya? Lagi-lagi bosan. "Setiap hari ada kebaktian untuk para pegawai beragama Nasrani," terangnya, entah serius apa tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu dia diterima bekerja di Harian &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kontan&lt;/span&gt;, Jakarta. Gaji awalnya pun cukup besar untuk seorang bujangan, Rp2,5 juta. Namun baru-baru ini saya dikabari bahwa per Januari 2009 mendatang lagi-lagi dia mengundurkan diri. Alasannya? Ah, sudah tertebak, lagi-lagi bosan. Tak betah? Diiyakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Gorontalo&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman saya yang kedua, Surrahman, tak jauh berbeda. Rahman, begitu dia biasa dipanggil, langsung hijrah mengadu nasib ke Jakarta begitu lulus. Temanku yang lulus dengan predikat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;cumlaude &lt;/span&gt;ini istimewa. Dia mahasiswa paling kritis di angkatanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain aktif di lembaga mahasiswa dan acara-acara debat mahasiswa, putra Magelang ini pun giat menulis. Di tingkat akhirnya, dia menjadi salah satu wakil FISIP Universitas Diponegoro, Semarang, untuk turut dalam kegiatan studi banding mahasiswa Indonesia ke Filipina selama satu bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia inilah pemacu, atau kalau tak berlebihan kusebut guruku, dalam menulis. Ini yang paling penting. Jauh sebelum aku mulai gemar menulis dan mengirimkan tulisan-tulisan opiniku pada kolom mahasiswa surat-surat kabar, sudah berulang kali tulisannya dimuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembahasan dan bahasanya jernih. Kawan ini pulalah yang mengenalkanku pada karya-karya penulis sosialis Indonesia macam Pramoedya Ananta Toer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Jakarta, karir awalnya bermula di Indomobil Finance untuk posisi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Management Trainee.&lt;/span&gt; Gajinya di atas Rp2 juta. Namun, baru bekerja satu bulan, dia keluar karena diterima di perusahaan manufaktur anak usaha Astra Group. Alasannya ketika itu adalah ingin menambah pengalaman dan mencari suasana kerja yang lebih "bersahabat".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelanjutannya mungkin sudah Anda tebak, satu bulan bekerja di perusahaan yang bertempat di Cikarang itu dia menerima panggilan dari PT HM Sampoerna. Alasannya, tak betah. Dia gerah dengan atmosfir kerja di Astra Group yang terlalu kapitalis, istilah dia untuk menggambarkan etos kerja yang superketat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PT HM Sampoerna ini menempatkannya di Gorontalo untuk posisi pemasaran. Pasar yang masih labil di sana mengharuskan kawanku ini membuka pasar, merebut kue persaingan yang sebelumnya diisi perusahaan-perusahaan rokok lokal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kutanyakan mengapa dia menerima pekerjaan ini walaupun mengharuskannya pindah di pulau berbentuk huruf "K" ini, "Mumpung masih muda, aku ingin merasakan bekerja di ladang orang, di pulau Sulawesi yang masih asing bagiku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya kami, teman-teman seperjuangan kuliahnya, salut dengan kegigihannya merintis kehidupan sampai-sampai nekat merantau ke pulau jauh. Siapa pula yang berani menolak pinangan perusahaan sekelas Sampoerna, perusahaan rokok nomor wahid yang identik dengan tingkat kesejahteraan pegawai yang tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memasuki masa kerja satu bulan, Rahman mulai mengeluhkan pekerjaannya. Posisinya sebagai pemasar yang bertugas memasok produk hingga ke pedagang-pedagang kecil mulai mendapat tantangan. Ada kesalahan dalam manajemennya yang membuat harga yang ditawarkan orang-orang baru seperti Rahman menjadi tak kompetitif. Warung dan pedagang-pedagang kecil lebih memilih agen besar yang berani mematok harga jauh lebih murah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti umumnya divisi pemasaran, ada target pencapaian yang dibebankan pada tenaga pemasarnya. Perbedaan harga dengan agen besar membuat target per hari Rahman tak pernah tercapai. Dia bahkan bercerita kalau dia mau tak mau harus rela merogoh koceknya sendiri sebesar Rp15 ribu setiap hari untuk menutupi target.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih runyamnya, meski Rahman sudah berulang kali menceritakan kondisi ini, supervisor lapangan seakan masa bodoh. Dia tak pernah mau memahami permasalahan para anak buahnya. Yang utama baginya, target penjualan per hari harus selalu tercapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kerjanya duduk-duduk saja di kantor ber-AC, tak pernah mau melihat langsung kondisi pasar," gerutu Rahman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi ini menjadi dilema baginya. Ingin berganti pekerjaan, tak ada satupun saudara ia miliki di sana. Tapi kalau tidak, bisa-bisa mati muda karena terus menanggung beban moral yang berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, setelah bekerja belum genap dua bulan di sana, dia memutuskan keluar dan kembali mengadu nasib ke Jakarta. "Lah kalau harus 'tombok" terus Rp15 ribu setiap hari, apa yang kudapat untuk diriku sendiri," ujarnya kesal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kutu loncat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah Joko dan Rahman ini menyadarkanku. Dunia kerja memang dunia yang begitu kompleks. Belum terbayangkan sebelumnya, kemampuan dan kepandaian yang menjadi mahkota kesombongan para mahasiswa saat di kampus ternyata menjadi nomor sekian di dunia kerja. Sarjana lulus tepat waktu dengan IPK &lt;span style="font-style: italic;"&gt;cumlaude &lt;/span&gt;sekalipun, nyatanya masih harus berjibaku dalam kompleksitas dunia kerja yang kejam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang masih susah ditemukan pada lulusan-lulusan sarjana masa kini adalah kegigihan, kata lain keuletan dan ketekunan, atau mentalitas tak kenal menyerah. Banyak lulusan sarjana jaman sekarang yang alpa pada hal ini. Mereka terlalu pongah dengan predikat nilainya, syukur-syukur didapatnya dengan cara yang jujur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, bukan orang yang sekadar pintar yang dibutuhkan negeri yang sedang sakit ini. Jumlah orang pintar di republik amburadul ini sudah banyak. Mengutip syair salah satu lagu Iwan Fals, "tak beda dengan roti". Jumlah perguruan tinggi beserta lulusannya terus membludak seiring kenaikan jumlah orang pintar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi tak sedikit universitas, baik negeri ataupun swasta sekalipun, yang masih perlu dibenahi kualitasnya di sana-sini. Kualitas pengajar maupun output yang dihasilkannya masih perlu dipertanyakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat saja bagaimana universitas-universitas "kacangan" yang mem-&lt;span style="font-style: italic;"&gt;branding &lt;/span&gt;dirinya layaknya produk sabun mandi makin tumbuh subur. Anda tentu tak asing dengan spanduk-spanduk universitas yang berbunyi: "Lulus 3 tahun", "Satu mahasiswa satu laptop". Sasaran mereka adalah orang-orang yang mendambakan gelar sarjana demi sekadar status dan pengakuan masyarakat. Yang penting punya gelar di belakang nama; isi nol besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling dibutuhkan masyarakat sekarang adalah orang-orang yang mau berkomitmen tinggi pada bidangnya masing-masing. Yang mau membangun dan mencerahkan secara kontinyu, seberat apapun risikonya. Bukan tipe mental tempe dan kutu loncat yang sedikit-sedikit mengeluh, mengaku tak betah, lalu seenaknya keluar dari pekerjaan untuk memimpikan dunia yang lebih santai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutu loncat adalah sejenis hewan kecil yang oportunis, mendekati apapun yang dapat memberinya keuntungan paling besar. Hidupnya di kepala manusia. Ketika kepala yang ia diami itu tak lagi menguntungkan, atau sudah habis dihisap, loncatlah ia pada kepala lain yang lebih menjanjikan. Masa bodoh ia dengan kerusakan yang sudah ia sebabkan pada sumber penghidupannya yang lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai teman, aku ingin mengutipkan kata-kata Thomas Alva Edisson: "Kesuksesan hanya 1 persen kejeniusan, sisanya, 99 persen, kerja keras." Dalam bahasa Thukul, sang master di bidang ketekunan itu, "Buah kristalisasi keringat tanpa henti." (*)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6229740364415250960-2932060957572243849?l=anindityowicaksono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/feeds/2932060957572243849/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/2009/03/kutu-loncat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6229740364415250960/posts/default/2932060957572243849'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6229740364415250960/posts/default/2932060957572243849'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/2009/03/kutu-loncat.html' title='Kutu Loncat'/><author><name>Anindityo Wicaksono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06767330856974408139</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/Scz2ra1pbII/AAAAAAAAAr0/kSL6Y5gYhTQ/S220/Om+garenk2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SczyULKv2qI/AAAAAAAAArM/YExnIZLqdUo/s72-c/ReddishRussianBug.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6229740364415250960.post-8138261012195557356</id><published>2009-03-22T23:10:00.010+07:00</published><updated>2009-03-22T23:50:03.785+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sketsa'/><title type='text'>Sapi dan Kapitalisme Mutakhir</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SKETSA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Semarang, 22 Maret 2009&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Sapi dan Kapitalisme Mutakhir&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Sumber: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;itemic@gmail.com&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/ScZqU9oqxGI/AAAAAAAAAqs/6ojR8q5zlXY/s1600-h/sapi.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 245px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/ScZqU9oqxGI/AAAAAAAAAqs/6ojR8q5zlXY/s320/sapi.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5316053318532514914" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PEMBAHASAN&lt;/span&gt; mengenai sistem perekonomian terbaik di suatu negara memang tak habis-habisnya. Aneka kepentingan selalu saja menemukan titik pergulatannya di sini. Antara mementingkan rakyat, mendewakan kesetaraan, atau menganggap penguasa adalah sosok tunggal penentu kesejahteraan rakyatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini anekdot yang saya kutip dari sebuah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;posting &lt;/span&gt;di milis. Dengan jenaka tergambarkan perbedaan tipis di antara masing-masing sistem perekonomian mutakhir yang dianut di banyak negara. Untuk memudahkan pemahaman, ilustrasinya menggunakan hak kepemilikan atas sapi. Lho, lho ... kok sapi? Simak saja.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SOSIALISME&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;kau punya 2 sapi&lt;br /&gt;1 sapi kau berikan untuk tetanggamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KOMUNISME&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;kau punya 2 sapi&lt;br /&gt;negara mengambil alih keduanya dan memberimu 2 kaleng susu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;FASISME&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;kau punya 2 sapi&lt;br /&gt;negara mengambil alih keduanya dan menjual susu padamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;NAZISME&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;kau punya 2 sapi&lt;br /&gt;negara mengambil keduanya dan menembakmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KAPITALISME TRADISIONAL &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;kau punya 2 sapi betina&lt;br /&gt;kau jual satu dan beli satu sapi jantan&lt;br /&gt;ternakmu bertambah, dan ekonomi tumbuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;MODEL THE ANDERSEN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;kau punya 2 sapi&lt;br /&gt;kau cincang-cincang dua-duanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SISTEM EKONOMI AMERIKA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;kau punya 2 sapi&lt;br /&gt;kau jual satu, dan satunya kau paksa untuk memproduksi susu sebanyak 4 sapi. kemudian, kau menyewa konsultan untuk menganalisa mengapa sapinya mati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SISTEM EKONOMI PERANCIS&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;kau punya 2 sapi&lt;br /&gt;kau turun ke jalan, menyusun massa, memblokade jalanan, karena kau&lt;br /&gt;ingin punya 3 sapi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SISTEM EKONOMI JEPANG&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;kau punya 2 sapi&lt;br /&gt;kau medesainnya ulang hingga bisa menghasilkan 20 kali lipat susu&lt;br /&gt;kemudian kau buat profil kartun sapi pintar "Cowkemon" dan menjualnya ke seluruh dunia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SISTEM EKONOMI JERMAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;kau punya 2 sapi&lt;br /&gt;kau merekayasanya supaya bisa hidup lebih dari 100 tahun,&lt;br /&gt;makan cukup sebulan sekali&lt;br /&gt;dan mereka bisa saling memerah susu sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SISTEM EKONOMI ITALIA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;kau punya 2 sapi, tapi kau tak tahu dimana mereka&lt;br /&gt;kau putuskan untuk makan siang saja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SISTEM EKONOMI RUSIA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;kau punya 2 sapi&lt;br /&gt;kau menghitungnya dan berandai bagaimana kalau punya 5 sapi&lt;br /&gt;kau menghitungnya lagi dan berandai bagaimana kalau punya 42 sapi&lt;br /&gt;kau menghitungnya lagi dan menemukan bahwa sapimu cuma dua&lt;br /&gt;kau berhenti mengitung, lalu buka sebotol vodka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SISTEM EKONOMI SWIS&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;kau ada 5000 sapi. tak satupun adalah milikmu&lt;br /&gt;kau mengenakan biaya adaministratif kepada pemiliknya untuk menyimpannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SISTEM EKONOMI CINA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;kau punya 2 sapi&lt;br /&gt;kau punya 300 orang untuk memerah susunya&lt;br /&gt;kau nyatakan bahwa tak ada pengangguran, dan nilai produksi susu tinggi&lt;br /&gt;kau menangkap wartawan yang melaporkan kenyataanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SISTEM EKONOMI INDIAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;kau punya 2 sapi&lt;br /&gt;kau sembah mereka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SISTEM EKONOMI INGGRIS&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;kau punya 2 sapi&lt;br /&gt;dua-duanya sapi gila&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SISTEM EKONOMI IRAK&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;semua orang berpikir kau punya banyak sapi&lt;br /&gt;kau bilang ke mereka kau cuma punya satu&lt;br /&gt;tak ada yang percaya, maka mereka mengebom daerahmu dan menginvasi negaramu&lt;br /&gt;kau masih tak punya sapi satupun, tapi setidaknya sekarang kau bagian dari demokrasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SISTEM EKONOMI NEW ZEALAND&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;kau punya 2 sapi&lt;br /&gt;sapi yang di kiri kelihatan sangat atraktif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SISTEM EKONOMI AUSTRALIA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;kau punya 2 sapi&lt;br /&gt;bisnis kelihatannya sedang bagus&lt;br /&gt;kau tutup kantor dan pergi mencari bir untuk merayakannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SISTEM EKONOMI INDONESIA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;kau punya 2 sapi&lt;br /&gt;dua-duanya curian&lt;br /&gt;lalu kau jual dua-duanya&lt;br /&gt;kemudian kau simpan uangnya di acount nonbudgeter yang tak jelas&lt;br /&gt;kemudian kau gunakan beberapa untuk mendanai kampanye partaimu&lt;br /&gt;tapi sebagaian besar kau simpan untuk anak cucumu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SISTEM EKONOMI MALAYSIA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;kau punya 2 sapi&lt;br /&gt;dua-duanya kau curi dari indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(*)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6229740364415250960-8138261012195557356?l=anindityowicaksono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/feeds/8138261012195557356/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/2009/03/sapi-dan-kapitalisme-mutakhir.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6229740364415250960/posts/default/8138261012195557356'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6229740364415250960/posts/default/8138261012195557356'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/2009/03/sapi-dan-kapitalisme-mutakhir.html' title='Sapi dan Kapitalisme Mutakhir'/><author><name>Anindityo Wicaksono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06767330856974408139</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/Scz2ra1pbII/AAAAAAAAAr0/kSL6Y5gYhTQ/S220/Om+garenk2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/ScZqU9oqxGI/AAAAAAAAAqs/6ojR8q5zlXY/s72-c/sapi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6229740364415250960.post-5259389521198137680</id><published>2009-03-22T22:23:00.011+07:00</published><updated>2009-03-22T23:54:39.114+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sketsa'/><title type='text'>Mantan Dosen yang Bersahaja Itu</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SKETSA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Semarang, 22 Maret 2009&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);font-size:180%;" &gt;Mantan Dosen yang Bersahaja Itu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Sumber: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;iwansams@gmail.com&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/ScZfDg6D3YI/AAAAAAAAAqU/598eWJWNnf4/s1600-h/ahmadinejad+3.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 269px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/ScZfDg6D3YI/AAAAAAAAAqU/598eWJWNnf4/s400/ahmadinejad+3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5316040924135153026" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;MAHMOUD &lt;/span&gt;Ahmadinejad, dalam sebuah sesi wawancara di TV &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Fox &lt;/span&gt;(AS) ditanyakan perihal kehidupan pribadinya: "Saat anda melihat di cermin setiap pagi, apa yang anda katakan pada diri anda?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya melihat orang di cermin itu dan mengatakan padanya: 'Ingat, kau tak lebih dari seorang pelayan, hari di depanmu penuh dengan tanggung jawab yang berat, yaitu melayani bangsa Iran,'" ujar mantan dosen Tehran University of Science and Technology itu.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Berikut adalah gambaran kebersahajaan Ahmadinejad, seorang Presiden Iran, yang membuat banyak orang ternganga tak percaya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Saat pertama kali menduduki kantor kepresidenan, dia menyumbangkan seluruh karpet Istana Iran yang sangat tinggi nilainya itu kepada masjid-masjid di Teheran dan menggantikannya dengan karpet biasa yang mudah dibersihkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Ketika mengamati bahwa ada ruangan yang sangat besar untuk menerima dan menghormati tamu VIP, ia memerintahkan untuk menutup ruang tersebut dan menanyakan pada protokoler untuk menggantinya dengan ruangan biasa dengan dua kursi kayu. Alasannya, meski sederhana tetap dapat terlihat impresif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Di banyak kesempatan ia bercengkerama dengan petugas kebersihan di sekitar rumah dan kantor kepresidenannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Di bawah kepemimpinannya, saat meminta para menterinya untuk datang kepadanya, ia memberikan mereka masing-masing sebuah dokumen yang ditandatangani yang berisikan arahan-arahan darinya. Arahan tersebut terutama sekali menekankan para menterinya untuk tetap hidup sederhana. Disebutkan juga, rekening pribadi maupun kerabat dekatnya akan diawasi. Sehingga pada saat menteri-menteri berakhir masa jabatannya, mereka dapat meninggalkan kantornya dengan kepala tegak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Langkah pertama ketika menjabat presiden adalah mengumumkan kekayaan dan propertinya yang terdiri dari Peugeot 504 tahun 1977 dan sebuah rumah sederhana warisan ayahnya 40 tahun yang lalu di sebuah daerah kumuh di Teheran. Selain itu, rekening banknya bersaldo minimum, dan satu-satunya uang masuk adalah uang gaji bulanannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Gajinya sebagai dosen di sebuah universitas hanya senilai US$ 250.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Sebagai tambahan informasi, Ahmadinejad masih tinggal di rumahnya. Hanya itulah yang dimilikinya sebagai seorang presiden dari negara yang penting baik secara strategis, ekonomis, politis, belum lagi secara minyak dan pertahanan. Dia bahkan tidak mengambil gajinya, dengan alasan bahwa semua kesejahteraan adalah milik negara dan ia bertugas untuk menjaganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Satu hal yang membuat kagum staf kepresidenan adalah tas yg selalu dibawa sang presiden tiap hari selalu berisikan sarapan: roti isi atau roti keju yang disiapkan istrinya. Ia selalu memakannya dengan gembira. Ia juga menghentikan kebiasaan menyediakan makanan yang dikhususkan untuk presiden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Hal lain yang ia ubah adalah kebijakan pesawat terbang kepresidenan. Dia mengubahnya menjadi pesawat kargo sehingga dapat menghemat pajak masyarakat dan untuk dirinya. Dia meminta terbang dengan pesawat terbang biasa dengan kelas ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Ia kerap mengadakan rapat dengan menteri-menterinya untuk mendapatkan info tentang kegiatan dan efisiensi yang telah dilakukan. Ia juga memotong protokoler istana sehingga menteri-menterinya dapat masuk langsung ke ruangannya tanpa ada hambatan. Ia juga menghentikan kebiasaan upacara seremonial seperti karpet merah, sesi foto atau publikasi pribadi, dan hal-hal lain semacam itu saat mengunjungi berbagai tempat di negaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Saat harus menginap di hotel, ia meminta diberikan kamar tanpa tempat tidur yang tidak terlalu besar karena ia tidak suka tidur di atas kasur, tetapi lebih suka tidur di lantai beralaskan karpet dan selimut. Apakah perilaku tersebut merendahkan posisi presiden? Tidak sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presiden Iran tidur di ruang tamu rumahnya sesudah lepas dari para pengawalnya yang selalu mengikuti kemanapun ia pergi. Menurut koran Wifaq, foto-foto yang diambil adiknya tersebut, kemudian dipublikasikan oleh media masa di seluruh dunia, termasuk Amerika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. Sepanjang sholat, anda dapat melihat bahwa ia tidak duduk di baris paling muka bila datang terlambat. Dia juga terbiasa antri makan dengan tertib bila hadir di sebuah pesta pernikahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13. Ketika suara azan berkumandang, ia langsung mengerjakan sholat dimanapun ia berada meskipun hanya beralaskan karpet biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14. Ia juga tidak mau bersalaman dengan wanita yang bukan muhrimnya. Dia cukup menundukkan kepala dalam-dalam sebagai tanda rasa hormatnya seraya menjaga pandangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akankah nanti dari pemilu republik ini yang kabarnya diundur itu dapat hadir sesosok presiden amat bersahaja seperti itu? Bisa jadi. Tapi, ah, entah kapan....&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6229740364415250960-5259389521198137680?l=anindityowicaksono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/feeds/5259389521198137680/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/2009/03/kebersahajaan-presiden-iran.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6229740364415250960/posts/default/5259389521198137680'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6229740364415250960/posts/default/5259389521198137680'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/2009/03/kebersahajaan-presiden-iran.html' title='Mantan Dosen yang Bersahaja Itu'/><author><name>Anindityo Wicaksono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06767330856974408139</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/Scz2ra1pbII/AAAAAAAAAr0/kSL6Y5gYhTQ/S220/Om+garenk2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/ScZfDg6D3YI/AAAAAAAAAqU/598eWJWNnf4/s72-c/ahmadinejad+3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6229740364415250960.post-4091530830426821385</id><published>2009-02-21T14:59:00.015+07:00</published><updated>2009-03-04T23:05:32.679+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kolom'/><title type='text'>Tak Lagi Bernyali</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KOLOM&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Semarang, 21 Februari 2009&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);font-size:180%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tak Lagi Bernyali&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh Anindityo Wicaksono&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/Sa6lGMvSelI/AAAAAAAAAl0/zkPqMJuyBt4/s1600-h/1-cawalkot-poto-lepas1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/Sa6lGMvSelI/AAAAAAAAAl0/zkPqMJuyBt4/s400/1-cawalkot-poto-lepas1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5309362536633760338" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;(&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumber gambar&lt;/span&gt;: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;http://qizinklaziva.files.wordpress.com&lt;/span&gt;)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PEMILU &lt;/span&gt;2009 yang sedianya berlangsung pada 9 April tinggal hitungan hari. Kancah demokrasi kini memasuki jadwal kampanye yang menurut peraturan KPU No. 20/2008, antara 2 Januari-5 April 2009. Tak heran, sejumlah elite politik di seantero negeri pun sibuk ”menjual diri” demi meraup dukungan suara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruang publik kini memang tak ubahnya parade atau lebih tepatnya perang kampanye. Jalanan, halte, hingga pojok-pojok pasar tak ada yang luput dari foto-foto diri dan janji-janji manis caleg. Belum lagi partai, yang dengan bendera ukuran jumbonya atau daftar prestasinya dipampang besar-besar di tiap perempatan jalan.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Menurut peraturan KPU No.19/2008, kampanye adalah kegiatan peserta pemilu untuk meyakinkan para pemilih dengan menawarkan visi, misi, dan program peserta pemilu termasuk mengajak memilih seseorang atau partai tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama seperti fungsi promosi dalam usaha, kampanye bertujuan mengenalkan kandidat atau partai tertentu kepada calon pemilih. Secara umum, ada tiga jenis kampanye berdasarkan dampak dan caranya, yakni kampanye positif (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;positive campaign&lt;/span&gt;), kampanye negatif (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;negative campaign&lt;/span&gt;), dan kampanye hitam (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;black campaign&lt;/span&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sendi kehidupan demokrasi Indonesia, yang menemukan momentumnya sejak era reformasi bergulir, kini cedera sejak kampanye negatif susul-menyusul selama masa kampanye. Kampanye negatif di sini adalah bentuk kampanye yang semata-mata menonjolkan dirinya; dan sebaliknya, mengungkapkan kelemahan lawan dengan tujuan meyakinkan masyarakat bahwa dirinya lebih baik dibanding kandidat lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Manipulasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/Sa6lv8FpSqI/AAAAAAAAAl8/MwDKn9EeDMA/s1600-h/baliho.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 173px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/Sa6lv8FpSqI/AAAAAAAAAl8/MwDKn9EeDMA/s200/baliho.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5309363253718633122" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Demokrasi memang selalu berproses dalam diskursus antara pemupukan ambisi diri/golongan dengan niat tulus memperjuangkan kesejahteraan rakyat. Namun demikian, diskursus demokrasi tidaklah selalu identik dengan adu mulut penuh kekosongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Jurgen Habermas (dalam Franz Magnis-Suseno, 2000), diskursus yang berlangsung harus tetap memuat empat klaim: kejelasan, kebenaran, kejujuran, dan ketepatan. Jika salah satu klaim tak terpenuhi, yang terjadi bukanlah proses komunikasi, tetapi manipulasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, manipulasi! Itulah yang terjadi ketika banyak partai meradang, memilih kampanye negatif dengan saling umbar keborokan dan mengolok-olok partai lain. Lihat saja iklan saling tuding antara SBY dengan Megawati yang kian heboh di media massa. Atau Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang hemat penulis tak kalah liciknya: memanfaatkan perang urat syaraf antarpartai dengan duduk di pinggir, lalu tiba-tiba memosisikan diri sebagai penengah yang memang ”memilih diam”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ironis, dua partai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;incumbent&lt;/span&gt;, Demokrat dan Golkar, kian memperkeruh suasana, mengaburkan batas antara keberhasilan parsial partai dengan negara. Memanfaatkan aji mumpung menyandang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;status-quo&lt;/span&gt;, mereka mengklaim keberhasilan bangsa semata-mata buah perjuangan kepartaian, alih-alih buah perjuangan kolektif pemerintahan. Belum lagi kampanye berkedok kegiatan sosial-keagamaan yang merambahi ruang privat publik: pengajian, rapat RT, hingga pemberian paket bantuan korban bencana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hemat penulis, pelanggaran-pelanggaran demikian harus ditindak tegas. Jika tidak, tak salah jika oleh publik demokrasi disetarakan pertikaian tanpa ujung. Integritas moral, meminjam istilah Matthew Collins (2003), akan lenyap jika keutuhan perasaan, pikiran, dan tindakan yang mengutamakan kepentingan rakyat, disepelekan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mekanisme kampanye harus kembali pada fungsinya semula, yakni meyakinkan para pemilih dengan menawarkan visi, misi, dan program peserta pemilu. Lebih dari itu berarti melanggar integritas moral; kata lain pengkhianatan demokrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kampanye positif&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kampanye positif dengan mengemukakan potensi dan kekurangan diri sekaligus, serta memuji pesaingnya, harus terus dikawal. Atmosfir demokrasi yang mengakui perbedaan harus dijunjung tinggi. Kiranya ada beberapa bentuk yang dapat ditempuh sebagai perwujudan kampanye positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, forum diskusi: membuka pintu dialog antara masyarakat dengan kandidat tentang permasalahan yang dihadapi suatu daerah. Bahkan jika caleg punya nyali, bukalah ruang dialog di kampus-kampus. Besar kemungkinan darinya akan memunculkan solusi. Bahkan, tidak hanya sebatas janji, kontrak politik dengan masyarakat pun dapat menjadi hasil akhir kegiatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, kampanye dengan terjun langsung ke lapisan masyarakat, menyentuh permasalahan sosial yang faktual, dan melihat apa permasalahan yang harus segera ditangani alih-alih ringan bercuap-cuap tanpa bukti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara-cara unik namun positif yang ditempuh sebagian caleg berikut ini dapat ditiru. Dalam majalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tempo &lt;/span&gt;(edisi 2/2/2009), dikisahkan bagaimana seorang kandidat Dewan untuk daerah pemilihan Bandar Lampung dari Partai Amanat Nasional (PAN), Ahmad Mukhlis (42), sampai hati berkampanye dengan berjualan siomay dan es kelapa muda di salah satu sisi jalan utama kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga di Surabaya, seorang kandidat dari PKS, Mudakkir Udin (34), rela pasang aksi mengayuh sepeda ontel keliling kota. Di depan stang sepedanya, terpampang selembar poster 40x40 sentimeter bertuliskan: ”Harga Diri Bukan Materi”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya, adakah lagi yang rela berpegal-pegal ria mengekor kampanye ala Ahmad dan Mudakkir? Ataukah mereka, yang mengaku-ngaku calon wakil rakyat itu, memang tak lagi bernyali untuk berhadapan langsung dengan masyarakat?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;(&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dimuat di Koran Sore &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;WAWASAN&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;, 24 Februari 2009&lt;/span&gt;)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6229740364415250960-4091530830426821385?l=anindityowicaksono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/feeds/4091530830426821385/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/2009/02/wakil-rakyat-tak-lagi-bernyali.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6229740364415250960/posts/default/4091530830426821385'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6229740364415250960/posts/default/4091530830426821385'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/2009/02/wakil-rakyat-tak-lagi-bernyali.html' title='Tak Lagi Bernyali'/><author><name>Anindityo Wicaksono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06767330856974408139</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/Scz2ra1pbII/AAAAAAAAAr0/kSL6Y5gYhTQ/S220/Om+garenk2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/Sa6lGMvSelI/AAAAAAAAAl0/zkPqMJuyBt4/s72-c/1-cawalkot-poto-lepas1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6229740364415250960.post-1493127607913548424</id><published>2009-02-19T20:27:00.013+07:00</published><updated>2009-03-04T22:35:52.844+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='film'/><title type='text'>Ketika Wartawan Malas, Bias, dan Bodoh</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;FILM&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Semarang, 19 Februari 2009&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Ketika Wartawan Malas,&lt;br /&gt;Bias, dan Bodoh&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh Anindityo Wicaksono&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SZ1fNEdVj8I/AAAAAAAAAjk/5z0w2jZ1Ry4/s1600-h/Resurrecting_the_Champ_DVD-Josh_Hartnett-Samuel_L_Jackson.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 284px; height: 400px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SZ1fNEdVj8I/AAAAAAAAAjk/5z0w2jZ1Ry4/s400/Resurrecting_the_Champ_DVD-Josh_Hartnett-Samuel_L_Jackson.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5304500614252040130" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-size:85%;" &gt;(&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumber gambar&lt;/span&gt;: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;http://&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:arial,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;www.thecinemasource.com&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Judul&lt;/span&gt;: Resurrecting the Champ&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Genre&lt;/span&gt;: Drama&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sutradara&lt;/span&gt;: Rod Lurie&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Naskah&lt;/span&gt;: Michael Bortman dan Allison Burnett&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pemain&lt;/span&gt;: Samuel L. Jackson, Josh Hartnett, Kathryn Morris, dan Alan Alda&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Produksi&lt;/span&gt;: Yari Film Group&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tanggal Rilis&lt;/span&gt;: 24 August 2007 (USA), Region One DVD (April 2008)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KIAN &lt;/span&gt;pesatnya perkembangan media elektronik dan multimedia ditengarai mempercepat kematian surat kabar. Menurut Direktur Eksekutif Serikat Penerbit Surat Kabar, Asmono Wikan (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kompas&lt;/span&gt;, 2/12/2007), pada 2007, jumlah terbitan secara nasional stagnan pada angka 17 juta eksemplar. Sedangkan khusus surat kabar turun sekitar 1 juta eksemplar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi ini tak pelak membuat para pengelola media terus menekan wartawan untuk menghadirkan tulisan-tulisan yang memikat sekaligus obyektif. Tujuannya apalagi kalau bukan mempertahankan oplah. Jurnalis yang lahir di era begini pun bagai dua sisi mata uang. Yang berhasil, "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;byline&lt;/span&gt;"-nya menjadi jaminan; namun yang tak kuat menanggung beban, jalan pintas dijadikan solusi.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Hal inilah yang dicoba diangkat film &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Resurrecting the Champ &lt;/span&gt;(2007) besutan sutradara Rod Lurie. Adalah Erik Kernan (Josh Hartnett), wartawan olah raga &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Denver Times&lt;/span&gt;, yang sedang kelimpungan gara-gara berkali-kali artikel-artikel liputannya untuk laga-laga tinju lokal dimentahkan editornya, Metz (Alan Alda).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan-tulisan Erik dianggap belum mempunyai dampak. "Kamu cuma cocok menjadi tukang ketik, bukan jurnalis," ujar Metz tajam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kritik pedas ini membuat Erik sengit. Apalagi statusnya sebagai anak reporter legendaris Kota Denver, Erik Kernan senior, membuat dia lama jatuh-bangun demi lepas dari bayang-bayang nama besar ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tekanan batin yang dirasakan Erik ini masih ditambah dengan kacau-balaunya kehidupan pribadinya. Dia duda-cerai yang hidup terpisah dari anaknya yang berumur enam tahun yang sangat disayanginya, Teddy (Dakota Goyo), hasil buah percintaannya dengan mantan istrinya, Joyce Kernan (Kathryn Morris).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai ketika suatu malam selepas liputan laga tinju lokal, dia bertemu dengan seorang gelandangan yang sedang dipukuli tiga berandalan. Setelah para pengganggunya ini dihalau Erik pergi, si gelandangan mengenalkan dirinya sebagai mantan juara dunia bernama "Battling Bob" Satterfield (Samuel L Jackson).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama Satterfield memang tercatat harum di dunia tinju profesional, berpuluh-puluh tahun silam. Jurnalis olahraga Erik yang memang tak asing dengan nama ini pun langsung percaya. Satterfield dikenal sebagai juara tinju yang hanya beberapa periode menikmati gemilang sabuk juara dunia sebelum akhirnya menghilang setelah dihantam masa-masa tersulitnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak pelak, kehadiran sosok Satterfield ini menjadi oase di tengah padang gurun bagi kemandegan karir Erik. Ia tak ragu berkukuh memperjuangkannya di hadapan redaksi. Keraguan editornya--seperti biasanya--kini tak digubris Erik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan ia merasa tak pernah seyakin ini ketika "mengendus" nilai berita saat mendengarkan kisah si gelandangan. Ia percaya bahwa kisah hilangnya "Battling Bob" dari legenda dunia tinju, termasuk Rocky Marciano dan Jake ‘Raging Bull’ LaMotta, yang ternyata berakhir di jalanan gelap Denver, akan mampu melambungkan namanya sebagai jurnalis handal. Terutama demi membuat anaknya bangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keyakinannya terjawab. Kisahnya dimuat besar-besar sebagai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;headline &lt;/span&gt;di salah satu edisi khusus &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Denver Times&lt;/span&gt;. Foto-foto Bob Satterfield segera memenuhi sampul &lt;span style="font-style: italic;"&gt;cover&lt;/span&gt;. &lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Full-colour &lt;/span&gt;&lt;span&gt;pula.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Karya sensasional yang menggemparkan seantero warga Denver ini pun segera mendulang apresiasi luas. Ribuan oplah terdongkrak. Buntutnya, Erik didaulat menjadi presenter olah raga tinju di salah satu stasiun lokal nomor wahid. Sampai-sampai ia hampir dinominasikan mendapat penghargaan Pullitzer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Nilai kejujuran&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SZ1f2ThFYQI/AAAAAAAAAjs/mskKGW7gRvM/s1600-h/resurrecting-the-champ-insert-caption-400.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 133px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SZ1f2ThFYQI/AAAAAAAAAjs/mskKGW7gRvM/s200/resurrecting-the-champ-insert-caption-400.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5304501322668925186" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Karya Erik ini memang besar, gaya bertutur yang ia gunakan memikat, dan didahului dari proses observasi yang cukup melelahkan. Namun, ia tak menyadari bahwa sebenarnya ia sedang melakukan sebuah kesalahan fatal yang mengancam keberlangsungan karirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Erik tampaknya terlalu emosional hingga lupa pada pentingnya melakukan cek-ricek. Tanpa mengecek kebenaran pengakuan sang gelandangan, baik dari para pakar ataupun teman-teman dekatnya, dia "begitu polosnya" percaya lalu menuliskan kisah Bob.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga akhirnya orang-orang yang pernah mengenal Bob bermunculan, barulah terbongkar bahwa sang gelandangan bukanlah Bob Satterfield asli. Bob "aspal" (asli tapi palsu) ini nyatanya tak lebih dari seorang pemabuk yang doyan membual. Dia sebenarnya bekas lawan yang pernah dipukul jatuh Bob Satterfield.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan-pesan yang hendak disampaikan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Resurrecting the Champ &lt;/span&gt;jelas: kejujuran adalah di atas segalanya. Selain itu, ia bercerita seputar kepercayaan, hubungan anak-ayah, hingga dinamika kehidupan pekerja pers yang penuh gejolak dan aroma persaingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emosi penonton berhasil diaduk intens melalui rajutan adegan-adegannya. Dengan menghadirkan cuplikan-cuplikan pertandingan Bob Satterfield sebagai pembuka, misalnya. Di sepanjang sekelebatan laga tinju klasik itu, terdengar hentakan tuts mesin ketik, sambil terdengar suara melankolis Erik:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"&lt;span&gt;J&lt;/span&gt;&lt;span&gt;urnalis tak ubahnya petinju. Saat pertama kali menurunkan tulisannya, ia seperti petinju memasuki ring tinju; menunggu apakah ia keluar sebagai pemenang, kalah, atau terkapar KO&lt;/span&gt;."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;L.A. Times&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SZ1oAbafn1I/AAAAAAAAAj0/vydOG_nEvh0/s1600-h/LATimesMagazine.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px; height: 172px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SZ1oAbafn1I/AAAAAAAAAj0/vydOG_nEvh0/s200/LATimesMagazine.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5304510292680482642" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Dalam kisah nyata yang diangkat berdasarkan sebuah artikel di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;L.A. Times Magazine&lt;/span&gt; yang ditulis J.R. Moehringer ini, para pecinta film akan dimanjakan permainan gemilang aktor kawakan Samuel L. Jackson. Perannya sebagai gelandangan terlihat mengalir wajar tanpa dipaksakan. Tak heran jika film ini disebut-sebut sebagai salah satu permainan terbaik dalam karirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film ini terbilang sukses di pasaran. Ia mampu menghasilkan total pundi US$3.172.573 di USA dan Kanada. Belum lagi hasil penjualannya di seluruh dunia yang mencapai US$69.854.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski begitu, bukan berarti film ini luput cela. Hemat penulis, pemilihan Josh Harnett sebagai Erik Kernan kurang tepat. Sebagai jurnalis, terutama ayah satu anak yang berumur enam tahun, pembawaan Erik terlihat terlalu "bersih" dan muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjiwaan Harnett pun masih terasa kurang maksimal. Apalagi dalam adegan ketika Erik dihantam berita terkuaknya bualan sang gelandangan. Wajahnya terlalu datar. Kurang memperlihatkan konflik batin yang intens.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa kata wartawan senior dengan reputasi mendunia, Bill Kovach, tentang jurnalis seperti Erik Kernan? Mengutip bukunya yang menjadi "kitab suci" pekerja pers, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Elements of Journalism&lt;/span&gt; (2001), "wartawan macam itu pada dasarnya malas, bodoh, bias, dan tak tahu bagaimana harus menyajikan jurnalisme yang bermutu." Nah, lho!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6229740364415250960-1493127607913548424?l=anindityowicaksono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/feeds/1493127607913548424/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/2009/02/ketika-wartawan-malas-bias-dan-bodoh.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6229740364415250960/posts/default/1493127607913548424'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6229740364415250960/posts/default/1493127607913548424'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/2009/02/ketika-wartawan-malas-bias-dan-bodoh.html' title='Ketika Wartawan Malas, Bias, dan Bodoh'/><author><name>Anindityo Wicaksono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06767330856974408139</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/Scz2ra1pbII/AAAAAAAAAr0/kSL6Y5gYhTQ/S220/Om+garenk2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SZ1fNEdVj8I/AAAAAAAAAjk/5z0w2jZ1Ry4/s72-c/Resurrecting_the_Champ_DVD-Josh_Hartnett-Samuel_L_Jackson.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6229740364415250960.post-5011923152671711276</id><published>2009-02-11T21:11:00.019+07:00</published><updated>2009-03-19T04:13:19.501+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jurnalisme'/><title type='text'>Kronologi Perkembangan Pers Lokal di Solo</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;JURNALISME&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Semarang, 11 Februari 2009&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;Kronologi Perkembangan Pers Lokal di Solo&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh Anindityo Wicaksono&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SZLo7YKceQI/AAAAAAAAAi8/MhlVxESswRY/s1600-h/9586693.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SZLo7YKceQI/AAAAAAAAAi8/MhlVxESswRY/s400/9586693.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5301555818164680962" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Monumen Pers Surakarta&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Sumber gambar: http://www.panoramio.com)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;TAK &lt;/span&gt;&lt;span&gt;salah jika &lt;/span&gt;&lt;span&gt;Kota Solo disebut-sebut &lt;/span&gt;menempati posisi sangat unik sekaligus istimewa dalam kehidupan pers Indonesia. Denyut nadi pers di kota kecil tersebut pada pertengahan abad XIX ternyata jauh lebih maju dibandingkan kota-kota lain di Indonesia. Bahkan, pujangga Jawa termasyhur, Ronggowarsito (1802–1873), adalah mantan wartawan di Solo, tepatnya Pemimpin Redaksi surat kabar mingguan berbahasa Jawa, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bromartani&lt;/span&gt; (1855-1856).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah penelitian menyebutkan, antara 1855-2006, lebih dari 110 koran sudah pernah terbit di Solo (Mulyanto Utomo, 2007). Bahkan, tak hanya tercatat sebagai kota pertama di Indonesia yang mempunyai surat kabar “pribumi”, tetapi juga di Solo, tahun 1946, di tengah perang kemerdekaan, PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) dilahirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Yang lebih membuat kota ini unik, ternyata selain mencatat prestasi, Solo jugalah kota yang menyandang julukan sebagai “tempat kuburan koran”. Dinamika yang begitu hidup ini membuat saya tak tahan untuk tak menguraikan data kronologi perkembangan pers lokal Solo yang saya temukan di salah satu buku terbitan Harian &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS&lt;/span&gt; dalam masa perayaan 1o tahun berdirinya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS&lt;/span&gt;. Selamat membaca!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;1. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bromartani &lt;/span&gt;(1855-1856)&lt;br /&gt;Bermula Johannes Portier di Kampung Mondokan Banjarsari Solo mendatangkan satu unit percetakan lengkap, kemudian Harteveldt mendirikan suatu kongsi yang dinamakan Harteveldt &amp;amp; Co. Atas persetujuan Sunan Pakubuwono VII, Harteveldt &amp;amp; Co dapat terlaksana menerbitkan surat kabar mingguan umum dengan nama &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bromartani&lt;/span&gt;, yang terbit tiap hari Kamis, dengan bahasa dan aksara Jawa. Mulai terbit bulan Maret.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari Kamis tanggal 29 Maret 1885, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bromartini &lt;/span&gt;edisi 1 terbit, sekalipun sebelumnya sudah beredar pula. Surat kabar ini sudah membuka diri untuk iklan. Surat kabar ini sudah berkantor di Kampung Kebonan Belakang Sriwedari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Johannes Portier bertanggungjawab atas penerbitan dan isi surat kabar tersebut. Merupakan surat kabar untuk pribumi pertama, ditulis dalam huruf Jawa. Hanya berumur satu tahun karena terkena delik pers. Salah seorang anggota redaksi adalah Ronggowarsito. Surat kabar ini didirikan orang Belanda. Nomor terakhir 20 Maret 1856.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;De Nieuwe Vorstenlanden &lt;/span&gt;(1858)&lt;br /&gt;Pada 15 Januari 1858 firma Johannes Portier &amp;amp; Co di Solo menerbitkan majalah Bahasa Belanda dengan nama De Vorstenlanden. Karena pailit perusahaan ini sempat dibeli beberapa pengusaha salah sorang Vogel van de Heyde &amp;amp; Co, surat kabar ini lantas diganti nama &lt;span style="font-style: italic;"&gt;De Nieuwe Sukartasche Courant&lt;/span&gt; dengan pimpinan T.H. Reoland Landouw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian pada 1883 dijadikan harian dan namanya diganti &lt;span style="font-style: italic;"&gt; De Nieuwe Vorstenlanden&lt;/span&gt;, dengan pimpinan redaksi T.H. Roeland Landouw. Harian ini pernah menjadi surat kabar harian yang paling besar di seluruh Jawa Tengah. Pada 8 Januari 1938 pernah mengadakan peringatan 80 tahun usianya. Tetapi empat tahun berikutnya berhenti terbit menjelang Jepang masuk Kota Solo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bromartani &lt;/span&gt;(dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Djurumartani&lt;/span&gt;-Semarang 1858) (1870-1932)&lt;br /&gt;Sesudah sembilan tahun tidak ada penerbitan di Solo, atas usaha De Groot-Kolf &amp;amp; Co di Semarang dapat menerbitkan surat kabar untuk daerah Solo dengan nama Djurumartani dengan bahasa dan aksara Jawa. Redakturnya C.F. Winter Jr. juru bahasa di keraton Solo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulanya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Djurumartani &lt;/span&gt;yang terbit di Semarang dari kelompok surat kabar &lt;span style="font-style: italic;"&gt;De Locomotif&lt;/span&gt; yang dimiliki pengusaha Belanda. Kemudian terkena delik pers, akhirnya pindah ke Solo dan atas anjuran Paku Buwana IX berganti nama menjadi Bromartani. Memiliki usia cukup panjang hingga 1932.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jawa Kandha&lt;/span&gt; (1891-1919)&lt;br /&gt;Diterbitkan oleh Percetakan dan Penerbitan Albert Rusche &amp;amp; Co di Solo dengan Bahasa Jawa dan Melayu. Terbit tiap seminggu dua kali pada hari Selasa dan Jumat. Redakturnya F.L. Winter. Nomor pertama terbit pada hari Selasa Pahing tanggal 28 April 1891. Surat kabar ini berbahasa Jawa dan dimiliki orang Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jawi Hiswara&lt;/span&gt; (1891-1919)&lt;br /&gt;Penerbit yang sama dalam tahun ini menerbitkan juga surat kabar berbahasa Jawa dan Melayu dengan nama &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jawi Hiswara&lt;/span&gt;, terbit tiga kali seminggu pada hari Selasa, Rabu, dan Jumat. Tiap minggu sekali diberi lampiran yang diberi nama &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Cakrawarti  &lt;/span&gt;dengan aksara dan bahasa Jawa bergambar, empat halaman ukuran buku. S&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;alah seorang pengikut Raden Ronggowarsito bernama Suwardi yang lebih dikenal sebagai Ki Padmosusastro setelah pulang kembali ke Solo dari Belanda pada tahun 1891 membantu redaksi Jawi Kandha dan Jawi Hiswara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak memuat laporan perjalanan dan pengalaman Ki Padmosusastro di negeri Belanda. Karena kesibukan Ki Padmosusastro, tahun 1900 Raden Dirdjoatmodjo menggantikan menjadi redaktur  &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jawi Kandha&lt;/span&gt;,  &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jawi Hiswara&lt;/span&gt;, dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Cakrawarti&lt;/span&gt;. Pada tahun 1902 resmi menjadi pimpinan redaksi surat kabar tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat kabar ini diterbitkan Albert Rusche &amp;amp; Co, awalnya berkantor di Kampung Musen, lalu pindah ke sebelah selatan loji Karesidenan yang sekarang menjadi gedung Balai Kotapraja Surakarta, kemudian pindah lagi ke Kampung Loji-warung yang sekarang menjadi kantor Jawatan Sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga surat kabar ini berhenti terbit 1919, akan tetapi surat kabar tersebut besar sekali jasanya terhadap masyarakat Jawa khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya untuk membimbing penerbitan ke arah kemajuan dan kebebasan berpikir, pun juga di dalam pekembangan dunia persuratkabaran swasta nasional. Selanjutnya Raden Martodarsono  menerbitkan majalah bahasa dan aksara Jawa dengan nama Sesuluh dan Pancajannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga percetakan Sie Dhian Hoo di Pasar Besar Solo juga menerbitkan bulanan ukuran buku dengan bahasa dan aksara Jawa diberi nama &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Cakrawala&lt;/span&gt;, memuat cerita-cerita dari luar negeri disalin ke dalam bahasa dan aksara Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sasadara &lt;/span&gt;(1900)&lt;br /&gt;Diterbitkan Paheman Radya Pustaka, suatu badan resmi pemerintah Keraton Kasunanan Surakarta yang berkantor di Museum Sriwedari Solo. Merupakan majalah bulanan dengan bahasa dan aksara Jawa terbit tiap tanggal 15 bulan purnama, dengan diberi nama &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sasadara&lt;/span&gt;. Ki Padmosusastro menjabat sebagai Pemimpin Redaksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nomor pertama terbit hari Rebo Wage tanggal 15 bulan Jumadilakhir tahun 1830 windu sancaya atau 10 Oktober 1900 M, dicetak di Vogel van der Heyde &amp;amp; Co di Solo. Majalah ini banyak menampung serba serbi ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Candrakanta &lt;/span&gt;(1901-1903)&lt;br /&gt;Merupakan majalah bulanan ukuran buku, dengan aksara dan bahasa Jawa yang juga diterbitkan Paheman Radya Pustaka yang khusus berisi pengetahuan modern. Ki Padmosusastro juga menjadi pemimpin  redaksinya. Majalah ini terbit edisi perdana 20 Juni 1901 dicetak di Albert Rusche &amp;amp; Co di Surakarta dan dapat hidup sampai akhir tahun 1903.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ik Po&lt;/span&gt; (1904)&lt;br /&gt;Merupakan surat kabar Tionghoa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;De Solo Post&lt;/span&gt; (1942)&lt;br /&gt;Surat kabar berbahasa Belanda dengan Pemimpin Redaksi  K Henk Abrams. Surat kabar ini terkenal namun terpaksa menghentikan penerbitannya menjelang datangnya balatentara Jepang di Kota Solo. Surat kabar ini milik Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;De Niewe Vorsten Landen&lt;/span&gt; (1900-1919)&lt;br /&gt;Pada periode 1900 dipimpin Vogel Van der Heyde. Selanjutnya pada periode 1919 dikendalikan oleh H Roeland Landauw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Darmo Kandha&lt;/span&gt; (1913)&lt;br /&gt;Diterbitkan Nieuwe Drukkerij di Warung Pelem yang sekarang menjadi poliklinik Tiong Hoa. Pemiliknya Tjo Tjoe Kwan, seorang letterzetter di percetakan Albert Rusche &amp;amp; Co. Belum dapat diketahui nomor bukti pertama terbit terbitan pertama. Sedang terbitan kedua dapat kita temukan di museum Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat kabar &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Darma Kandha&lt;/span&gt; dengan bahasa dan aksara Jawa dan bahasa Melayu aksara latin. Terbit seminggu dua kali pada Senin dan Kamis. Nomor 1 tahun ke 1 terbit pada hari Senin Kliwon tanggal 4 Januari 1914. Surat kabar ini milik Tionghoa yang kelak dibeli Boedi Oetoemo (1920) dan pindah ke Kampung Kauman Carikan Jalan Secoyudan Solo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sarotama &lt;/span&gt;(1914)&lt;br /&gt;Berkantor di Jagalan Kabangan, Lawiyan, Surakarta. Redaksi administrasi dipegang oleh Raden Sostrokornia dan penanggung jawab redaksi oleh Oemar Said Tjokroaminoto yang juga Pemimpin Umum SI. Marco Kartodikromo pernah menjadi pimpinan redaksi mingguan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sarotama &lt;/span&gt;sekitar 1919-1920. Media ini milik Syarikat Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tjoendhamanik &lt;/span&gt;(1914)&lt;br /&gt;Surat kabar mingguan bahasa dan aksara Jawa yang diterbitkan Perkumpulan Kaum Buruh dan Tani yang pimpinan redaksinya Djoyosantosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Taman Perwarta&lt;/span&gt; (1914)&lt;br /&gt;Milik Tionghoa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pradja Surakarta&lt;/span&gt; (1914)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Doenia Bergerak&lt;/span&gt; (1914)&lt;br /&gt;Merupakan surat kabar yang dirintis dari pendirian IJB oleh Dr Tjipto Mangunkusumo dan Mas Marco. Kelak Guntur bergabung dengan media ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Guntur&lt;/span&gt; (1915)&lt;br /&gt;Mingguan yang dipimpin oleh Darnokusumo yang kelak menggabungkan diri dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Doenia Bergerak &lt;/span&gt;dan namanya menjadi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Guntur Bergerak&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Medan Bergerak&lt;/span&gt; (1916)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;19. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kumandang Jawi&lt;/span&gt; (1916)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Medan Muslimin &lt;/span&gt;(1916)&lt;br /&gt;Surat kabar bulanan bahasa Jawa dan Melayu dipimpin dan diterbitkan H Misbach di Kauman Solo dengan pembantu utamanya Sastrosiswoyo dan pembantu-pembantu tetap Marco Kartodikromo redaktur &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Doenia Bergerak&lt;/span&gt;, Raden Sosrokornia redaksi administrasi Sarotama, Mas Ngabehi Sastrosadargo dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jawi Kondho&lt;/span&gt;. Media ini merupakan suatu bentuk kerja sama surat kabar-surat kabar yang menjadi kebanggaan pada waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pertengahan tahun 1916 &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Medan Muslimin&lt;/span&gt; menerbitkan buku bahasa dan aksara Jawa dengan nama &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Hidayatul Awam&lt;/span&gt;, pedoman Islam untuk para kaum muslimin sebagai sisipan untuk para pembaca setia. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Medan Muslimin &lt;/span&gt;terbit tiap tanggal 15. Nomor pertama tahun 1 terbit pada tanggal 15 Januari 1916. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Medan Muslimin &lt;/span&gt;membawakan suara-suara revolusioner dari SI Merah, akibatnya Haji Misbach pada tahun 1925dihukum buang ke Boven Digul. Diasuh oleh KH Misbach dan H Fachrudin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;21. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Islam Bergerak&lt;/span&gt; (1917)&lt;br /&gt;Surat kabar dengan sebagian aksara dan bahasa Jawa dan sebagian aksara latin bahasa Jawa. Nomor 1 tahun I terbit di Surakarta pada hari Senin Legi tanggal 1 Januari 1917. Terbit tiga kali sebulan dengan redaktur Djoyodikromo, Tohir dan Kusen. Surat kabar &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Islam Bergerak &lt;/span&gt;juga membawakan suara-suara revolusioner.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;22. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Penggoegah &lt;/span&gt;(1919)&lt;br /&gt;Surat kabar mingguan berbahasa dan Aksara Jawa. Redaksi dan penanggung jawab Dokter Tjipto Mangunkusumo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;23. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Darmo Kondho &lt;/span&gt;(1920)&lt;br /&gt;Berhaluan Nasional, terbit Rabu dan Sabtu. Redaktur Raden Mas Soleman. Pada tahun 1935 menjadi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pewarta Oemoem&lt;/span&gt;. Sementara &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Darmo Kondho&lt;/span&gt; bahasa Jawa disebut &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pustaka Warti&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;24. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wiwara Raya&lt;/span&gt; (1920)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;25. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kumandhang Theosofie &lt;/span&gt;(1921)&lt;br /&gt;Didirikan oleh perkumpulan theosofie Cabang Solo dalam bentuk buku biasa, bahasa aksara Jawa, dan terbit bulanan. Redaksi oleh RM Partowiroyo, administrasi R. Ng. Hartokretarto. Sebagaimana dengan bulanan lain (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mahabharata &lt;/span&gt;dan  &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Babad Serang&lt;/span&gt;) dapat hidup sampai balatentara Jepang masuk di Solo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;26. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pustaka Jawi &lt;/span&gt;(1922)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;27. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mardi Siwi &lt;/span&gt;(1922)&lt;br /&gt;Bulanan bahasa Jawa aksara latin untuk pendidikan para pelajar dan para muda-mudi. Diasuh oleh staf redaksi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Literair Paedagogishce Club&lt;/span&gt; dengan alamat Sunaryo di Mangkunagaran dan administrasi S Sastroatmodjo di Badran Solo. Bulanan ini dapat hidup subur dan lama, sampai akhir pemerintahan kolonial Hindia Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;28. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Al Islam &lt;/span&gt;(1923)&lt;br /&gt;Milik Muhammadiyah Solo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;29. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bintang Islam &lt;/span&gt;(1923)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;30. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mambangul Ngulum &lt;/span&gt;(1923)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;31. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Darah Mangkunagaran &lt;/span&gt;(1923)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;32. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Narpo Wandoyo&lt;/span&gt; (1923)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;33. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Janget Kinatelon&lt;/span&gt; (1925)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;34. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Gentha Kekeleng&lt;/span&gt; (1925)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;35. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mawa &lt;/span&gt;(1925)&lt;br /&gt;Milik kalangan radikal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;36. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wara Susila&lt;/span&gt; (1925)&lt;br /&gt;AB Siti Syamsiyah menerbitkan majalah bahasa dan aksara Jawa bentuk buku ukuran umum yang mengutamakan kepentingan wanita Islam, dengan pemuka redaksi S. Hadiwiyoto, staf redaksi: 1. Sukati, 2. Sukarni, 3. Suparmini, 4. Wadining, 5. Sumartinah Danusubroto. Juga menerbitkan majalah bahasa Jawa dengan nama &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pusaka&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;37. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Suara Aisyiah&lt;/span&gt; (1925)&lt;br /&gt;Berbarengan dengan itu (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pusaka &lt;/span&gt;dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wara Susila&lt;/span&gt;, peneliti) atas kerja sama dengan Muhammadiyah, AB. Siti Syamsiyah menerbitkan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Suara Aisyiah&lt;/span&gt; dengan bahasa Jawa aksara latin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;38. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jawa Tengah&lt;/span&gt; (1926)&lt;br /&gt;Terbit bulanan berbahasa Indonesia oleh percetakan Ang Sioe Tjing di Slompretan 4 Solo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;39. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mahabharata &lt;/span&gt;(1927)&lt;br /&gt;Diterbitkan oleh Loge Theosofie Solo pada bulan Januari 1927 yang merupakan bulanan dan bahasa aksara Jawa. Diasuh oleh RM Partowiroyo. Sebagaimana dengan bulanan lain (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Babad Serang &lt;/span&gt;dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kumandhang Theosofie&lt;/span&gt;) dapat hidup sampai balatentara Jepang masuk di Solo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;40. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kawi &lt;/span&gt;(1928)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;41. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Djanget &lt;/span&gt;(1928-1929)&lt;br /&gt;Merupakan mingguan bahasa Jawa yang radikal dan berani menghadapi peraturan pemerintah kolonial Hindia Belanda. Setelah peristiwa atas tulisan Suprapto, tidak lama mingguan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Djanget &lt;/span&gt;terpaksa berhenti terbit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;42. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Darul Ulum&lt;/span&gt; (1928)&lt;br /&gt;Diterbitkan oleh pedagang buku dan batik AB. Siti Syamsiyah sebagai anggota Muhammadiyah Solo yang berjasa dalam menerbitkan buku dan majalah keislaman. Merupakan media bulanan yang mulai terbit 25 Januari 1928 dengan moto ‘majalah islamiyah yang menjadi sumbernya sekalian ilmu atau pengajaran dan pergerakan Islam seluruh dunia’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;43. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Cakrawarti &lt;/span&gt;(1919)&lt;br /&gt;Berkaitan dengan  Jawa Kandha-Hiswara yang diterbitkan oleh Radya Pustaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;44. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Woro &lt;/span&gt;(?)&lt;br /&gt;Media ini diusahakan sendiri oleh Ki Padmosusastro; merupakan majalah bulanan bahasa dan aksara Jawa, yang memuat kesusasteraan, pedoman-pedoman hidup, pengetahuan umum, piwulang, dan lain-lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;45. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Timbul &lt;/span&gt;(1931)&lt;br /&gt;Merupakan berkala bahasa Indonesia yang diasuh Dr. Radjiman Widyodiningrat dan Mr. Singgih. Selain memuat tulisan bersifat pengetahuan dan kebudayaan, juga mengetengahkan tulisan-tulisan yang membakar semangat jiwa pergerakkan kebangsaan yang waktu itu banyak pemimpin pergerakan kebangsaan yang ditangkapi dan dihukum pemerintah kolonial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;46. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Risalah Islam&lt;/span&gt; (1931)&lt;br /&gt;AB. Siti Syamsiyah menerbitkan Risalah Islam merupakan bulanan dengan bahasa dan aksara Jawa. Pimpinan redaksi Samsu Hadiwiyoto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;47. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pustaka Surakarta&lt;/span&gt; (?)&lt;br /&gt;Diterbitkan bersamaan dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Risalah Islam&lt;/span&gt; oleh AB. Siti Syamsiyah. Merupakan majalah bulanan terbit sepuluh hari sekali yang berisi Qur’an Jawen dan tafsir hadis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;48. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Purnama &lt;/span&gt;(?)&lt;br /&gt;Juga terbitan AB. Siti Syamsiyah yang berisi roman picisan. Terbit bersamaan dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Risalah Islam &lt;/span&gt;dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pustaka Surakarta&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;49. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sadya Tama &lt;/span&gt;(1931)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;50. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jagad &lt;/span&gt;(1931)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;51. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Hudaya &lt;/span&gt;(1931)&lt;br /&gt;Dokumentasinya terdapat di perpustakaan Mangkunegaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;52. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Api Rakyat&lt;/span&gt; (1932-1933)&lt;br /&gt;Diusahakan oleh Pendidikan Nasional Indonesia (PNI) cabang Surakarta yang merupakan mingguan bahasa Jawa aksara latin yang diasuh oleh Samino. Hanya berusia satu tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;53. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Adil &lt;/span&gt;(1932)&lt;br /&gt;Diusahakan Muhammadiyah di Solo terbit harian berbahasa Indonesia. Nomor 1 terbit pada 1 Oktober 1932 diasuh Syamsudin Sutan Makmur dan Suyitno. Selain isi berita-berita umum dan ajaran agama Islam, juga sebagai terompet pergerakan kebangsaan dan perjuangan kemerdekaan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Adil &lt;/span&gt;mengalami suka-duka pasang surut akan tetapi terus hidup sampai mencapai usia lima puluh tahun lebih (sumber rujukan ini ditulis tahun 1985, peneliti). &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Adil &lt;/span&gt;pernah berhenti terbit, pernah menjadi bulanan, tengah bulanan, mingguan, dan juga pernah terbit stensilan. Milik Muhammadiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;54. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aksi &lt;/span&gt;(1933)&lt;br /&gt;Berkaitan dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Adil&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;55. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pepadanging Jagad&lt;/span&gt; (1934)&lt;br /&gt;Terbit bulan Oktober 1934 bulanan aksara bahasa Jawa diasuh oleh R.Ng. Sastrosadargo dan R.Ng. Djiwopradoto. Bulanan ini tidak dapat berusia panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;56. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Suara Kesehatan &lt;/span&gt;(1934)&lt;br /&gt;Merupakan bulanan bahasa Indonesia yang terbit Oktober 1934 oleh penerbitaKristen Uitgever Maatschappij ‘Tradju Budi’. Tujuan bulanan ini dengan tujuan tertentu yang ternyata dapat hidup subur dan lama sampai menjelang pendudukan balatentara Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;57. Darmo Woro (1934)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bulanan bahasa Jawa diterbitkan pemerintah Mangkunegaran untuk kepentingan pemerintahannya. Diasuh oleh R.M. Notosuroto. Nomor 1 diterbitkan pada November 1934. Namun tidak terbit lama, karena R.M. Notosuroto kemudian ke Belanda dan menerbitkan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Opgang &lt;/span&gt;atau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Udaya &lt;/span&gt;di negeri Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;58. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sikap &lt;/span&gt;(1934)&lt;br /&gt;Berkaitan dengan penerbit &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Darmo Woro.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;59. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bedug &lt;/span&gt;(1934)&lt;br /&gt;Pada bulan November atas usaha kaum buruh di Klaten menerbitkan tengah bulanan bahasa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jawa-Dipa&lt;/span&gt;, untuk membimbing kaum buruh menuju kesadaran pergerakan kebangsaan. Suaranya keras, maka berkali-kali mendapat peringatan dari yang berwajib, dan juga pernah kena persdelict yang berakibat ditutupnya media ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;60. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Rahayu &lt;/span&gt;(1934)&lt;br /&gt;Terbit bulan Juli 1934 merupakan bulanan bahasa aksara Jawa berisi pengetahuan tentang kesempurnaan hidup, kesusasteraan, kesusilaan, dan kebudayaan Jawa pada umumnya. Diasuh R.M.Ng. Dutodilogo dengan alamat redaksi dan administrasi di Tamtaman Baluwarti Solo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;61. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pedalangan &lt;/span&gt;(1935)&lt;br /&gt;Untuk memenuhi kebutuhan para siswa dalang di “Pasinaon Dalang Surakarta” yang menempati sebelah timur gedung Museum Radya Pustaka Sriwedari Surakarta, dan bagi para dalang pada umumnya. Didirikan oleh R.M.Ng. Dutodilogo. Terbit pertama 15 Juli 1935. Pada Januari 1941 digabung menjadi satu dengan Rahayu dan berhenti tebit menjelang akhir pemerintahan kolonial Hindia Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;62. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bangun&lt;/span&gt;(1935)&lt;br /&gt;Majalah bahasa Indonesia dan Belanda diterbitkan Intelectueelen Club di Solo yang diketuai Mr. Wongsonagoro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;63. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mahabharata Kawedar &lt;/span&gt;(1936)&lt;br /&gt;Muncul Januari 1936 oleh R.M. Sutarto Hadjowahono di Timuran Solo. Merupakan bulanan bahasa Jawa aksara latin dalam bentuk buku biasa. Isi khusus mengenai cerita wayang dari Mahabharata dengan tafsiran dan keterangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena sangat laku, maka kemudian disusul dan berbarengan terbitnya bulanan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mahabharata Kawedar &lt;/span&gt;bahasa Jawa dan bahasa Indonesia. Pada masa Jepang, majalah ini berhenti terbit dan sesudah kemerdekaan Indonesia, Oktober 1950 diterbitkan lagi lanjutannya. Akhirnya berhenti terbit pada 1956.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;64. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pancara Siddhi &lt;/span&gt;(1937)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;65. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Nusantara &lt;/span&gt;(1937)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;66. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Babad Serang &lt;/span&gt;(1938-1942)&lt;br /&gt;Diterbitkan oleh Loge Theosofie dalam bentuk bulanan bahasa Jawa. Sebagaimana dengan bulanan lain (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mahabharata &lt;/span&gt;dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kumandhang Theosofie&lt;/span&gt;) dapat hidup sampai balatentara Jepang masuk di Solo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;67. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kabar Paprentahan &lt;/span&gt;(1938)&lt;br /&gt;Milik Keraton Kasunanan Surakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;68. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pawarti Surakarta &lt;/span&gt;(1938)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;69. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pusaka Indonesia &lt;/span&gt;(1939)&lt;br /&gt;Media ini terbit 25 Oktober 1939 dan merupakan majalah bergambar bahasa Indonesia yang memuat tentang perekonomian, kesusasteraan, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;70. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ratna Dumilah &lt;/span&gt;(1939)&lt;br /&gt;Pada bulan itu juga terbit majalah bahasa Jawa aksara latin dengan nama &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ratna Dumilah &lt;/span&gt;yang memuat khusus tentang kewanitaan. Kedua majalah tersebut dapat hidup sampai akhir pemerintahan kolonial Hindia Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;71. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sarawedi &lt;/span&gt;(1941)&lt;br /&gt;Terbit 25 Oktober 1941 bulanan yang mementingkan kesusasteraan Jawa dengan aksara latin. Pengayoman K.G.P.A.A. Mangkunagoro VII dengan redaksi komisi R. Sutopo Hadisaputro dan kawan-kawannya sampai 1942.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;72. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Hidup &lt;/span&gt;(1942)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;73. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Hidayah Awam &lt;/span&gt;(?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;74. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Merah Putih &lt;/span&gt;(1945)&lt;br /&gt;Pada Sabtu pahing 22 September 1945 waktu pagi hari beredarlah secara gelap surat kabar &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Merah Putih &lt;/span&gt;ke seluruh penjuru Kota Solo, disambut dengan sangat gembira waspada oleh segenap rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;75. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Indonesia Raya &lt;/span&gt;(1945)&lt;br /&gt;Hari Senin Legi 1 Oktober 1945 dengan dicetak di percetakan Albert Rusche &amp;amp; Co pagi hari terbitlah surat kabar dengan nama &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Indonesia Raya. &lt;/span&gt;Pimpinan redaksi dipercayakan kepada Surono Wirohardjono, dibantu Subekti. Harian &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Indonesia Raya &lt;/span&gt;dapat terbit lancar dan terang-terangan diterbitkan oleh Barisan Pelopor dengan alamat Purbayan Solo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;76. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lasjkar &lt;/span&gt;(?)&lt;br /&gt;Merupakan penggabungan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Merah Putih&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Indonesia Raya&lt;/span&gt; di mana Surono Wirohardjono ditunjuk menjadi pimpinan redaksinya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lasjkar &lt;/span&gt;yang terbit pertama pada hari  Sabtu Pahing 1 Desember 1945.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;77. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pasific &lt;/span&gt;(?)&lt;br /&gt;Harian &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lasjkar &lt;/span&gt;yang oleh Subekti diserahkan kepada Markas Besar Barisan Banteng, namanya diubah jadi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pasific &lt;/span&gt;dengan pimpinan redaksi Imam Sutardjo. Tahun 1947 Surono setelah bebas dari tahanan kembali memimpin &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pasific.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;78. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Suluh Tani &lt;/span&gt;(1947)&lt;br /&gt;Terbit Februari 1947 dan pencetak Krishna Solo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;79. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Warta Indonesia&lt;/span&gt; (1947)&lt;br /&gt;Terbit nomor 22 tanggal 7 Juni 1947.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;80. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Guntur &lt;/span&gt;(1947)&lt;br /&gt;Diterbitkan Masjumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;81. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Penggugah &lt;/span&gt;(1947)&lt;br /&gt;Mingguan bahasa Jawa yang diedarkan ke pamong desa, seperti koran masuk desa, dengan pimpinan umum Darmosugondo dan pelaksana redaksi Suyadi. Mingguan ini berhenti terbit ketika serbuan Belanda ke II tahun 1948. Terbit pada masa pemerintahan residen Sudiro (Banteng).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;82. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Merdeka &lt;/span&gt;(1947)&lt;br /&gt;Merupakan cabang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Merdeka &lt;/span&gt;di Jakarta yang diterbitkan di Solo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;83. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Revolusi Pemuda&lt;/span&gt; (?)&lt;br /&gt;Terbit di sekitar media di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;84. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Suara Pemuda&lt;/span&gt; (?)&lt;br /&gt;Terbit di sekitar media di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;85. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Udaya &lt;/span&gt;(1949-1950)&lt;br /&gt;Merupakan bulanan yang diterbitkan pada bulan Mei tahun 1949 dengan alamat redaksi dan administrasi di Bromantakan 41 Solo. Bulanan ini hanya dapat bertahan sampai usia satu tahun. Merupakan kelanjutan dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Opgang &lt;/span&gt;atau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Udaya &lt;/span&gt;yang diterbitkanRM Notosuroto berbahasa Belanda dan Indonesia. Pada tahun 1950 terbit lagi dan 1956 berhenti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;86. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Boelan Sabit &lt;/span&gt;(?)&lt;br /&gt;Dimiliki Gerakan Pemuda Islam (GPI) Solo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;87. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Yudha &lt;/span&gt;(?)&lt;br /&gt;Milik Hisbullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;88. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dwi Warna &lt;/span&gt;(1950-1957)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;89. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Gelora Berdikari&lt;/span&gt; (1960)&lt;br /&gt;Surat kabar ini memiliki moto: Melaksanakan Ampera berdasarkan Pancasila. Mulai terbit 28 Oktober 1960. Penerbit Jajasan Kesejahteraan Nasional, Sala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;90. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Berita Ekonomi &lt;/span&gt;(1962)&lt;br /&gt;Surat kabar ini memiliki moto: Pembawa Suara Pedagang dan Pengusaha Rakyat non Partai. Mulai terbit 21 Agustus 1962. Penerbit CV. Bericko Press, JL. Ngebrusan 7 Solo. Pimred: Soerowijono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;91. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Patria &lt;/span&gt;(1965)&lt;br /&gt;Alamat di jalan Pasar Kliwon 180 Solo. Penanggung jawab Budiman S. Hartojo dan Pimpinan Redaksi R. Soengkar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;92. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Adil &lt;/span&gt;(1968)&lt;br /&gt;Surat kabar milik kalangan Muhammadiyah ini memiliki moto: Mengemban Amanat Tuhan dan Rakjat. Mulai terbit 1 Oktober 1932, PT. Adil Sala, Jl. Slamet Riyadi 90 Solo. PU H. Soerono&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;93. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bharata &lt;/span&gt;(1968)&lt;br /&gt;Surat kabar ini bermoto: Manudju pengamanan masjarakat tata tentrem karta raharja. Penerbit CV. Bhinneka Bharata Sala, mulai 1 Djuli 1969, Jl. Dr. Muwardi 45, Solo. Pimpinan Nj. Beny Notosubioso.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;94. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Andika &lt;/span&gt;(?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;95. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dharma Kandha&lt;/span&gt; (1969)&lt;br /&gt;Memiliki moto: Muljo Kondang Kusumaning Bawana. Mulai terbit 22 Oktober 1969. Penerbit Jajasan Dharma Pantjasila Solo, di jl. Yosodipuro 38 Solo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;96. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Solo Minggu&lt;/span&gt; (1970)&lt;br /&gt;Mingguan Independen yang mulai terbit 1 April 1970. Penerbit CV. Manggarsari Press Jl. Marconi 22 Solo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;97. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Warta Niaga&lt;/span&gt; (1970)&lt;br /&gt;Memiliki moto: Menuju Masyarakat Adil dan Makmur berdasarkan Pantjasila. Mulai terbit 10 November 1970. Penerbit Biro Penerbit dan Perpustakaan JPN Kertanegaran Jl. Kartotijasan 17/228 Solo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;98. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kentjana &lt;/span&gt;(1971)&lt;br /&gt;Memiliki moto: Mengisi generasi dengan moral Pantjasila. Mulai terbit 1 Februari 1971, Penerbit Rilan Jl. Mangkubumen Wetan gg. III RT. 22 Solo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;99. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dharma Nyata&lt;/span&gt; (1971)&lt;br /&gt;Pendiri Yayasan Dharma Nyata. Mulai terbit 1 Juni 1971. PU: W. Wandawa, PR: N. Sakdani, PP: W. Wandawa. Alamat Wirengan 20 Solo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;100. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Perikesit &lt;/span&gt;(1972)&lt;br /&gt;Penerbit Yayasan Perikesit. Mulai terbit 29 November 1972. PU/PR: Soemardi, PP: Maktal Suprapto. Alamat Sidomulyo 30 B Solo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;101. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Suara Bengawan&lt;/span&gt; (1986)&lt;br /&gt;Mulai terbit 16 Juni 1986 dan pada tahun 1988 sempat berhenti terbit 1988. Pada tahun 1991 terbit lagi dan tidak lama akhirnya juga tutup sampai sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;102. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Medium &lt;/span&gt;(1989-1997)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;103. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jawa Anyar&lt;/span&gt; (?-1997)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;104. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS &lt;/span&gt;(1997- sekarang)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;105. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pos Kita&lt;/span&gt; (1998)&lt;br /&gt;Berubah menjadi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bengawan Pos&lt;/span&gt;, kemudian tutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;106. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bengawan Pos &lt;/span&gt;(Idem)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;107. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Surakarta Pos&lt;/span&gt;t (2004)&lt;br /&gt;Terbit di Karanganyar pada tahun 2004 – tutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;108. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Radar Solo &lt;/span&gt;(2000)&lt;br /&gt;Merupakan sisipan di Harian &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jawa Pos.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;109. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Radar Nusantara &lt;/span&gt;(2005)&lt;br /&gt;Terbit mingguan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;110. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Trisula &lt;/span&gt;(2006)&lt;br /&gt;Terbit mingguan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;(Disarikan dari buku &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS, Satu Dasawarsa Meningkatkan Dinamika Masyarakat&lt;/span&gt;. Surakarta: HU &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS&lt;/span&gt;, 2007)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;SUMBER&lt;/span&gt;:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Tesis: Antoni, "Pers Lokal di Surakarta. Analisis Wacana Konstruksi Sosial atas Realitas Sosial Surakarta dalam Praktik Pers Lokal pada Harian &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SOLOPOS&lt;/span&gt;."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Data diolah dari berbagai sumber (Shiraishi, Probodiharjdo, Surjomiharjo, Riyanto dokumentasi Perpustakaan Mangkunegaran, Perpustakaan Keraton Kasunan, Monumen Pers Nasional) ditambah pengamatan peneliti.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6229740364415250960-5011923152671711276?l=anindityowicaksono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/feeds/5011923152671711276/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/2009/02/kronologi-perkembangan-pers-lokal-di.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6229740364415250960/posts/default/5011923152671711276'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6229740364415250960/posts/default/5011923152671711276'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/2009/02/kronologi-perkembangan-pers-lokal-di.html' title='Kronologi Perkembangan Pers Lokal di Solo'/><author><name>Anindityo Wicaksono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06767330856974408139</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/Scz2ra1pbII/AAAAAAAAAr0/kSL6Y5gYhTQ/S220/Om+garenk2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SZLo7YKceQI/AAAAAAAAAi8/MhlVxESswRY/s72-c/9586693.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6229740364415250960.post-1790730084793163151</id><published>2009-02-05T22:09:00.009+07:00</published><updated>2009-02-09T20:47:39.863+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kolom'/><title type='text'>Kekeliruan Paradigma Iklan Politik</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KOLOM&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Semarang, 5 Februari 2009&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Kekeliruan Paradigma Iklan Politik&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh Anindityo Wicaksono&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SYsJe0JxtSI/AAAAAAAAAis/pbnELmkyrGA/s1600-h/30385.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 288px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SYsJe0JxtSI/AAAAAAAAAis/pbnELmkyrGA/s320/30385.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5299339811531896098" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;(&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;Sumber&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt; gambar: http://www.inilah.com&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;MENJELANG &lt;/span&gt;Pemilu 2009, partai-partai partisipan pemilu berlomba-lomba melakukan sosialisasi ke khalayak ramai. Bentuknya pun beragam. Mulai dari yang murah-meriah seperti spanduk dan baliho, hingga yang merogoh kocek dalam-dalam seperti membeli ruang iklan di media massa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ilmu ekonomi, sosialisasi atau promosi—mencakup iklan—memang menjadi salah satu bauran pemasaran (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;marketing-mix&lt;/span&gt;) yang mendapat peran sentral. Menurut Basu Swastha (1990: 353), ada empat tujuan promosi, yaitu: (1) memodifikasi tingkah laku, (2) memberitahu, (3) membujuk, dan (4) mengingatkan.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tujuan promosi untuk menumbuhkan kesadaran publik akan merek dan citra produk memang sudah menjadi hal yang jamak diterima. Namun, hal ini menjadi persoalan ketika diterapkan dalam ranah politik. Mengapa demikian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paradigma berpikir iklan komersial jauh bertolakbelakang dengan politik.  Sedikitnya ada dua perbedaan esensial antara promosi produk komersial dengan produk politik. Pertama, jika iklan komersial mempunyai “filter”, yakni lembaga perlindungan konsumen yang berwenang menindak kebohongan publik, tidak halnya iklan politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, iklan komoditas komersial bersifat memperkenalkan barang dagangan konsumsi  pribadi. Artinya, ia tidak memengaruhi kehidupan masyarakat secara keseluruhan. Iklan politik, sebaliknya, karena memengaruhi proses pengambilan keputusan pemilih, ia amat menentukan arah pergerakan bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iklan-iklan politik yang kini beredar luas nyatanya mengacu pada paradigma komersial, alih-alih mengutamakan jejak rekam yang valid. Ironisnya, hal ini justru diprakarsai partai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;incumbent&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat saja bagaimana iklan televisi Partai Demokrat--kendaraan politik SBY—dengan pongah mengklaim 14 pencapaian dalam masa pemerintahan SBY sebagai andil tunggal mereka. Di antaranya yakni, penurunan harga BBM, pertumbuhan ekonomi di atas 6 persen per tahun, swasembada beras, hingga proses hukum terhadap 500 pejabat publik terkait kasus korupsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hemat penulis, hal ini adalah preseden buruk bagi kehidupan demokrasi bangsa. Partai Demokrat perlu disadarkan, semua keberhasilan yang mereka klaim sebagai komoditas iklan itu sebenarnya buah konstituen segenap penyelenggara negara. Bukan semata-mata buah perjuangan partai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar bahwa  kampanye dengan medium iklan lebih sehat ketimbang mobilisasi massa yang berpotensi mengeruhkan suasana. Namun, jika iklan politik model unjuk klaim keberhasilan dibiarkan, bangsa ini akan terus berkutat pada kehidupan demokrasi kekanak-kanakan, demokrasi yang hidup dari pengakuan dan mau menang sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segenap elemen bangsa, termasuk mahasiswa dan para aktivis yang melek politik, harus mau turun ke kantung-kantung pemilih. Pembodohan publik dan pengaburan jejak-rekam calon yang diperagakan beberapa partai dalam iklan-iklannya harus diimbangi dengan pendidikan politik bagi rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih jauh lagi, perang iklan hanya akan membidani para elit politik yang menghamba pada pasar. Mereka yang jungkir-balik  mendulang dukungan demi kejayaan golongan. Setelah jaya, ujung-ujungnya, mereka akan meninggalkan para pemilih terjerembab dalam lubang kemiskinan, keterbelakangan, dan kebodohan (politik).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6229740364415250960-1790730084793163151?l=anindityowicaksono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/feeds/1790730084793163151/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/2009/02/kekeliruan-paradigma-iklan-politik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6229740364415250960/posts/default/1790730084793163151'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6229740364415250960/posts/default/1790730084793163151'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/2009/02/kekeliruan-paradigma-iklan-politik.html' title='Kekeliruan Paradigma Iklan Politik'/><author><name>Anindityo Wicaksono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06767330856974408139</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/Scz2ra1pbII/AAAAAAAAAr0/kSL6Y5gYhTQ/S220/Om+garenk2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SYsJe0JxtSI/AAAAAAAAAis/pbnELmkyrGA/s72-c/30385.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6229740364415250960.post-8849177457475604657</id><published>2009-01-31T18:22:00.008+07:00</published><updated>2009-02-05T22:58:59.056+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kolom'/><title type='text'>Secercah Harapan dari Barry</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KOLOM&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Semarang, 31 Januari 2009&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);font-size:180%;" &gt;Secercah Harapan dari Barry&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh Anindityo Wicaksono&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SYQ3pQvLURI/AAAAAAAAAh8/uL6DtCC7w-c/s1600-h/obama_and_israel.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 248px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SYQ3pQvLURI/AAAAAAAAAh8/uL6DtCC7w-c/s320/obama_and_israel.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5297420243701551378" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-style: italic;font-family:arial,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;(&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-style: italic;font-family:arial,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;Sumber&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-style: italic;font-family:arial,sans-serif;font-size:85%;"  &gt; gambar: http://willnevergiveup.wordpress.com)&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-style: italic;font-family:arial,sans-serif;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;AMERIKA &lt;/span&gt;Serikat baru saja menorehkan lembar baru dalam sejarah kontemporer mereka. Barack Hussein Obama, pria keturunan Afrika-Amerika, akhirnya resmi dilantik menjadi presiden ke-44 Amerika Serikat pada 20 Januari 2008. Obama yang akrab dipanggil ”Barry” oleh teman-teman masa kecilnya di Indonesia ini tercatat sebagai pria kulit hitam pertama yang mendiami Gedung Putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini pekik sukacita masyarakat pinggiran AS dan eforia global yang hadir sejak kemenangan Obama itu berakhir sudah. Berganti dengan sorotan luas dunia pada masa 100 hari pemerintahannya. Pasalnya, bertumpuk persoalan berlarut-larut warisan Presiden George W. Bush, baik dalam negeri maupun dunia internasional, kini menantinya. Ada dua tantangan pokok Obama kurun empat tahun ke depan.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pertama, perekonomian negara adikuasa membutuhkan suatu gebrakan besar. AS sedang didera resesi hebat yang turut menyeret prekonomian global: PHK besar-besaran di sebagian besar industri manufaktur, membengkaknya utang nasional, hingga angka pengangguran yang mencapai tingkat tertinggi dalam lebih dari seperempat abad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, kebijakan luar negerinya sedang ditunggu-tunggu dunia. Khususnya yang berpusat di kawah konflik Timur Tengah. Kawasan ini telah jenuh dan jatuh apatis akibat kebijakan Bush yang terang-terangan merestui 22 hari agresi militer Israel di Jalur Gaza. Selain itu, konflik di Irak dan Afghanistan pun masih berlarut-larut tanpa sikap yang jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Proaktif&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hemat penulis, optimisme adalah langkah bijak dalam menyikapi semua duri onak yang menghadangnya. Sebab, apalah artinya dunia tanpa pengharapan. Stephen Covey, dalam bukunya yang masyhur, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Seven Habits of Hoghly Effective People&lt;/span&gt;, menyebutkan, proaktif adalah salah satu kebiasaan efektif yang harus selalu dikembangkan dalam mencapai tujuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proaktif yang dimaksudkan Covey adalah sikap yang memandang bahwa segala keadaan yang berlaku pada seseorang tidaklah dapat menggoyahkan visi semula.  Kita bertanggung jawab atas hidup kita sendiri. Masalah boleh saja menghadang. Kritik kaum pesimistis tak akan pernah hilang. Namun, selama teguh berpatokan pada prinsip ”&lt;span style="font-style: italic;"&gt;we are what we think&lt;/span&gt;” (kita adalah apa yang kita pikirkan), seburuk apapun keadaan di luar sana, sikap positif yang konsisten lambat laun akan menuai hasilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nampaknya Obama tahu benar prinsip ini. Di tengah sorotan negatif yang dihembuskan sebagian besar pengamat, dia pelan namun pasti terus menempuh manuver-manuver yang sesuai dengan kebijakan ambisius dalam dan luar negeri yang menjadi bahan kampanyenya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk konflik di Gaza, kedekatan Obama dengan tokoh Yahudi dan Palestina di Amerika bisa menjadi modal utamanya untuk menyikapi konflik secara lebih arif. Konflik ini adalah sentral persoalan yang tak dapat ditunda-tunda. Pasalnya, penyelesaian konflik Israel-Palestina sangat menentukan hubungan AS dengan 1,4 milyar umat Muslim dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, keberpihakan Obama dengan organisasi lobi Yahudi sangat besar. Lihat saja, sehari setelah ditetapkan menjadi capres Partai Demokrat awal Juni 2008, Obama berpidato di hadapan AIPAC—sebuah organisasi pelobi Yahudi di Amerika—untuk menepis keraguan dukungan Obama terhadap negara Israel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dukung AIPAC&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SYQ4-h4yQ2I/AAAAAAAAAiE/UenPQYUN71c/s1600-h/nw_obama-barack_011108.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SYQ4-h4yQ2I/AAAAAAAAAiE/UenPQYUN71c/s200/nw_obama-barack_011108.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5297421708594135906" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Tak dapat dipungkiri, Obama pun cenderung memilih hemat bicara kala diperhadapkan pada persoalan Timur Tengah. Hal ini adalah sebuah konsekuensi logis seorang presiden di sebuah negara adikuasa yang sarat tarik-ulur kepentingan dan ekspektasi besar masyarakat dunia. Namun, penulis melihat, Obama adalah sosok yang lebih mengedepankan politik diplomasi dan lobi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun terang mendukung AIPAC, Obama juga diberitakan dekat dengan tokoh-tokoh Palestina di AS. Bahkan kedekatan ini membuat Rashid Khalidi, salah satu cendekiawan Palestina berpengaruh di AS, pernah menggalang dana untuk Obama ketika mencalonkan diri sebagai senator. Konon pula, Obama sering hadir dalam kuliah-kuliah cendekiawan besar Palestina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Latar belakang ini mampu membuat Obama berani menawarkan kebijakan yang berbeda dari pendahulunya yang sangat ”pro-Israel”. Dia mau memetakan kebijakan luar negeri, khususnya Timur Tengah, dengan perhatian utama pada Arab dan dunia Islam. Dalam KTT Arab yang diadakan pasca-agresi Israel, Utusan Khusus AS untuk Timur Tengah mengundang Iran (Presiden Mahmoud Ahmadinejad) untuk &lt;span style="font-style: italic;"&gt;urun rembug&lt;/span&gt;. Suatu hal yang jarang sekali terjadi di masa kepemimpinan presiden sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita semua berharap, resolusi perdamaian dunia bisa mulai dirajut di bawah kepemimpinan Obama. Dengan komitmen yang kuat dan berkesinambungan, serta keterampilan diplomasi semua pihak untuk menyelesaikan masalah-masalah mendesak dan status final, solusi di Gaza mendekat dalam jangkauan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obama pernah menegaskan dukungannya pada prinsip ”dua negara (Israel-Palestina) yang hidup berdampingan dengan damai”. Obama pun berjanji memilih jalur diplomasi, bukan konfrontasi. Penulis melihat, ada sinyalemen Obama mau memainkan perannya melibatkan Hamas, mengakui Israel, dan berkomitmen terhadap pengawasan cara-cara non-kekerasan dalam menyelesaikan konflik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Obama konsisten memegang ucapannya seperti dalam pidato pelantikannya, "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kepada dunia muslim, kami mencari jalan ke depan baru berdasarkan kepentingan timbal-balik dan saling menghormati&lt;/span&gt;," maka secercah harapan mulai terlihat mengisi lembaran baru dunia Islam.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6229740364415250960-8849177457475604657?l=anindityowicaksono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/feeds/8849177457475604657/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/2009/01/secercah-harapan-dari-barry.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6229740364415250960/posts/default/8849177457475604657'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6229740364415250960/posts/default/8849177457475604657'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/2009/01/secercah-harapan-dari-barry.html' title='Secercah Harapan dari Barry'/><author><name>Anindityo Wicaksono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06767330856974408139</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/Scz2ra1pbII/AAAAAAAAAr0/kSL6Y5gYhTQ/S220/Om+garenk2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SYQ3pQvLURI/AAAAAAAAAh8/uL6DtCC7w-c/s72-c/obama_and_israel.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6229740364415250960.post-6780489470239247748</id><published>2009-01-06T21:23:00.008+07:00</published><updated>2009-02-11T22:08:51.128+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='features'/><title type='text'>Ortoddok, Enak Ditonton dan Perlu</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;FEATURES&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Semarang, 6 Januari 2009&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Ortoddok, Enak Ditonton dan Perlu&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh Anindityo Wicaksono&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SWNsLu_miWI/AAAAAAAAAhc/XUV6Vd65oqY/s1600-h/1_391444173l.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 276px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SWNsLu_miWI/AAAAAAAAAhc/XUV6Vd65oqY/s400/1_391444173l.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5288189336312252770" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;TIBA-TIBA &lt;/span&gt;serombongan gelandangan berlarian memasuki ruangan. Wajah mereka riang. Sejurus kemudian, mereka semua bernyanyi menirukan lagu yang sedang diputar di radio yang dipanggul orang terdepan: "Ada nggak ada, yang penting kita gembira .... Sekarang miskin, siapa tahu besok kaya. Sekarang bokek, siapa tahu besok ... tokek ...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekelumit adegan jenaka di atas adalah pembuka pementasan teater berjudul "Oge-Oge" (Opera Gembala, Opera Gelandangan) yang dibawakan Teater &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ortoddok &lt;/span&gt;UNDIP Semarang, pada malam natal 2008, di Gereja Kristen Jawa Tengah, Tegal.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pementasan yang berdasarkan naskah gubahan Agus Merdeka ini hendak mengingatkan penonton untuk selalu mensyukuri hidup. Penonton diajak untuk berkaca diri melalui kehidupan para gelandangan. Bagimana orang-orang "terbuang" itu tetap dapat bersukacita merayakan kehidupan dalam kondisi apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu adegan yang paling baik menyampaikan pesan itu adalah ketika mereka melelang organ tubuh salah satu teman mereka. Hal itu bermula ketika sang pemimpin--gelandangan yang paling sok tahu--ingin membuktikan, bahwa pada konkretnya, mereka para gelandangan adalah orang-orang kaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Siapa yang mau menawar 'ginjal' orang ini?" tanya sang pemimpin sambil menarik seorang teman di dekatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar tawaran itu, dengan segera para gelandangan lain antusias menawar. Rp50 juta, Rp100 juta, Rp150 juta, dan ... akhirnya ditutup pada Rp200 juta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nah, habis ginjal ... sekarang kita ganti dengan model 'ganti rugi'. Bagaimana kalau kedua matamu, saya ganti dengan rumah besar dan mewah di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;real estate&lt;/span&gt;?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mau, mau, Kang! Ada kolam renangnya, lho!" bujuk gelandangan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya, mau, ada parabolanya, tuh ...!" timpal yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si gelandangan yang dilelang terdiam. Berpatut diri. "Ah, ya saya tidak mau! Meskipun punya rumah besar dan mewah, tetapi kalau tidak punya mata ... ya, sama juga bohong! Saya tidak mau!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pekabaran Injil&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SWNtQb01uTI/AAAAAAAAAhs/P_dXsfnQyXY/s1600-h/1_905134538l.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 138px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SWNtQb01uTI/AAAAAAAAAhs/P_dXsfnQyXY/s200/1_905134538l.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5288190516577810738" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Pementasan teater yang berdurasi 30 menit itu hendak membangunkan penonton dari fatamorgana kehidupan yang acapkali menjauhkan kita dari rasa bersyukur. Mereka hendak mengingatkan, betapa kita masih seringkali salah dalam memandang hidup dan kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita terlampau sering mengeluh. Makanan buatan ibu kurang asin sedikit, mengeluh. Udara panas, mengeluh. Hujan deras tak henti-henti, mengeluh. Bahkan kalau kaki ini bisa kita tinggalkan, mungkin setelah capai berjalan jauh kita juga akan mengeluh dan meninggalkannya. Ah, manusia ....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita juga seringkali menganggap hidup sebagai sekadar urusan pemupukan aneka harta dan barang. Tujuannya, apalagi kalau bukan kepuasan dan prestise yang tak berujung. Segala cara dilakukan demi tujuan ini. Hidup yang begitu berharga ini kita sia-siakan demi harta benda duniawi yang tak akan dibawa ketika kita mati itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita lupa bahwa tubuh beserta seluruh organ di dalamnya yang kita punyai ini sendiri adalah salah satu harta yang tak ternilai. Kita lupa mensyukuri tubuh, yang dengan segala kekompleksan penciptaanya, adalah anugerah TUHAN yang tak terkira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingkah polah para aktor dalam memerankan gelandangan memang jenaka. Dengan kostum compang-camping sekadarnya ala gelandangan, para mahasiswa itu sukses merepresentasikan kaum marjinal yang lugu, polos,. dan sok tahu--demi menutupi kebodohan mereka. Kisahnya ringan. Mudah dicerna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Bayu (21), Ketua &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ortoddok&lt;/span&gt;, naskah cerita memang sengaja dibuat ringan namun padat pesan. "Teater kami berkiblat pada Teater &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Gandrik &lt;/span&gt;Yogyakarta yang memang tak terlalu mengandalkan bahasa-bahasa gerak yang penuh simbol. Kelemahan bahasa gerak yang mulitafsir adalah masih susah dimengerti publik awam. Bagi kami, yang terpenting adalah pesan. Prinsip ini persis moto kami, yaitu 'enak ditonton dan perlu'," tukasnya yang malam itu juga menjadi aktor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Karena kami teater Kristiani yang memfokuskan diri pada pekabaran injil, sebagian besar ruang lingkup pementasan kami masih di lingkungan gereja atau komunitas Nasrani. Namun, tak jarang juga kami diundang pentas di berbagai tempat bertepatan momentum sosial-budaya, seperti Hari AIDS atau pagelaran budaya di kampus," terang Bayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Visi teater yang berdiri pada 16 Desember 1992 itu adalah menjadi lembaga pekabaran injil dengan media teater yang eksis. Nama "Ortoddok" sendiri adalah singkatan dari "Teaternya Orang-Orang yang Dididik dan Diberkati oleh Kristus".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Nakal dan Nyeleneh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Agus Merdeka (36),  pendiri &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ortoddok&lt;/span&gt;, teater ini berangkat dari keinginan para mahasiswa Kristen untuk membuat dobrakan bagi dunia drama gerejani yang selama ini terkesan monoton. Awal pertemuan para pendirinya terjadi di Perkantas, sebuah komunitas mahasiswa Kristen Semarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Di banyak gereja, hingga kini drama-drama yang dipentaskan masih sebatas rutinitas setiap Natal dan Paskah. Penggambarannya pun standar. Kalau Natal, ya tentang Maria yang mencari tempat melahirkan. Paskah, ya sudah pasti seputar kisah penyaliban Yesus," tukas Agus yang kini menjadi sutradara-cum-penulis naskah lembaga pelayanan film Kristen &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Christopherus&lt;/span&gt; ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas dasar itulah, lanjutnya, mereka hendak membalikkan keadaan bahwa kisah rohani yang digelar di tempat ibadah tak selamanya harus kaku. Bisa diangkat dari kehidupan sehari-hari agar mengena penonton. "Kalau penonton saja sudah bosan, bagaiman pesannya bisa sampai?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teater &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ortoddok &lt;/span&gt;sendiri hingga kini punya sembilan naskah unggulan yang dijadikan andalannya ketika berpentas di berbagai tempat. Naskah-naskah yang kesemuanya ditulis Agus Merdeka itu terdiri dari beragam kisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antaranya tentang pergulatan cinta sepasang muda-mudi, kehidupan bebas anak muda, pertengkaran rumah tangga, masa-masa kematian seorang raja, hingga kepongahan seorang pemuka daerah yang menyebabkan pertempuran antarkelompok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul-judulnya pun dibuat nyeleneh agar menarik rasa penasaran. Tengok saja nama-nama ini: "Memomamimurtad", "Sedulur Mulur", "Kirab", "We Lha Dalah!", hingga "Lonceng Jatuh".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada benang merah yang dapat ditarik dari kesemua naskah-naskah mereka: keseimbangan antara pesan-pesan yang bernas, petilan dialog-dialog nakal, dan pergerakan teatrikal yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;nyeleneh &lt;/span&gt;namun mudah dimengerti. Maka tak heran, dalam setiap pementasan mereka, gelak tawa selalu memenuhi arena pertunjukan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6229740364415250960-6780489470239247748?l=anindityowicaksono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/feeds/6780489470239247748/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/2009/01/ortoddok-enak-ditonton-dan-perlu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6229740364415250960/posts/default/6780489470239247748'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6229740364415250960/posts/default/6780489470239247748'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/2009/01/ortoddok-enak-ditonton-dan-perlu.html' title='Ortoddok, Enak Ditonton dan Perlu'/><author><name>Anindityo Wicaksono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06767330856974408139</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/Scz2ra1pbII/AAAAAAAAAr0/kSL6Y5gYhTQ/S220/Om+garenk2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SWNsLu_miWI/AAAAAAAAAhc/XUV6Vd65oqY/s72-c/1_391444173l.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6229740364415250960.post-2470720345080547510</id><published>2008-12-26T01:28:00.002+07:00</published><updated>2008-12-26T01:48:53.720+07:00</updated><title type='text'>Selamat Natal!</title><content type='html'>Semarang, 25 Desember 2008&lt;br /&gt;&lt;a href="http://imageshack.us"&gt;&lt;img src="http://img124.imageshack.us/img124/7672/ivaacardio1.jpg" border="0" alt="Image Hosted by ImageShack.us" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;&lt;br /&gt;TUHAN memberkati!&lt;br /&gt;Anindityo Wicaksono&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6229740364415250960-2470720345080547510?l=anindityowicaksono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/feeds/2470720345080547510/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/2008/12/selamat-natal.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6229740364415250960/posts/default/2470720345080547510'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6229740364415250960/posts/default/2470720345080547510'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/2008/12/selamat-natal.html' title='Selamat Natal!'/><author><name>Anindityo Wicaksono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06767330856974408139</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/Scz2ra1pbII/AAAAAAAAAr0/kSL6Y5gYhTQ/S220/Om+garenk2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6229740364415250960.post-1913395651528126910</id><published>2008-12-21T22:11:00.011+07:00</published><updated>2008-12-21T23:03:46.864+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kolom'/><title type='text'>Buah Kecermatan Malaysia</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KOLOM&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Semarang, 20 Desember 2008&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);font-size:180%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Buah Kecermatan Malaysia&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh Anindityo Wicaksono&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SU5fiP_7k0I/AAAAAAAAAhE/-fvpVN3KXJY/s1600-h/6a00d8341ca3bb53ef00e54f43e9cf8833-800wi.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 243px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SU5fiP_7k0I/AAAAAAAAAhE/-fvpVN3KXJY/s320/6a00d8341ca3bb53ef00e54f43e9cf8833-800wi.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5282264454967038786" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;(&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sumber gambar: &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;http://governing.typepad.com)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PEMIMPIN &lt;/span&gt;yang baik adalah sosok yang diharapkan selalu hadir pada serba pergulatan masyarakat. Dia merupakan penjelmaan semangat Ki Hajar Dewantara yang masyhur: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ing Ngarso Mangun Karso, Ing Madya Sing Tuladha, Tut Wuri Handayani &lt;/span&gt;(dari depan memimpin; dari tengah memberikan teladan; dari belakang mendukung).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun pemimpin model begini nampaknya masih jauh sekali dari negeri ini. Lihat saja figur Presiden SBY yang terlihat terlalu mendewakan simpati masyarkat. Dia hilang di kala pengeluaran keputusan yang memberatkan, namun terdepan ketika menelurkan kebijakan populis.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Mari kita cermati. Ketika pemerintah mengumumkan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dari Rp4.500 menjadi Rp6.000 pada medio Mei 2008, SBY sama sekali tak menunjukkan batang hidungnya. Hanya para menterinya yang hadir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, pada pengumuman turunnya harga BBM (per 1 Desember dan 15 Desember 2008), beliau hadir. Bahkan dia menjadi yang terdahulu mengumumkannya di depan pers.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat keganjilan pola kepemimpinan begini, tak pelak kini beredar isu bahwa BBM tak ubahnya komoditas politik. Apalagi kini mendekati pemilu 2009. Kebijakan ini dianggap sekadar bagian dari politik pencitraan yang dibangun kader Partai Demokrat ini demi mendulang dukungan rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tarif Angkutan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Realitas di lapangan pun menunjukkan bahwa penurunan ini nyatanya tidak terlalu berimbas positif bagi perekonomian. Harga-harga kebutuhan relatif stagnan karena biaya transportasi publik belum juga turun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebabnya apalagi kalau bukan Organda (Organisasi Pengusaha Nasional Angkutan Bermotor) yang enggan menurunkan tarif angkutan. Jika dulu alasan kenaikan tarif karena BBM adalah penyumbang terbesar biaya produksi, kini ketika turun, dalih persoalan bergeser: biaya suku cadang, pungli, dan retribusi yang membengkak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hemat penulis, situasi ini terjadi akibat pemerintah masih tanggung-tanggung berkeputusan. Sebagai regulator, menjadi tanggung jawab pemerintah untuk mendorong para pengusaha angkutan menurunkan tarifnya. Jika tidak, tidak ada dalam kamus mereka menurunkan tarif yang sudah terlanjur naik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi ini realistis. Sebagai lembaga bisnis, prinsip utama mereka adalah meraih keuntungan sebanyak-banyaknya. Berkurangnya pos pengeluaran BBM pascapenurunan harga mereka jadikan bonus penghasilan dalam kalkulasi tarif yang sudah terlanjur naik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, sebenarnya, menurut hitungan ekonomisnya, pemerintah sudah dapat menurunkan minyak ke harga semula pada Mei 2008, di mana harga premium Rp4.500 per liternya. Pasalnya, kini harga minyak dunia sudah berkurang hingga lebih dari 50 persen (150 dolar AS menjadi 40 dolar AS per barel).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sayang, momentum itu diabaikan pemerintah. Mereka lebih peduli menggenjot popularitas dengan menurunkan harga sedikit demi sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya, nasib rakyat tetap saja terombang-ambing. Niatan baik peningkatan daya beli masyarakat tak dapat berbicara banyak sepanjang harga aneka kebutuhan pokok masih berkutat pada angka lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kebijakan Malaysia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SU5kEwfToLI/AAAAAAAAAhU/tKqAFepP-l8/s1600-h/bbm.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 137px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SU5kEwfToLI/AAAAAAAAAhU/tKqAFepP-l8/s200/bbm.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5282269445850636466" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Pemerintah sebaiknya belajar dari Malaysia. Upaya negara tetangga dalam menurunkan beban rakyatnya tidak hanya terbatas menurunkan harga BBM--hingga empat kali--tetapi juga harga barang kebutuhan lainnya, terutama kebutuhan pokok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat harga minyak dunia melambung hingga 138 dolar AS per barel per 5 Juni 2008, pemerintah Malaysia juga tak punya pilihan lain selain menaikkan harga BBM. Namun, keunggulan mereka adalah pada kecermatan membaca pergerakan harga minyak yang menunjukkan kecenderungan turun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selang dua bulan, begitu harga minyak turun mendekati 100 dolar AS per barel, Malaysia cepat-cepat menurunkan harga BBM. Begitu juga saat harga minyak anjlok hingga 80 dolar AS per barel. Total, pemerintah Malaysia menurunkan harga BBM sebanyak empat kali (2 Agustus, 24 September, 15 Oktober, dan 31 Oktober 2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain kecermatan membaca pergerakan harga minyak, Menteri Perdagangan Malaysia sekaligus berperan sebagai penjamin perlindungan konsumen. Demi mengusahakan iklim usaha yang kondusif, dia gencar melobi para pengusaha supermarket besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkahnya terbukti tepat sasaran. Supermarket-supermarket yang jejaringnya tersebar di seluruh negara bagian ini--seperti &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mydin&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Carrefour &lt;/span&gt;dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jusco&lt;/span&gt;--mau menurunkan harga-harga kebutuhan sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, supermarket &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tesco&lt;/span&gt;, yang memiliki 26 supermarket di seluruh negara bagian Malaysia, bersedia menurunkan harga hingga 47 persen dari 50 jenis barang kebutuhan sehari-hari, seperti ikan, daging, ayam, beras, dan sayur-sayuran (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Antara News&lt;/span&gt;, 31 Oktober 2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar dari Malaysia, pemerintah harus proaktif dan tegas mengawasi perekonomian domestik. Kita berharap, wacana politisasi harga BBM ini hanyalah kecurigaan yang tak terbukti. Semoga ini hanyalah bagian dari intrik para pesaing &lt;span style="font-style: italic;"&gt;incumbent &lt;/span&gt;saat ini, &lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;terutama menjelang pemilu 2009&lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika benar-benar pro-rakyat, pemerintah harus serius mengurangi beban hidup yang menghimpit masyarakat. Urusan peningkatan daya beli khalayak tidak bisa dilepaskan begitu saja pada mekanisme pasar. Jika begitu, yakinlah, perekonomian rakyat akan selamanya kalah digerus roda kapitalisme.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6229740364415250960-1913395651528126910?l=anindityowicaksono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/feeds/1913395651528126910/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/2008/12/buah-kecermatan-malaysia.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6229740364415250960/posts/default/1913395651528126910'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6229740364415250960/posts/default/1913395651528126910'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/2008/12/buah-kecermatan-malaysia.html' title='Buah Kecermatan Malaysia'/><author><name>Anindityo Wicaksono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06767330856974408139</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/Scz2ra1pbII/AAAAAAAAAr0/kSL6Y5gYhTQ/S220/Om+garenk2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SU5fiP_7k0I/AAAAAAAAAhE/-fvpVN3KXJY/s72-c/6a00d8341ca3bb53ef00e54f43e9cf8833-800wi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6229740364415250960.post-8776979109402815127</id><published>2008-12-18T21:47:00.009+07:00</published><updated>2009-01-09T23:59:51.217+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='film'/><title type='text'>Harga Seorang Manusia</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;FILM&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Semarang, 17 Desember 2008&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);font-size:180%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Harga Seorang Manusia&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh Anindityo Wicaksono&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SUpkXo6XKiI/AAAAAAAAAgk/lPEpMfZoxCw/s1600-h/les-miserables-DVDcover.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 285px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SUpkXo6XKiI/AAAAAAAAAgk/lPEpMfZoxCw/s400/les-miserables-DVDcover.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5281143870327302690" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-style: italic;font-family:arial,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;(Sumber gambar: http://www.teachwithmovies.org)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Judul&lt;/span&gt;: Les Miserables&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Genre&lt;/span&gt;: Drama&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sutradara&lt;/span&gt;: Bille August&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Naskah&lt;/span&gt;: Victor Hugo (novel), Rafael Yglesias (screenplay)&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pemain&lt;/span&gt;: Liam Neeson, Geoffrey Rush, Uma Thurman, Hans Matheson, Claire Danes&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Produksi&lt;/span&gt;: Columbia/Tristar&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tanggal Rilis&lt;/span&gt;: 1 Mei 1998&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Durasi&lt;/span&gt;: 128 menit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;TAHUKAH &lt;/span&gt;anda berapa "harga" seorang manusia? Tanya saja Prof. Norweigh, seorang pakar kimia dan komputer yang pernah meneliti hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika diuangkan, tulisnya dalam sebuah jurnal kedokteran, total harga seluruh organ-organ tubuh manusia ternyata mencapai kurang lebih USD 85 milyar (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;http://semarbagong- petrukgareng.blogspot.com&lt;/span&gt;). Harga zat penumbuh rambut saja, dengan asumsi rata-rata kebutuhan sampai umur 50 tahun sebanyak 20 gram, sebesar USD 2 juta per gramnya.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tunggu dulu, ini baru organ tubuh yang kasat mata; belum nyawa dan jiwa. Tentu bisa berjuta-juta kali lipatnya jika turut dikalkulasikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, seringkali kita lihat betapa banyaknya orang-orang yang tak dianggap atau disingkirkan dari lingkungannya. Mereka yang diketahui melakukan pelanggaran atau kesalahan di masa lalu akan selamanya dianggap tak berharga oleh masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat juga perlakuan masyarakat kepada mantan narapidana yang kembali di lingkungannya. Kehadiran mereka kadang sudah menimbulkan rasa curiga dan tak aman. Meski mengaku sudah bertobat, tetap saja mereka susah mendapat tempat di masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pembuat kejahatan itu watak, mustahil untuk merubahnya," begitu kira-kira yang terpatri dalam masyarakat model begini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, bukan begitu yang diteladankan Uskup Bienvenu Myriel dalam film &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Les Miserables&lt;/span&gt; (1998). Dalam film besutan sutradara Bille August ini, Myriel menunjukkan apa itu pengampunan tiada batas. Dia mengampuni Jean Valjean (Liam Neeson), seorang mantan narapidana yang mencuri di rumahnya ketika diberi tumpangan olehnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Jean tertangkap polisi dan dibawa ke rumahnya keesokan harinya, Uskup Myriel justru membelanya. "Oh, tidak Pak ... tidak. Dia tidak mencuri. Sayalah yang memberikan sendiri barang-barang itu kepadanya," kata Myriel kepada para polisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jean, yang sungguh terheran-heran pada apa yang didengarnya ini, bertanya, "Mengapa kau lakukan itu, setelah apa yang kulakukan padamu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan penuh kasih, bahkan sambil menambahkan lagi barang-barang berharga lain miliknya yang tak sempat "terbawa" Jean, Myriel berkata: "Kemarin kamu berjanji akan menjadi seorang manusia baru. Hari ini aku telah membeli jiwamu dengan perak ini, dan aku ingin kamu menepati janjimu. Aku telah ditebus Bapa, sehingga kamu pun juga ditebus oleh-Nya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kehidupan baru&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SUpkyg-vulI/AAAAAAAAAgs/YqvtqXspBi0/s1600-h/159094%7ETitlepage-of-the-First-Edition-of-Les-Miserables-by-Victor-Hugo-1802-85-Posters.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 150px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SUpkyg-vulI/AAAAAAAAAgs/YqvtqXspBi0/s200/159094%7ETitlepage-of-the-First-Edition-of-Les-Miserables-by-Victor-Hugo-1802-85-Posters.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5281144332054674002" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Film ini berdasarkan novel Victor Hugo (1802 – 1885) terbitan 1862 dengan judul yang sama. Ia membawakan pesan moral yang teramat dalam: Betapa besarnya kuasa pengampunan mengubah kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia hendak mengisahkan kebutuhan hakiki manusia untuk dihargai dan diterima apa adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikisahkan bagaimana pengampunan tulus yang diberikan Uskup Myriel mampu mengubah drastis kehidupan Jean 180 derajat. Dari seorang pencuri roti, Jean berhasil menjadi pengusaha kaya raya di sebuah kota kecil bernama Vigau, tempatnya melanjutkan kehidupan barunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena dikenal bijaksana, sederhana, saleh, dan memiliki kepedulian tinggi, ia pun dipercaya menjadi walikota. Ia disayangi segenap rakyatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Jean "baru" ini terus menunjukkan kebaikan-kebaikan hatinya kepada sesama. Suatu waktu, Jean, sang Walikota Vigau, tak segan-segan turun ke jalan untuk menolong seorang pengendara kereta kuda yang terperosok lubang jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lain waktu, dia memaafkan Fantine (Uma Thurman), seorang pelacur yang tertangkap polisi. Fantine adalah mantan buruh pabriknya yang terpaksa menjajakan dirinya karena dipecat setelah diketahui punya anak di luar nikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jean bersedia merawatnya yang saat itu sedang sakit keras. Ia pun menepati komitmennya untuk mengasuh anak Fantine, Cosette (Claire Danes), ketika Fantine tiada, hingga dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan baru Jean ini berubah sejak seorang inspektur polisi baru bernama Javert (Geoffrey Rush) mulai bertugas di kota itu. Javert adalah mantan pemimpin kerja paksa para tahanan di mana Jean menjalani masa hukumannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah Jean yang familiar baginya membuatnya curiga. Setelah terbukti benar--Jean adalah buronan yang selama ini dicarinya--kisah pengejaran tiada henti pun dimulai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Javert digambarkan sebagai orang yang tak punya belas kasihan. Baginya, seseorang dengan catatan masa lalu buruk, akan selamanya buruk. Betapa pun baiknya orang itu berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai akhirnya, Javert frustasi dan memilih untuk bunuh diri. Dia merasa hidupnya tak pantas lagi ketika mengetahui Jean yang begitu dibencinya justru memaafkannya. Jean bahkan dengan sukarela menyerahkan dirinya ditangkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Cermin diri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novelnya sendiri memang sensasional pada jamannya. Ia sudah dialihbahasakan di puluhan negara. Ia melambungkan nama Victor Hugo--yang juga pengarang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Hunchback of Notredamme&lt;/span&gt;--sebagai penulis dengan karya-karya yang penuh pesan moral dan kemanusiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Versi terjemahan Indonesia hadir pada 2007 lewat penerbit Bentang Pustaka. Kisahnya yang mengambil &lt;span style="font-style: italic;"&gt;setting &lt;/span&gt;pada kurun revolusi Perancis ini komplit. Ada konflik-percintaan, moral, kemanusiaan, pengkhianatan, hingga penggambaran arsitektural Eropa klasik. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Les Miserables&lt;/span&gt;, yang berarti "Yang Menderita", selesai ditulis saat Victor Hugo berusia 60 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka tak heran jika pesona kisahnya membuat ia ramai-ramai diadaptasi ke berbagai bentuk karya lain, mulai dari drama musik, sandiwara radio, film, film animasi, bahkan sampai game komputer. Mulai dari 1907 hingga 2008, terhitung 52 film yang mengangkat kisah novel ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, kisah Jean memang istimewa. Film--atau novelnya--ini hendaknya membuat kita bercermin diri: Maukah kita mengampuni orang lain?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti teladan Uskup Myriel,  mengampuni berarti "mengubahkan". Seseorang yang tak diampuni akan selalu berkubang dalam kesalahannya. Ada tertulis: Bukan tugas kita untuk menghakimi, namun sudah ditetapkan-Nya Hari Penghakiman bagi setiap kita menurut segala perbuatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, sekarang pertanyaannya, apa bedanya mengampuni dengan menghakimi? Mengampuni adalah ketika seorang maling tertangkap tangan merampok di rumah Anda, Anda lalu berkata: "Saya memaafkanmu. Pergilah dan janganlah berbuat dosa lagi!" Anda mengijinkannya berdamai dengan jiwa dan TUHAN-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan menghakimi, adalah saat ada maling tertangkap di lingkungan tempat tinggal Anda; Anda merasa turut dirugikan, lalu turut menggebuki bersama warga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum puas atau untuk membuatnya lebih jera, anda naik jabatan--dari penggebuk menjadi provokator--lalu berteriak: "Bakar ... bakar ... bakar!"&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6229740364415250960-8776979109402815127?l=anindityowicaksono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/feeds/8776979109402815127/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/2008/12/harga-seorang-manusia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6229740364415250960/posts/default/8776979109402815127'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6229740364415250960/posts/default/8776979109402815127'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/2008/12/harga-seorang-manusia.html' title='Harga Seorang Manusia'/><author><name>Anindityo Wicaksono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06767330856974408139</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/Scz2ra1pbII/AAAAAAAAAr0/kSL6Y5gYhTQ/S220/Om+garenk2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SUpkXo6XKiI/AAAAAAAAAgk/lPEpMfZoxCw/s72-c/les-miserables-DVDcover.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6229740364415250960.post-3963471390311862532</id><published>2008-12-18T21:22:00.007+07:00</published><updated>2008-12-18T22:23:02.143+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jurnalisme'/><title type='text'>Pers dan Penerbitan Pers</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;JURNALISME&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Semarang, 17 Desember 2008&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Pers dan Penerbitan Pers&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh Anindityo Wicaksono&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SUplWTPPTNI/AAAAAAAAAg0/aRUzW9tTfII/s1600-h/gabungan.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 210px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SUplWTPPTNI/AAAAAAAAAg0/aRUzW9tTfII/s320/gabungan.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5281144946841046226" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 0);font-family:arial,sans-serif;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;(Sumber gambar: http://www.sinaragapepress.com)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;A. PENGERTIAN DAN FUNGSI PERS&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;MENURUT &lt;/span&gt;leksikon komunikasi, "pers" berarti: (1) usaha percetakan atau penerbitan; (2) usaha pengumpulan dan penyiaran berita; (3) penyiaran berita melalui surat kabar, majalah, radio, dan televisi; (4) orang-orang yang bergerak dalam penyiaran berita; dan (5) medium penyiaran berita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai lembaga, ia mengelola informasi yang terdiri dari fakta dan opini, yang disajikan kepada masyarakat sebagai salah satu komoditi (Totok Djuroto, 2000: 91).&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Istilah "pers" yang berasal dari bahasa Inggris, "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;press&lt;/span&gt;", dapat diartikan secara luas maupun sempit. Dalam pengertian luas, "pers" mencakup semua media komunikasi-massa seperti radio, televisi, dan film.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia berfungsi memancarkan/ menyebarkan informasi, berita, gagasan, pikiran, atau perasaan seseorang atau sekelompok orang kepada orang lain (Rachmadi, 1990: 9).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pengertian luas, "pers" merupakan manifestasi dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;freedom of speech&lt;/span&gt; (kebebasan berbicara); dalam pengertian sempit, manifestasi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;freedom of the press &lt;/span&gt;(kebebasan pers). Keduanya tercakup dalam pengertian &lt;span style="font-style: italic;"&gt;freedom of expression &lt;/span&gt;(kebebasan berekspresi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rachmadi, dalam bukunya, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Perbandingan Sistem Pers &lt;/span&gt;(1990: 10), menyebutkan dua fungsi pers di dalam masyarakat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1. Medium komunikasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditinjau dari kerangka proses komunikasi, "pers" adalah medium (perantara) atau saluran (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;channel&lt;/span&gt;) bagi pernyataan-pernyataan yang hendak ditujukan kepada khalayak. Dalam proses komunikasi melalui media, ada lima unsur atau komponennya, yaitu:&lt;br /&gt;a. penyampai&lt;br /&gt;b. pesan&lt;br /&gt;c. saluran&lt;br /&gt;d. penerima&lt;br /&gt;e. efek&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2. Lembaga masyarakat atau institusi sosial&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pers dan masyarakat merupakan dua lembaga yang satu sama lainnya tak terpisahkan. Sebagai subsistem sosial, pers selalu tergantung dan berkaitan erat dengan masyarakat di mana ia berada. Di mana pun pers berada, ia membutuhkan masyarakat sebagai sasaran penyebaran informasi atau pemberitaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengertian "pers", menurut UU No 40/1999 tentang Pers, adalah lembaga sosial dan wahana komunikasi-massa yang melaksanakan kegiatan jurnalistik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatannya meliputi mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi, baik dalam bentuk tulisan, suara, gambar, suara dan gambar, serta data dan grafik dengan menggunakan media cetak, media elektronik, dan segala jenis saluran yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Perusahaan pers", adalah badan hukum Indonesia yang menyelenggarakan usaha pers; meliputi perusahaan media cetak, media elektronik, kantor berita, serta perusahaan media lainnya yang secara khusus menyelenggarakan, menyiarkan, atau menyalurkan informasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan fungsi pers nasional, masih mengutip UU No 40/1999, yaitu sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, kontrol sosial, serta juga berfungsi sebagai lembaga ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;B. PENGERTIAN, BENTUK, DAN ISI PENERBITAN PERS&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Penerbitan pers", yang lebih sering disebut media massa cetak, adalah perusahaan pers yang dalam menyajikan informasinya melewati usaha percetakan (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;print-out&lt;/span&gt;). Atas perbedaannya itu, ia berbeda dengan "pers" dalam arti luas yang mencakup media elektronik, seperti radio, televisi, film, dan internet (Totok Djuroto, 2000: 10).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Indiwan Seto (2006: 10), media cetak bisa dibedakan dari berbagai segi. Salah satunya, dari bentuk dan ukurannya dalam menyajikan informasi. Ia bisa berupa kumpulan artikel, berita, cerita, dan iklan. Pembedanya bisa juga dari periodesasi terbit (harian, mingguan, dwi-mingguan, atau bulanan), jangkauan sirkulasi, gaya bahasa, dan segmen pembaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini format-formatnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1. Surat kabar &lt;/span&gt;(&lt;span style="font-style: italic;"&gt;broadsheet&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;Untuk ukurannya, rata-rata surat kabar umum di Indonesia dicetak pada medium kertas ukuran plano (352 x 540 mm). Ia biasanya terbit teratur: harian atau mingguan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2. Tabloid&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Format ini berukuran setengahnya broadsheet. Dalam sejarahnya di AS, ia diperkenalkan bagi mereka yang selalu sibuk; sampai-sampai hanya bisa membaca di bus atau kereta api.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Format ini menjadikan koran praktis dan mudah dibaca di berbagai tempat sempit. Contohnya dapat kita lihat pada tabloid: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Nova, Bintang, Aura, &lt;/span&gt;dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bola&lt;/span&gt;. Kini tak sedikit surat kabar yang mulai menggunakan format ini. Taruh misal &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Koran Tempo &lt;/span&gt;dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jawa Pos&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3. Majalah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Format ini setengahnya ukuran tabloid atau seperempat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;broadsheet&lt;/span&gt;. Halaman demi halamannya diikat dengan kawat atau dilem. Bagian sampul menggunakan jenis kertas yang lebih tebal dan mengkilat dibandingkan kertas bagian dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia terbit teratur: seminggu, dua minggu, atau satu bulan sekali. Contohnya antara lain majalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tempo, Femina, Gatra, &lt;/span&gt;dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Gadis&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;4. Buku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Berukuran setengahnya majalah; sekitar seperdelapan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;broadsheet&lt;/span&gt;. Isinya biasanya tulisan mengenai ilmu pengetahuan, esai, atau kisah-kisah panjang. Ia dicetak dalam kertas berukuran setengah kwarto atau folio dan dijilid rapi. Contohnya: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Intisari, Hidayah, Prisma, &lt;/span&gt;dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sabili&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada umumnya, isi produk pers atau produk jurnalistik dapat digolongkan menjadi tiga kelompok besar, yaitu berita, nonberita, dan fotojurnalistik. Adapun secara keseluruhan, isi penerbitan pers, yaitu &lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;(Totok Djuroto, 2000: 46)&lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1. Pemberitaan&lt;/span&gt; (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;news getter&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Pengertian berita (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;perception news&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;b. Berita langsung (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;straight news&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;c. Penggalian berita (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;investigative news&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;d. Pengembangan berita (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;depth news&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;e. Feature (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;human interest news&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2. Pandangan atau opini&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;a. Pendapat masyarakat (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;public opinion&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;1) Komentar&lt;br /&gt;2) Artikel&lt;br /&gt;3) Surat Pembaca&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Opini penerbit (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;press opinion&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;1) Tajuk rencana&lt;br /&gt;2) Pojok&lt;br /&gt;3) Karikatur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Periklanan (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;advertising&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;a. Iklan display&lt;br /&gt;b. Iklan baris&lt;br /&gt;c. Iklan pariwara (advertorial)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;* * *&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rahcmadi, F. 1990. Perbandingan Sistem Pers. Jakarta: Penerbit PT Gramedia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Djuroto, Totok. 2000. Manajemen Penerbitan Pers. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wibowo, Indiwan Seto Wahju. 2006. Dasar-dasar Jurnalistik. Jakarta: Lembaga Pelatihan Jurnalistik Antara Press.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6229740364415250960-3963471390311862532?l=anindityowicaksono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/feeds/3963471390311862532/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/2008/12/pers-dan-penerbitan-pers.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6229740364415250960/posts/default/3963471390311862532'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6229740364415250960/posts/default/3963471390311862532'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/2008/12/pers-dan-penerbitan-pers.html' title='Pers dan Penerbitan Pers'/><author><name>Anindityo Wicaksono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06767330856974408139</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/Scz2ra1pbII/AAAAAAAAAr0/kSL6Y5gYhTQ/S220/Om+garenk2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SUplWTPPTNI/AAAAAAAAAg0/aRUzW9tTfII/s72-c/gabungan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6229740364415250960.post-6543039930116651054</id><published>2008-12-15T20:43:00.011+07:00</published><updated>2008-12-19T22:53:50.225+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='film'/><title type='text'>Romantisme Si Mozart Cilik</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;FILM&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Semarang, 14 Desember 2008&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);font-size:180%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Romantisme Si Mozart Cilik&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh Anindityo Wicaksono&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SUZh-F68zQI/AAAAAAAAAgE/fZIvB_8iv1k/s1600-h/527_AugustRush_1205198421.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 270px; height: 400px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SUZh-F68zQI/AAAAAAAAAgE/fZIvB_8iv1k/s400/527_AugustRush_1205198421.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5280015332507700482" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial,sans-serif;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 128, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-style: italic;"&gt;(Sumber gambar: http://thechristianmanifesto.wordpress.com&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Judul&lt;/span&gt;: August Rush (2007)&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Genre&lt;/span&gt;: Drama Musikal&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pemeran&lt;/span&gt;: Freddie Highmore, Jonathan Rhys Meyers, Kerri Russel, Terrence Howard, Robin Williams, Mykelti Williamson&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sutradara&lt;/span&gt;: Kirsten Sheridan  (Irlandia)&lt;br /&gt;Durasi: 100 Menit&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Produksi&lt;/span&gt;: Warner Bros&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tanggal Rilis&lt;/span&gt;: 21 November 2007 (USA), Januari 2008 (Blitz Megaplex)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;MUSIK &lt;/span&gt;adalah bahasa universal; pemersatu yang mampu melintasi segala perbedaan. Ia agung, cara yang diyakini manusia sebagai alat pengakuan eksistensi di luar dirinya. Maka tak heran jika musik disebut-sebut sebagai salah satu produk kebudayaan tertua manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bukunya, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Multiple Intelligence&lt;/span&gt;, Howard Gardner pun menyebutkan bahwa kecerdasan musikal adalah satu dari tujuh tipe kecerdasan yang menjadi keunikan manusia (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;www.swopnet.com&lt;/span&gt;), selain linguistik, matematik, visual/spasial, kinestetika, intrapersonal, dan interpersonal. Bakat-bakat bawaan sejak lahir ini kini digunakan sebagai penentuan pola pendidikan seseorang.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kecerdasan musikal, menurut dosen psikologi &lt;span&gt;Harvard School of Education&lt;/span&gt; ini, ialah kecerdasan untuk mengembangkan, mengekspresikan, dan menikmati bentuk musik dan suara. Ciri-cirinya, yakni peka pada nada, dapat dengan mudah mengikuti irama, dan mampu mendengar musik dengan tingkat ketajaman lebih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam film &lt;span style="font-style: italic;"&gt;August Rush&lt;/span&gt; (2007), adalah Evan Taylor (Freddie Highmore), seorang anak 12 tahun yang jenius dalam kecerdasan musikalnya. Darah musiknya ini berasal dari kedua orang tuanya yang sama-sama pemusik, Louis Connelly (Jonathan Rhys Meyers), vokalis-gitaris sebuah band rock, dan Lyla Novacek (Kerri Russel), seorang pemain cello berbakat di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;New York Philharmonic &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Orchestra&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Darah musik ini membuatnya tumbuh dengan kepekaan luar biasa dalam mengenali ragam nada dan bebunyian di sekelilingnya. Namun nasib berbicara lain. Ternyata talentanya yang luar biasa tak seiring dengan nasibnya. Sejak bayi, Evan, yang lahir dari hasil hubungan di luar nikah ini, diasingkan ke panti asuhan oleh ayah sang ibu yang tak menginginkan kehadirannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, meski hidup terpisah dari orang tuanya sejak lahir, jiwa musik ini tetap mengakar dalam dirinya. Di panti asuhan, dia selalu terpukau mendengarkan suara-suara apa saja di sekitarnya. Mulai dari desiran angin, lonceng angin di kamarnya, hingga irama kibasan rumput.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"&lt;span&gt;Musik ada di sekitar kita. Kita hanya perlu mendengarkan&lt;/span&gt;," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;New York&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SUZjKA7p4VI/AAAAAAAAAgU/qjSSAgQwFgk/s1600-h/august_rush_still.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px; height: 133px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SUZjKA7p4VI/AAAAAAAAAgU/qjSSAgQwFgk/s200/august_rush_still.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5280016636838535506" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Petualangannya dalam jibaku pencarian orang tuanya membawa Evan ke New York. Di sana, bakat musiknya semakin terasah sejak dia bergabung dalam grup pemusik jalanan pimpinan Wizard Wallace (Robin Williams).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Evan, yang kemudian diberi nama "August Rush" oleh Wizard, mulai sering mengamen di jalanan menggunakan gitar pemberian Wizard.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bakat yang besar dalam bermusik membuat permainan Evan mampu memukau banyak orang. Meski belum tahu kunci-kunci dasar gitar, dia bahkan sudah dapat memperagakan beragam teknik sulit dalam gitar: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tapping&lt;/span&gt;, gitar-perkusi, dan harmonik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"&lt;span&gt;Kadang-kadang, dunia mencoba menjauhkan musik darimu. Tetapi, aku percaya pada musik sama seperti dongeng bagi banyak orang. Aku yakin, apa yang kudengar ini berasal dari ibu dan ayahku. Mungkin nada demi nada ini sama dengan apa yang mereka dengar di malam mereka bertemu&lt;/span&gt;," katanya dalam narasi pembuka film.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian demi kejadian semakin mempertemukannya pada puncak pencapaiannya. Bahkan, lewat pertemuannya dengan seorang pendeta yang menyaksikannya memainkan organ klasik nan rumit di gereja, Evan disekolahkan ke &lt;span&gt;The Julliard School&lt;/span&gt;, sekolah musik termasyhur di New York.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sana, si "Mozart kecil" ini mampu menggubah sebuah komposisi luar biasa, perpaduan orkestra dengan beragam alat dan bunyi-bunyian, seperti gelas, gitar, dan lonceng-lonceng angin. Seperti mimpi-mimpinya, kemampuan musiknya inilah yang akhirnya mempertemukannya kembali dengan kedua orang tuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Musik latar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SUZi-n-eQtI/AAAAAAAAAgM/tFNJI1pHSTg/s1600-h/large_AugustRushScene.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 132px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SUZi-n-eQtI/AAAAAAAAAgM/tFNJI1pHSTg/s200/large_AugustRushScene.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5280016441160909522" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Film drama-keluarga musikal besutan sutradara Kirsten Sheridan (Irlandia) ini benar-benar dapat memanjakan telinga para pecinta musik. Para penggubah musik latarnya, Hans Zimmer dan Mark Mancina, patut kita acungi jempol. Mereka mampu menghadirkan ragam musik yang tersulam rapi dengan jalinan adegan demi adegan film.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Genre musik yang dipakai lengkap. Mulai dari techno, klasik, rock, hingga harmonisasi gitar--adegan ketika August Rush mengamen di jalan--yang luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akting para pemainnya pun patut mendapat apresiasi. Bahkan, Freddie Highmore (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Charlie and the Chocolate Factory&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Arthur and the Minimoys&lt;/span&gt;), aktor cilik pemeran Evan Taylor, disebut-sebut sebagai pesaing terberat permainan brilian aktor cilik Haley Joel Osment (T&lt;span style="font-style: italic;"&gt;he Sixth Sense&lt;/span&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permainan Jonathan Rhys Meyers sebagai Louis Connely pun tak kalah apiknya. Ia mampu bermain natural; menghidupkan baik sisi romantisme maupun musikalitas sang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;rocker&lt;/span&gt; melankolis ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski minim dialog--syarat umum sebuah drama musikal--bukan berarti film ini miskin nilai. Dominasi musik hampir di sepanjang film tak membuatnya ompong dalam dialog-dialog yang bernas. Pesona dialog para tokohnya patut menjadi bahan renungan, terutama yang berkaitan dengan filosofi musik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat saja kata-kata Louis ketika bertemu August Rush di jalanan ini: "K&lt;span&gt;amu harus mencintai musik lebih dari makanan. Lebih dari hidup; lebih dari dirimu sendiri! Kamu tak boleh berhenti dari musik apapun yang terjadi. Karena tiap kali hal-hal buruk terjadi, musik adalah tempatmu melarikan diri dan membiarkannya berlalu&lt;/span&gt;."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu-satunya kekurangan film ini adalah pada plot cerita yang acapkali melompat-lompat. Sang penulis naskah terlalu memaksakan kisahnya menjadi "sempurna".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia terlalu terbuai menjadikannya berakhir "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;happy-ending&lt;/span&gt;", namun lupa memperhatikan kesesuaian jalinan adegan demi adegan. Ada terlalu banyak kebetulan-kebetulan yang dipaksakan menjembatani &lt;span style="font-style: italic;"&gt;scene &lt;/span&gt;demi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;scene&lt;/span&gt;-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, setitik kekurangan itu tak terlalu mengurangi keasyikan menontonnya. Ceritanya yang terlihat tidak sinkron di beberapa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;scene &lt;/span&gt;masih dapat tertutupi aspek lain, yaitu kualitas para aktornya, dan--tentu saja--musik latarnya. Sesuai genrenya, film ini sukses membangkitkan kembali romantisme musik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, jika masih ada di antara Anda yang hingga kini belum bisa menikmati musik, dengar saja definisi musik menurut Wizard ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"&lt;span&gt;Anugerah TUHAN yang mengingatkan kita bahwa ada hal lain di luar kita di alam semesta ini. Keharmonisan yang menghubungkan semua makhluk hidup di mana pun, hingga bintang-bintang sekalipun&lt;/span&gt;."&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;* * *&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;"&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Diam ... bisakah kau mendengarnya?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Musik; aku bisa mendengarnya di mana-mana.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Dalam angin, di udara, dalam cahaya; dia ada di mana-mana.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Yang kamu perlu lakukan hanyalah membuka dirimu&lt;br /&gt;dan mendengarkan&lt;/span&gt;."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;August Rush)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6229740364415250960-6543039930116651054?l=anindityowicaksono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/feeds/6543039930116651054/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/2008/12/romantisme-si-mozart-cilik.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6229740364415250960/posts/default/6543039930116651054'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6229740364415250960/posts/default/6543039930116651054'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/2008/12/romantisme-si-mozart-cilik.html' title='Romantisme Si Mozart Cilik'/><author><name>Anindityo Wicaksono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06767330856974408139</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/Scz2ra1pbII/AAAAAAAAAr0/kSL6Y5gYhTQ/S220/Om+garenk2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SUZh-F68zQI/AAAAAAAAAgE/fZIvB_8iv1k/s72-c/527_AugustRush_1205198421.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6229740364415250960.post-7187106474277585900</id><published>2008-12-11T23:52:00.014+07:00</published><updated>2008-12-18T22:27:27.097+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jurnalisme'/><title type='text'>Menyelami Perilaku Pembaca</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;JURNALISME&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Semarang, 11 Desember 2008&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Menyelami Perilaku Pembaca&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh Anindityo Wicaksono&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SUprxY56r1I/AAAAAAAAAg8/4nFAJJivv-k/s1600-h/4426311-lg.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 242px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SUprxY56r1I/AAAAAAAAAg8/4nFAJJivv-k/s320/4426311-lg.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5281152009288462162" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:arial,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;&lt;span style="color: rgb(0, 128, 0);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;(Sumber gambar: http://photo.net)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:arial,sans-serif;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 128, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PEMASARAN &lt;/span&gt;bukanlah urusan penjualan atau distribusi saja. Prosesnya, yang meliputi kegiatan praproduksi sampai pemenuhan kepuasan konsumen purnajual, mencakup juga tujuan perusahaan demi menciptakan kepuasan konsumen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi memenangkan persaingan, pemahaman perilaku konsumen adalah akar persoalan yang tak dapat perusahaan pandang sebelah mata. Wajib hukumnya, perusahaan menjadi yang terdahulu melakukan analisa kesempatan pasar, pemenuhan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;marketing-mix&lt;/span&gt;, serta penyelarasan ulang strategi yang berkiblat pada perilaku konsumen. Mengapa demikian?&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kini, seiring terjadinya kemajuan di berbagai bidang, konsumen menjadi lebih selektif dalam membeli. Merka semakin jeli menilai atribut-atribut produk. Artinya, merka hanya akan memilih produk/merk yang memberikan kepuasan tertinggi, sesuai dengan jangkauan ekonominya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak faktor pengaruh yang turut andil jika kita hendak membicarakan perilaku konsumen, baik yang berasal dari diri sendiri (faktor internal), maupun luar (faktor eksternal). Faktor-faktor internal ini antara lain: motivasi, sikap, kepribadian, penghematan, dan proses belajar. Sedangkan faktor eksternal, di antaranya: faktor kebudayaan, keluarga, kelompok referensi, kelas sosial, demografi, dan ekonomi (James F. Engel, 1995: 10).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perilaku konsumen sendiri, menurut James F. Engel dalam (dalam Fandy Tjiptono, 1997: 19), merupakan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tindakan-tindakan individu yang secara langsung terlibat dalam usaha memperoleh, menggunakan, dan menentukan produk dan jasa&lt;/span&gt;. Juga termasuk di dalamnya, proses pengambilan keputusan yang mendahului dan mengikuti tindakan-tindakan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keputusan pembelian mempunyai beberapa pertimbangan, di antaranya: harga, keputusan tentang jenis produk, bentuk produk, merk, hingga ke baik-buruknya pelayanan yang dirasakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu pertimbangan pokok konsumen yang tak kalah penting adalah kualitas produk. Menurut Philip Kotler (2004: 347), kualitas erat berkaitan dengan kemampuan suatu produk dalam melaksanakan fungsinya. Ia meliputi: daya tahan, kehandalan, ketepatan, kemudahan operasi dan perbaikan, serta atribut bernilai lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Berpromosi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Selain dengan mengawal terus-menerus kualitas produk, kegiatan berpromosi pun tak boleh perusahaan anggap sepele. Ia juga titik sentral kegiatan pemasaran. Tujuan berpromosi adalah meningkatkan kesadaran akan merk (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;brand&lt;/span&gt;) dan citra (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;image&lt;/span&gt;) masyarakat terhadap produk maupun perusahaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika menghendaki produknya terserap pasar, perusahaan harus menggunakan berbagai media, dalam usaha mengkomunikasikan, memengaruhi pemikiran, dan mengajak konsumen dalam membeli produknya. Maka tak berlebihan jika ia disebut-sebut sebagai salah satu penentu keberhasilan dalam kegiatan pemasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun mutu sebuah barang baik, namun jika tanpa disertai promosi yang tepat, produk akan kurang dipahami konsumen. Kekurangpemahaman  akan produk ini dapat menimbulkan banyak pertanyaan di benak calon pembeli: Sejauh mana produk ini bermanfaat bagi dirinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Fandy Tjiptono (1997: 219), promosi adalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;aktivitas yang berusaha menyebarkan informasi, mempengaruhi/membujuk, dan/atau mengingatkan pasar sasaran atas perusahaan dan produknya&lt;/span&gt;. Dengannya, diharapkan pasar bersedia menerima, membeli, hingga terbentuk loyaitas akan produk yang ditawarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada empat tujuan promosi, menurut Basu Swastha dan Irawan (1990: 353), yaitu: (1) memodifikasi tingkah laku, (2) memberitahu, (3) membujuk, dan (4) mengingatkan. Suatu promosi dikatakan berhasil hingga ia mampu memenuhi empat kriteria di atas. Ia harus dapat menumbuhkan kesadaran konsumen akan merk dan citra produk, untuk selanjutnya membujuk masyarakat membeli produknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah konsumen minimal telah mengetahui manfaat produk, lantas terbujuk akan riuh-rendah keunggulan produk, intensitas penjualan diharapkan meningkat. Selaras dengan tercapainya tujuan perusahaan: meningkatkan laba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, di tengah pesatnya persaingan dunia usaha, segala sesuatu kian gencar dijadikan bahan jualan oleh para pelaku usaha. Demikan halnya dengan informasi. Ia bukan lagi sekadar kebutuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persis adagium &lt;span style="font-style: italic;"&gt;information is power&lt;/span&gt; (penguasaan informasi adalah kekuatan), ia sudah menjadi komoditi strategis bagi khalayak. Beberapa penelitian bahkan menyebutkan, informasi menduduki urutan ke-10, setelah kesembilan bahan pokok kebutuhan masyarakat (Totok Djuroto, 2000: 5).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pers Indonesia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SUFI_MdPV8I/AAAAAAAAAe0/btEkLyCyu8c/s1600-h/kortem2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 320px; height: 279px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SUFI_MdPV8I/AAAAAAAAAe0/btEkLyCyu8c/s320/kortem2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5278580488767756226" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Walhasil, karena berprospek cerah, tak heran jika sejak akhir abad ke-20 informasi berubah menjadi komoditi bisnis yang menggiurkan. Para pelaku usaha berlomba-lomba menjadikan pers sebagai lembaga bisnis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usaha penerbitan surat kabar, misalnya, kini mulai dikelola secara profesional dengan berorientasi keuntungan (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;profit oriented&lt;/span&gt;). Ia menjadi percaturan bisnis yang menggairahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa bisnis penerbitan pers kian tumbuh subur? Menurut McLuhan, dalam melaksanakan hajatnya, manusia membutuhkan media massa untuk memperoleh informasi, sekaligus berkomunikasi dengan lingkungannya (dalam Totok Djuroto, 2000: 97).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maxwell E. McCombs dan Lee B. Becker dalam bukunya, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Using Mass Communication Theory&lt;/span&gt;, menyebutkan tujuh sebab mengapa manusia membutuhkan media massa: (1) mengetahui apa yang penting dan perlu baginya, (2) menjadi bahan rujukan sebelum mengambil keputusan, (3) memperoleh informasi sebagai bahan pembahasan, (4) memberikan perasaan ikut serta dalam setiap kejadian, (5) memberikan penguatan atas pendapatnya, (6) mencari konfirmasi atas keputusan yang diambilnya, dan (7) memperoleh relaksasi dan hiburan (dalam Totok Djuroto, 2000: 97).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, momentum kebangkitan industri pers bermula sejak terbitnya UU No 40/1999 tentang Pers, tepatnya pasca-tumbangnya Orde Baru. Bak cendawan di musim hujan, surat kabar lokal alias &lt;span style="font-style: italic;"&gt;community newspaper&lt;/span&gt; mulai tumbuh di mana-mana. Maklum, sejak adanya maktub ini, pendirian lembaga pers tak lagi mengharuskan lisensi dari pemerintah. Asalkan berbadan hukum, siapa saja boleh mendirikan penerbitan pers.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak pelak, tak hanya tingkat provinsi, wilayah kabupaten hingga kecamatan pun kini memiliki surat kabarnya sendiri. Berlakunya  otonomi-daerah pun ditengarai membidani lahirnya beragam surat kabar lokal di daerah. Menurut data Depkominfo, hingga tahun 2000 saja, surat izin usaha penerbitan pers (SIUPP) yang telah dikeluarkan pemeritah mencapai sekitar 1.800-2.000, sementara oplahnya mencapai 14 juta eksemplar (Totok Djuroto, 2000: 93).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di era kekinian, penerbitan pers dituntut mumpuni membaca keinginan konsumen dalam mempertahankan ataupun memperluas ceruk pasarnya. Pengelola surat kabar harus terang merumuskan bauran pemasaran yang tepat untuk memenangkan publik pembaca. Sebab, perubahan besar dunia komunikasi informasi dan meningkatnya kaum terdidik, ikut andil dalam mendongkrak tuntutan kualitas yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Harian SOLOPOS&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SUFMu59qwXI/AAAAAAAAAfM/b4wonHKaC5M/s1600-h/solopos.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 50px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SUFMu59qwXI/AAAAAAAAAfM/b4wonHKaC5M/s200/solopos.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5278584606972100978" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Untuk itu, di tengah gencarnya persaingan surat kabar, khususnya di Jawa Tengah, Harian Umum (HU) SOLOPOS, surat kabar harian pagi yang terbit di Kota Surakarta, harus terus berusaha mempertahankan oplahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya, persiapan penerbitan koran terbesar di eks-Karesidenan Surakarta ini mulai intensif sejak SIUPP turun pada 12 Agustus 1997. SOLOPOS, berdasarkan SIUPP-nya, disebutkan terbit 7 kali seminggu. Edisi Minggu sendiri, terbit pertama kali pada 28 Juni 1998.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan koran-koran di daerah lain yang umumnya mengklaim diri sebagai koran nasional yang terbit di daerah, SOLOPOS justru menempatkan diri sebagai koran daerah. Pasalnya, koran yang diterbitkan PT. Aksara SOLOPOS ini ingin besar di daerah bersama-sama dinamika masyarakat Surakarta yang bakal menjadi kota internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain kejumudan persaingan surat kabar di atas, terbentuknya masyarakat lilterasi di negeri ini nyatanya masih jauh dari harapan. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2003 (Suara Merdeka, 15 Maret 2007), penduduk berusia di atas 15 tahun yang membaca koran hanya 55,11 persen, sedangkan tabloid/majalah sebesar 29,2 persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk buku, ternyata jenis fiksi lebih digemari, yaitu sebesar 44,28 persen. Untuk nonfiksi, sebesar 21,07 persen. Data BPS tahun 2006 juga menunjukkan, masyarakat lebih memilih televisi sebagai sumber informasi, sebesar 85,9 persen. Sedangkan yang dari membaca, hanya 23,5 persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah tantangan ini, juga mengingat kian gencarnya persaingan surat kabar dewasa ini, penting bagi perusahaan untuk memahami perilaku konsumennya dalam memutuskan membeli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas dasar latar belakang di atas, saat ini penulis sedang menjalankan penelitian untuk tahap akhir studi yang berjudul: &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;“Pengaruh Promosi dan Kualitas Produk terhadap Keputusan Pembelian Harian Umum SOLOPOS di Kota Surakarta”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span id="fullpost"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;Djuroto, Totok. 2000. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Manajemen Penerbitan Pers&lt;/span&gt;. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;Engel, James F. , Roger D Blackwell, dan Paul W Miniard. 1995. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Perilaku Konsumen,&lt;/span&gt; Jilid I Edisi 6 (alih bahasa: Drs. FX Budiyanto). Jakarta: Binarupa Aksara.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span id="fullpost"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;Kotler, Philip. 1997. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Manajemen Pemasaran&lt;/span&gt;, Jilid 1 Edisi 9 (Alih Bahasa: Hendra Teguh dan Rony A. Rusli). Jakarta: Prenhallindo.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;Kotler, Philip dan Amstrong. 2004. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Prinsip-Prinsip Pemasaran, &lt;/span&gt;Jilid I Edisi 9. Jakarta: Penerbit Erlangga.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;Rahcmadi, F. 1990. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Perbandingan Sistem Pers.&lt;/span&gt; Jakarta: Penerbit PT Gramedia.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;Swastha, Basu. Dan T. Hani Handoko. 1987. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Manajemen Pemasaran: Analisa Perilaku Konsumen&lt;/span&gt;. Yogyakarta: Liberty.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;Tjiptono, Fandy. 1997. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Strategi Pemasaran. &lt;/span&gt;Yogyakarta: Penerbit ANDI.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;Wibowo, Indiwan Seto Wahju. 2006. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dasar-dasar Jurnalistik.&lt;/span&gt; Jakarta: Lembaga Pelatihan Jurnalistik Antara Press.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6229740364415250960-7187106474277585900?l=anindityowicaksono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/feeds/7187106474277585900/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/2008/12/menyelami-perilaku-pembaca.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6229740364415250960/posts/default/7187106474277585900'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6229740364415250960/posts/default/7187106474277585900'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/2008/12/menyelami-perilaku-pembaca.html' title='Menyelami Perilaku Pembaca'/><author><name>Anindityo Wicaksono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06767330856974408139</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/Scz2ra1pbII/AAAAAAAAAr0/kSL6Y5gYhTQ/S220/Om+garenk2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SUprxY56r1I/AAAAAAAAAg8/4nFAJJivv-k/s72-c/4426311-lg.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6229740364415250960.post-8051615044323631659</id><published>2008-12-11T22:08:00.016+07:00</published><updated>2008-12-12T01:13:15.242+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='alam bebas'/><title type='text'>Materi Dasar Arung Jeram</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ALAM BEBAS&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Semarang, 11 Desember 2008&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);font-size:180%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Materi Dasar Arung Jeram&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh Anindityo Wicaksono&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SUFXAFn1JhI/AAAAAAAAAfs/mT-hgSYZxsE/s1600-h/white-water-rafting-1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 266px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SUFXAFn1JhI/AAAAAAAAAfs/mT-hgSYZxsE/s400/white-water-rafting-1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5278595897275786770" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-style: italic;font-size:85%;" &gt;(Sumber gambar: http://&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-style: italic;font-family:arial,sans-serif;font-size:-1;"  &gt;adventure.howstuffworks.com&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-style: italic;font-family:arial,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;I. PENDAHULUAN&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ARUNG JERAM &lt;/span&gt;alias &lt;span style="font-style: italic;"&gt;rafting &lt;/span&gt;adalah kegiatan yang memadukan unsur olahraga, rekreasi, petualangan, dan edukasi. Memang tak ada persyaratan khusus untuk mengikuti kegiatan ini, karena hampir semua orang dapat mencobanya. Mulai dari anak-anak, remaja sampai dewasa, bahkan orang tua yang berumur 60 tahun sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak memiliki kemampuan berenang pun bukan menjadi hambatan untuk mengikuti kegiatan arung jeram. Yang anda perlukan hanya kondisi fisik yang prima dan melakukan reservasi dua minggu sebelum kegiatan. Guna menunjang kegiatan dan agar kegiatan arung jeram yang akan anda ikuti lebih berkesan dan penuh makna, berikut ini Panduan Kegiatan Arung Jeram.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;II. PERALATAN ARUNG JERAM&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SUFXvt5ZfVI/AAAAAAAAAf0/DcrRW9mheaQ/s1600-h/191902_base_marine_arb.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px; height: 146px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SUFXvt5ZfVI/AAAAAAAAAf0/DcrRW9mheaQ/s200/191902_base_marine_arb.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5278596715540741458" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;A. Riverboats (Perahu)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bagian-bagian yang terdapat pada perahu:&lt;br /&gt;1. Bow and Stern&lt;br /&gt;2. Chamber atau biasa disebut tube&lt;br /&gt;3. Floor&lt;br /&gt;4. Thwart&lt;br /&gt;5. Boat line (tali kapal)&lt;br /&gt;6. D-Ring&lt;br /&gt;7. Handling Grip&lt;br /&gt;8. Bilge Hole/self bailing&lt;br /&gt;9. Valve&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara duduk di perahu berbeda dengan cara duduk di kursi, yaitu dengan menyamping. Peserta duduk pada sisi perahu (baik sisi kiri maupun sisi kanan); kaki dalam posisi kuda-kuda pada lantai perahu. Posisi kuda-kuda ini dimaksudkan sebagai pengatur keseimbangan badan selama anda mengikuti pengarungan. Saat duduk di perahu, perhatikan jangan sampai ada bagian tubuh anda yang terikat atau terlilit tali. Ini sangat berbahaya jika perahu mengalami flip atau terbalik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posisi duduk anda pun harus mudah untuk menggapai boat line. Bila boat line pada perahu anda terlihat kendur, beritahukan segera pada skipper untuk mengencangkan boat line tersebut agar tidak mengganggu selama pengarungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aturlah jarak duduk anda dengan peserta yang lain agar tidak mengganggu pergerakan selama pengarungan, baik untuk mendayung maupun saat menjalankan instruksi moving position atau perpindahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;B. PFD (Personal Floating Device)/Life Jackets (Pelampung)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SUE0qrMyS1I/AAAAAAAAAek/3z9y2sKwr68/s1600-h/pelampung.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 191px; height: 155px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SUE0qrMyS1I/AAAAAAAAAek/3z9y2sKwr68/s200/pelampung.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5278558146010434386" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Seperti perahu, PFD atau pelampung memiliki berbagai jenis dan ukuran. Ia terbuat dari bahan polyfoam yang dibungkus dengan bahan kedap air yang berwarna terang. US Coastal Guard menganjurkan memakai PFD type III pada setiap kegiatan arung jeram. Pelampung jenis ini yang paling umum digunakan pula oleh para rafter dalam setiap pengarungannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap PFD Type III memiliki daya apung tinggi-- dihitung berdasarkan berat tubuh rata-rata saat berada di dalam air. Maka anda tidak perlu takut tenggelam saat berada di dalam air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara pemakaian PFD/Pelampung:&lt;br /&gt;Pilihlah PFD yang berwarna cerah. Pastikan tidak ada lubang atau jahitan yang terlepas pada PFD tersebut, serta strap yang ada dapat dipasang dan dilepas dengan mudah. Bila bagian perut anda lebih besar dari bagian dada, pilih dan pakailah PFD dengan ukuran lebih besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PFD atau pelampung dipakai seperti menggunakan rompi/jaket. Pastikan setiap strap terpasang dengan benar dan bantalan kepala berada di luar. Atur keeratan tali senyaman mungkin, sehingga PFD yang anda gunakan tidak terlalu sempit atau longgar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah anda selesai memakai PFD, lakukan gerakan berikut:&lt;br /&gt;1. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pada posisi berdiri, putarkan badan anda ke kiri dan kanan. &lt;/span&gt;Pastikan PFD yang digunakan tidak menghambat gerak tubuh anda dan tidak mengalami pergeseran/perubahan posisi. Ini ditandai dengan letak strap tetap pada satu garis tegak lurus seperti posisi kancing kemeja. Jika terjadi pegeseran, atur kembali keeratan tali pada setiap strap. Jangan malu dan ragu untuk minta skipper/rekan membantu mengatur keeratan tali strap ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pada posisi duduk kedua kaki diluruskan kedepan; putarkan badan anda ke kiri dan kanan lalu lakukan gerakan membungkuk.&lt;/span&gt; Pastikan PFD yang digunakan tidak menghambat gerak tubuh anda. Jika terjadi pegeseran, atur kembali keeratan setiap strap yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Masih dalam posisi duduk dan kedua kaki diluruskan ke depan, minta bantuan skipper/rekan untuk menarik/mengangkat pelampung yang anda gunakan pada bagian bahu dari arah belakang.&lt;/span&gt; Pastikan saat pelampung dan tubuh anda ditarik/diangkat, posisi bahu pelampung tidak melebihi batas telinga anda. Jika ya, atur kembali keeratan setiap strap yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;C. Paddle (Dayung)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SUEy1CXyiVI/AAAAAAAAAeU/_z3YrJHXOec/s1600-h/images.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 98px; height: 120px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SUEy1CXyiVI/AAAAAAAAAeU/_z3YrJHXOec/s200/images.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5278556125006039378" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Setiap dayung terdiri dari tiga bagian, yaitu:&lt;br /&gt;1)  &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pegangan&lt;/span&gt;, berbentuk huruf “T”, biasa disebut “T grip”.&lt;br /&gt;2) &lt;span style="font-weight: bold;"&gt; Gagang&lt;/span&gt;, terbuat dari bahan alumunium.&lt;br /&gt;3)  &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Blade/bilah&lt;/span&gt;, terbuat dari bahan fiber dilapisi serat karbon yang ringan dan kuat. Namun ada pula yang terbuat dari bahan campuran plastik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara memegang dayung:&lt;br /&gt;Memegang dayung dalam kegiatan arung jeram mirip dengan cara memegang sapu. Yang membedakannya hanya pegangan pada bagian “T-Grip”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian ini digenggam dengan empat jari pada bagian atas T horisontal (dayung dalam posisi berdiri dan bagian bilah berada dibawah), sementara jari jempol menjepit bagian T horisontal dari bagian bawah bawah. Cara memegang ini sama untuk tangan kiri (peserta yang duduk pada bagian kanan perahu), maupun kanan (peserta yang duduk pada bagian kiri perahu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lengan yang lain menggenggam bagian gagang, berjarak lebih kurang sejengkal dari bilah dayung. Jangan terlalu dekat/rendah ataupun terlalu jauh/tinggi. Biasakan diri dengan cara memegang dayung ini, baik dengan tangan kanan maupun kiri. Lakukan pemanasan dengan menggunakan dayung bersama rekan-rekan anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SUEyfRWLRMI/AAAAAAAAAeM/ehw2HMLt7VY/s1600-h/helm.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 191px; height: 177px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SUEyfRWLRMI/AAAAAAAAAeM/ehw2HMLt7VY/s200/helm.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5278555751068681410" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;D. Helm&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pilihlah helm sesuai dengan ukuran kepala. Pastikan tidak ada keretakan pada helm tersebut,  serta semua tali dan strap masih dalam kondisi yang baik. Pakailah seperti pemakaian helm pada umumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atur strap senyaman mungkin; jangan terlalu sempit atau terlalu longgar agar tidak mengganggu pandangan anda selama pengarungan. Sekali lagi, pastikan strap sudah terpasang dan pada posisi yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;III. PADDLE COMMAND (INSTRUKSI DALAM PENGARUNGAN)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Setelah anda terbiasa dengan cara memegang dayung, anda akan diberikan instruksi cara menggunakan dayung tersebut. Instruksi ini disebut paddle command. Prinsip dalam menggunakan dayung, adalah tenaga disalurkan pada kedua lengan yang menggerakkan dayung untuk mengatur dan mengarahkan gerak perahu. Arah dayungan tersebut dibantu gerakan badan; disesuaikan dengan tenaga yang diperlukan untuk mengatur dan mengarahkan gerak perahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Basic Paddle Technic, instruksi tentang teknik dasar mendayung, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1) Forward (Maju)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Instruksi yang diberikan untuk dayungan maju, dilakukan oleh seluruh peserta dengan menarik blade/bilah dayung yang berada didalam air kearah belakang searah perahu. Posisi blade/bilah dayung saat menyentuh air adalah tegak lurus terhadap permukaan atau mendekati 90 derajat. Pada saat keluar dari air, dayung diarahkan sejajar dengan permukaan; berputar mendekati 90 derajat hingga bilah dayung kembali menyentuh air. Gerakan ini dilakukan berulang-ulang sampai ada instruksi lanjutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2) Backward (Mundur)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Instruksi yang diberikan untuk dayungan mundur, dilakukan oleh seluruh peserta dengan menarik blade/bilah dayung yang berada di dalam air ke arah depan searah perahu. Posisi blade/bilah dayung saat menyentuh air adalah sejajar dengan permukaan air. Begitu pun saat keluar dari air, dayung diarahkan sejajar dengan permukaan; berputar hingga bilah dayung kembali menyentuh air. Gerakan ini dilakukan berulang-ulang sampai ada instruksi lanjutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3) Turn Left (Belok Kiri)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Instruksi untuk membelokkan perahu ke arah kiri. Gerakan ini dilakukan dengan dayungan maju oleh peserta yang duduk pada perahu bagian kanan, sementara peserta pada kiri perahu stop mendayung. Jika skipper merasa perlu untuk membelokkan perahu ke kiri dengan cepat, maka posisi peserta yang duduk pada bagian kiri melakukan dayungan mundur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memperjelas instruksi, biasanya skipper akan mengatakan “kanan-maju” dan “kiri-mundur”! Artinya, peserta yang duduk pada bagian kanan melakukan dayungan maju, sementara peserta pada bagian kiri melakukan dayungan mundur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;4) Turn Right (Belok Kanan)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Instruksi yang diberikan untuk membelokkan perahu ke arah kanan; kebalikan dari instruksi turn left (belok kiri). Gerakan ini dilakukan dengan dayungan maju oleh peserta yang duduk pada perahu bagian kiri, sementara peserta pada bagian kanan stop mendayung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika skipper merasa perlu membelokkan perahu ke kanan dengan cepat, posisi peserta yang duduk pada bagian kanan melakukan dayungan mundur. Untuk memperjelas instruksi, biasanya skipper akan mengatakan “kiri-maju” dan “kanan-mundur”! Artinya, peserta yang duduk pada bagian kiri melakukan dayungan maju, sementara peserta yang duduk pada bagian kanan melakukan dayungan mundur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;5) Stop (Berhenti)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Instruksi yang diberikan untuk menghentikan dayungan; semua dayung tidak berada dalam air, digenggam dengan posisi di atas pangkuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;IV. SELF-RESCUE&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SUEzat1z0HI/AAAAAAAAAec/QYWUxquk_68/s1600-h/Rescue+triangle+shadowJpg.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 274px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SUEzat1z0HI/AAAAAAAAAec/QYWUxquk_68/s320/Rescue+triangle+shadowJpg.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5278556772329836658" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Dalam kegiatan arung jeram, keselamatan setiap peserta adalah hal yang utama. Banyak faktor yang harus diperhatikan dalam melakukan kegiatan arung jeram ini. Namun peserta harus selalu menyadari, kegiatan arung jeram tidak akan pernah lepas dari segala resiko dan bahaya; baik oleh faktor manusia, peralatan, maupun faktor alam yang menyertainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski begitu, anda tidak perlu cemas, karena justru di sinilah letak salah satu kegembiraan yang akan anda rasakan saat bermain-main dengan air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Self rescue atau tindakan penyelamatan diri saat melakukan kegiatan arung jeram ini perlu anda cermati betul. Walaupun anda dipandu skipper yang berpengalaman, ia  tetap memiliki keterbatasan. Sehingga hal terbaik yang harus anda lakukan adalah melakukan tindakan penyelamatan diri sebelum datang tim rescue yang akan membantu anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip setiap tindakan penyelamatan dalam kegiatan arung jeram, adalah menyelamatkan diri sendiri sebelum melakukan tindakan penyelamatan terhadap orang lain. Si penyelamat harus benar-benar berada dalam kondisi yang aman dalam melakukan tindakan penyelamatan. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari resiko lainnya dan kemungkinan bertambahnya korban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut dijelaskan hal apa saja yang harus anda lakukan dalam self rescue:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1. Swimmer&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Swimmer adalah istilah yang digunakan oleh kalangan boater untuk menyebut orang yang terlempar keluar dari perahu saat berarung jeram. Jika anda belum pernah mengalaminya, percayalah suatu saat anda akan mengalaminya. Bagi anda yang baru kali pertama melakukan kegiatan arung jeram, tidak perlu khawatir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak peserta yang kali pertama mengikuti kegiatan arung jeram mengalami hal ini dan tidak terjadi apa-apa dengan mereka. Bahkan menjadi cerita menarik bagi rekan-rekannya dan menimbulkan kesan tersendiri bagi yang mengalami. Namun tak sedikit pula peserta yang tidak mengalaminya dalam setiap kegiatan yang diikuti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal pertama yang harus anda lakukan jika mengalami swimmer: Jangan panik!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa jangan panik? Karena jika terjadi kepanikan, anda tidak akan tahu apa yang harus anda lakukan untuk tindakan self rescue. Setelah anda dapat mengatasi rasa panik, selanjutnya anda harus menyadari dan mengetahui situasi di sekeliling anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2. Teknik berenang di arus&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;a. Defensive swimming position&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SUFVPf--oDI/AAAAAAAAAfc/nPEoAgJ-ivU/s1600-h/WW_CADE2000-2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 132px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SUFVPf--oDI/AAAAAAAAAfc/nPEoAgJ-ivU/s200/WW_CADE2000-2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5278593963026980914" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Defensive swimming position adalah berenang mengikui arus dalam posisi terlentang, kaki dalam keadaan rapat dan selalu berada di atas air untuk menghindari foot entrapment. Defensive swimming dilakukan pada arus deras dengan pandangan terarah ke hilir. Gunakan tangan sebagai pengatur keseimbangan atau untuk menuju pinggiran sungai dan menghindari berbagai rintangan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingat ... walaupun tidak terjadi sesuatu selama anda melakukan defensive swimming dan anda mulai menikmatinya, anda tidak dalam posisi yang benar-benar aman. Berusahalah untuk menggapai tepian sungai dan segera keluar dari air. Jangan mencoba berdiri, meskipun pada daerah dangkal sekalipun, sebelum anda mencapai tepian sungai atau berada pada arus yang cukup tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;b. Aggressive swimming position&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SUFVp8Umf0I/AAAAAAAAAfk/nwuO-wbW86s/s1600-h/14-3.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 189px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SUFVp8Umf0I/AAAAAAAAAfk/nwuO-wbW86s/s200/14-3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5278594417310465858" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Aggressive swimming position adalah berenang dengan cara melawan arus. Dilakukan pada arus yang relatif tenang dengan posisi menghadap ke hulu. Tujuannya, untuk mendekati perahu penolong, menghindari strainer, sieves, undercut, dan untuk menyeberang ke sisi tepian sungai yang lain dengan cepat. Ingat, aggressive swimming ini hanya efektif dilakukan pada arus sungai yang relatif tenang. Jika anda lakukan ini pada arus deras, tenaga anda akan terbuang percuma; anda akan tetap terseret arus deras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini beberapa pertanyaan yang dapat membantu anda mendefinisikan situasi di sekeliling anda saat anda mengalami swimmer dan menentukan tindakan apa yang harus anda lakukan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;*&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Apakah di belakang anda terdapat perahu?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; (Baik perahu yang melemparkan anda ataupun perahu lain)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jika ya&lt;/span&gt;, berusahalah mendekatinya dari arah samping pada arus yang relatif tenang dengan aggressive swimming position. Jangan lakukan ini dari arah depan karena anda dapat terseret perahu. Jika telah dekat, gapai dan peganglah boat line pada perahu. Tunggu sampai rekan anda menarik dan menaikkan anda ke atas perahu kembali dengan cara menarik bahu pelampung yang anda kenakan.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jika tidak&lt;/span&gt;, lakukan aggressive swimming ataupun defensive swimming menuju tepian sungai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;*&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Apakah di dekat anda terdapat tim rescue yang akan melemparkan throw bag/rescue rope?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jika ya&lt;/span&gt;, raih throw bag/rescue rope yang dilemparkan. Pegang erat pada bagian tali, jangan pada bagian kantong tali. Pegang dengan tetap melakukan teknik defensive swimming sambil tim rescue menarik anda ke tepian sungai.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jika tidak&lt;/span&gt;, lakukan aggressive swimming ataupun defensive swimming menuju tepian sungai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;*&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Apakah di dekat anda terdapat rintangan atau obstacle (bebatuan, dahan/ranting, atau pohon tumbang)?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ya&lt;/span&gt;, hindari daerah tersebut baik dengan aggressive swimming ataupun defensive swimming.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jika tidak&lt;/span&gt;, lakukan aggressive swimming ataupun defensive swimming menuju tepian sungai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;*Apakah di dekat anda terdapat undercut, strainer, dan sieves?&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ya&lt;/span&gt;, hindari daerah tersebut secepat mungkin dengan aggressive swimming.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jika tidak&lt;/span&gt;, lakukan aggressive swimming ataupun defensive swimming menuju tepian sungai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;*Apakah anda berada di bawah perahu terbalik?&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ya&lt;/span&gt;, segeralah keluar dari bawah perahu dengan cara menyelam ke arah hulu atau ke samping. Jangan menyelam ke arah hilir karena anda akan tetap terperangkap di bawah perahu.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jika tidak&lt;/span&gt;, lakukan aggressive swimming ataupun defensive swimming menuju tepian sungai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;*Apakah anda berada di dalam hole/hydraulic (arus berputar-putar)?&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ya&lt;/span&gt;, lakukan aggressive swimming dengan mengikuti putaran arus ke arah luar yang menuju hilir. Atau dapat juga dilakukan dengan menyelam pada bagian tengah pusaran dengan posisi berdiri sampai kaki menyentuh dasar sungai; lalu tolakkan kaki anda sekuat mungkin ke arah hilir.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jika tidak&lt;/span&gt;, lakukan aggressive swimming ataupun defensive swimming menuju tepian sungai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;V. KLASIFIKASI TINGKAT KESULITAN SUNGAI&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SUE1QckDSxI/AAAAAAAAAes/n9B9HoFbXRI/s1600-h/Kaituna.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 213px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SUE1QckDSxI/AAAAAAAAAes/n9B9HoFbXRI/s320/Kaituna.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5278558794916514578" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Tak disangsikan lagi, arung jeram telah menjadi suatu kegiatan yang sangat populer dibandingkan dengan kegiatan kepetualangan lainnya. Arung jeram dapat dinikmati beramai-ramai tanpa memandang usia, status sosial, tingkat pendidikan, dan profesi seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini telah banyak sungai yang dapat diarungi serta dikelola secara profesional oleh beberapa operator arung jeram. Mereka menawarkan berbagai paket kegiatan dengan tingkatan umur dan kemampuan calon kunsumennya. Mulai dari sungai dengan tingkat kesulitan mudah, sampai sungai yang menjanjikan tantangan dan petualangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini penjelasan tentang ragam tingkat kesulitan sungai:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Class I&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tingkat kesulitan sungai yang paling rendah, dengan arus yang bervariasi dari flat (datar) dan relatif tenang, sampai sedikit beriak pada beberapa tempat. Rintangan yang ada pun sangat sedikit dan dapat terlihat jelas. Resiko berenang di sungai ini sangat rendah dan self-rescue sangat mudah dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Class II&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sungai dengan tingkat kesulitan rendah--menengah. Cocok untuk pemula: sungai yang lebar dan arus yang cukup deras, lintasan pengarungan jelas sehingga tidak memerlukan pengamatan terlebih dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesekali, manuver perahu perlu dilakukan; bebatuan dan jeram medium dapat dengan mudah dilewati oleh pengarung yang terlatih. Penumpang yang terlempar keluar perahu dan terhanyut jarang sekali mengalami cidera. Pertolongan bantuan masih belum perlu. Sungai dengan tingkat kesulitan ini sangat cocok untuk latihan dasar kegiatan arung jeram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Class III&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sungai dengan tingkat kesulitan menengah; jeram mulai tidak beraturan dan cukup sulit, serta dapat menenggelamkan perahu. Manuver-manuver pada arus deras serta kontrol perahu pada lintasan sempit sering diperlukan. Jeram-jeram besar dan strainers mungkin ada, namun dapat dengan mudah dihindari. Pusaran arus yang kuat dan deras sering ditemukan, terutama pada sungai-sungai besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cidera saat terlempar keluar perahu dan terhanyut masih sangat jarang; self-rescue biasanya masih mudah dilakukan namun pertolongan bantuan sudah mulai diperlukan untuk menghindari resiko yang mungkin terjadi. Sungai dengan tingkat kesulitan ini sangat cocok untuk kegiatan wisata keluarga atau sebagai rekreasi alternatif, karena dapat diikuti anak-anak mulai usia 9 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Class IV&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sungai dengan tingkat kesulitan menengah--tinggi. Sungai ini memiliki arus yang sangat deras namun masih dapat diprediksi dengan pengendalian perahu yang tepat. Teknik pengarungan sungai ini sangat tergantung karakter sungai itu sendiri. Pasalnya, sungai dengan tingkat kesulitan ini sangat beragam dan berbeda-beda walau memiliki tingkat kesulitan yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jeram-jeram besar, hole, dan lintasan sempit yang tidak dapat dihindari memerlukan manuver yang cepat. Berhenti sejenak pada arus sedikit tenang mungkin diperlukan sebelum memulai maneuver; sekedar mengamati arus atau untuk istirahat. Karena pada jeram-jeram tertentu, bahaya selalu mengancam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resiko cidera bagi penumpang hanyut cukup besar dan kondisi air menyebabkan self-rescue sulit dilakukan sehingga perlu pertolongan bantuan. Pertolongan bantuan tersebut memerlukan latihan khusus agar teknik penyelamatan dapat dilakukan dengan benar. Sungai dengan tingkat kesulitan ini sangat menyenangkan dan menjanjikan tantangan lebih. Tentunya dengan dukungan peralatan memadai, pengetahuan cukup, dan pemandu terampil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Class V&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sungai dengan tingkat kesulitan tinggi. Hanya cocok untuk pengarung jeram yang sudah menguasai teknik pengarungan dan memiliki pengalaman yang cukup pada sungai Sungai pada class ini memiliki jeram yang banyak dan panjang dengan berbagai rintangan yang dapat menyebabkan resiko tambahan bagi seorang pendayung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Drops atau penurunan yang tiba-tiba, jeram-jeram sulit, hole, tebing terjal yang tak terhindari, sampai waterfall (air terjun) sering dijumpai pada sungai ini. Jeram yang dilewati seringkali beruntun pada jarak cukup panjang, sehingga membutuhkan ketahanan fisik yang tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalaupun ada pusaran air tenang (eddies), jumlahnya sangat sedikit sekali dan cukup sulit untuk diraih. Pada skala tertinggi, sungai dengan tingkat kesulitan ini memiliki kombinasi jeram yang sangat beragam, mulai dari curler, hair, hay stakes, headwall, strainer, under cut, wave train, sampai pin hole yang sangat berbahaya dan mematikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlempar keluar dari perahu pada sungai ini sangat berbahaya dan tindakan penyelamatan sering sulit dilakukan bahkan untuk seseorang yang mahir sekalipun. Peralatan yang tepat, pengalaman yang luas, dan latihan keterampilan dalam penyelamatan sangat penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Class VI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sungai dengan tingkat kesulitan tertinggi. Pengarungan di sungai ini hampir tidak mungkin dilakukan karena jeram yang ada tidak dapat diprediksi dan sangat berbahaya. Konsekuensi suatu kesalahan dalam pengarungan di sungai ini sangat berat; tindakan penyelamatannya hampir tidak mungkin dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungai dengan tingkat kesulitan ini hanya untuk tim khusus yang memiliki keahlian tinggi--bukan untuk diarungi perorangan--setelah seringkali mengarungi sungai tingkat kesulitan class V.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ragam klasifikasi tingkat kesulitan sungai di atas merupakan tingkat kesulitan sungai yang ditetapkan secara internasional. Namun, klasifikasi ini masih sangat variatif dan dapat berubah-ubah walau masih pada sungai yang sama. Hal itu karena tingkat kesulitan ini sangat tergantung pada debit air dan kemiringan sungai. Sehingga pada waktu-waktu tertentu, sungai-sungai tersebut memiliki tingkat kesulitan yang mungkin bertambah atau mungkin berkurang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, oleh kalangan penggiat arung jeram, di belakang ”class sungai” sering ditambahkan tanda “+” (plus). Misalnya, sungai Citarik yang memiliki tingkat kesulitan III+. Artinya, pada jeram-jeram tertentu sungai citarik memiliki tingkat kesulitan yang setara dengan sungai Class IV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;Disampaikan pada materi ruang Arung Jeram&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;UKK Hijau Fakultas Psikologi UNDIP Semarang &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;bersama Catopala Adventure Team&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;13 Desember 2008&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6229740364415250960-8051615044323631659?l=anindityowicaksono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/feeds/8051615044323631659/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/2008/12/materi-dasar-arung-jeram.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6229740364415250960/posts/default/8051615044323631659'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6229740364415250960/posts/default/8051615044323631659'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/2008/12/materi-dasar-arung-jeram.html' title='Materi Dasar Arung Jeram'/><author><name>Anindityo Wicaksono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06767330856974408139</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/Scz2ra1pbII/AAAAAAAAAr0/kSL6Y5gYhTQ/S220/Om+garenk2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SUFXAFn1JhI/AAAAAAAAAfs/mT-hgSYZxsE/s72-c/white-water-rafting-1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6229740364415250960.post-7929602345876652875</id><published>2008-12-07T22:38:00.008+07:00</published><updated>2008-12-07T23:39:31.297+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sketsa'/><title type='text'>Buah yang Jatuh Tak Jauh Dari Pohon</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SKETSA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Semarang, 7 Desember 2008&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);font-size:180%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Buah yang Jatuh Tak Jauh Dari Pohon&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh Anindityo Wicaksono&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/STv8KiyC0TI/AAAAAAAAAdk/brNNbUEOQV0/s1600-h/pohon_kelapa.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 222px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/STv8KiyC0TI/AAAAAAAAAdk/brNNbUEOQV0/s320/pohon_kelapa.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5277088646460264754" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Sumber gambar: http://www.berani.co.id)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;DUA MINGGU &lt;/span&gt;lalu saya habis berkunjung ke rumah kakek-nenek dari pihak ibu, di Kab. Wonogiri, Jawa Tengah. Dari Semarang, perjalanan memakan waktu sekitar empat jam jika ditempuh darat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti biasa, sebelum berangkat, saya lebih dulu mengerjakan berbagai urusan yang perlu dipersiapkan: membeli buah tangan dan mengabari kedatangan saya ini via telepon kepada mereka. Kakek sangat senang ketika mendengar rencana kedatangan saya kali ini. Maklum, kira-kira sudah empat--lima bulan saya belum mengunjungi mereka.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kali ini saya membawa oleh-oleh Lunpia "Gang Lombok", makanan khas kebanggaan warga Semarang. Makanan ini terbuat dari rebung (bambu muda) yang digoreng dalam lapisan tepung terigu. Isi dalamnya bisa beraneka ragam. Namun, umumnya isi khas Lunpia Semarang adalah telur, ayam, udang, dan aneka sayuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lunpia "Gang Lombok" terletak di Gang Lombok, Johar, Semarang. Lokasinya persis di depan replika Kapal Perang Cheng Ho di pinggiran Kali Semarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiosnya sederhana. Meski hanya berukuran sekitar 2x4 meter, ada nilai historis yang membuat lunpia di sini bercita rasa khas dan terus ramai terutama di masa-masa liburan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah kios lunpia pertama di Semarang. Bahkan, bisa dikatakan tempat ini adalah cikal bakal lunpia yang kini marak ditemui di kawasan Pusat Oleh-oleh Jl Pandanaran maupun Jalan Mataram Semarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya pun berbeda dibanding banyak lumpia di kawasan Pandanaran maupun Matraman. Lumpia di sini tidak berbau rebung yang menyengat seperti ditemui di tempat lain. Makanya jangan kaget jika harga lunpia di sini dijual cukup mahal, bahkan paling mahal di antara penjual lain di Semarang. Lunpia basah atau kering dijual Rp9 ribu per biji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun dijamin kita tidak akan menyesal membelinya, apalagi sebagai oleh-oleh bagi sanak saudara tercinta. Bumbu lunpia di sini pun spesial. Terbuat dari sejenis kanji yang dicampur bumbu masakan, ditambah cita rasa ikan pihi. Hal ini yang membuat citarasa lumpia yang legit dan manis kulitnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah segala sesuatunya selesai saya urus, saya segera berangkat ke Java Mal, titik perhentian bus luar kota di Jalan Mataram Semarang. Cukup sepi hari itu, maklum waktu itu hari Selasa. Siang pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/STvyCIHXtEI/AAAAAAAAAdE/fmexIqsgg8k/s1600-h/golkar.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 113px; height: 116px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/STvyCIHXtEI/AAAAAAAAAdE/fmexIqsgg8k/s320/golkar.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5277077506746725442" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mantan Kawedanan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakek saat ini berusia 75 tahun. Sebagai orang tua, fisik kakek memang masih terbilang cukup sehat. Terakhir kali saya mengunjungi mereka, fisiknya masih terlihat bugar, meski saat ini beliau sudah jarang bersepeda dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;jogging,&lt;/span&gt; kebiasaannya ketika muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan saya baru tahu jika beliau adalah mantan "Kawedanan" Kabupaten Wonogiri. Di masa kekuasaan Orba, khusus di Provinsi Jateng, ada istilah karesidenan dalam hirarki wilayah administratif pemerintahan daerah. Dulu, gubernur tidak membawahi langsung bupati/walikota seperti sekarang. Ia masih membawahi karesiden yang mengepalai sebuah karesidenan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karesidenan adalah kumpulan beberapa kabupaten/kota yang berdekatan. Jadi, dapat distilahkan karesiden adalah koordinator para bupati/walikota. Sedangkan kawedanan adalah jabatan struktural di bawah bupati yang membawahi beberapa kecamatan. Koordinator camat, tepatnya. Jabatan itu dihapuskan setelah kejatuhan Soeharto. Penghapusan ini akibat perampingan jabatan yang marak di era pascareformasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nenek saya saat ini berusia 70 tahun. Walau sudah berada di usia senja, nenek masih saja wanita yang aktif hingga kini. Dulu beliau pernah menjabat anggota DPRD untuk Daerah Tingkat II Kabupaten Wonogiri dari Partai Golkar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jabatan yang saya rasa mengganjal di telinga. Mengapa? Hingga kini, saya mengagung-agungkan semangat anti-Orba dan menjadikan Golkar sebagai musuh bersama. Ternyata saya mempunyai seorang nenek salah seorang anggota legislatif dari Golkar. Ha-ha-ha ... ironis, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun saya salut dan bangga dengan aktualisasi diri beliau. Penuh semangat dan menjiwai sekali perannya sebagai orang partai. Di masa berbagai kampanye terutama menjelang masa pemilu, beliau tampak tak lelah berkeliling dari daerah ke daerah melakukan sosialisasi dan kampanye aktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang mengejutkan saya dan baru saya ketahui belakangan, adalah beliau kini menduduki jabatan Wakil Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Golkar Kab Wonogiri. Beliau juga masuk dalam tim verifikasi bakal calon (Balon) Caleg Partai Golkar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampaknya sifat-sifatnya yang senantiasa aktif dan luwes bergaul itu menurun pada anak-anaknya, terutama ibu saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu saya adalah wanita aktif yang gemar ikut berbagai kegiatan. Dari Dharma Wanita (di masa bapak aktif menjadi pegawai Bank Dagang Negara), kegiatan PKK perumahan, hingga kini aktif menggeluti berbagai komisi pelayanan di gereja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak mau kalah, silsilah ini secara tak langsung turut membentuk saya dan kakak perempuan saya untuk tumbuh dengan minat pada berbagai kegiatan dan organisasi. Kakak saya, misalnya, sedari SMP gemar berorganisasi di OSIS. Lalu sejak kuliah di Fakultas Hukum Universitas Trisakti Jakarta hingga lulus, ia yang kini bekerja di bank swasta itu aktif di kepemudaan gereja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun, meski di masa sekolah dulu tak terlalu gemar berorganisasi, kini terasa kecanduan berkegiatan. Terutama sejak menjadi mahasiswa. Dari Mapala, Tim SAR Daerah, Senat Mahasiswa, himpunan jurusan, teater, hingga kini rajin mengikuti berbagai seminar dan diskusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa jadi sifat saya ini bawaan dari nenek saya. Tampaknya, bolehlah saya mengukir pepatah ini menjadi cerminan hidup: "Buah jatuh tidak jauh-jauh dari pohonnya".&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6229740364415250960-7929602345876652875?l=anindityowicaksono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/feeds/7929602345876652875/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/2008/12/buah-jatuh-tak-jauh-dari-pohonnya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6229740364415250960/posts/default/7929602345876652875'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6229740364415250960/posts/default/7929602345876652875'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/2008/12/buah-jatuh-tak-jauh-dari-pohonnya.html' title='Buah yang Jatuh Tak Jauh Dari Pohon'/><author><name>Anindityo Wicaksono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06767330856974408139</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/Scz2ra1pbII/AAAAAAAAAr0/kSL6Y5gYhTQ/S220/Om+garenk2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/STv8KiyC0TI/AAAAAAAAAdk/brNNbUEOQV0/s72-c/pohon_kelapa.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6229740364415250960.post-6286482825281039800</id><published>2008-12-07T22:14:00.009+07:00</published><updated>2008-12-07T22:51:19.144+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sketsa'/><title type='text'>Tirulah Bangsa Jepang</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SKETSA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;Semarang, 6 Desember 2008&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Tirulah Bangsa Jepang&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh Anindityo Wicaksono&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/STvr4pdZgjI/AAAAAAAAAck/j41p79f7-dc/s1600-h/Japanese-Samurai-1575_203__2330_60.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 286px; height: 400px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/STvr4pdZgjI/AAAAAAAAAck/j41p79f7-dc/s400/Japanese-Samurai-1575_203__2330_60.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5277070746829029938" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(sumber gambar: http://www.preisvergleich.org)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;HARI &lt;/span&gt;cerah; jarum jam menunjukkan pukul 8.30. Setelah berdoa pagi dan mandi, saya lalu berangkat kuliah. Kebetulan hari ini saya memang tidak mendapat jadwal liputan. Kepala Biro belum menelepon saya untuk penugasan liputan, seperti janjinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya ada satu jadwal kuliah saya hari ini, Kepemimpinan. Dosennya salah satu "dedengkot" di jurusan saya. "Dedengkot" yang saya maksud di sini adalah paling tua, baik dari segi pengalaman mapupun umur.  Namanya Soewarso, salah satu pendiri jurusan Administrasi Bisnis, jurusan saya kuliah.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Wajahnya sangar. Kumisnya lebat. Umurnya saya taksir sekitar 45-an tahun. Kata-katanya pun lugas. Dia memang tak suka banyak berbasa-basi, berbicara seperlunya saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun di balik kesangaran ini, dia bukan termasuk dosen "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;killer&lt;/span&gt;" (pelit nilai), seperti stereotipe yang disematkan pada dosen-dosen senior macam beliau. Beda dengan dosen lain seangkatan beliau seperti Winarti dan Kemi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila ditanya mengenai nilai, jangan tanya "keampuhan" kedua dosen wanita senior di atas dalam hal memberi nilai. Bisa dapat B untuk mata kuliah yang mereka ampu saja, patut dirayakan dengan acara syukuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pertemuan kedua kuliah hari ini, Pak Warso berbicara panjang lebar mengenai teori kepemimpinan. Dari segala aspek yang terkandung di dalamnya hingga sejarah awal-awal kepemimpinan. Menurut dia, merujuk banyak literatur, ternyata ilmu ini termasuk ilmu terapan baru yang baru diakui di akhir abad ke-20. Tepatnya sekitar tahun 1980-an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibandingkan dengan ilmu klasik lainnya macam Sosiologi, Antropologi, Politik, atau ilmu Bumi yang muncul sejak sekitar abad ke-17, Kepemimpinan termasuk ilmu yang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, segala sesuatu dapat dikategorikan ilmu jika mempunyai landasan teori yang telah dibuktikan. Itulah mengapa Kepemimpinan sekarang dapat digolongkan menjadi teori. Sebagai ilmu, katanya, tentunya penerapannya di lapangan dapat menjadi bahan masukan baru bagi perkembangannya. Lalu kondisi di lapangan dapat memberikan "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;feed-back&lt;/span&gt;" yang dapat menyempurnakan teori yang sebelumnya sudah ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tersebut dua versi ilmu kepemimpinan yang saling bertentangan pada masa awal-awalnya. Pertama, teori "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Leader is Born&lt;/span&gt;". Teori ini berpandangan bahwa pemimpin itu dilahirkan, bukan terbentuk. Inilah mengapa di jaman kerajaan dulu kental terbentuk pola patrilinel dalam regenerasi masa pemerintahan raja. Seorang pangeran (anak raja) otomatis berhak menjadi penganti raja jika raja sebelumnya meninggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hak waris ini terlepas dari mampu tidaknya pangeran itu dalam memimpin. Baik dari segi mental maupun secara fisik. Teori ini terlihat pada sebagian besar pola kerajaan di negeri ini, bahkan dunia. Dari jaman kerajaan tertua Kutai, hingga keraton Surakarta dan Yogyakarta, atau Kerajaan Inggris yang masih bertahan hingga sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kedua, teori "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Leader Is Made&lt;/span&gt;". Menurut teori ini, pemimpin terbentuk melalui pergulatan sepanjang hidupnya. Jiwa kepemimpinan terbentuk melalui pengalaman hidup langsung di masyarakat. Teori inilah yang berlaku di masyarakat kekinian. Seorang pemimpin yang baik tak lagi seorang yang mempunyai kedekatan biologis dengan penguasa yang lama. Namun seorang yang memiliki kecakapan setelah bersinggungan lansung dengan segala dinamika pergulatan hidup di masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibanding teori yang pertama, teori ini terasa lebih realistis diterapkan di masa globalisasi seperti sekarang. Lebih-lebih, ketika masyarakat sepakat menjauhkan "nepotisme" apapun bentuknya dari urusan hidup. Pemimpin tak lagi dicetak dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;status-quo&lt;/span&gt; yang merugikan. Dia harus mampu membuktikan perannya, sebelum nantinya dinilai layak menjadi pemimpin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Materi yang dibahas dalam kuliah selama satu setengah jam itu sebenarnya cukup menarik. Apalagi banyak bersingungan dengan urusan yang selama ini cukup dekat dengan mahasiswa. Terutama mahasiswa golongan "aktivis" yang akrab dengan idion "pemimpin" ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, karena cara penyampaian materi yang hanya searah, para mahasiswa menjadi cepat bosan. Lebih-lebih kini sedang bulan puasa. Gairah beraktivitas yang sudah separuh-napas, dipaksa mendengar ceramah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ngalor-ngidul&lt;/span&gt; yang tak menarik. Tambah berat lah mata ini untuk melek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya, hal ini harus dijadikan satu bahan evaluasi bagi dosen. Kelas harus sebisanya dibuat bergairah agar murid dapat bersemangat mempelajari serbamateri yang diberikan. Hal ini sudah jamak dipahami ahli komunikasi massa. Sebaik atau sepenting apapun sebuah materi, tak akan dapat mengena sasarannya jika cara penyampaiannya tak menarik. Dosen masakini, terutama FISIP UNDIP--tempat saya berkuliah--harus mulai memikirkan strategi untuk membuat satu pla pengajaran yang lebih menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Paulo Freire, hakikat sejati "belajar" adalah memerdekakan diri. Murid bukan lah sekadar gelas kosong yang tak berisi sama sekali. Dosen harus tahu benar ini. Paradigma mereka harus diubah. Dari guru tahu segalanya, menjadi murid adalah partner yang seimbang. Namun dalam penerapannya, seringkali kendalanya adalah paham ini bertentangan dengan budaya kita, khususnya budaya Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/STvspGnBVkI/AAAAAAAAAcs/5UQynf067MY/s1600-h/freire.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 163px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/STvspGnBVkI/AAAAAAAAAcs/5UQynf067MY/s200/freire.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5277071579287737922" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mendhem Jero&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paham "pendidikan untuk pemerdekaan diri" ala Freire, yang menganggap murid dan guru adalah partner, sangat cocok jika diterapkan di Barat. Di sana, paham liberalisme mendapat porsi besar di masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang barat hidup dengan sifat egaliter. Artinya, orang tak lagi dihargai atas dasar senioritas ataupun kedudukannya di masyarakat, melainkan kemampuan dan karya seseorang di masyarakat. Hal ini kental terpantul dalam film-film Hollywood. Seorang anak memanggil guru, atau ayahnya sekalipun, hanya dengan namanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan kita? Budaya Barat ternyata bertolak 180 derajat dengan budaya Indonesia, khususnya Jawa. Budaya seperti bukannya salah, tapi tidak pas jika diterapkan di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi kita, orang Jawa, budaya yang harus tetap dijaga adalah budaya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;unggah-ungguh&lt;/span&gt; (sopan santun), atau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ewuh-pakewuh&lt;/span&gt; (sungkan). Budaya yang telah ratusan tahun menjadi norma ini mengajarkan kita selalu hormat pada orang tua, apapun kondisinya. Sopan di depan orangtua, tidak neko-neko, serta tidak boleh membantah apalagi mengkritik kejelekan orangtua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai ini persis dengan sebutan "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;mendhem jero-mandhap asor&lt;/span&gt;" yang populer di jaman Soeharto. Sebagai anak, kita diwajibkan untuk mampu menyimpan keburukan dari orangtua, seburuk apapun itu. Jika tidak, bisa-bisa kita dicap menjadi anak durhaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau kurang ajar sama orangtua, nanti dikutuk jadi kacang mede (buah-buahan sejenis kacang yang bijinya di luar buah)," demikian kata para tetua. Celaka memang. Namun itulah salah satu nilai yang terkandung dalam budaya asli leluhur tanah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, sebagai kaum muda yang dituntut untuk tetap &lt;span style="font-style: italic;"&gt;nguri-uri&lt;/span&gt; (melestarikan) budaya, kita tak boleh lupa menjunjung budaya kita sendiri. Karena, kalau bukan kita, siapa lagi? Namun bukan berarti budaya ini patut ditelan bulat-bulat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai kaum muda dan kaum penerus bangsa, kita harus tetap kritis dan skeptis menerima segala nilai yang ada, entah itu budaya baru atau budaya luhur-adigung peninggalan nenek moyang kita. Idealnya: ambil nilainya yang baik-baik saja, yang jelek kita buang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu peran kita adalah membentuk budaya pembaharu yang lebih cocok berlaku di masa kini. Ibarat teknologi, sudah bukan jamannya lagi menggunakan mesin ketik jika sudah ditemukan komputer yang lebih cepat. Sungguh bodoh jika orang masih berkeras menggunakan mesin tik dengan alasan melestarikan budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi jika alasannya: Sayuti Melik atas suruhan Bung Karno saja menggunakan mesin ketik untuk mengetik naskah proklamasi. Masakan kita melupakan begitu saja jasa beliau dengan meninggalkan mesin ketik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bodoh yang menjawab begitu. Pasalnya, perubahan diciptakan demi satu dunia yang lebih baik. Supaya kualitas penghidupan menjadi lebih mudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini sama juga dengan budaya. Nilai-nilai buruk dari budaya bangsa, bukan lah nilai mutlak yang pantang dipertanyakan. Jika budaya ini dirasa menjadi penghambat kemajuan, sudah saatnya  kita buang jauh-jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak literatur penulis-penulis Eropa yang menyebutkan sifat-sifat buruk bangsa ini. Beberapa di antaranya adalah malas, tak suka bekerja keras, suka berkelahi memperbutkan wilayah/kekuasaan, dan lebih suka berbicara hal-hal remeh ketimbang disuruh berpikir. Benarkah demikian? Tentunya hanya kita yang bisa menilai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka jika Pak Soewarso, atau siapapun itu, mulai membosankan dalam mengajar, adalah tugas kita sebagai mahasiswa untuk mengingatkan. Atau cara yang paling sopan adalah dengan bertanya ketika dibuka sesi pertanyaan. Niscaya kelas akan menjadi lebih hidup dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/STvtWiksnJI/AAAAAAAAAc0/bIIvPlIrYtU/s1600-h/only-jepang.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 152px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/STvtWiksnJI/AAAAAAAAAc0/bIIvPlIrYtU/s200/only-jepang.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5277072359888297106" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Unggah-Ungguh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Stephen Covey, salah satu kebiasaan wajib orang efektif adalah menjadi proaktif. Dia harus berani mengambil peran mengubah keadaan yang dirasakan salah. "Jangan bersikap pasif-reaktif dan menjadi korban keadaan. Orang proaktif harus mampu menyerang sebelum diserang musuh. Keadaan seperti apapun takkan mampu mengubah pendiriannya," begitu tulis Covey.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis ingat cerita teman yang pernah mengikuti kunjungan studi di salah satu universtias swasta di Filipina. Namanya Surachman. Kawanku ini sekarang bekerja di Indomobil Finance, agen pembiayaan khusus merk Suzuki, di Bekasi. Surachman mengakui adanya ketertinggalan atmosfir akademis universitas kita dibanding di Filipina. Khususnya dari sistem pembelajaran di kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata dia, mahasiswa di sana tak pernah mencatat ketika di kelas. Ruang kelas, kata dia, adalah tempatnya berdiskusi. Kelas bukan lagi tempatnya mencatat atau melongo mendengarkan dosen "berceramah" atau "berpidato", seperti yang jamak terjadi di banyak perguruan tinggi - khususnya universitas negeri - di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum pertemuan kuliah, murid sudah diberi rujukan buku yang harus dipelajari. Dosen juga sering memberi tugas resensi alias ringkasan buku yang harus mereka pelajari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Minimal sebulan satu buku setiap mata kuliah," kata Rahman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah mengapa rata-rata kualitas lulusan perguruan tinggi di sana jauh sekali dibandingkan di sini. Dari segi kualitas pengajar pun kita masih kalah jauh. Hampir sebagian besar pengajar program strata-satu (S-1) adalah profesor atau minimal S-2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandingkan dengan rata-rata unibersitas di Indonesia. UNDIP Semarang, misalnya, hingga kini bahkan masih saja ada pengajar yang lulusan S-1. Gelarnya hanya doktorandus (jaman Belanda). Jika begitu, bagaimana bisa mereka dituntut untuk kreatif dalam mengajar? Mengembangkan kualitas internal diri sendiri saja masih malas, apalagi mengurusi kebutuhan intelektual mahasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita harus berubah. Adalah bijak kita hidupi semboyan bapak Presiden SBY yang optimistis itu, menjelang Hari Kemerdekaan 2008: "Indonesia bisa!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, Indonesia bisa untuk berubah. Syaratnya hanya satu: kita mau! Yakinlah, selama kemauan masih menggebu-gebu, pintu yang tadinya tertutup itu satu-satu akan terbuka lebar membentangkan jalan. Perubahan ini harus menjadi satu kerinduan kita bersama. Ya dosennya, ya muridnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan untuk para dosen: jadikanlah kelas sebagai tempat yang penuh pesona. Tempat yang terus membuat kita rindu untuk menyapa ilmu, dan menggugah mahasiswa untuk selalu haus belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mahasiswa: jadilah proaktif, dinamis, dan penuh antusias dalam kelas. Jangan jadikan budaya "unggah-ungguh" sebagai alasan untuk tak berani berpendapat. Bertanyalah jika dipersilahkan dosen. Jangan pendam kegelisahan intelektualitasmu karena takut pandangan sinis kawan-kawan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kritis tak selamanya identik dengan pemberontakan ala budaya Barat. Tirulah bangsa Jepang, bangsa  Asia yang kian menancapkan kukunya di kancah persaingan-dunia. Mereka bisa kritis dan dinamis, sekaligus tetap menjunjung tinggi budaya leluhur mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski terkenal gila-kerja dan senantiasa haus-ilmu, toh kaum muda mereka tak pernah lupa menundukkan kepala jika bertemu dengan orangtua.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6229740364415250960-6286482825281039800?l=anindityowicaksono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/feeds/6286482825281039800/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/2008/12/tirulah-bangsa-jepang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6229740364415250960/posts/default/6286482825281039800'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6229740364415250960/posts/default/6286482825281039800'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/2008/12/tirulah-bangsa-jepang.html' title='Tirulah Bangsa Jepang'/><author><name>Anindityo Wicaksono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06767330856974408139</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/Scz2ra1pbII/AAAAAAAAAr0/kSL6Y5gYhTQ/S220/Om+garenk2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/STvr4pdZgjI/AAAAAAAAAck/j41p79f7-dc/s72-c/Japanese-Samurai-1575_203__2330_60.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6229740364415250960.post-2035720962358935398</id><published>2008-12-02T20:13:00.014+07:00</published><updated>2008-12-06T23:18:13.392+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sketsa'/><title type='text'>Demi Cinta Tak Bersyarat</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SKETSA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Semarang, 2 Desember 2008&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Demi Cinta Tak Bersyarat&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh Anindityo Wicaksono&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block;" id="formatbar_Buttons"&gt;&lt;span class="" style="display: block;" id="formatbar_JustifyFull" title="Rata Penuh" onmouseover="ButtonHoverOn(this);" onmouseout="ButtonHoverOff(this);" onmouseup="" onmousedown="CheckFormatting(event);FormatbarButton('richeditorframe', this, 13);ButtonMouseDown(this);"&gt;&lt;img src="http://www.blogger.com/img/blank.gif" alt="Rata Penuh" class="gl_align_full" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/STU7q5_ykYI/AAAAAAAAAbI/w3NnC3XZUFU/s1600-h/love.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 340px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/STU7q5_ykYI/AAAAAAAAAbI/w3NnC3XZUFU/s400/love.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5275188146843324802" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Sumber gambar: http://theloebizz.files.wordpress.com)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SABTU &lt;/span&gt;(30 Agustus 2008), dini hari sekitar pukul 02:00, Rhenald, kawan karib saya, tiba-tiba menelepon. Kebetulan saya belum tidur. Maklum malam minggu, tak terasa keasyikan di depan komputer hingga larut malam. Saya membaca aneka artikel belum terbaca yang saya unduh dari warnet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rhenald mengabari bahwa ayah dari Andi, kawan karib lama saya, meninggal. Seketika itu  juga, saya mendadak lemas. Terkejut; getir dan tak percaya bercampuraduk. Saya memang terhitung lama tak berhubungan langsung atau bersua dengan Andi. Namun lama sebelum kabar dukacita ini, memang sudah ada &lt;span style="font-style: italic;"&gt;slentingan&lt;/span&gt; teman-teman bahwa ayah Andi sedang sakit keras.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sudah seminggu terakhir ini ayah Andi sakit-sakitan, bolak-balik opname di rumah sakit. Andi mengatakan, hal ini biasa, maklum ayahnya sudah tua. Umurnya 60-an tahun, hampir sama dengan ayah saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah Andi, almarhum Pak Slamet, meninggal pukul 21:00 hari itu (Sabtu). Almarhum sempat tiga hari dirawat di salah satu rumah sakit swasta di Solo. Penyakitnya, ketika kami tanyakan pada Andi, komplikasi antara jantung, asam murrat, dan entah apa lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai anak yang berbakti dan masih tinggal serumah dengan orang tuanya, Andi sangat setia menunggui ayahnya selama sakit. Baik di rumah maupun ketika mulai diopname di rumah sakit. Ini kabar terakhir yang kami dengar dari Andi, ketika kami mengajaknya naik gunung Sindoro pada 22 Agustus 2008. Acara ini adalah tradisi ulang tahun komunitas pecinta alam kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena terlalu seringnya terlambat dan ijin kerja, BNI, tempat Andi bekerja, sampai-sampai suatu kali memberinya surat peringatan. Dia ditegur lantaran minimnya tingkat kehadiran kerja. Saya salut pada sikap Andi ini. Baginya, urusan kerjaan nomor dua. Keluarga, tempatnya dididik dan dibesarkan, harus diberi tempat terpenting dalam hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percuma punya segalanya jika tenyata orang-orang terdekat kita tak lagi diberi tempat di hati. Ini nilai budaya Jawa yang harus terus dia pegang teguh. Jika tidak, durhaka atau kurang ajar, kata banyak orang. Kita patut berbahagia jika berkesempatan untuk mendampingi orang-orang terdekat kita di saat-saat tersulitnya. Mereka akan merasakan betapa mereka dicintai dan dianggap penting bagi keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/STU6ajF3fnI/AAAAAAAAAa4/yCQN6kFHv0s/s1600-h/545703180l.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px; height: 138px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/STU6ajF3fnI/AAAAAAAAAa4/yCQN6kFHv0s/s200/545703180l.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5275186766305263218" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ikatan Kuat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Catopala Adventure Team&lt;/span&gt;, komunitas pecinta alam yang kami didirikan pada 22 Agutus 2005 memang punya sejarah panjang bersama. Komunitas pecinta alam dan persaudaraan ini--istilah kami--didirikan 10 orang mahasiswa UNDIP, rata-rata angkatan 2003 dan 2004, termasuk Andi. Pendeklarasiannya dilakukan di puncak Gunung Sindoro, Temanggung, Jawa Tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Catopala&lt;/span&gt;, saya dapat merasakan rasa persaudaraan yang begitu besar. Tiap orang peduli akan temannya, baik dalam suka maupun duka. Salah satu penguat persaudaraan kami adalah karena sudah seringnya kami bersama-sama dalam belajar memaknai kerasnya kehidupan di alam bebas. Memaknai bahwa ada begitu banyak pelajaran berharga yang tak pernah kita jumpai di kehidupan normal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami pernah bersama-sama menjalani pendidikan dasar (diksar) di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Mahasiswa Pecinta Alam (WAPEALA) UNDIP Semarang, Sebagai wadah pecinta alam universitas, UKM ini tersohor akan kerasnya diksarnya. Keras dalam hal fisik maupun mental. Kami mengakui betul anggapan ini. Selain kerasnya didikan di alam bebas, kekerasan fisik dari senior adalah hal yang kami tanggung bersama. Prosesnya lama, antara 6 bulan-1 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah yang menguatkan kami ketika memutuskan untuk undur diri menjelang prosesi pelantikan. Artinya, batal menjadi anggota tetap dan mendapat nomor anggota. Kami sudah terlalu banyak melihat prinsip yang dilanggar yang tak lagi mampu kami tolerir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekerasan fisik pada para peserta diksar yang wanita, contohnya. Para senior tak pernah membeda-bedakan jenis kelamin ketika menghukum kami, para peserta. Mereka, para wanita, harus turut ditempelengi dan menjalani hukuman fisik seperti &lt;span style="font-style: italic;"&gt;push-up &lt;/span&gt;dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sit-up &lt;/span&gt;sebanyak para pria. Selain itu, unsur balas dendam antarangkatan sangat terasa. Emosi senior yang kerap meledak-ledak lahir akibat kebencian atas tekanan yang diberikan angkatan sebelumnya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau begitu, serbacerita duka selama masa diksar ini kami sukuri bersama. Walau semuanya terasa menguji batas kesabaran kami semua, ternyata ia membawa dampak postif bagi kami: menempa ketahanan fisik, mental, dan pikiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami yang tadinya pemalu atau takut mengambil resiko, mengalami transformasi mental yangs signifikan. Bahkan, waktu itu, kami tak lagi takut apapun. Terlebih ketika menghadapi resiko hidup di alam bebas yang keras. Mental ini turut menyertai karakter kami hingga ke kehidupan sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasalnya, selama masa pendidikan, setiap detik adalah berharga. Kami dituntut untuk berani mengambil tantangan ketika kami sudah mempelajari resiko yang dapat terjadi. Kami juga jadi mampu mensukuri segala hal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah dalam satu diksar &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Survival&lt;/span&gt;, kami nyaris mati kelaparan. Selama tiga hari, kami dilepas-bebas di hutan tanpa persedian makanan yagn memadai. Artinya, kami hanya bergantung pada bekal sekadarnya: dua bungkus mi instan, air bersih seperempat botol, dan sebatang lilin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya, di hutan rimba, di mana sumber daya sangat terbatas, semua harus didapat dengan kerja keras. Kami harus pintar-pintar memanfaatkan segala peluang yang ada untuk bertahan hidup. Prinsip kami waktu itu: tetap tenang untuk berpikir atau mati!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, dalam segala ujian fisik dan mental ini, diksar model begini mampu membentuk satu ikatan yang kuat di antara para peserta. Ilmu psikolog mengajarkan demikian. Ada ikatan psikologis kuat pada sekelompok orang yang telah menanggung kepedihan dan penderitaan bersama. Hal ini juga dapat dilihat pada besarnya solidaritas di antara taruna dan polisi di satu angkatan setelah menjalani pendidikan bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah mengapa hingga kini, meski perlahan mulai diserakkan oleh waktu dan tempat, kami masih terus saling peduli dan menjaga. Setidaknya dengan saling menanyakan kabar, merayakan ulang tahun, dan menghadiri acara wisuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip yang kami pegang: "Milikku adalah milikmu (kecuali istri, tentunya). Kesedihan yang kau rasakan, juga membuatku menangis, Saudara!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/STU5mP_aVAI/AAAAAAAAAaw/Vq475mlGNbg/s1600-h/c-magung3.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 210px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/STU5mP_aVAI/AAAAAAAAAaw/Vq475mlGNbg/s320/c-magung3.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5275185867824714754" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Masjid Agung&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya, kami berempat (saya, Simbah, Herman, Khusnul, dan Ali)--semuanya personel &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Catopala&lt;/span&gt;--merencanakan pergi ke Solo pagi-pagi sekali agar dapat turut serta menyertai prosesi pemakamannya. Namun, karena keterbatasan kendaraan dan kejadiannya yang mendadak membuat kami agak susah untuk saling berkordinasi, akhirnya keberangkatan kami terpisah menjadi dua "rombongan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rombongan pertama adalah pasangan Rhenald dan Herman bersama Khusnul yang bersolo-karir bersama motornya. Mereka berangkat duluan pada sekitar pukul 9:00. Lalu rombongan kedua, saya dan Ali menyusul bersama Nino dan Riska, pacarnya, pada pukul 11:00.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya, Ali, Nino, dan Riska tiba selang dua jam setelah rombongan pertama. Kami lalu ditemui rombongan pertama di Alun-alun utara Solo. Ternyata walau berangkat lebih pagi, mereka juga tak sempat ikut dalam prosesi pemakaman. Ketinggalan rombongan, kata mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Motor kami diparkir terlalu depan, hingga agak menyusahkan ketika mengeluarkannya. Lalu ketika rombongan mulai berangkat, kami kesulitan mengikuti karena sempat tertinggal barang 10 menit," kata Simbah berdalih. Maklum, tambah Herman, kami tak hapal jalan Solo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tak enak rasanya menelpon Andi yang sedang sedih untuk menanyakan arah jalan ke pemakaman," kata mahasiswa semester delapan D3 Tehnik Perkapalan UNDIP ini. Ada-ada saja mereka ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya iyalah, masa ya iya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;dong&lt;/span&gt;," kelakar saya yang disambut tawa berderai mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sembari menunggu rombongan kembali dari pemakaman, kami memutuskan untuk singgah di suatu tempat, beristirahat sejenak.  Kebetulan juga banyak dari kami yang belum sholat ashar hari itu. Selain itu, hitung-hitung melihat-lihat kota Solo walau hanya sekilas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami memutuskan sholat di Masjid Agung Surakarta yang terletak persis di depan Alun-alun Utara, diapit Pasar Klewer--salah satu pasar kain dan batik terkenal di Solo. Arsitektur masjid yang dipugar pada tahun 1987 ini sangat indah. Pertautan antara kebudayaan Islam dan Jawa kuno. Seluruh gedung masjid terdiri dari kayu kokoh yang diperkuat dengan pilar di seluruh sisi masjid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebelah kiri masjid ada sebuah menara. Kata salah seorang penjaga masjid, menara itu dibangun untuk menjadi tempat meneriakkan azan acapkali waktu sholat. Orang per orang bertugas bergantian untuk naik ke atas menara lalu meneriakkan azan keras-keras. Agar nyaring, dia bisa memakai corong dari kertas atau sekadar mencorongkan tangannya. "Zaman dahulu kan belum ada megaphone atau salon besar seperti sekarang," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah beberapa saat bersantai di masjid, kami mencari makan. Karena adanya perbedaan keinginan, kegiatan makan ini juga dibagi menjadi dua kelompok. Rombongan pertama menjadi tetap bergabung menjadi kelompok pertama. Karena mereka mengaku belum sempat makan sejak tiba di Solo, mereka memutuskan untuk makan mi ayam. Kami, karena sudah sempat makan di perjalanan, memilih es campur untuk menghilangkan dahaga. Tempat keduanya - mi ayam dan es campur - terletak di areal parkiran masjid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti umumnya, es campur ini terbuat dari campuran aneka macam buah-buahan. Yang saya ingat, ada pepaya, nangka, apel, dan mangga. Untuk menambah segar, di atasnya ditaburi es serut. Ditambah susu kental di atas es serut, cita rasa segar dan manis es campur mampu memanjakan dahaga kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harganya terhitung murah untuk kelas masjid tempat para pendatang luar kota sering mampir. Untuk seporsi mangkok besar, Anda cukup merogoh kocek sebesar Rp3.500. Karena bersebelahan dengan Pasar Klewer, suasana sore itu cukup ramai. Para pembeli dan kuli gendong yang mengangkut barang dagangan berkarung-karung kain, mewarnai suasana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah puas memanjakan perut, kami lalu meluncur ke rumah Andi. Karena hujan, kami sempat meneduh di bawah atap sebuah toko di pinggir jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ikon Keberhasilan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di rumah Andi, depan rumah Andi sudah terlihat lengang. Tak lagi terlihat lalu-lalang orang yang berarti. Kursi-kursi bekas tempat duduk para pelayat siang tadi, sudah diangkut kembali. Tenda kain portabel masih digelar di depan rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ruangan dalam tempat menyambut para tamu, terlihat beberapa orang kerabat yang sedang mengrobrol santai dengan ibu Andi. Andi sedang tidur-tiduran ditemani Lina, pacarnya, di sebelahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu melihat kami datang, Lina segera membangunkan Andi untuk menyambut kami. "Mas, teman-temanmu sudah datang," katanya saat membangunkan Andi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andi terlihat kelelahan. Matanya menunjukkan dia kurang tidur. Dia masih mengenakan kemeja hitam-hitam yang dia pakai ketika ke makam. Andi terlihat cukup tegar. Mungkin karena dia pria, pikir saya. Dia segera bangkit menyambut dan menyalami kami satu per satu dengan genggaman salam dua kali ala anak pecinta alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Genggaman tangan Andi tetap kuat dan bersemangat, seperti biasanya. Tak ada berbeda dengan dulu. Suasana berkabung ternyata tak mengurangkan semangat yang dimilikinya. "Terima kasih, ya, sudah datang," kata lulusan Hukum UNDIP itu mantap. Namun pancaran matanya tak pernah bohong. Ia tetap jujur menyisakan ruang kesedihan yang mendalam. Pancaran dari jiwa yang menunjukkan rasa kehilangan satu orang yang disayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tahu, jauh di dalam lubuk hatinya, Andi merasa amat kehilangan seorang figur ayah. Ini karena Andi adalah anak laki-laki satu-satunya di keluarganya. Seluruh empat kakaknya yang sudah berkeluarga adalah perempuan. Seperti dalam budaya Jawa, pria seperti Andi yang sarjana lulusan Hukum dari universitas negeri terkemuka ini adalah kebanggan keluarga. Dia didapuk menjadi ikon keberhasilan keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai anak pria satu-satunya, Andi cukup dimanja oleh orangtuanya, terutama ibunya. Tak jarang ia membohongi orangutanya dengan meminta uang kiriman untuk tetek bengek kebutuhannya yang diktif. Untuk praktik lah, uang kuliah kurang lah, beli buku lah. Sebagai kawan-kawan karib sepermainannya, kami tak berani menegurnya ketika dia mengetaui perbuatan tak jujurnya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berpendirian, Andi adalah orang dewasa yang sudah tahu benar-salah. Namun belakangan saya sadari, tugas sahabat sejati adalah untuk mengingatkan ketika melihat sahabatnya melakukan kesalahan. Sejatinya, peran sahabat bukanlah untuk sekadar bersenang-senang bersama dan hidup dalam romantisme solidaritas bersama "satu untuk semua, semua untuk satu", seperti yang kami lakukan selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar kebiasaan buruknya itu, di antara kami, Andi adalah salah satu orang yang berpengaruh. Dia pernah menjadi Ketua &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Catopala&lt;/span&gt;. Karena badannya yang paling besar di antara kami, dia paling sering berposisi menjadi "leader" dalam banyak perjalanan petualangan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia juga paling jago menguasai navigasi darat yaitu tehnik untuk membaca dan menerjemahkan kordinat dalam peta tipografi pegunungan. Dia dulu mengambil spesialisasi divisi GH (gunung-hutan), ketika menjalani diksar di WAPEALA. Ekspedisi--tahap akhir diksar sebagai syarat untuk dilantik--yang dia pilih juga GH. Juli 2004, timnya yang terdiri dari empat orang (Andi, Rhenald, Rini, dan Siti) didaulat untuk ekspedisi pendakian ke gunung Arjuno dan Raung, keduanya di Jawa timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/STVBdSjJjzI/AAAAAAAAAbY/FHie29nu1v4/s1600-h/love-wallpaper262.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/STVBdSjJjzI/AAAAAAAAAbY/FHie29nu1v4/s200/love-wallpaper262.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5275194509985681202" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tujuan Abadi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas &lt;span style="font-style: italic;"&gt;maghrib&lt;/span&gt;, kami (tepatnya mereka, saya tak ikut, karena kalau saya bacaanya surat Roma atau Kisah Para Rasul) sholat tharawih bersama dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Surat Yassin.&lt;/span&gt; Saya menunggu manis di pinggiran sambil bermain game &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bounce &lt;/span&gt;di ponsel Ali. Di sebelah saya, Simbah--sudah mafhum, dia yang paling malas sholatnya--dengan pulasnya tidur. Alasannya tidak ikut cukup diterima: kecapekan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena bertepatan dengan menjelang hari pertama puasa, peserta yang sholat tharawih dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;yassinan &lt;/span&gt;bersama tak terlalu ramai. Jumlahnya tak mencapai 15 orang, termasuk seorang Imam yang  didaulat berceramah. Selain rombongan kami, dari pengamatan saya, lainnya hanyalah keluarga inti yaitu para anak, menantu, dan cucu alamarhum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba, sesuatu melintas di pikiran saya bahwa kematian adalah manusiawi. Di akhir di kehidupan, akhirnya kita hanya akan menjadi seonggok daging yang dikubur bersama cacing-cacing di tanah. Kita semua, tanpa kecuali, akan dimakan cacing tanah ketika mati, kata Naga Bonar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bukan dihargai atas siapa kita atau karya-karya apa yang kita lakukan semasa hidup. Kita dihargai atas bagaimana kita melakukan sesuatu. Karakter apa yang telah kita ukir di ingatan orang-orang di sekeliling kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti kata Dr Sid E. Willams dalam bukunya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pola Pikir Menuju Sukses&lt;/span&gt;, manusia adalah cinta itu sendiri. Kita didesain untuk memenuhi Tujuan Abadi kita yaitu cinta. Nabi dan orang suci dari segala abad dan tempat paling mengetahui hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dari itu, katanya, perjalanan manusia yang diciptakan dari tanah untuk kembali ke tanah ini adalah untuk menemukan kebenaran nilai abadi ini di sepanjang hidup mereka. Perbedaannya adalah ada yang berhasil dan tidak untuk menemukan kebenaran ini sampai akhir hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr. Sid mengatakan, sifat paling agung yang ada di dunia adalah cinta. Segala di dunia apapun itu tak terkecuali, selain cinta, tak akan bertahan. Ia akan digantikan yang lain ketika ia sirna. Tak ada yang baru di bawah matahari, kata Daud di Kitab Mazmur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta adalah Tujuan Abadi kita. Memang kita, manusia, hanyalah tanah yang makan dari tanah dan kembali menjadi tanah. Namun kita berbeda dengan binatang. Kita diberi napas oleh Sang Pencipta Kehidupan sendiri, TUHAN. Bahkan Kitab Kejadian menuliskan, kita diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Betapa hebat jaminan kehidupan ini jika kita mau memanfaatkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Willams juga menjabarkan cara agar kita mampu mendengar kata hati yang menjadikan Cinta sebagai nahkoda hidup kita. Pedoman dan penentu arah dari segala-galanya. Ada tiga hal yang harus menjadi prinsip kita dalam mengejar Tujuan Abadi kita. Yaitu ... mencintai, melayani, dan memberi (kekayaan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ulangi: MENCINTAI, MELAYANI, dan MEMBERI. Bukan: MENCINTAI JIKA DICINTAI, MELAYANI JIKA DILAYANI, atau MEMBERI selama imbalannya sepadan. Kita harus mampu membedakan ini. Tujuan Abadi bukanlah cinta penuh syarat yang menuntut dan menimbang untung-rugi ketika melakukan sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paradigma baru ini harus menyatu dalam pikiran kita secara terus menerus. Hal ini, katanya, sangat berguna untuk mengasah kepekaan kita pada kesadaran mengejar Tujuan Abadi kita. Cinta harus menjadi nahkoda kita apapun dan bagaimanapun kondisinya, tanpa syarat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingat, apapun dan bagaimanapun kondisinya; tanpa syarat!"&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6229740364415250960-2035720962358935398?l=anindityowicaksono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/feeds/2035720962358935398/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/2008/12/demi-cinta-tak-bersyarat.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6229740364415250960/posts/default/2035720962358935398'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6229740364415250960/posts/default/2035720962358935398'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/2008/12/demi-cinta-tak-bersyarat.html' title='Demi Cinta Tak Bersyarat'/><author><name>Anindityo Wicaksono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06767330856974408139</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/Scz2ra1pbII/AAAAAAAAAr0/kSL6Y5gYhTQ/S220/Om+garenk2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/STU7q5_ykYI/AAAAAAAAAbI/w3NnC3XZUFU/s72-c/love.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6229740364415250960.post-8009432776643491241</id><published>2008-11-29T13:12:00.005+07:00</published><updated>2008-11-29T13:29:07.309+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kolom'/><title type='text'>Bina Mereka, Bukan Binasakan!</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KOLOM&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Semarang, 29 November 2008&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);font-size:180%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bina Mereka, Bukan Binasakan!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh Anindityo Wicaksono&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/STDgcYj4NQI/AAAAAAAAAaI/O30BcggIpKU/s1600-h/2777138p.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 299px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/STDgcYj4NQI/AAAAAAAAAaI/O30BcggIpKU/s400/2777138p.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5273961941884744962" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Sumber gambar: http://www.kompas.com)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PERSEPSI &lt;/span&gt;bahwa moderenisasi adalah sumber melejitnya angka kriminalitas ternyata tak berlaku bagi Jepang. Meski menyandang julukan sebagai negara industri termoderen, nyatanya angka kriminalitas di negeri sakura ini terendah di antara negara-negara industri lain, seperti; AS, Perancis, Jerman dan Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, ibu kota negara, Tokyo, dengan jumlah penduduk 12 jutaan di siang hari dan 9 jutaan di malam hari, luas disebut-disebut sebagai salah satu kota metropolis teraman di dunia. Menurut Jurnal Studi Kepolisian Edisi 66/Mei-Agustus 2008, pada 2004, reputasi kecepatan polisi dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;koban &lt;/span&gt;(jejaring pos polisi di wilayah ketetanggaan) mencapai tempat kejadian kriminal setelah pelaporan, hanya memakan waktu 7 menit 15 detik (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jurnalnet.com&lt;/span&gt;).&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Itulah mengapa citra polisi Jepang di mata masyarakatnya menjadi begitu positif. Tidak mengherankan, ada banyak cerita yang menyebutkan bahwa sudah biasa di Jepang, ketika seseorang yang menemukan dompet tergeletak di jalanan, lantas menyerahkannya kepada pos polisi terdekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan ini jauh bertolakbelakang dengan polisi kita. Di sini, citra pekerjaan polisi sudah terlanjur negatif. Polisi dianggap kaki-tangan rezim dalam menangkapi rakyat kelas teri yang dianggap melanggar hukum. Atau bahkan, semacam centeng yang berpihak kepada siapapun yang mampu menyokong kesejahteraanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala usaha seperti "Polisi Sahabat Anak" yang bertujuan mendekatkan imej baik polisi, ternyata tak banyak merubah keadaan. Polisi lalu lintas masih tetap lekat dengan pameo "semua bisa diatur". Ketika seseorang pengguna jalan melanggar peraturan, kita sudah akrab dengan pilihan ekstra selain tilang: "berdamai" dengan imbalan beberapa lembar uang ribuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cita negatif ini pula yang membuat operasi pembersihan preman yang kini dilakukan serentak di seluruh Indonesia disambut skeptis oleh masyarakat. Bahkan, operasi yang diperintahkan langsung oleh Kapolri Jendral Bambang Hendarso Danuri ini seakan kembali membangkitkan kenangan buruk masyarakat pada kasus penembakan misterius ("petrus").&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus "petrus" yang terjadi di paruh awal dekade 1980-an ini memang masih menjadi momok yang menakutkan bagi sebagian masyarakat. Pasalnya, meski bertujuan mulia-pengurangan angka kriminalitas-nyatanya cara yang diambil aparat mengangkangi rasa kemanusiaan. Mereka membunuhi satu persatu orang-orang yang disinyalir sebagai preman yang telah lama membuat resah masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang 1984--1985, tercatat 181 orang tewas, 43 orang diantaranya ditembak. Para preman yang sebagian besar bertato ini ditemukan dalam kondisi tangan dan leher terikat. Kebanyakan mereka dimasukkan ke dalam karung yang ditinggal di pinggir jalan, di depan rumah, dibuang ke sungai, laut, hutan dan kebun (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wawasan&lt;/span&gt;, 26 Januari 2008). Tampaknya, rezim berkuasa waktu itu punya prinsip: "Kalau tak mau dibina, ya, kita binasakan!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/STDhD7jAzXI/AAAAAAAAAaQ/cq7t3eAkZ_o/s1600-h/premandalam.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 150px; height: 192px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/STDhD7jAzXI/AAAAAAAAAaQ/cq7t3eAkZ_o/s320/premandalam.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5273962621291253106" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Premanisme&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita semua tentunya sepakat, premanisme adalah kegiatan yang meresahkan masyarakat. Mulai dari yang beroperasi di jalanan, mencopet di pasar-pasar, hingga yang tergabung dalam semacam geng yang berjejaring, semuanya harus diberantas tuntas hingga ke akar-akarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ditanya, siapapun pasti sepakat bahwa rasa keamanan adalah sesuatu yang didambakan dari sebuah negara. Dengan tingkat keamanan yang tinggi, aktivitas ekonomi, bisa berjalan tanpa tersendat. Sebaliknya, membiarkan premanisme berlarut-larut hanya akan menciptakan atmosfir yang memungkinkan mereka terus berkembang secara sistematis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, kita tak boleh lupa pada aspek lain yang menjadi faktor tumbuhnya premanisme. Dalam menegakkan keamanan, para petugas harus mendalami pula keseluruhan permasalahannya. Mereka tak boleh melupakan realitas bahwa premanisme bisa lahir dan bertunas di masyarakat karena berbagai faktor, seperti lingkungan, ekonomi, hingga sosial-budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dari itu, operasi pemberantasan pelaku kejahatan seperti sah-sah saja dilakukan, sepanjang tetap di bawah koridor hukum. Syarat sebagai negara hukum harus tetap terpenuhi. Jangan mentang-mentang penjahat kerah-dekil langsung ditembak. Adili mereka. Meskipun mereka masuk kategori penyakit masyarakat, mendapatkan keadilan adalah hak asasi segenap manusia yang harus dipenuhi negara. Yang salah itu tindakannya, bukan orangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita juga menghimbau bahwa operasi preman harus diikuti dengan penyadaran, pembekalan mental, dan pembekalan ketrampilan. Pasalnya, tak ada preman yang lahir atas dasar panggilan hidup. Semua yang memilih hidup dari kejahatan pastilah karena terpaksa. Selain memilih lingkungan salah, mereka juga tak memunyai keterampilan lain selain mencuri, merampoki, atau menodong dalam menghidupi diri dan keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak mengherankan, mayoritas penghuni penjara adalah penjahat kambuhan: mereka yang keluar-masuk bui begitu cepatnya. Tenggelam sebentar, pascaoperasi kemudian muncul lagi.&lt;br /&gt;Kewajiban untuk mengatasi masalah preman tidak bisa diserahkan sepenuhnya kepada polisi. Operasi penjaringan harus diteruskan pada institusi lain yang bisa mengurus lebih jauh, terutama untuk urusan bina mental dan pembekalan keterampilan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingat, preman tetap manusia yang perlu dimanusiakan. Mereka juga warga negara sah republik ini yang perlu diayomi pemerintah. Kita berharap, paradigma dalam pemberantasan preman dapat berubah: mereka perlu dibina, bukan dibinasakan!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6229740364415250960-8009432776643491241?l=anindityowicaksono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/feeds/8009432776643491241/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/2008/11/bina-mereka-bukan-binasakan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6229740364415250960/posts/default/8009432776643491241'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6229740364415250960/posts/default/8009432776643491241'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/2008/11/bina-mereka-bukan-binasakan.html' title='Bina Mereka, Bukan Binasakan!'/><author><name>Anindityo Wicaksono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06767330856974408139</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/Scz2ra1pbII/AAAAAAAAAr0/kSL6Y5gYhTQ/S220/Om+garenk2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/STDgcYj4NQI/AAAAAAAAAaI/O30BcggIpKU/s72-c/2777138p.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6229740364415250960.post-1413552886891892212</id><published>2008-11-25T19:50:00.004+07:00</published><updated>2008-11-25T20:11:13.934+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kolom'/><title type='text'>Menantikan Sang Filsuf-Raja</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KOLOM&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Semarang, 24 November 2008&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);font-size:180%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Menantikan Sang Filsuf-Raja&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh Anindityo Wicaksono&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SSv1w_IJtwI/AAAAAAAAAZE/sOq18TNLryk/s1600-h/sri-sultan.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 267px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SSv1w_IJtwI/AAAAAAAAAZE/sOq18TNLryk/s400/sri-sultan.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5272578010695448322" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Sumber gambar: http://www.swaberita.com)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;BAPAK&lt;/span&gt; filsuf Plato (428-348 SM) jauh-jauh hari mengingatkan kita bahwa demokrasi merupakan kekuasaan yang menunjukkan kemerosotan jiwa. Begitu bencinya kepada demokrasi, sampai-sampai ia menganggapnya sebagai sistem terburuk dari semua pemerintahan yang berasaskan hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti dijabarkan Mark Moss dalam "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;A Critical Account of Plato's Critique of Democracy&lt;/span&gt;", ada tiga alasan mengapa Plato mengecam demokrasi. Pertama, demokrasi mengarah kepada "aturan gerombolan". Dengan kekuasaannya, ia menjadi kaki tangan "pencari kenikmatan" yang bertujuan mengeruk kepuasan dari hasrat sesaat.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kedua, demokrasi mengarah kepada aturan yang dikendalikan kaum pandir berketerampilan retorika, namun tidak berpengetahuan benar. Ketiga, ia mengarah kepada ketidaksepakatan dan pertikaian yang secara intrinsik buruk dan harus dihindarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, demokrasi, kata Plato, lebih dekat dan cenderung menuju tirani. Aristoteles, yang kerap berseberangan dengan Plato dalam wacana politik dan kemasyarakatan, pun nyaris sejalan tatkala menyinggung sistem pemerintahan ini. Murid Plato ini melihat demokrasi sebagai bentuk kemunduran dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;politeia&lt;/span&gt;. Nilai maksimumnya hanya setingkat di atas tirani dan oligarki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampaknya pemikiran kedua filsuf masyhur ini mulai mewujud pada ketatanegaraan Indonesia. Lantaran trauma terhadap militer, semangat yang dibawa reformasi membuat kita berharap banyak kepada demokrasi. Para pemimpin berbaju sipil kita jadikan ujung tombak perbaikan nasib bangsa. Namun, apa realitasnya? Gaung demokrasi yang dibawa reformasi nyatanya belum dapat berbicara banyak. Rakyat pun semakin mati rasa kepada aneka slogan demokrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ironisnya, demokrasi jugalah yang kini menghantarkan kita pada cengkeraman kaum pedagang. Kepemimpinan elit sipil yang populis ternyata kian manyerupai serigala berbulu domba. Mereka masih saja mudah disetir dan didominasi kalangan pengusaha: sibuk menjuali aset negara dan berkompromi dengan kapitalis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idealnya, pengusaha merupakan kelas menengah dan bagian dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;civil society&lt;/span&gt;. Seperti di Thailand, kelas menengah semestinya otonom. Mereka punya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;bargaining power&lt;/span&gt; terhadap pemerintah. Parahnya, di Indonesia, para pengusaha merangkap pejabat. Mereka memiliki privilese dan dibenarkan berdwi-fungsi kepemimpinan: pemerintah-&lt;span style="font-style: italic;"&gt;cum&lt;/span&gt;-pedagang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Poling&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang perhelatan Pemilu 2009, dinamika percaturan laga pilpres semakin marak dengan kedatangan seorang raja: Gubernur-&lt;span style="font-style: italic;"&gt;cum&lt;/span&gt;-Raja Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sultan sendiri, dalam berbagai kesempatan pernah menyatakan keberatannya maju dalam pentas Pilpres. Bagi beliau, seperti titah Sultan HB IX, kekuasaan tidak untuk diperebutkan, tapi untuk melayani rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kini, tiba-tiba dengan lugas ia membalik pernyataannya. Dalam Pisowanan Agung (pertemuan akbar raja-raja se-Nusantara) di Alun-alun Utara Yogyakarta, dengan terang-terangan dia mengumumkan kesanggupannya bekiprah dalam aras nasional: maju dalam Pilpres 2009. Penegasan sikap politiknya ini niscaya memberi warna tersendiri dalam pentas perpolitikan nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Majunya Sultan ini memang sudah lama dinanti-nantikan masyarakat. Lihat saja hasil survei terakhir Lembaga Survei Nasional (LSN). Menurut poling di 33 provinsi itu, Sri Sultan menduduki peringkat ketiga figur capres dan cawapres yang diinginkan masyarakat. Meski masih di bawah SBY dan Megawati, putera Sri Sultan HB IX ini mengungguli Wiranto, Prabowo, dan Hidayat Nur Wahid (Majalah Tokoh Indonesia edisi 39).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, sejatinya struktural pemerintahan Sultan hanya menjabat gubernur. Namun, suka tak suka, ketokohannya jauh melampaui kewenangannya sebagai sekadar pemimpin DIY. Ia juga seorang raja kerajaan yang berakar dengan trah Mataram-Jawa yang selama beberapa abad mengusasai tanah Jawa, khususnya DIY, Jawa Tengah, dan sebagian Jawa Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, kiprah Sultan HB X pada masa kekisruhan politik 1998 pun tak bisa dipandang enteng. Pamor Sultan mulai meroket sejak Sultan mendukung reformasi dalam suatu acara besar-besaran di Alun-alun Utara Yogyakarta pada penghujung kekuasaan Soeharto,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama sejumlah dedengkot reformasi, seperti Amien Rais, Megawati dan Gus Dur, Sultan pun ikut andil dalam "Kelompok Ciganjur". Mereka menjadi kelompok penekan yang paling efektif memaksa sisa-sisa elit Orba melaksanakan agenda-agenda reformasi jangka pendek: pemilu multipartai dan kebebasan politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SSv5UBXCXWI/AAAAAAAAAZc/DGGXKaDKViY/s1600-h/29642.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 270px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SSv5UBXCXWI/AAAAAAAAAZc/DGGXKaDKViY/s320/29642.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5272581911125056866" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Filsuf-Raja&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengikraran Sultan ini kembali mengingatkan saya kepada Plato. Dalam buku &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Republic&lt;/span&gt;, dia menyatakan, jika hendak makmur, idealnya negara dikendalikan filsuf-raja. Plato menggambarkannya sosok ini sebagai pencinta kebijaksanaan yang mengetahui hakikat kebenaran dan keadilan. Perpaduan keduanya niscaya akan menukangi bobrok demokrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kritik Plato atas demokrasi memang sekilas menjanjikan dan sejalan dengan kondisi bangsa. Tetapi, seperti apakah manifestasi figur filsuf-raja yang dimaksudkan Plato? Apakah raja yang dimaksudkannya bermakna harafiah? Kita belum tahu dan Plato pun tak gamblang menguraikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan bangsa menuju sejahtera pun tidak semata-mata berdasarkan niat baik dan citra diri positif. Pasalnya, sukses-tidaknya seorang capres di Indonesia ditentukan sedikitnya tiga aspek: popularitas, aksesibilitas (kemampuan mengakses), dan elektabilitas (kemampuan dipilih).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan hasil poling, kita tidak meragukan popularitas Sultan. Namun, dalam aksesbiltas dan elektabilitas, kader Partai Golkar ini masih perlu banyak bermanuver.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski dukungan masyarakat meningkat pesat, baik sebagai capres maupun cawapres, ia masih terganjal onak duri: belum jelas partai mana yang resmi mengusungnya sampai saat ini. Sultan bahkan masih ngotot berkutat pada ihwal pencalonan capres nonpartai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski begitu, lepas dari persoalan itu dan entah bagaimana kelanjutannya, baiklah kita berharap. Bolehlah kita anggap ihwal pencalonan Sultan ini sebagai pertanda untuk keluar dari labirin demokrasi bangsa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6229740364415250960-1413552886891892212?l=anindityowicaksono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/feeds/1413552886891892212/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/2008/11/menantikan-sang-filsuf-raja.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6229740364415250960/posts/default/1413552886891892212'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6229740364415250960/posts/default/1413552886891892212'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/2008/11/menantikan-sang-filsuf-raja.html' title='Menantikan Sang Filsuf-Raja'/><author><name>Anindityo Wicaksono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06767330856974408139</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/Scz2ra1pbII/AAAAAAAAAr0/kSL6Y5gYhTQ/S220/Om+garenk2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SSv1w_IJtwI/AAAAAAAAAZE/sOq18TNLryk/s72-c/sri-sultan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6229740364415250960.post-1372346111194373605</id><published>2008-11-25T19:25:00.005+07:00</published><updated>2008-11-25T20:44:01.943+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kolom'/><title type='text'>Momentum Pemacu Etos Kerja</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KOLOM&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Semarang, 23 November 2008&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);font-size:180%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Momentum Pemacu Etos Kerja&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh Anindityo Wicaksono&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SSwAwfwjhbI/AAAAAAAAAZ0/i39p5W7lfxc/s1600-h/2456565598_1fe9cf33d7.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 300px; height: 400px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SSwAwfwjhbI/AAAAAAAAAZ0/i39p5W7lfxc/s400/2456565598_1fe9cf33d7.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5272590096902882738" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;(Sumber gambar: http://farm4.static.flickr.com)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;DI TENGAH&lt;/span&gt; terpaan krisis ekonomi jilid dua, nasib buruh negeri semakin tergencet. Pemicunya, tak lain dari surat keputusan (SK) empat menteri per tanggal 22 Oktober 2008 tentang "Pemeliharaan momentum pertumbuhan ekonomi nasional dalam mengantisipasi perkembangan ekonomi global".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekilas, SKB yang berisikan total lima pasal ini terkesan menjanjikan, terutama di pasal 1 dan 2. Awalan SKB yang ditandatangani Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Erman Suparno, Menteri Perindustrian Fahmi Idris, Menteri Dalam Negeri Mardiyanto, dan Menteri Perdagangan Maria Elka Pangestu ini hendak menunjukkan niat baik pemerintah menangkal serbuan krisis finansial global.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Lihat saja poin pembukanya: "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dalam menghadapi dampak krisis perekonomian global, pemerintah melakukan berbagai upaya agar ketenangan berusaha dan bekerja tidak terganggu&lt;/span&gt;." (Pasal 1 Alinea 1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat juga isi poin penjelasan pasal 1 tentang tugas menteri perindustrian ini: "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mendorong efisiensi proses produksi, optimalisasi kapasitas produksi dan daya saing produk industri&lt;/span&gt;," dan "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;menyusun kebijakan penggunaan produksi dalam negeri dan melaksanakan monitoring pelaksanaannya&lt;/span&gt;".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Poin penjabaran tugas dan kewenangan menteri perdagangan pun selintas menyiratkan kebijaksanaan pemerintah: "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Upaya peningkatan pencegahan dan penangkalan penyelundupan barang-barang dari luar negeri&lt;/span&gt;", "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;memperkuat pasar dalam negeri dan promosi penggunaan produk dalam negeri&lt;/span&gt;," dan "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;mendorong ekspor hasil industri padat karya&lt;/span&gt;".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Poin-poin di atas seakan memang sengaja dibuat demi memperlihatkan keberpihakan pemerintah kepada ekonomi dalam negeri. Peningkatan efisiensi dan daya tahan perekonomian domestik yang ditekankan pemerintah dalam SKB ini merupakan langkah bijak yang patut kita apresiasi. Apalagi kini kita sedang was-was menghadapi serbuan krisis perekonomian global yang bermula dari Negeri Paman Sam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, jika kita teruskan membaca poin-poin selanjutnya, barulah tersingkap maksud sejati penerbitan SKB ini. Disebutkan, tugas menaktertrans adalah "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;melakukan konsolidasi unsur pekerja/buruh dan pengusaha melalui forum LKS tripartit nasional dan daerah...&lt;/span&gt;" dan "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;mendorong komunikasi bipartit yang efektif antarunsur pekerja.buruh dan pengusaha di perusahaan&lt;/span&gt;" (pasal 1 poin a).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat juga isi pasal 1 pon b tentang tugas mendagri ini: "U&lt;span style="font-style: italic;"&gt;paya agar gubernur dan bupati/walikota, dalam menetapkan segala kebijakan ketenagakerjaan di wilayahnya, mendukung kelangsungan berusaha..&lt;/span&gt;"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesemua poin-poin di atas bertolak belakang dengan maksud awal penerbitan SKB, seperti yang diuraikan pembukaannya. Pasalnya, pemerintah terkesan cenderung lepas-tangan dalam penentuan upah minimum provinsi. Semuanya diserahkan begitu saja kepada konsolidasi pengusaha dan pekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Poin b tentang tugas mendagri bahkan dengan gamblang menyebutkan: "gubernur diminta melihat kepentingan keberlangsungan usaha (para pengusaha) dalam menetapkan upah minimum". Di sini, sangat jelas pemerintah memandang sebelah mata peran buruh dalam dinamika rantai industri. Buruh dianggap sekadar faktor produksi yang tidak dimanusiakan. Sebaliknya, kepentingan pengusaha (baca: pemodal) dianggap menempati titik sentral dunia usaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, buruh adalah pribadi kompleks yang menentukan keberhasilan industri. Ilmu Sosiologi Industri pun mengajarkan demikian. Pemahaman faktor sosial atau interaksi sosial, seperti hubungan industri dengan manusia, adalah kunci meningkatkan produktitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bekerja, buruh pun amat dipengaruhi faktof-faktor pribadi, baik intrinsik maupun ektrinsik. Kinerja dan produktifitas pekerja amat bertalian dengan kondisi di luar dirinya. Pekerja bermotivasi tinggi pastilah pribadi yang telah mendapatkan keamanan kerja dan pemenuhan kebutuhan. Kondisi ini persis seperti penjabaran Abraham Maslow tentang Teori Kebutuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menyerahi tanggung jawab kepada konsensus bipartit (pekerja dan pengusaha), polemik berkepanjangan, terutama di tingkat buruh yang berposisi tawar lebih rendah, menjadi keniscayaan. Kedua kutub ini adalah dua hal yang selalu berseberangan. Bagi perusahaan, efektifitas berarti menekan upah seminim mungkin. Sedangkan buruh berkata sebaliknya: "Kalau tidak sejahtera, bagaimana bisa rajin bekerja?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;SKB ini pun kontradiktif. Salah satu pasal menyebutkan, gubernur dan bupati/walikota harus mempertimbangkan kepentingan pengusaha dalam menentukan UMK. Namun, pasal 3 justru semakin membuat jengah pada buruh: "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Gubernur, dalam menetapkan upah minimum, mengupayakan agar tidak melebihi pertumbuhan ekonomi nasiona&lt;/span&gt;l".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, angka pertumbuhan nasional per tahun sebesar 6 persen. Jika UMK 2009 dipatok tidak boleh melampaui itu, maka artinya, berapapun besaran kebutuhan hidup layak (KHL) yang ditentukan Dewan Pengupahan tidak akan memengaruhi UMK 2009. Padahal, UU No 13.2003 tentang Ketenagakerjaan jelas mengatur bahwa UMK ditentukan Dewan Pengupahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi trauma krisis ekonomi jilid satu belum juga reda, kini kita sedang was-was menghadapi krisis jilid dua. Inflasi terus meroket. Harga-harga yang naik pasca-Lebaran pun tak menunjukkan sinyalemen bakal turun. Kenaikan BBM juga belum lama berselang. Penurunannya per 1 Desember 2008 pun hanya Rp500, benar-benar tak sebanding imbasnya pada lonjakan harga kebutuhan pokok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SSwA9BDyXUI/AAAAAAAAAZ8/CHdUsUhnBus/s1600-h/01demo-buruh.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 135px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SSwA9BDyXUI/AAAAAAAAAZ8/CHdUsUhnBus/s200/01demo-buruh.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5272590312000347458" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bibit Waluyo&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat Jateng boleh berbesar hati dipimpin seorang gubernur baru yang arif, Bibit Waluyo. Kamis (20/11), Bibit menandatangani surat keputusan (SK) yang mengesahkan kenaikan UMK 2009 sebesar rata-rata 12,9 persen dari UMK 2008 di semua kabupaten/kota. Angka ini melampaui tingkat pertumbuhan ekonomi nasional yang sebesar 6 persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak pelak, keluarnya SK ini yang disambut hangat kalangan buruh ini, membuktikan janji gubernur bahwa penentuan besaran UMK berdasarkan rekomendasi bupati/walikota. Keputusan ini hadir setelah Bibit mendengar masukan-masukan dari unsur gabungan stakeholder industri, yakni Serikat Pekerja, Apindo, Dewan Pengupahan, BPS, dan perguruan tinggi, malam sebelumnya (Rabu, 19/11).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang baru dua daerah yang usulan UMK-nya mencapai 100 persen, yakni Kota Semarang (Rp835 ribu) dan Surakarta (Rp723 ribu). Namun, gubernur ternyata tak ragu menujukkan keberpihakannya kepada kepentingan rakyat ketimbang berpatok pada SKB 4 menteri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bibit pun tidak bisa dicap sebagai pembangkang oleh pemerintah. Pasalnya, selain memerhatikan aspek normatif, yaitu sesuai pengajuan bupati/walikota, dia juga cerdik mempertimbangkan aspek hukum. SKB justru dinilainya cacat hukum karena melanggar UUD '45 dan UU No 13/2003 tentang Ketenagakerjaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di era otonomi daerah, tingkat kesejahteraan suatu daerah berpulang kepada kebijaksanaan masing-masing kepala daerahnya. Kini tinggal bagaimana provinsi lain menyikapi SKB 4 menteri. Mereka diperhadapkan dua pilihan: memegang teguh poin per poin SKB yang berarti memihak pengusaha, atau berdiri bersama-sama buruh dan mengutamakan hajat hidup orang banyak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasalnya, faktor eksternal hubungan-hubungan sosial dalam industri mencakup hubungan perusahaan/masyarakat/pekerja dengan pemerintah. Kepala daerah, yang kini diserahi tanggung jawab penuh berkenaan terbitnya SKB 4 menteri, bertugas menjadi regulator yang menentukan kelangsungan perekonomian daerah. Salah-salah, polemik berkepanjangan antara pekerja dengan perusahaan, jika dibiarkan berlarut-larut, dapat mengancam kesinambungan industri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitupun dengan buruh. Jika mereka tak ingin selamanya masuk kategori faktor produksi, yang hanya dihargai keringatnya, para buruh harus mulai meningkatkan etos kerjanya. Hanya menuntut kelayakan upah, tanpa memerhatikan kontribusinya bagi budaya perusahaan, tidak dapat membalikkan stigma faktor produksi yang melekat pada mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SKB memang tidak pas dengan kondisi rakyat saat ini. Ia pun cacat hukum di depan UUD '45 dan UU Ketenagakerjaan. Namun, baiklah mpmentum ini kita jadikan pemicu peningkatan kinerja dan etos kerja buruh. Maka jadikan seruan Ronald Reagan ini sebagai buah perenungan: "Jangan tanyakan apa yang sudah negara lakukan, namun tanyakan apa yang sudah kita lakukan bagi negara!"&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6229740364415250960-1372346111194373605?l=anindityowicaksono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/feeds/1372346111194373605/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/2008/11/momentum-pemacu-etos-kerja.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6229740364415250960/posts/default/1372346111194373605'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6229740364415250960/posts/default/1372346111194373605'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/2008/11/momentum-pemacu-etos-kerja.html' title='Momentum Pemacu Etos Kerja'/><author><name>Anindityo Wicaksono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06767330856974408139</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/Scz2ra1pbII/AAAAAAAAAr0/kSL6Y5gYhTQ/S220/Om+garenk2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SSwAwfwjhbI/AAAAAAAAAZ0/i39p5W7lfxc/s72-c/2456565598_1fe9cf33d7.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6229740364415250960.post-4971146166491514852</id><published>2008-11-22T01:07:00.007+07:00</published><updated>2008-11-22T03:18:35.713+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='berita'/><title type='text'>Kesadaran PSK Mulai Tumbuh</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;BERITA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);font-size:180%;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Semarang, 22 November 2008&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kesadaran PSK Mulai Tumbuh&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh Anindityo Wicaksono&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SSb9FcQutYI/AAAAAAAAAYo/6j109YK_nvE/s1600-h/16921large.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 306px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SSb9FcQutYI/AAAAAAAAAYo/6j109YK_nvE/s400/16921large.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5271178683811280258" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:arial,sans-serif;" &gt;&lt;span style="color: rgb(0, 128, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-style: italic;"&gt;(Sumber gambar: http://&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 0);font-size:85%;" &gt;www.jawapos.com&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:arial,sans-serif;" &gt;&lt;span style="color: rgb(0, 128, 0);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:arial,sans-serif;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 128, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(ANTARA) &lt;/span&gt;- Kesadaran wanita pekerja seks komersial (PSK) di lokalisasi Sunan Kuning Semarang untuk mencegah penularan HIV/AIDS, mulai tumbuh. Terbukti, banyak di antara mereka yang rutin memeriksakan alat kesehatan reproduksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koordinator Divisi Program Aksi Stop AIDS Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (ASA PKBI) Kota Semarang, Abrori Addahuri, mengatakan, para PSK ini juga banyak yang bersedia melakukan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;volunteer counseling and testing&lt;/span&gt; (VCT) HIV/AIDS, atau pendampingan oleh konselor di Griya ASA PKBI.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Berdasarkan data per 1 Januari 2007, sebanyak 348 orang PSK Sunan Kuning dari total 635 orang atau 54,8 persen, sudah sukarela rutin melakukan tes skrining (cek kesehatan daerah kewanitan) di Griya ASA PKBI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menambahkan, bahkan banyak PSK yang bersedia menyukseskan program penjangkauan ASA PKBI dengan menjadi pendidik sebaya (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;pair educated&lt;/span&gt;). Tugas mereka adalah mendampingi teman seprofesi untuk memberikan penyuluhan mengenai PMS, kesehatan reproduksi, dan HIV/AIDS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;"Program-program kami adalah penyuluhan penyakit menular seks (PMS), kesehatan reproduksi, penularan HIV/AIDS, dan melakukan pendampingan jika ditemukan ada yang positif HIV," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan beragam pendekatan ini, katanya, diharapkan kelak timbul keinginan dari mereka sendiri untuk keluar dari lokalisasi dan tidak lagi menjadi PSK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengatakan, ancaman terberat dalam penyebaran HIV/AIDS di lokalisasi, justru datang dari pelanggan. Kesadaran pemakai jasa untuk menggunakan kondom masih rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pelanggan banyak yang enggan memakai kondom, meskipun dipaksa. Mereka kerap beralasan menggunakan kondom mengurangi kenikmatan hubungan intim" kata Abror.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, dalam kasus tersebut, para PSK tidak bisa disalahkan.  Posisi tawar mereka rendah. "Sebagai pihak penyedia jasa, mereka membutuhkan uang dari pelanggan. Maka mereka mau saja melayani meski pelanggan menolak memakai kondom," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebaran HIV/AIDS di Jateng makin mengkhawatirkan. Berdasarkan data di Dinas Kesehatan Jateng per 1 Januari 2007, provinsi ini menempati peringkat ketujuh dengan 514 kasus (290 AIDS, 86 AIDS/IDU, dan 138 meninggal).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk Jateng, Kota Semarang menempati peringkat pertama dengan 123 kasus, diikuti Kabupaten Banyumas (119 kasus) dan Kabupaten Tegal (30 kasus).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6229740364415250960-4971146166491514852?l=anindityowicaksono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/feeds/4971146166491514852/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/2008/11/kesadaran-psk-mulai-tumbuh.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6229740364415250960/posts/default/4971146166491514852'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6229740364415250960/posts/default/4971146166491514852'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/2008/11/kesadaran-psk-mulai-tumbuh.html' title='Kesadaran PSK Mulai Tumbuh'/><author><name>Anindityo Wicaksono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06767330856974408139</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/Scz2ra1pbII/AAAAAAAAAr0/kSL6Y5gYhTQ/S220/Om+garenk2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SSb9FcQutYI/AAAAAAAAAYo/6j109YK_nvE/s72-c/16921large.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6229740364415250960.post-6530941873723685867</id><published>2008-11-22T00:45:00.012+07:00</published><updated>2008-11-22T03:24:52.948+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='berita'/><title type='text'>Jateng, PGOT Terus Bertambah</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;BERITA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Semarang, 21 November 2008&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Jateng, &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;PGOT &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Terus Bertambah&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh Anindityo Wicaksono&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SSb79RflPGI/AAAAAAAAAYg/GmBbbPbia1I/s1600-h/up_DSC_2220_new.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 265px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SSb79RflPGI/AAAAAAAAAYg/GmBbbPbia1I/s400/up_DSC_2220_new.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5271177443970202722" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial,sans-serif;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family:arial,sans-serif;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 128, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-style: italic;"&gt;(Sumber gambar: http://si-wahyu.blogspot.com&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:arial,sans-serif;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 128, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(ANTARA)&lt;/span&gt; - Jumlah pengemis, gelandangan, dan orang terlantar (PGOT) di Jawa Tengah  terus bertambah tiap tahunnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Soemarso, Koordinator Staf Tata Usaha Panti Karya Persinggahan Margo Widodo Semarang, jika di tahun 2005 jumlah PGOT warga binaan panti itu 336 orang, 2006 meningkat dua kali lipat menjadi 637 orang.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;"Januari 2006 kami menerima 26 orang, Januari 2008 meningkat menjadi 38. Penggolongannya, yakni pengemis 15 orang, lansia (2), sakit jiwa/terlantar (9) , kehabisan bekal di jalan (11), dan serah diri (1)," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Jumlah itu hanya angka penerimaan masuk, belum termasuk binaan sisa bulan sebelumnya. "Untuk saat ini, total jumlah PGOT yang dibina berjumlah 110 orang. Untuk jenis kelamin, laki-laki 69, perempuan 41. Untuk usia, tertua 50 tahun, dan paling muda 10 tahun", jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Dia menjelaskan, setiap orang yang masuk ke panti dari operasi penertiban sosial atau serah diri, akan diseleksi dulu. Mereka yang dibina hanyalah yang dapat menyertakan surat keterangan dari kelurahan atau kepolisian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini dilakukan agar pembinaan mendapat payung hukum yang sah. Selain itu, untuk menghindari penyalahgunaan panti dijadikan tempat berlindung bagi apra pelaku-pelaku kehjahatan yang buron.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Setelah PGOT masuk ke sini, kami tampung sementara,. Mereka lalu kami  salurkan ke panti-panti lain sesuai penggolongannya. Margo Widodo berkoordinasi dengan 26 panti dan instansi terkait di Jawa Tengah yang menjadi tempat rujukan binaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Semisal, untuk lansia, disalurkan ke panti wredha (PW), orang-orang terlantar ke panti karya (PK), eksikotik (pasca-psikotika) ke panti tunalaras (PTL)", jelas Soemarso.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk pasien binaan dari Kota Semarang, panti ini berkoordinasi dengan PTL Ngudi Rahayu, PK MArdi Utomo, PW Pucang Gading, PA Taman Harapan, RS Kariadi, dan RS Tugurejo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Keterampilan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengatakan, di panti berdaya tampung 150 orang ini, PGOT dibina berdasarkan potensi mereka. "Kami memberikan bimbingan sosial, fisik, mental, dan keterampilan sebelum mereka diserahkan ke keluarganya," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk keterampilan, para binaan diajarkan antara lain membuat tempe, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;paving block,&lt;/span&gt; keset, hingga servis sepeda motor. Diharapkan, setelah dibekali keterampilan, mereka bisa mendapatkan pekerjaan layak ataupun bekerja mandiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, Soemarso mengharapkan partisipasi seluruh masyarakat untuk dapat mengurangi angka PGOT yang semakin bertambah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Imbauan Pemkot agar warga tidak memberi di jalan, sangat bijak. Memberi uang itu tidak mendidik, membuat orang malas bekerja. Jika hendak beramal, lebih baik berikan kepada yayasan-yayasan  sosial atau badan-badan amil zakat yang terpercaya," tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panti Margo Widodo berdiri pada 1950 dan berada di bawah naungan Dinas Kesejahteraan dan Sosial Jawa Tengah. Berdasarkan Perda Propinsi Jawa Tengah 2 April No 1/2002, panti ini merupakan panti persinggahan yang menjadi tempat pembinaan sementara dengan klasifikasi Tipe B.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6229740364415250960-6530941873723685867?l=anindityowicaksono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/feeds/6530941873723685867/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/2008/11/jateng-pgot-terus-bertambah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6229740364415250960/posts/default/6530941873723685867'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6229740364415250960/posts/default/6530941873723685867'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/2008/11/jateng-pgot-terus-bertambah.html' title='Jateng, PGOT Terus Bertambah'/><author><name>Anindityo Wicaksono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06767330856974408139</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/Scz2ra1pbII/AAAAAAAAAr0/kSL6Y5gYhTQ/S220/Om+garenk2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SSb79RflPGI/AAAAAAAAAYg/GmBbbPbia1I/s72-c/up_DSC_2220_new.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6229740364415250960.post-8302307880205131061</id><published>2008-11-22T00:18:00.008+07:00</published><updated>2008-11-22T02:10:39.272+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='berita'/><title type='text'>Batik Jateng Sebagai Aset Budaya</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;BERITA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);font-size:180%;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Semarang, 21 November 2008&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Batik Jateng&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;Sebagai Aset Budaya&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh Anindityo Wicaksono&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SSby6sy9o6I/AAAAAAAAAYA/ZDefbYGQO0A/s1600-h/ibu-tua-pecanting-batik.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 266px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SSby6sy9o6I/AAAAAAAAAYA/ZDefbYGQO0A/s400/ibu-tua-pecanting-batik.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5271167504154993570" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;(Sumber gambar: http://yfred.files.wordpress.com&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;(&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ANTARA&lt;/span&gt;) - Sebagai sentra penghasil batik, Jawa Tengah  harus lebih memajukan kerajinan batik khas daerah-daerahnya sebagai aset budaya dan pariwisata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ketua Paguyuban Pencinta Batik Indonesia "Bokor Kencono", Umi Sumiyati, Jumat, di Semarang, potensi batik Jateng di berbagai daerah amat beragam. Ada ciri khas masing-masing yang membedakan satu dengan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;"Kini kembali kepada kejelian pemda untuk menggandeng perajin setempat yang berpotensi," kata dia usai pembukaan "Bazar Batik Jawa Tengah", baru-baru ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengatakan,  keengganan pemerintah kabupaten (Pemkab) untuk mendukung para perajin batik di daerahnya, &lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;kerap menjadi kendala umum pelestarian batik&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Untuk acara bazar ini, misalnya, dari 20 undangan yang ia sampaikan kepada berbagai Pemkab, ternyata hanya delapan yang menyatakan kesiapannya mengirim perajinnya Untuk itu, dia mengaku kecewa akan respon daerah. Apalagi alasan mereka selalu saja pada dana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dari 16 daerah perajin batik yang hadir, delapan datang karena memenuhi undangan, sedangkan delapan perajin daerah lainnya datang dengan inisiatif dan dana sendiri," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebanyak 16 perajin batik daerah yang hadir, yaitu Kab. Kebumen, Kota Pekalongan, Kab. Pekalongan, Kab. Tegal, Kab. Pemalang, Kota Semarang, Kab. Kudus, Kab. Rembang, Kab. Pati, Kab. Batang, Kab. Purworejo, Kab. Klaten, Kab. Sragen, Kab. Brebes, Kab. Banyumas, dan Kab. Surakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, tambah dia, perkembangan batik terlalu berpusat pada Solo dan Pekalongan. Batik-batik daerah lain masih kalah pamor. Hal itu, dikarenakan Solo dan Pekalongan lama telah memproduksi batik cap dan tulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Batik Pekalongan dapat berkembang pesat karena para perajin diasuh dan berinduk langsung di bawah perusahaan. Sedangkan di daerah lain, produksi masih berangkat dari usaha rakyat. Para perajin berdiri sendiri-sendiri," ujar dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SSbzlSwHvfI/AAAAAAAAAYI/Iz__C6tPHpc/s1600-h/lasemcy3.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 135px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SSbzlSwHvfI/AAAAAAAAAYI/Iz__C6tPHpc/s200/lasemcy3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5271168235898125810" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Batik Pesisir&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang perajin batik Pemalang, Pantjer Budhi Walujo, mengatakan, selama ini potensi perajin daerah masih tertutupi batik produksi Pekalongan dan Solo. Perajin batik selain di kedua daerah ini pun masih jarang dilirik pemda setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut pemilik kios Batik Tenun "Pancaran Widuri" Pemalang ini, tiap daerah mempunyai corak dan motif sendiri yang menjadi ciri khas masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batik Pemalang, contohnya, selalu mempunyai ciri motif &lt;span style="font-style: italic;"&gt;materos &lt;/span&gt;(satria) dalam tiap coraknya. Corak-coraknya, antara lain Serat Mangga, Serat Melati, dan Tunjung. Batik Pemalang digolongkan menjadi batik pesisir bersama daerah-daerah lain, seperti Pekalongan, Pemalang, Brebes, dan Tegal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Beda dengan batik Solo, batik pesisir tidak memunyai corak yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pakem&lt;/span&gt;. Batik Solo punya karena berakar dalam tradisi kerajaan," tutur Pantjer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Ia mengatakan, motif pada batik pesisir lebih luwes. Temanya terserah si perajin batik. Pada jaman penjajahan, tema corak batik pesisir tergantung pada siapa yang saat itu sedang berkuasa. Semisal, ketika daerah pesisir Jawa dijajah Belanda, ada batik pesisir ada bercorak gambar &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kompeni&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Namun, secara umum, ciri khas batik pesisir adalah coraknya yang banyak didominasi gambar bunga," terang dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Selain batik pesisir, ada juga batik rakyat, yaitu perajin batik dari daerah-daerah seperti Wonogiri, Kebumen dan Sragen. Jenis ini cenderung tidak bertema dan tidak teratur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Batik ini hanya dikenakan pada kegiatan sehari-hari dan dibuat sendiri untuk hadiah kepada tetangga atau anaknya. Biasanya batik ini dibuat para petani sepulang dari sawah," jelas dia.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6229740364415250960-8302307880205131061?l=anindityowicaksono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/feeds/8302307880205131061/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/2008/11/batik-jateng-sebagai-aset-budaya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6229740364415250960/posts/default/8302307880205131061'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6229740364415250960/posts/default/8302307880205131061'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anindityowicaksono.blogspot.com/2008/11/batik-jateng-sebagai-aset-budaya.html' title='Batik Jateng Sebagai Aset Budaya'/><author><name>Anindityo Wicaksono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06767330856974408139</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/Scz2ra1pbII/AAAAAAAAAr0/kSL6Y5gYhTQ/S220/Om+garenk2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_-44iuSlGSWs/SSby6sy9o6I/AAAAAAAAAYA/ZDefbYGQO0A/s72-c/ibu-tua-pecanting-batik.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6229740364415250960.post-6016376062607126246</id><published>2008-11-16T23:11:00.010+07:00</published><updated>2009-04-13T22:39:11.400+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kolom'/><title type='text'>Teroris Bukanlah Patriot</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KOLOM&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; S
